User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Article Index

Devosi adalah dedikasi pribadi seorang kristen kepada seorang kudus atau kepada salah satu aspek dari kehidupan Kristus. Jika dipahami sesuai dengan yang diajarkan oleh Gereja, devosi sungguh merupakan bantuan bagi perkembangan hidup rohani seorang Kristen. Sayangnya, banyak orang Kristen tidak memahami apa yang diajarkan oleh Gereja tentang devosi sehingga bantuan yang bermanfaat ini akhirnya justru membuat iman Kristen kita menjadi kabur. Artikel ini membantu Anda untuk memahami devosi secara benar sesuai yang diajarkan oleh Gereja.


PENGANTAR

Dalam kehidupannya, orang kristen (=katolik) seringkali tidak bisa membedakan mana yang utama dan mana yang hanya tambahan saja, mana yang primer dan harus di nomor satukan dan mana yang sekunder, yang kalau perlu boleh tunggu. Demikian pula dalam kehidupan imannya, orang kristen sering tidak dapat membedakan mana yang primer dan mana yang sekunder, sehingga hal ini tidak jarang mengaburkan penghayatan imannya. Cukup banyak orang yang tidak bisa membedakan bahwa misalnya doa rosario, walaupun sangat berguna dan banyak dianjurkan, tidak sama nilainya  dengan perayaan Ekaristi. Bagi mereka keduanya itu sama pentingnya, atau bahkan mungkin menganggap rosario lebih penting, karena dianjurkan oleh Bunda Maria dalam pelbagai macam penampakan.

Ketidak jelasan ini menyebabkan, bahwa hidup iman banyak orang kristen menjadi kabur. Banyak yang hidupnya terpancang pada devosi-devosi tertentu serta melupakan unsur-unsur yang pokok, atau setidak-tidaknya menjadikan unsur yang pokok itu kabur sekali. Hal ini akan punya pengaruh dalam perkembangan imannya, baik bagi pribadi itu sendiri, ataupun kelompoknya, kalau ia punya pengaruh yang besar. Tak jarang kita jumpai ungkapan-ungkapan iman yang amat sentimental dan kurang berpegang pada kebenaran iman yang diwahyukan Tuhan.

Devosi yang berlebih-lebihan dapat merugikan dan menggelapkan inti penghayatan iman yang sejati. Karena itu memang perlu sekali melihat hubungan devosi dan iman, supaya penghayatan iman itu menjadi sehat.

I. IMAN, DASAR HIDUP KRISTIANI

1.1.Hubungan iman dengan cintakasih dan pengharapan

Sebagai dasar hidup kristiani iman tidak bisa dilepaskan dari kasih dan pengharapan, yang sesungguhnya merupakan suatu kesatuan. Karena itu di sini akan kita  singgung  sebentar. Sesungguhnya iman, harapan dan cintakasih merupakan tiga hal yang terpenting di dunia ini. Kita tidak dapat melebih-lebihkan pentingnya hal ini, karena ketiganya bersama-sama merupakan satu-satunya yang perlu. Tak ada yang lebih penting daripada ketiga hal itu, karena oleh ada atau tidaknya kita memperoleh surga atau neraka, hidup kekal atau kematian kekal, kebahagiaan kekal atau kesengsaraan kekal. Tidak ada hal yang lebih menentukan daripada perkara tersebut.

Ketiganya disebut kebajikan teologal, karena obyek ketiganya ialah  Allah sendiri. Melalui kebajikan teologal ini kita dipersatukan dengan Allah sendiri. Karenanya kebajikan teologal ini pula yang merupakan pintu surga. Seseorang yang tidak punya iman kepada Allah, yang tidak berharap kepada-Nya, yang tidak mengasihi Allah, tidak dapat masuk ke surga, sebab jika demikian surga akan menjadi neraka baginya. Ia tidak dapat berbahagia bersama Allah, tidak lebih daripada waktu masih di dunia.

Iman, harapan dan cintakasih merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tanpa kasih iman itu mati, hanya khayalan belaka, tidak nyata. Cinta yang tidak bersandar pada iman bukan kasih yang sejati, bukan agape, hanya perasaan belaka dan merupakan sesuatu yang bersifat sentimentil belaka, yang begitu tergantung dari keadaan hati seseorang, yang selalu berubah-ubah. Pengharapan tanpa iman hanya merupakan optirmisme belaka dan pengharapan tidak sama dengan optimisme. Lawan dari pengharapan ialah keputus-asaan, yang merupakan suatu dosa yang mematikan, bukannya pesimisme, yang merupakan suatu sifat psikologis belaka. Pengharapan tanpa kasih mengisolir manusia dan bersifat egois dan merupakan kemunafikan orang yang memandang dirinya sendiri benar. Sebaliknya iman tidak mungkin ada tanpa pengharapan, karena Allah yang kita percayai memberikan banyak janji-janji.

Ketiganya ini merupakan dasar dari segala kebajikan. Semua kebajikan lainnya tergantung dari ketiganya ini, karena ketiganya merupakan kunci untuk memasuki kehidupan Allah di dalam jiwa kita dan semua kebajikan lainnya merupakan ciri dari hidup illahi tersebut, bukan segala program perkembangan diri yang dewasa ini begitu banyak dipasarkan orang.

Kiranya penting sekali bagi kita untuk kembali kepada dasar hidup kristiani ini, karena dewasa ini hal itu sering tidak dimengerti orang. Kita hidup dalam suatu jaman teknologi canggih, tetapi sekaligus menunjukkan adanya jurang-jurang gelap yang dalam sekali. Dengan mengimpor teknologi dari dunia Barat, kita juga mengimpor kebudayaan pasca kristiani dan banyak yang tidak menyadarinya. Dunia moderen ini merupakan kontra-tanda yang jelas sekali dari ketiga kebajikan teologal ini. Hidup dunia ini di dasarkan atas keragu-raguan, keputus-asaan dan egoisme. Dunia memandang iman sebagai sesuatu yang naif dan ketinggalan jaman, pengharapan sebagai khayalan belaka dan cintakasih dilihatnya sebagai suatu kelemahan. Di sekitar kita dapat  disaksikan adanya materialisme yang semakin berkembang, yang sesungguhnya bukan lain daripada ketidak percayaan dan ateisme praktis.  Kita saksikan pula meningkatnya angka bunuh diri dan depresi, yang sesungguhnya bukan lain daripada keputus-asaan belaka. Kita saksikan pula berkembangnya pandangan hidup yang berpusat pada diri  sendiri, yang merupakan suatu kultus  diri  sendiri, perkembangan diri sendiri, di mana cintakasih sama sekali tidak masuk akal dan bahkan suatu kebodohan besar. Karena itu sudah menjadi urgen sekali, bahwa kita kembali kepada yang dasariah dari hidup kristen kita, kembali kepada dasar-dasar hidup rohani yang benar, supaya tidak tenggelam dan hanyut dalam arus dunia yang ateistis itu.

Tanpa rahmat Allah, yang hanya datang kepada kita lewat iman, harapan dan kasih, tidak seorang pun dapat menjadi baik seperti yang dikehendaki Allah. Tanpa cintakasih keadilan menjadi kekejaman. Tanpa pengharapan, keberanian berubah menjadi kenekadan belaka. Tanpa iman, segala kebijaksanaan dunia ini menjadi kebodohan belaka di mata Allah.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting