User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Bila kita membuka diri, biarpun kita telah berdosa dan banyak berbuat kesalahan, Tuhan tetap mengasihi kita, orang yang berdosa. Seandainya, kita yakin bahwa Tuhan akan mengatakan, "Engkau adalah kekasih-Ku. Aku tetap mencintai engkau. Aku selalu mengasihimu," maka kita tidak usah takut untuk membuka diri di hadapan-Nya. Demikianlah sikap Allah terhadap kita.


Dalam perumpamaan mengenai orang Farisi dengan pemungut cukai, ada dua tokoh yang dikemukakan, yaitu orang Farisi dan pemungut cukai. Orang Farisi dalam kalangan Yahudi, merupakan golongan yang terpandang, dan boleh dikatakan sebagai tokoh-tokoh agama Yahudi, orang-orang yang berpengaruh, memerintah, terpandang, dan dihormati orang. Mereka itu umumnya menganggap dirinya sebagai ahli waris dari agama Yahudi, memandang dirinya sebagai orang yang saleh, orang yang benar yang mengikuti peraturan-peraturan agama dengan tepat. Dalam perumpamaan ini diperlihatkan bahwa orang Farisi tersebut mengikuti hukum dan tidak sama seperti orang lain. Dia berkata bahwa dia tidak pernah merampok, tidak pernah mencuri, tidak pernah berbuat salah seperti orang lain, berpuasa dua kali seminggu, membayar persepuluhan, dan dia juga tidak seperti pemungut cukai yang memeras orang lain.

Kita lihat dalam diri orang Farisi tersebut, ia seorang tokoh yang begitu yakin akan dirinya karena ia merasa telah memenuhi peraturan agamanya dengan baik. Oleh karena itu, ia memandang dirinya hebat, sehingga ia memandang orang lain dengan sebelah mata. Ia menghakimi dan menuduh orang lain pembunuh, pezinah, perampok, dan lain-lainnya.

Sekarang kita akan beralih pada tokoh pemungut cukai. Pemungut cukai di sini artinya tukang pajak. Tukang pajak pada zaman orang Yahudi seringkali juga merupakan seorang pemeras, lebih-lebih pada zaman Yesus ini. Mereka memeras dari orang-orang Yahudi sendiri dan bekerja bagi para penjajah, yaitu orang-orang Roma. Pada waktu itu sistemnya adalah sistem target. Pemerintah Roma memberi target kepada tukang pajak, yaitu bahwa mereka harus memasukkan sejumlah uang yang ditentukan untuk pajak. Akibatnya, mereka berusaha memenuhi target tersebut. Dan dalam pemenuhan target itu, mereka bisa memeras dari rakyat kecil sebanyak dua kali lipat. Mereka memeras berdasarkan kekuasaan yang diterimanya dari penjajah itu. Karena mereka memeras rakyat, mereka dibenci sekali oleh rakyat. Mereka dianggap oleh orang-orang Yahudi sebagai sampah masyarakat, sebagai pengkhianat, pengemis, dan lain-lain. Dengan kata lain, pemungut cukai dianggap orang yang tidak bermoral dan berperikemanusiaan lagi oleh masyarakat, dan juga bertentangan dengan hukum. Demikianlah keadaan para pemungut cukai.

Lalu apakah yang ingin disampaikan perumpamaan ini bagi kita? Melalui perumpamaan ini Tuhan mengungkapkan suatu kebenaran yang barangkali bisa membingungkan hati kita karena kita juga seringkali berpikir seperti orang Farisi. Kita merasa perlu untuk membenarkan diri, menganggap diri lebih baik, atau kita sering menghakimi dan menyalahkan orang lain supaya tampak lebih baik dalam pandangan sendiri dan juga dalam pandangan orang lain. Dari situlah timbul segala macam gosip dan dengan mudah kita memfitnah dan membicarakan kejelekan orang lain.

Oleh karena itu, kita harus bersikap jujur dan polos serta berani mengakui di hadapan Tuhan bahwa kita sebetulnya rapuh dan lemah. Kita hanyalah abu dan pendosa, tetapi kita dapat melihat bagaimana sikap Yesus terhadap pemungut cukai, orang yang berdosa itu. Pemungut cukai itu mengakui dosanya di hadapan Tuhan, "Tuhan, saya telah berdosa, ampunilah aku. Kasihanilah aku orang yang berdosa ini.” Dan Yesus tidak mengatakan bahwa berdosa itu tidak apa-apa. Namun, dikatakan bahwa Tuhan datang untuk memanggil orang-orang berdosa supaya mereka bertobat dan kembali kepada Allah maka dengan demikian mereka hidup.

Jadi, bagaimana sikap Yesus terhadap orang-orang berdosa? Pertama-tama kita melihat sikap-Nya terhadap perampok yang disalibkan bersama Dia. Kita bisa bayangkan kehidupan perampok itu, yang selama hidupnya ia hanya tahu kekerasan. Mungkin ia tidak pernah mengalami kasih, maka ia juga tidak bisa memberikan kasih. Yang ada padanya hanyalah kekerasan dan kekejaman: ia membunuh, merampok, tidak peduli nyawa orang lain, tidak lagi bisa berbelaskasihan, dan melakukan berbagai macam kejahatan, sampai akhirnya ia tertangkap. Dia disalibkan bersama Tuhan Yesus, dan saat itulah dia sempat mengamat-amati sikap Yesus yang lembut dan penuh kesucian. Ia melihat keagungan Tuhan Yesus, kebesaran jiwa Yesus, dan dia mulai tergerak hatinya, lalu dia berkata, "Yesus, ingatlah akan aku apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Luk 23: 42-43) Yesus tidak mengatakan engkau harus bertobat dan lain-lain, tetapi Yesus tahu kejujuran dan kepolosannya, yaitu bahwa orang ini telah mulai berbalik. Penjahat tadi tidak usah melakukan hal-hal yang baik lagi kecuali bertobat saat-saat akhir hidupnya dan Yesus tidak lagi memandang dosa dan perbuatannya yang jahat. Yesus menerima doanya dan permohonannya. Dan hari itu juga ia ada bersama Yesus di Taman Firdaus.

Mari kita lihat lebih dalam sikap Yesus terhadap orang berdosa. Dalam Injil Lukas         (Luk 7: 36-50) juga diceritakan tentang seorang perempuan pendosa. Ia seorang pelacur. Ia begitu terkenal di kota itu. Kemudian ia tersentuh dan tergerak oleh khotbah-khotbah Yesus. Ia datang kepada Yesus ketika Yesus sedang makan di suatu perjamuan pesta. Ia tidak peduli akan orang-orang yang ada di sana, tetapi ia masuk, menangis, dan kemudian meminyaki kaki Yesus. Dapat kita bayangkan bagaimana reaksi orang-orang yang ada di dalam rumah itu. Misalnya, pada waktu perempuan itu masuk, pasti mata semua orang tertuju kepadanya dan pasti perasaan malu ada pada perempuan itu. Akan tetapi, ia tahu bahwa ia datang kepada Yesus yang Maha murah, Maha rahim, dan Maha belaskasihan sehingga ia tidak peduli dengan orang di sekitarnya. Ia melakukan perbuatan yang tidak biasa. Tiba-tiba ia mendekati kaki Yesus, mulai menangis dan mencium kaki Yesus serta meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya.

Dalam Injil Lukas juga dikatakan bahwa yang mengundang Yesus adalah seorang Farisi. Lalu ia berpikir tentang Yesus dan berkata dalam hatinya, “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.” Kalau Ia ini nabi, mengapa Ia membiarkan diri-Nya dipegang oleh seorang yang najis, seorang pendosa, dan pelacur? Akan tetapi Tuhan Yesus berkata: "Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih." (Luk. 7:47)

Seringkali justru inilah yang paling sukar diterima oleh manusia, yaitu menerima pengampunan secara cuma-cuma dari Allah. Kita sering beranggapan bahwa kita hanya bisa menerima kasih Allah kalau kita telah berjasa, berbuat baik, telah berpuasa, dan sebagainya. Mengapa kita sering mempunyai anggapan yang keliru demikian? Karena kita kurang percaya, kita kurang berani membuka diri kepada Allah, dan karena dalam pengalaman sehari-hari seringkali kita mengalami penolakan, mengalami penghakiman, dan pengadilan. Maka dalam hidup sehari-hari, orang tidak berani terbuka terhadap orang lain karena kurang yakin akan cintanya.

Tentu saja mengenai yang baik-baik orang berani terbuka, tetapi mengenai yang buruk-buruk orang tidak berani terbuka. Mengapa? Itu semua bisa saja karena takut, orang beranggapan kalau dia ceritakan semuanya, maka dia akan ditolak. Maka yang jahat, yang buruk, dan dosa itu dipendam sendiri, sampai-sampai menjadi nanah dalam hatinya dan menjadi borok. Prasangka dan dorongan si jahat dalam hati manusia mengakibatkan manusia menjadi takut untuk membuka diri. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya di dalam lubuk hati manusia, dia selalu ingin diterima. Bila kita renungkan, bukankah kita semua sebetulnya ingin diterima, lebih-lebih oleh orang yang paling dekat dengan kita? Kalau kita ditolak, sakitnya setengah mati.

Kita takut untuk jujur dan berpikir, “Kalau saya terbuka maka nanti saya tidak diterima”, dan akhirnya seringkali kita menjadi tidak berani membuka diri. Segala kesalahan disimpan sendiri. Oleh karena itu, juga hubungan dengan sesama tidak bisa harmonis lagi. Akan tetapi, jika sungguh-sungguh ada hubungan cinta kasih yang sejati, maka apa yang dikatakan oleh Santo Petrus, "Cinta kasih menutupi banyak kesalahan" (1 Ptr. 4: 8) akan terwujud. Artinya, kalau ada hubungan kasih yang sejati, kita berani terbuka kepada orang lain karena kita yakin ia akan menerima kita seperti apa adanya.

Bila kita membuka diri, biarpun kita telah berdosa dan banyak berbuat kesalahan, Tuhan tetap mengasihi kita, orang yang berdosa. Seandainya, kita yakin bahwa Tuhan akan mengatakan, "Engkau adalah kekasih-Ku. Aku tetap mencintai engkau. Aku selalu mengasihimu," maka kita tidak usah takut untuk membuka diri di hadapan-Nya. Demikianlah sikap Allah terhadap kita.

Kita lihat contoh lain bagaimana sikap Tuhan terhadap orang berdosa, yaitu dalam perumpamaan anak yang hilang. (Luk. 15) Bapa itu sebetulnya tahu, bahwa anaknya telah menyakiti hatinya begitu rupa, yaitu dengan berfoya-foya, main pelacur, berjudi, dan membuat hidupnya tidak karuan. Namun, bapa itu senantiasa merindukan anak itu kembali. Ia tidak mau memaksa anaknya, walaupun ia merindukan anak itu pulang dan kembali ke rumahnya. Dan ketika anak itu datang dari jauh, bapa itu sudah tahu karena tiap hari bapa itu keluar, menunggu dan memandang dari jauh dan berpikir, “Barangkali anakku datang”.

Anaknya pergi dari rumah bapanya sebagai hartawan besar, tetapi kembali ke rumah dengan pakaian yang compang-camping, seperti seorang pengemis. Ketika anaknya mengatakan, "Bapa, aku telah berdosa…”, bapanya tidak membiarkan anaknya itu meneruskan kata-katanya. Namun, ia merangkul, menciumnya, dan menyuruh para pelayannya mengambil pakaian yang paling baik. Ayah itu berkata, "Mari kita bersukaria, karena anakku telah kembali, dia telah mati sekarang hidup kembali.”

Inilah sikap hati Allah. Kalau kita tahu bagaimana Allah itu, maka kita juga akan berani membuka diri kepada-Nya. Seringkali kita tidak berani mengakui diri kita di hadapan Allah, "Tuhan, saya telah berdosa, saya tidak berdaya, saya tidak mampu.” Oleh karena itu, kita bertopeng di hadapan Allah. Kita seolah-olah seperti orang yang hebat dengan beranggapan telah melakukan ini atau itu, berjasa ini atau itu, dan sebagainya, seolah-olah dengan sombong kita berkata, “Tuhan, lihat, saya telah berjasa, memberi ini, memberi itu, berkhotbah dengan baik, melakukan karya sosial dengan sukses”, dan seperti doa seorang Farisi, kita mengatakan, “Saya telah berpuasa dua kali seminggu, saya telah memberi perpuluhan, saya telah giat dalam pelayanan ini dan itu, aktif dalam kelompok serta organisasi ini dan itu, kalau begitu, Tuhan, apa upahku?” Kita mengharapkan balas jasa dari Allah.

Dengan terang Roh Kudus kita mampu melihat bahwa sebetulnya dalam diri kita masih banyak segi yang gelap, segi yang negatif, tetapi kita tidak berani melihatnya. Pada umumnya kita tidak berani menerima diri sendiri karena memandang diri begitu jelek sehingga kita menjadi putus asa dan takut. Karena tidak bisa menerima diri sendiri, kita akhirnya bisa menyalahkan orang lain, menganggap orang lain yang selalu salah.

Seringkali kita tidak berani melihat bahwa sumber dari banyak kesukaran sebetulnya bukan pada orang lain, tetapi dari dalam diri sendiri. Karena kita menutupi diri sendiri, kita tidak berani melihat kebaikan pada orang lain dan pada diri sendiri, tidak berani bercermin. Kita tidak mau melihat kenyataan, yaitu bahwa diri kita diciptakan indah.

Kalau secara fisik kita tidak bisa mengubah, tetapi secara rohani, setiap manusia itu sebetulnya mempunyai keindahan. Setiap manusia itu seperti batu permata yang perlu digosok supaya bersinar-sinar di hadapan Allah dan hanya Allah yang bisa menggosoknya. Akan tetapi, kalau kita menutup-nutupi hal-hal yang jelek terhadap Allah, seolah-olah semuanya sudah beres, seolah-olah semuanya tidak ada apa-apa lagi, maka Allah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Yesus berkata, "Putera manusia datang untuk orang berdosa, tetapi bukan untuk orang sehat.” Namun, karena orang Farisi menganggap semuanya baik, seolah-olah Yesus berkata terhadap mereka, "Kalau kamu menganggap dirimu sudah sehat, maka Aku tidak dapat berbuat apa-apa.”

Agar kita dapat disembuhkan, kita harus menyadari bahwa kita sakit. Kalau kita tidak menyadari bahwa kita sakit maka kita tidak bisa disembuhkan. Berani melihat diri sendiri seperti apa adanya merupakan hal yang sangat peka dan sangat dalam. Kita berani menerima diri kita apa adanya, kalau kita yakin bahwa Allah sungguh mengasihi kita, bahwa Ia tidak mengadili kita dan tidak memperhitungkan segala kesalahan dan dosa kita. Tuhan Yesus bersabda, "Jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi, jangan kamu menghukum supaya kamu tidak dihukum.” Yesus berkata demikian karena Dia lebih dahulu mempraktikkannya sendiri.

Jika kita lihat dalam seluruh Injil, dapatkah kita menemukan di mana Yesus tidak bersikap keras terhadap para pendosa? Yesus bersikap keras sekali terhadap orang yang munafik, yang tidak mau mengakui dirinya sebagai orang berdosa. Namun, terhadap Zakheus, walaupun banyak sekali dosanya, Yesus tidak menyinggung satu pun dosanya. Yesus hanya mengatakan, "Zakheus, hari ini Aku mau tinggal di rumahmu." Lalu orang-orang lain yang menganggap dirinya baik berontak, “Mengapa Yesus tinggal pada rumah orang berdosa?”

Kalau kita terbuka kepada Tuhan dan dengan jujur mengatakan, “Tuhan, aku telah berdosa,” maka saat itu juga kita akan mendengarkan suara Tuhan, "Dosa-dosamu telah diampuni.” Oleh karena itu, kalau kita menyadari hal tersebut dengan sungguh, lalu bagaimana sikap kita, apakah kita tidak perlu berpuasa, tidak perlu berbuat baik, tidak perlu menderma, dan sebagainya? Itu semua tetap perlu, tetapi motivasinya, dorongannya lain, yaitu bahwa kita melakukan semua itu supaya berkenan kepada Allah. Sebagai contoh, seorang anak karena ingin selalu berkenan kepada ayahnya yang menuntut agar dia pintar, lalu belajar setengah mati supaya mendapat nilai yang tinggi di sekolahnya. Ia tahu kalau tidak begitu, maka ayahnya pasti marah. Oleh karena itu, ia berusaha mati-matian untuk mencapai nilai yang tinggi, dan memang ia sering juara. Akan tetapi anak itu menjadi tegang terus, ia tidak percaya bahwa ayahnya juga akan mencintai dia kalau nilainya rendah. Dan seringkali kita juga seperti anak tadi terhadap Allah. Kita seringkali tidak percaya bahwa cinta Bapa tidak berubah walaupun kita adalah pendosa berat. Oleh karena itu, setelah kita yakin akan kasih dan cinta Allah, kita akan melakukan segalanya. Bukan kalau kita melakukan hal ini, kita dicintai oleh Allah, tetapi kita akan melakukannya sebagai ungkapan syukur dan terima kasih supaya kita bisa berkembang dalam kasih Allah.

Contoh di atas menggambarkan bagaimana anak tersebut melakukan pekerjaan baik dengan tegang. Namun, sebaiknya tidaklah demikian dengan kita. Kalau kita tahu bahwa Allah mengasihi dan mencintai kita, maka kita dengan rela dan senang hati akan melakukan itu demi cinta kita kepada-Nya. Cintakasih Allah menutupi banyak kesalahan. Walaupun kita memiliki banyak dosa, kita tetap boleh bersatu dalam Dia sehingga kita dapat berkembang dalam kasih Allah. Dengan demikian, kita melakukan segala sesuatu bukan lagi untuk mendapat jasa. Sebaliknya karena kita mencintai Allah, kita akan melakukan segala perbuatan itu dengan senang hati, tanpa balas jasa dari Bapa.

Demikian juga dengan pemungut cukai yang ada dalam perumpamaan ini. Ia tidak pernah menghitung jasanya kepada Tuhan: saya telah melakukan ini, saya telah melakukan itu, tetapi di hadapan Tuhan ia mengatakan, "Ya Allah, kasihanilah aku, orang yang berdosa ini.” Ia bahkan tidak berani menengadah karena kerapuhannya, ketidakberdayaannya di hadapan Tuhan. Bila kita sadar juga seperti pemungut cukai ini di hadapan Tuhan, kita akan berbahagia karena setiap kali kita berdoa, doa kita pasti didengarkan dan dikabulkan oleh Allah. Kita bersyukur kepada Tuhan karena bisa melakukan segala yang Tuhan berikan kepada kita.

Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Tuhan rahmat kerendahan hati supaya kita bisa menyadari siapa kita ini di hadapan Tuhan. Kita hanyalah manusia yang begitu rapuh, kecil, dan lemah. Namun demikian, kita juga menyadari bahwa Allah itu Mahabesar dan Maharahim. Oleh karena itu, Ia mau menerima kita apa adanya.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting