User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Santo Yohanes Rasul adalah orang yang sejak semula boleh mengalami kasih Yesus secara istimewa. Pada perjamuan malam ia boleh duduk di dekat Yesus dan bersandar dekat dengan Dia. Selama hidupnya ia boleh mengalami hubungan yang istimewa dengan Yesus serta merasakan kasih Yesus yang istimewa bagi Dia, sehingga dalam Injil dia hanya disebut dengan tanda pengenal "murid yang dikasihi Yesus". Rupanya lebih dari yang lain ia boleh mendalami misteri kasih Allah itu secara khusus.


“INILAH KASIH ITU: DIALAH YANG LEBIH DAHULU MENGASIHI KITA"

Santo Yohanes Rasul adalah orang yang sejak semula boleh mengalami kasih Yesus secara istimewa. Pada perjamuan malam ia boleh duduk di dekat Yesus dan bersandar dekat dengan Dia. Selama hidupnya ia boleh mengalami hubungan yang istimewa dengan Yesus serta merasakan kasih Yesus yang istimewa bagi Dia, sehingga dalam Injil dia hanya disebut dengan tanda pengenal "murid yang dikasihi Yesus". Rupanya lebih dari yang lain ia boleh mendalami misteri kasih Allah itu secara khusus. Dalam Injilnya ia mendalami misteri kasih itu secara mengagumkan. Rasul ini hingga hari tuanya, menikmati keagungan dan sumber segala kasih itu, ialah kasih Allah sendiri. Dengan keyakinan yang besar ia menyatakan, bahwa kasih itu bersumber pada Allah sendiri. Sebelum kita dapat mengasihi Allah, Dia telah lebih dahulu mengasihi kita.

"Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita" (1 Yoh 4:10).

Jadi bukan karena kita mengasihi Allah maka Allah balas mengasihi kita. Justru sebaliknyalah yang benar: Kita dijadikan mampu mengasihi, karena Ia lebih dahulu telah mengasihi kita. "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita." (1 Yoh. 4:19) Dan kasih itu sesungguhnya telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh yang telah diberikan kepada kita (Rm. 5:5). Dengan demikian kita telah dijadikan mampu untuk membalas kasih Allah.

Kebenaran ini merupakan suatu hiburan besar bagi kita. Kita tidak perlu melakukan prestasi tertentu supaya dapat dikasihi Allah, sebaliknya Dialah yang lebih dahulu mengasihi kita secara cuma-cuma, tanpa jasa sekali pun dari pihak kita. Dia mengasihi kita, karena Allah adalah kasih (1 Yoh. 4:8,16). Dengan demikian kita dapat menyadari, betapa besar kasih Allah kepada kita. Kasih itu secara istimewa dinyatakan dalam diri Putera-Nya yang Tunggal, yang diserahkan-Nya untuk kita:

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia." (Yoh. 3:16-17)

Kasih Allah itu menyelamatkan, sehingga setiap orang yang menanggapi kasih itu, dijadikan utuh kembali, diselamatkan, dijadikan makhluk baru. Karena itu untuk memperoleh kasih itu kita tidak perlu berprestasi lebih dahulu, melainkan cukuplah kita membuka diri dan membiarkan diri dikasihi Allah. Seringkali pengalaman kita dalam hal kasih manusiawi mengaburkan pengertian kita tentang kasih Allah itu. Dalam kehidupan kita sehari-hari orang seringkali mengalami kenyataan ini, apalagi dalam dunia dewasa ini: ada prestasi ada balas prestasi. Dalam banyak keluarga anak-anak mengalami hal ini: Supaya dicintai orang tuanya, ia harus berprestasi, entah dalam sekolah, entah dalam hal lain. Tanpa sadar orang mengenakan sikap itu dalam hubungannya dengan Allah. Untuk dapat dikasihi Allah, orang harus berprestasi lebih dahulu. Karena itu ada orang yang mati-matian melakukan kebajikan-kebajikan tertentu, supaya berkenan kepada Allah dan kalau sudah melakukannya, seolah-olah ia dapat menuntut balas jasa dari Allah, karena ia telah merasa berjasa. Latihan kebajikannya menjadi tegang, karena ia harus berprestasi, sekaligus mudah membawa orang kepada sikap puas diri, karena sudah berprestasi, serta menjadi sombong.

Betapa sikap itu berbeda dengan sikap orang yang sungguh-sungguh menyadari, bahwa ia telah lebih dahulu dikasihi Allah tanpa ada jasa apa-apa dari pihaknya. Karena menyadari, bahwa ia berharga bagi Allah dan dikasihi Allah, hatinya meluap dalam ucapan syukur dan terima kasih. Karena ia dikasihi, maka ia mau balas mengasihi dan segala sesuatu dilakukannya karena kasih kepada Allah untuk menyenangkan hati Allah yang telah lebih dahulu mengasihi dia. Semua dilakukannya, karena ia mengasihi Allah, bukan untuk mendapatkan sesuatu, bukan untuk berjasa, melainkan sebagai ungkapan syukur dan terima kasih. Semakin ia mengenal Allah, semakin ia menyadari, betapa Allah patut dikasihi demi Allah sendiri, bukan supaya mendapat sesuatu dari Allah. Maka dengan senang hati ia melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Allah kepadanya. Mungkin sekali orang ini melakukan sama banyaknya dengan yang pertama itu, bahkan mungkin lebih banyak lagi, karena orang yang mengasihi berusaha menyenangkan yang dikasihinya, namun semuanya bebas dari ketegangan dan usaha mencari jasa.

Kalau kita sadar, bahwa kita berharga bagi Allah dan dikasihi Allah, maka kita pun tidak akan mencari penghargaan dan penghormatan dari manusia. Kita tidak akan berusaha mengejar prestasi supaya mendapat penghargaan orang, tetapi kita akan melakukan segala sesuatu yang berkenan kepada Allah, semata-mata untuk Allah, tanpa takut akan apa kata orang. Karena kita merasa dikasihi Allah, kita pun dapat membagikan kasih itu kepada orang lain, tanpa menuntut orang lain harus balas mengasihi kita. Kita mengasihi, karena kita telah lebih dahulu dikasihi. Kita tidak mau menghakimi seorang pun, karena kita sadar, bahwa Allah telah lebih dahulu mengasihi kita serta mengampuni segala dosa-dosa kita. Karena kita telah mengalami belaskasih Allah, kita pun dapat menaruh belaskasihan kepada orang lain. Maka di sini terjadi sesuatu yang paradoksal: karena kita hanya mengasihi secara murni tanpa menuntut balas, tanpa motivasi lain, akhirnya kita malahan mendapatkan kasih lebih banyak lagi. Di sini terlaksanalah sabda Tuhan Yesus sendiri:

"Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah, maka kamu akan diampuni. Berilah, dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam haribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Luk 6:37-38)

Orang yang memiliki kasih Allah sadar, bahwa tidak ada apa- apa yang lebih berharga di dunia ini daripada kasih. Karena itu demi kasih ia pun rela meninggalkan segala sesuatu demi kasih, mengurbankan segala sesuatu demi kasih. Karena Allah adalah kasih, maka baginya Allah saja sudah cukup, bahkan lebih dari cukup. Seluruh hidupnya akan dibaktikan kepada Allah melulu, untuk melaksanakan kehendak-Nya yang suci. Karena bagi dia tidak ada apa-apa yang berharga kecuali Allah, serta kehendak-Nya yang suci, ia dapat menjadi alat yang peka dan rela di tangan Allah untuk melaksanakan rencana keselamatan-Nya bagi umat manusia.

Karena ia tahu, bahwa Allahlah yang lebih dahulu mengasihi dia, ia pun bebas dari segala ketakutan, karena ia tahu, bahwa Allah mengasihi dia dengan cintakasih yang abadi, yang tidak berubah. "Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu." (Yer 31:3)

Semakin ia tumbuh dalam pengenalan Allah, semakin sadar ia, bahwa hati Allah itu lebih lembut daripada hati ibu mana pun, dan bahwa kasih Allah lebih kuat dari kasih wanita mana pun terhadap anaknya yang kecil:

"Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya,

sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya ?

Sekali pun dia melupakannya,

Aku tidak akan melupakan engkau.

Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tanganKu"

(Yes 49:15-16a).

Diciptakan menurut Gambar dan Kesamaan Allah

Mungkin kita bertanya: Mengapakah Allah mengasihi kita ? Jawaban yang terutama ialah, karena Ia adalah kasih. Karena Ia adalah kasih, maka segala sesuatu yang dilakukan-Nya bersumber pada kasih dan dengan kasih. Karena Allah adalah kasih semata- mata, dalam Allah tidak ada kebencian, dan karena itu tak mungkin Ia dapat membenci kita. Namun kitalah yang dapat membenci Allah, bila kita menutup diri serta terus menolak kasih-Nya.

Karena Allah adalah kasih, Ia mau membagikan kebahagiaan-Nya dengan kita. Maka Ia menciptakan kita menurut gambar dan kesamaan-Nya. Di antara segala ciptaan, manusialah yang paling berharga bagi Allah. Hal itu nyata dalam kisah penciptaan sendiri. Ketika Allah menciptakan dunia ini dan alam semesta, semuanya diciptakan dengan kuasa sabda-Nya: Allah bersabda, maka semuanya terjadi. "Jadilah terang, maka terang pun jadilah". Demikian satu per satu diciptakan alam semesta ini. Akan tetapi penciptaan manusia lain. Ketika sampai pada giliran mau menciptakan manusia, Allah seolah-olah berhenti sebentar dan berunding: "Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita." (Kej 1:26). Dalam ceritera penciptaan tiap kali Allah berhenti sebentar untuk mengamati karya-Nya dan tiap kali dikatakan: Allah melihat, bahwa semuanya itu baik. (bdk Kej 1:10.12.18.25). Akan tetapi setelah menyelesaikan penciptaan manusia, "Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik" (Kej 1:31).

Allah telah menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Allah sendiri, supaya manusia sebagai makhluk yang berbudi dapat mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri. Ia tidak menjadikan manusia seperti binatang-binatang lainnya, melainkan manusia diberinya kemampuan untuk "mengambil bagian dalam kodrat Allah sendiri" (2 Ptr. 1:4), sehingga ia mampu menjadi anak Allah. Sesungguhnya itu merupakan suatu rahmat Allah yang luar biasa dan bukti kasih-Nya yang besar sekali. Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang, kita adalah anak-anak Allah. (1 Yoh 3:1)

Kita menjadi anak Allah karena percaya kepada Yesus Kristus yang telah diutusnya ke dunia: "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya." (Yoh. 1:12)

Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Secara konkrit itu berarti serupa dengan Yesus Kristus, karena Kristus adalah gambar sempurna dari Bapa. "Siapa yang melihat Aku, melihat Bapa." (Yoh. 14: 9). Karena itu kita harus terus tumbuh menjadi serupa dengan Yesus sendiri. Kita harus bersatu dengan Kristus sedemikian rupa, sehingga ia semakin menguasai hidup kita. Semakin kita bersatu dengan Yesus, semakin hiduplah Yesus dalam diri kita, sehingga akhirnya bukan lagi "aku yang hidup, melainkan Yesuslah yang hidup dalam diriku." (Gal. 2:20)

Persatuan kita dengan Yesus memungkinkan Dia mengalirkan daya hidup ilahi-Nya ke dalam diri kita, sebagaimana ranting anggur yang tinggal pada pokok batang, menerima hidup dari batang tersebut. Sebaliknya kalau ranting itu terlepas dari pokok batang, dengan segera dia akan mengering dan mati. Jangankan menghasilkan buah, hidup saja tidak dapat:

"Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamu ranting-rantingnya. Barang siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yoh. 15:4-5)

Kalau kita begitu tergantung pada Yesus dan bahwa kita hanya dapat berbuah kalau tetap bersatu dengan Dia, sesungguhnya sikap yang paling dasar bagi kita ialah selalu menyatu dengan Dia, tinggal selalu dalam kesatuan dengan Dia. Sebaliknya bila kita selalu bersatu dengan Dia, kita akan menjadi subur, subur bagi diri sendiri, subur bagi orang lain, dan subur bagi seluruh Gereja dan bahkan umat manusia. Tidak ada orang yang lebih subur secara rohaniah daripada orang yang bersatu dengan Kristus. Semakin dalam persatuan kita dengan Yesus, semakin suburlah kita bagi Gereja dan umat manusia. Itulah sebabnya mengapa seorang seperti Santo Yohanes Salib menekankan perlunya persatuan dengan Tuhan, persatuan yang mengubah segala-galanya, persatuan yang menjadikan hidupnya sangat subur secara rohani.

Menurut Santo Yohanes Salib, dalam tingkat persatuan yang mendalam sekali, yang disebut dengan istilah persatuan transforman, orang diubah sedemikian rupa oleh Allah, sehingga ia menjadi seluruhnya ilahi. Satu faal cintakasih yang diperbuat orang dalam tingkat transformasi ini masih lebih berharga daripada semua perbuatan yang dibuat orang lain seumur hidup tanpa mencapai tingkatan itu. Sebab pada tingkatan persatuan itu seluruh aktivitasnya adalah aktivitas Roh Kudus sendiri. Karena itu pula, satu orang dalam tingkatan cintakasih ini lebih berharga bagi Allah, bagi Gereja, dan bagi keselamatan umat manusia, daripada beribu- ribu orang lain yang tidak mencapai tingkatan ini. (St. Yohanes dari Salib: Nyala Cinta I,2)

Engkau menciptakan kami untukMu, ya Tuhan

Sebelum menemukan Tuhan, Santo Agustinus telah berusaha menemukan Tuhan di tempat-tempat lain, di luar dirinya dalam kenikmatan-kenikmatan, dalam kebahagiaan dunia ini, dalam pelbagai macam ilmu dan filsafat, tetapi ia tidak menemukan-Nya. Akhirnya Santo Agustinus menyadari, bahwa ia salah mencari Allah di luar dirinya, padahal Allah bersemayam dalam lubuk hatinya yang terdalam. Memang, kita diciptakan untuk Allah, sehingga tidak ada apa-apa pun yang dapat memuaskan hati kita kecuali Allah sendiri. Hati kita telah diciptakan sedemikian besarnya, sehingga bahkan seluruh alam semesta ini tidak akan dapat memenuhinya. Seandainya pun kita memiliki seluruh dunia, semuanya itu tidak dapat mengisi hati kita, dan hati kita akan tetap kosong saja, tidak dapat terpenuhi. Kita telah diciptakan untuk yang tidak terbatas, sehingga hanya yang tidak terbatas saja yang dapat mengisi hati kita dengan sungguh-sungguh. Inilah yang dialami Santo Agustinus, sehingga ia mengungkapkannya dalam sebuah kalimat yang kemudian menjadi terkenal: "Engkau menciptakan kami untukMu, ya Tuhan, dan gelisahlah hati kami sebelum beristirahat di dalam Engkau".

Kita diciptakan untuk yang baka, untuk Allah sendiri, sehingga pengenalan akan Allah saja yang akan dapat memuaskan hati kita. Santo Paulus setelah sebelumnya mengejar kemuliaan duniawi ini, setelah mengenal Kristus menganggap segala sesuatu sebagai kerugian, ya bahkan semuanya yang sebelum itu amat dihargainya, kini dipandangnya sebagai sampah belaka:

"Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku,

sekarang kuanggap rugi karena Kristus.

Malahan segala sesuatu kuanggap rugi,

karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku,

lebih mulai daripada semuanya.

OLeh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu

dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kritus....

Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya." (Flp. 3:7-8.10)

Sesungguhnya segala sesuatu di dunia ini akan lenyap. Kita sendiri mengalami, betapa goyahnya hidup manusia di dunia ini. Kemarin ia diagung-agungkan dan disanjung orang, tetapi hari ini ia dihujat dan hidupnya pun tidak aman lagi. Kemarin ia adalah orang yang paling dihormati, tetapi hari ini bisa menjadi buron. Seperti yang dikatakan Santo Yohanes, dunia ini dengan segala keinginannya akan lenyap, sebaliknya orang yang mengasihi Allah akan tetap selama-lamanya, karena itu dia menghimbau kita, agar supaya jangan mencintai dunia ini:

“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” (1 Yoh. 2:15-17)

Sifat dunia yang goyah ini, yang fana, yang cepat berubah dan berlalu, justru mendorong kita untuk mencari yang tidak kena perubahan, yang baka, karena kita diciptakan justru untuk yang baka. Mengenal Allah serta mengasihi Dia di atas segala sesuatu, itulah tujuan hidup kita dan itulah satu-satunya yang dapat mengisi hati kita. Sesungguhnya, mengenal Allah dan mengasihi Dia itulah hidup yang kekal, yang sudah dimulai dalam dunia ini dan akan disempurnakan dalam hidup yang akan datang. "Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus." (Yoh. 17:3) Dan mengenal, dalam bahasa Kitab Suci, lebih-lebih menurut Injil Yohanes, berarti memasuki persekutuan hidup yang mengalir dari Bapa kepada Putera di dalam Roh Kudus dan kembali lagi kepada Bapa dalam Roh yang sama.

Oleh karena itu, bagi kita yang terpenting sekarang ini, ialah mengenal dan mengalami kasih Allah, hidup kekal yang sudah mulai di dunia ini dan akan disempurnakan kelak. Itulah yang pokok. Segala sesuatu yang lain harus diarahkan kepada yang pokok tadi. Bila segala sesuatu diarahkan kepada yang pokok itu, sebaliknya segala sesuatu akan memberikan arti dan kepuasan yang lebih mendalam bagi kita. Kita mengasihi, karena Dia telah lebih dahulu mengasihi kita. Bila segala sesuatu kita lakukan dalam kasih dan demi kasih, segalanya menjadi indah, juga yang oleh orang lain dianggap sebagai penderitaan. Itulah pula sebabnya, mengapa Santo Paulus berdoa, supaya kita mengenal kasih Allah itu:

"Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekali pun ia melampaui segala pengetahuan." (Ef. 3:18-19)

Segala yang lain tidak ada artinya bila dibandingkan dengan yang ini. Juga bila di dunia ini kita masih harus banyak menderita, itu pun tidak ada artinya, sebab "penderitaan zaman sekarang ini tidak ada artinya, bila dibandingkan dengan kemuliaan yang disediakan Allah bagi kita" (bdk Rom 8:18). Sebab sesungguhnya tidak dapat dibayangkan, apa yang disediakan Allah bagi kita, karena semuanya melampaui pikiran dan pengertian kita: "Tak ada mata yang melihat, tak ada telinga yang mendengar, dan tak pernah masuk dalam hati manusia, apa yang disediakan Allah bagi mereka yang mengasihi Dia." (1 Kor. 2:9)

Mengasihi Allah dan sesama

Bila demikian besarnya kasih Allah kepada kita, sehingga tiada henti-hentinya Ia mengundang kita datang kepada-Nya, sudah selayaknyalah kita menanggapi panggilan kasih itu. Juga karena alasan yang paling mendalam: karena di situlah terdapat arti hidup kita yang terdalam dan juga kebahagiaan kita yang sempurna. Waktu hidup kita di dunia ini hanya pendek saja, karena itu marilah kita pakai waktu yang pendek ini dengan sebaik-baiknya untuk melayani Tuhan dan rencana keselamatan-Nya, serta mengasihi Dia di atas segala-galanya, sambil menantikan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

Sementara itu kita harus mengisi waktu kita di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Bagaimana? Tidak ada cara lain daripada membalas kasih Allah dengan mengasihi Dia, sesuai dengan apa yang diperintahkan-Nya: “Jawab Yesus kepadanya, ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu . Itulah hukum yang terutama dan pertama’ (Mat. 22:37-38)

Mengasihi Allah dengan segenap hati dan dengan seluruh kekuatan kita adalah perbuatan manusia yang paling luhur, yang paling indah dan paling memberikan kebahagiaan. Inilah sesungguhnya aktivitas insani kita yang paling mulia. Kita mengasihi Allah demi Allah, karena Ia memang patut dikasihi dan mendapat balasan kasih kita. Akan tetapi bila kita mengasihi Allah, kita juga harus mengasihi sesama kita, seperti yang diperintahkan-Nya sendiri:

"Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan para nabi." (Mat. 22:39-40)

Sesungguhnya kedua hukum itu tidak dapat dipisahkan, karena pada hakekatnya kasih itu hanya satu saja, yaitu yang dicurahkan Roh Kudus ke dalam hati kita. Dengan kasih yang satu itu kita mengasihi Allah dalam urutan yang pertama. Akan tetapi, kita tidak mungkin dapat mengasihi Allah kalau kita tidak mengasihi sesama kita pula. Kasih kepada sesama itu oleh Tuhan Yesus dipandang begitu pentingnya, sehingga ia menyamakan hukum yang kedua dengan yang pertama: Dan hukum yang kedua, sama dengan itu, ialah: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri".

Dalam Perjamuan Malam Terakhir Yesus menegaskan, bahwa bila seseorang mengasihi Dia, ia akan menuruti segala perintah-Nya. Hal itu tidak hanya dikatakan satu kali saja, melainkan beberapa kali, seperti kita lihat dalam Yoh. 14:15.21.23 dan 15:14

"Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku" (ayat 15)

"Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku" (ayat 21)

"Jawab Yesus: Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku" (ayat 23)

"Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu" (15:14)

Sebaliknya: "Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah daripada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. "(14:24)

Karena itu bila kita sungguh-sungguh mengasihi Allah, mengasihi Yesus, kita akan dengan senang hati melakukan segala perintah-Nya. Manakah perintah Yesus itu ? Perintah itu diringkas dalam satu perintah saja, ialah perintah untuk saling mengasihi, yang dinyatakan tidak hanya sekali, melainkan beberapa kali dalam Perjamuan Malam Terakhir itu:

"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi" (13:34)

"Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu" (15:12)

"Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain" (15:17)

Bila kita mengasihi saudara kita, itu merupakan tanda bukti yang jelas, bahwa kita mengasihi Allah. Karena Allah tidak kelihatan, mudah sekali kita menipu diri, bahwa kita mengasihi Allah bila kita memiliki perasaan-perasaan tertentu tentang Allah. Karena itu kasih kepada sesama merupakan tanda yang aman dan pasti, bahwa kita memang sungguh-sungguh mengasihi Allah. Tuhan Yesus sendiri dengan tegas memperingatkan kita akan hal itu: "Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga." (Mat. 7:21)

Dalam suratnya Santo Yohanes dengan tegas menyatakan, buktinya bahwa kita mengasihi Allah ialah bila kita mengasihi sesama kita. Kita mudah berkhayal mengasihi Allah, padahal sebenarnya tidak. Karena itu kasih kepada sesama, yang dapat kita raba dan kita lihat, merupakan tanda dan bukti kasih kita kepada Allah.

"Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita." (1 Yoh. 4:12)

Lebih lanjut Santo Yohanes mengatakan, bahwa tak mungkin kita dapat mengasihi Allah dan sekaligus tidak mengasihi saudara kita, atau bahkan membencinya. Kebencian kepada saudara merupakan bukti yang nyata, bahwa kasih Allah tidak ada dalam dirinya.

“Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Alah", dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.” (1 Yoh. 4:20-21)

Bagaimana kita harus mengasihi sesama?

Dalam perintah untuk saling mengasihi itu ada suatu unsur baru. Bila dalam Hukum Taurat diperintahkan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri, dalam perintah Tuhan Yesus itu, dikatakan, bahwa ukuran kasih itu ialah kasih-Nya sendiri kepada kita. Kita harus saling mengasihi, seperti Dia telah lebih dahulu mengasihi kita. Ukuran kasih kita kepada sesama ialah kasih Tuhan kepada kita. Supaya kita dapat tahu, bagaimana Yesus mengasihi murid-murid-Nya, kita harus merenungkan hidup-Nya. Bagaimana cara Yesus mengasihi murid-murid-Nya ?

Yesus mengasihi para murid, bukan karena mereka itu telah sempurna. Pada dasarnya mereka itu masih penuh dengan pikiran duniawi dan degil hatinya, lamban untuk percaya, sehingga Yesus harus banyak bersabar dengan mereka. Bahkan pada saat terakhir menjelang wafat-Nya, mereka masih berebutan siapa yang akan duduk di sebelah kanan dan kiri-Nya, siapa yang terbesar nanti.

Yesus mengasihi mereka bukan karena mereka orang-orang yang terpelajar, yang tahu sopan santun, yang halus budi bahasanya. Bahkan mereka itu terkesan orang yang tidak berpendidikan, yang kasar, karena mereka memang bukan orang yang terdidik baik, karena mereka itu hanya orang-orang sederhana saja. Yesus mengasihi mereka juga bukan karena mereka itu ahli dalam Kitab Suci dan taat pada Hukum Taurat, bukan.

Sebagai murid-murid Yesus kita harus mengasihi saudara kita karena motivasi yang lebih mendalam. Pertama-tama karena itulah kehendak Tuhan sendiri bagi kita. Kehendak Tuhan itu didasarkan pada realitas berikut. Kedua karena setiap manusia adalah anak- anak Allah yang diciptakan menurut gambar dan kesamaan Allah sendiri. Ketiga realitas itu begitu mendasarnya, sehingga Tuhan Yesus sendiri menyamakan diri dengan mereka itu: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Mat. 25:40) Sebaliknya apa yang tidak kita lakukan bagi mereka itu, berarti tidak kita lakukan bagi Yesus sendiri (Mat. 25:45)

Hidup dalam Kasih

"Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita." (1 Yoh. 4:19) Karena Allah lebih dahulu mengasihi kita, maka kita dijadikan mampu untuk mengasihi. Karena itu segala sesuatu dapat kita lakukan dalam kasih. Dengan melakukan segala sesuatu dengan kasih, kita memberi nilai baru kepada segala sesuatu yang kita lakukan. Segala perbuatan yang dilakukan dalam kasih akan mendapat nilai plus. Kasih itu umpama rempah-rempah yang menyedapkan segala masakan kita.

Bila segala sesuatu kita lakukan dalam kasih dan dengan kasih, semuanya mendapatkan nilai keabadian dan berkenan kepada Allah. Santa Theresia Lisieux mengatakan, bila kita hanya memungut sebatang jarum yang jatuh saja, tetapi dengan kasih, itu sudah mendapat nilai keabadian. Lama sebelumnya Bruder Laurentius dari Kebangkitan yang telah dikarunia Tuhan rahmat yang besar, menyatakan, bahwa bila seseorang memungut sehelai jerami di tanah dengan kasih, perbuatan itu sendiri memiliki nilai keabadian. Oleh karena itu perbuatan-perbuatan kita mendapatkan nilai baru bila kita lakukan dalam dan dengan kasih.

Tiap-tiap hari begitu banyak kesempatan kita untuk mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada Tuhan. Bahkan penderitaan kita, bila kita persembahkan dengan kasih kepada Tuhan, akan berubah warnanya dan memberikan damai yang mendalam. Daripada mengomel dan menggerutu tentang keadaan yang tidak menyenangkan, cobalah mempersembahkan semuanya itu dengan kasih kepada Allah dan Anda akan segera melihat perbedaannya. Tentu saja yang lain- lain juga harus dilakukan dalam kasih dan dengan kasih, maka hidup Anda dalam waktu yang singkat akan berubah. Akhirnya Anda akan dapat mengubah segala sesuatu menjadi sesuatu yang berharga.

Dalam sebuah dongeng dikatakan, bahwa suatu ketika ada seorang janda miskin yang hidup dengan seorang anak lelakinya. Karena miskin janda dan anaknya itu hidup sengsara. Suatu hari ada seorang malaekat datang kepada anak miskin itu serta memberikan tongkat wasiat dan berpesan: Apa pun yang kausentuh dengan tongkat wasiat ini, akan menjadi batu permata yang berharga sekali. Setelah malaekat itu pergi, anak itu mulai menguji kebenaran perkataan malaekat tadi. Ia menyentuh batu dengan tongkat itu dan batu itu pun menjadi permata; demikian juga benda-benda lainnya.

Tuhan juga telah memberikan kepada kita masing-masing sebuah tongkat wasiat, sehingga apa pun yang disentuh dengan tongkat wasiat itu akan berubah menjadi permata yang berkenan kepada Allah. Tongkat wasiat itu bukan lain daripada kasih illahi yang telah dicurahkan Allah ke dalam hati kita. Segala sesuatu, baik itu hal-hal yang biasa maupun luar biasa, hal-hal dari kehidupan sehari-hari maupun dari peristiwa-peristiwa khusus, baik hal yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan, asal kita sentuh dengan tongkat wasiat tadi, akan berubah menjadi permata yang berharga dan berkenan kepada Tuhan, artinya asalkan kita persembahkan kepada Tuhan dengan kasih, akan berubah menjadi permata yang indah. Silahkan mencoba sendiri!

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting