header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Misteri Kejahatan dan Penderitaan

User Rating:  / 15
PoorBest 

Pengantar

Membahas misteri kejahatan tidak lain membahas apa yang sudah dibahas oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma pasal 1:18 - 3:20. Dalam perikop tersebut Rasul Paulus mengungkapkan hal mengenai kedurhakaan manusia atau dapat disebut sebagai misteri kejahatan yang mengerikan. Rasul Paulus merangkum semua itu dalam satu kalimat seperti yang tertulis dalam suratnya kepada jemaat di Roma: Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rm 3:23). Dalam hal ini Paulus tidak berbicara  tentang apa itu dosa tetapi menerangkan bahwa dosa itu memang ada dan kita berada di bawah kuasa dosa. Ini berlaku bagi setiap orang tanpa terkecuali. “Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa” (Rm 3:9). Memang Paulus berbicara tentang dosa secara tidak langsung, hal ini perlu kita sadari dalam konteks kebudayaan dan zaman ini.

 Apa itu dosa? Pertanyaan ini sudah ada dalam kitab Mazmur dan sejak berabad-abad yang lalu orang bertanya tentang apa itu dosa. Satu hal yang kita ketahui, bahwa hanya wahyu Allah yang dapat mengerti tentang apa itu dosa, dan tidak ada satu usaha manusia pun yang sanggup mengatakan kepada kita tentang apa itu dosa sesungguhnya. Tidak seorang pun dari dirinya sendiri dapat mengatakan apa itu dosa, karena ia sendiri berada dalam dosa sehingga dia tidak mengerti apa itu dosa. Apa yang dikatakan manusia tentang dosa pada akhirnya hanyalah suatu usaha manusia yang mengecilkan apa arti dosa sesungguhnya. Memiliki pengertian yang lemah tentang dosa adalah bagian dari keadaan kita sebagai pendosa.

Dalam kitab Mazmur dikatakan: “dosa bertutur di lubuk hati orang fasik; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu” (Mzm 36:2). Dosa juga berbicara seperti Allah berbicara. Dosa berbicara dan meyakinkan dirinya dan tempatnya dalam hati manusia dan secara kodrati sungguh tidak masuk akal bahwa kita berharap manusia berbicara melawan dosa. Hanya Allah saja yang dapat berbicara tentang bagaimana melawan dosa. Manusia tidak dapat melawan dosa. Kita berbicara tentang dosa dalam terang wahyu Allah. Dosa adalah hal yang serius dan jauh lebih serius daripada hal lain yang dimengerti. Oleh karena itu, semakin kita dekat dengan Allah maka akan semakin mampu kita mengerti tentang kengerian dosa.

Beberapa contoh yang menunjukkan bahwa hanya orang-orang yang diberi wahyu oleh Allah saja yang segera dapat menangkap kengerian dari dosa, antara lain anak-anak dari Fatima yang mengerti tentang neraka. Santa Teresia Avila karena misinya yang besar, oleh Tuhan dibawa pula kepada pengalaman kengerian keadaan neraka sehingga dia dibawa kepada pengertian akan kengerian dosa yang membawa kepada neraka.

Jikalau kita berbicara tentang dosa secara manusiawi, maka seringkali yang kita mengerti adalah dosa melawan manusia itu sendiri. Padahal sebenarnya dosa melawan Allah adalah akar dari dosa-dosa lainnya. Manusia seringkali hanya memikirkan pelanggaran hak-hak manusia tetapi bukan pelanggaran akan hak-hak Allah. Kengerian akan dosa seperti yang dikatakan oleh Santo Paulus dapat ditemukan dalam masyarakat di sekitar kita dewasa ini dalam kebudayaan yang penuh kekerasan. Oleh karena itu, hanya Allah saja yang mengetahui dan karena wahyu Allah maka manusia berusaha meraba-rapa tentang apa arti dosa itu. Yesus mengungkapkan dengan kata-kata bahwa Roh Kudus yang diutus akan meyakinkan manusia tentang dosa: “Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman” (Yoh 16:8).

Hanya Roh Kudus yang dapat melaksanakan tugas-Nya sebagai pembela Allah dan Kristus dalam pengadilan dunia ini seperti yang diungkapkan oleh Paus Paulus II dalam ensiklik Dominum et Vivificantem. Oleh karena itu, hanya Allah saja yang dapat berbicara kepada kita tentang dosa. Jika Allah berbicara tentang dosa dalam hati manusia maka hal itu merupakan suatu rahmat yang besar bagi manusia untuk  berbalik kepada Allah. Dunia dewasa ini telah kehilangan arti dosa, rasa dosa, dan tidak menerima himbauan Gereja. Hal ini mungkin terjadi karena dunia berpikir bahwa Gereja mengidentifikasikan dirinya sebagai subyek, yakni sebagai penuduh dan bukan sebagai obyek, yakni tertuduh. Padahal sebaliknya, bukan demikian. Jikalau Gereja menyadarkan kita tentang dosa, maka pertama-tama karena Gereja menyadari bahwa Gereja sebagai umat berdosa. Allah melalui Gereja menyadarkan dunia akan dosa dan Gereja oleh Roh yang sama disadarkan akan dosanya sendiri. Oleh karena itu, jika kita perhatikan dengan sungguh-sungguh melalui kehidupan dan kesaksian para kudus, maka sejak semula Gereja mengakui dirinya sebagai orang berdosa dan sudah sejak semula dalam perayaan Ekaristi, Gereja memulai dengan pengakuan akan dosanya.

Hal ini dijelaskan oleh Santo Agustinus dalam uraian tentang doa Bapa Kami yang memuat permintaan ampun kepada Tuhan: “Ampunilah…”  Hal ini bukan basa-basi melainkan suatu kesadaran bahwa walaupun Gereja sadar dia telah dibenarkan tetapi pertama-tama Gereja disadarkan akan dosanya. “Simul Santa et pecatrix,” Gereja sekaligus suci dan pendosa, sehingga dalam perayaan Ekaristi sejak dahulu dimulai dengan kalimat “saya mengaku”, sebagai pengakuan akan dosa. Allahlah yang berbicara kepada kita tentang dosa, manusia tidak bisa tinggal diam sebab suara-Nya selalu akan mengusik manusia seperti air terjun yang dahsyat. Dalam surat kepada orang Ibrani diperlihatkan bagaimana para martir lebih suka menumpahkan darahnya daripada berdosa (bdk. Ibr 12:4). Sebaliknya, orang Kristiani zaman sekarang lebih mudah menyerah kepada dosa.

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting