header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Doa yang Berkenan Kepada Allah

User Rating:  / 38
PoorBest 

Di dunia ini seringkali kita jumpai dua tipe orang yang berdoa, tipe orang Farisi dan tipe orang pemungut cukai itu, tipe orang yang menganggap dirinya benar dan lebih baik dari orang lain dan tipe mereka yang menyadari bahwa dirinya orang berdosa. Bila Anda termasuk tipe pertama, sulit sekali untuk bertemu dengan Allah. Sebaliknya bila termasuk tipe kedua, Yesus pasti akan menemukan Anda, karena Ia datang mencari orang yang berdosa. Ketika Yesus mau memulai karya-Nya di muka umum, Ia datang ke Sungai Yordan untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Pada waktu itu banyak orang datang untuk dibaptis oleh Yohanes sambil mengakui dosa-dosa mereka. Yesus yang datang untuk menyelamatkan orang berdosa, mau solider dengan mereka. Setelah dibaptis, Yesus berdoa dan langit pun terbukalah dan Ia mendengar Allah bersabda: “Engkaulah Putra yang Kukasihi, kepada-Mu Aku berkenan” (Luk 3:21). Yesus telah lahir dari Roh Kudus dan kini dipenuhi dengan Roh Kudus itu pula. Ia yang selalu dipenuhi dengan kasih Bapa, kini boleh mengalami kasih Allah yang lebih mendalam lagi. Bila Anda ingin mengalami kemesraan Bapa, doalah jalannya.

1. KARUNIA DOA

Roh Kudus telah datang untuk membimbing dan melengkapi Yesus dengan kuasa. Setelah pembaptisan di Sungai Yordan, Ia membawa Yesus ke Padang Gurun untuk berdoa dan berpuasa 40 hari lamanya dan dengan demikian mempersiapkan diri untuk tugas-Nya yang besar yang akan segera dimulai, yaitu mewartakan kerajaan Allah. Kemudian hari, di tengah-tengah segala kesibukan-Nya, Ia kadang-kadang kembali ke dalam kesunyian itu.

Memang Roh Kudus berkarya secara mengagumkan dan tidak terduga, namun menurut hukum tertentu. Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. Karena itu kehadiran-Nya dalam dari anak-anak Allah membuat mereka itu berpaling kepada Allah. Perpalingan kepada Allah yang disebabkan oleh Roh Kudus itu adalah doa kristiani, yang hanya dapat dijumpai di dalam hati seorang anak Allah. Seperti yang dikatakan oleh St. Paulus: Roh Kudus bersama dengan roh kita berpaling kepada Allah dan berseru: “Abba, Bapa” (Rm 8:14-16).

Karena itu doa bukanlah suatu teknik yang harus dikuasai, melainkan suatu karunia. Doa adalah suatu hubungan kasih pribadi dengan Allah. Pada hakikatnya bukan lain daripada mengangkat hati kepada Allah. St. Teresa dari Avila mengatakan, bahwa doa bukan lain daripada “suatu persahabatan yang mesra dengan Allah, suatu percakapan dari hati ke hati dengan seorang sahabat yang mengasihi kita”. Karena itu, doa merupakan sesuatu yang indah, yang agung dan sesungguhnya merupakan aktivitas paling berharga dari manusia, suatu aktivitas yang dijiwai oleh Roh Kudus sendiri.

Teknik-teknik doa memang perlu, khususnya pada permulaan untuk membantu kita menguasai pikiran dan mengarahkan hati kepada Allah, untuk membantu menyingkirkan halangan-halangan. Namun teknik-teknik itu tidak dapat menggantikan karya Roh Kudus, dan karena itu bila kita tidak menyadari keterbatasannya, apa yang pada mulanya bisa membantu lama-kelamaan justru akan menghambatnya. Banyak orang mempelajari macam-macam metode doa, tetapi tidak memalingkan hati kepada Allah, satu-satunya yang dapat menganugerahkan doa yang sejati. Bahwa orang mempelajari macam-macam cara, itu suatu tAnda adanya kehausan, tetapi juga sekaligus merupakan petunjuk, bahwa mereka belum menemukan sumber doa yang sejati.

Doa adalah karunia Allah. Seperti dikatakan St. Paulus, kita tidak tahu bagaimana cara berdoa, tetapi Roh Kudus membantu kita dalam kelemahan kita untuk berdoa kepada Allah (bdk. Rm 8:26). Karena itu, biasanya sesudah suatu retret awal (di mana orang menerima pencurahan Roh Kudus), orang dapat berdoa lama sekali. Inilah karya Roh Kudus yang hidup di dalam dirinya dan membantunya berdoa. Kehadiran Roh Kudus ini menuntut kepekaan dan kerelaan untuk dibimbing terus oleh-Nya: “Bila kita hidup oleh Roh, biarlah hidup kita juga dipimpin oleh Roh (Gal 5:25).

Berdoa sebagai seorang Kristen berarti berdoa seperti Yesus sendiri seperti seorang anak Allah. Roh yang telah diberikan Yesus kepada kita menjadikan kita anak-anak Allah dan kita dapat berseru ya Abba, ya Bapa (bdk. Rm 8:15). Itulah sebabnya ketika para murid minta Yesus mengajari mereka berdoa, Ia mengajarkan doa Bapa Kami kepada mereka. Hubungan kita sebagai anak dengan Bapa merupakan dasar untuk setiap doa kita. Karena itu doa kristiani yang sejati mempunyai suatu sifat kemesraan yang mendalam ditAndai suatu kepercayaan yang besar. Doa ini akan terus dari dalam hati justru karena kehadiran Roh Kudus dalam diri kita.

2. MELUANGKAN WAKTU BAGI ALLAH

Bila kita memiliki hubungan yang sungguh pribadi dengan Allah dan kita sungguh mengasihi Dia, maka kita pun akan menemukan waktu bagi Dia. Di mana hartamu, di situ pula hatimu. Seringkali kita mendengar bahwa orang tidak punya waktu untuk berdoa, karena terlalu sibuk. Mungkin memang benar ia sibuk sekali. Namun yang menjadi soal bukanlah kesibukan, melainkan siapakah Yesus itu bagi dia. Bila Yesus sungguh berharga bagi dia, pastilah ia akan menemukan waktu bagi-Nya. Yesus sendiri dalam hidup-Nya seringkali amat sibuk, sehingga kadang-kadang tidak sempat makan, karena banyak sekali orang yang mencari Dia. Namun biarpun demikian Ia menyempatkan diri pada malam hari pergi ke gunung untuk berdoa, atau kadang-kadang pagi-pagi sebelum fajar menyingsing, Ia telah naik ke bukit untuk berdoa. Yesus sangat sibuk, namun Ia mengambil banyak waktu untuk berdoa, karena doa justru merupakan napas hidup-Nya. Ia menjadikan perjumpaan dengan Bapa-Nya dalam doa itu, prioritas-Nya yang pertama. Karena itu dalam segala kesibukan-Nya, Ia telah menemukan tempat dan waktu untuk berdoa. Kalau kita gagal untuk menemukannya, kita juga akan gagal dalam berdoa dan itu berarti awal kegagalan dalam hidup kita.

Ada satu hal yang menjadikan hidup kita ini indah, berarti dan barhasil, yaitu persahabatan yang mesra dengan Allah. Tanpa itu segalanya akan menjadi kosong, sebaliknya persahabatan tersebut akan menjadikan hidup kita sungguh-sungguh indah. Persahabatan ini adalah karunia Allah yang telah mengasihi kita terlebih dahulu (bdk. 1Yoh 4:10) dan yang menjadikan kita sahabat-sahabat-Nya (bdk. Yoh 15:15). Persahabatan itu muncul dari pemberian yang timbal-balik: anugerah doa dan persembahan waktu. Anugerah doa berasal dari Roh Allah yang harus kita terima dengan hati yang murni dan penuh syukur. Persembahan waktu adalah bagian kita: kita harus mempersembahkan waktu kita yang terbaik kepada Allah dengan sukacita.

Persahabatan yang mesra membutuhkan kesendirian, untuk berada berdua dengan Sang Sahabat, supaya dapat berbicara secara mendalam dan mesra. Persahabatan dengan Allah tidak akan berkembang bila kita tidak berusaha berada sendirian dengan Allah tanpa diganggu. Karena itu Tuhn Yesus memberikan petunjuk ini: “Bila kamu berdoa, masuklah ke dalam kamarmu dan kunci pintunya dan berdoalah kepada Bapamu di tempat yang tersembunyi” (Mat 6:6). Dan bila Yesus hidup pada zaman kita, Ia pasti akan menambahkan: “matikan radio, TV, dan telepon lebih dahulu, baru berdoa.” Perjumpaan dengan Allah dalam doa ini harus menjadi prioritas kita yang pertama. Bila Anda menghargai persahabatan ini sungguh-sungguh, Anda tidak akan membiarkan perjumpaan ini diganggu. Perjumpaan yang teratur ini akan memberikan arti yang mendalam kepada hidup Anda.

Contoh klasik dalam hal ini adalah seorang mahasiswa yang amat sibuk dengan studinya, sehingga tidak pernah mempunyai waktu untuk hal-hal lain kecuali belajar, belajar dan belajar. Pada suatu hari, ia berkenalan dengan seorang gadis yang tinggal di kota lain dan langsung jatuh cinta. Suatu mukjizat telah terjadi: tiap weekend dia dapat mengunjungi gadis itu di kotanya, lupa akan studinya yang banyak itu. Prioritasnya telah berubah, karena sesuatu lain menjadi lebih berharga daripada buku-bukunya.

Memang cinta kasih menuntut adanya prioritas. Bila kita menyadari hal ini, maka banyak persoalan dalam hidup kita akan terpecahkan. Bila Anda sangat sibuk dengan pelbagai macam tugas atau pekerjaan, jangan mencari waktu yang luang, melainkan harus mengubah prioritas Anda. Yang Anda perlukan adalah meninjau kembali prioritas Anda. Seorang ayah yang sedang bepergian, apabila dari rumah tiba-tiba mendapat kabar bahwa anaknya sakit keras, bukankah ia akan meninggalkan segalanya dan segera pulang untuk menengok anaknya yang sakit itu? Karena anak itu lebih berharga bagi dia daripada semua urusan pekerjaannya dan karena itu kehadirannya pada anak itu menjadi prioritas nomor satu baginya saat itu. Karena itu, bila Anda tidak dapat mnemukan waktu utnuk berdoa, berarti ada sesuatu lain yang lebih berharga bagi Anda daripada persahabatan Anda dengan Allah.

Allah sendiri telah menawarkan persahabatan-Nya kepada Anda dan Anda diundang untuk memasuki suatu hubungan yang lebih mendalam lagi. Tetapi hal itu menuntut adanya persembahan waktu Anda yang berharga dengan murah hati dan pada hakekatnya adalah persembahan diri Anda sendiri kepada Allah. Jadikanlah waktu doa Anda prioritas dalam hidup Anda, buatlah janji pertemuan dengan Allah dan jadikan hal itu sesuatu yang penting dan suci.

Banyak orang yang tidak tumbuh dan tetap kerdil secara rohani. Hidupnya pun kurang memancarkan kebahagiaan dan sukacita. Seringkali alarasannya terdapat dalam kurangnya waktu yang dipersembahkan kepada Tuhan, waktu yang dipakai untuk berdoa. Kalau kita sedikit saja bersama dengan Allah, sedikit pula kuasa dan sukacita yang mengalir dari-Nya. Karena itu baiklah kita memeriksa diri kita, apakah waktu yang kita persembahkan untuk Allah itu telah cukup banyak? Apakah Allah puas dengan waktu yang kita persembahkan kepada-Nya? Barangkali kita juga perlu bertanya: “Apakah Allah sungguh berharga bagiku?” Kalau memang demikian, pastilah kita akan meluangkan waktu bagi Dia dan kita pun akan berani berdoa: “Tuhan, kusisihkan waktu ini untuk-Mu. Inilah kencan – appointment – saya dengan Dikau setiap hari. Engkaulah orang yang paling penting dalam hidupku.” Walaupun kadang-kadang kita tidak dapat berdoa, cobalah tetap duduk tenang di hadapan Tuhan, sekedar menemani Dia. Dengan cara demikian, persahabatan Anda dengan Yesus akan semakin berkembang dan mendalam.

Yesus sendiri telah memberikan teladan kepada kita: dalam segala kesibukan-Nya, Ia selalu menemukan waktu untuk berada sendirian dengan Bapa, karena dalam kebersamaan dengan Bapa itulah secara manusiawi Ia tumbuh. Ia senantiasa membicarakan segala karya-Nya dengan Bapa, karena itulah Ia dapat berkata, bahwa Ia hanya melakukan apa yang dikehendaki Bapa saja (bdk. Yoh 4:34). Demikian pula para kudus sepanjang zaman telah mengikuti teladan Tuhan ini. Mereka menjadi besar di hadapan Allah dan di hadapan manusia, karena mereka banyak berdoa dan bergaul mesra dengan Allah di tengah-tengah kesibukan mereka. Dari pergaulan yang mesra ini pula mereka telah menimba kekuatan untuk tetap setia kepada Allah dalam segala situasi dan kondisi dan itu pula yang memberikan kesuburan bagi karya-karya mereka. Bagi Anda yang banyak melayani orang lain, ingatlah ini: semakin banyak Anda dibutuhkan orang, semakin banyak pula Anda membutuhkan Allah.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting