User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

Allah betul-betul mengasihi kita. Apa artinya Dia mengasihi kita? Artinya Dia menghendaki keselamatan kita semua melalui segala liku-liku hidup. Akhirnya, semakin tua kita, semakin kita merenungkan hidup kita, dan semakin kita melihat perjalanan hidup kita, kita akan semakin bersyukur kepada Tuhan, asalkan kita mampu melihat dalam iman: “Tuhan, Engkau telah menuntun aku, Engkau membimbing aku, Engkau begitu mengasihi aku, Engkau mengampuni segala dosaku, Engkau menjauhkan aku dari kebinasaan, ....”

Anehnya, semakin kita mampu berterima kasih, semakin kita akan melihat dengan jelas bahwa segala yang ada pada kita─entah itu milik jasmani, entah itu kemampuan intelektual, kemampuan rohani, dan semuanya─adalah pemberian Tuhan semata-mata dan diberikan kepada kita supaya kita mempergunakan untuk kepentingan orang lain, bukan semata-semata untuk kita sendiri. Jika demikian, hidup kita akan dipenuhi dengan sukacita dan syukur, walaupun di tengah-tengah duri-duri yang tajam. Perjalanan kita di dunia ini harus lewat duri-duri dan batu-batu kerikil yang tajam, yang dapat melukai kaki kita, dan sebagainya, tetapi itu tidak ada artinya bila dibandingkan dengan kemuliaan yang disediakan Allah bagi kita (bdk. Rm 8:18). Memang, saya tidak mau mengatakan bahwa kalau orang mengikuti Yesus, hidupnya secara duniawi akan mulus terus, walaupun saya yakin bahwa bagaimana pun juga Tuhan akan selalu memimpin dan melindungi kita, sehingga dari setiap peristiwa pahit, kita bisa menarik manfaat lebih besar dan seringkali memang demikian.

Bahkan, kalau kita melihat hidup para kudus, yaitu orang-orang Kristen yang dalam pandangan Kristen sungguh-sungguh berhasil, hidup mereka penuh dengan tantangan, pengalaman-pengalaman ketidakadilan, dianiaya dll, tetapi itu semua bagi mereka itu tidak ada artinya bila dibandingkan dengan kemuliaan yang disediakan Allah bagi mereka yang yang mengasihi Dia. Hal ini bahkan sudah dalam hidup ini. Maka, kadang-kadang kita melihat orang-orang yang mengalaminya penuh dengan sukacita. Mengapa? Karena, pengalaman kasih Allah itu, walau hanya sedikit, sudah jauh lebih berharga daripada pengalaman-pengalaman yang lain karena itu kita melihat mereka bisa tetap gembira, bahagia di tengah-tengah tantangan, kesulitan, dll. Memang, saat-saat tertentu mereka mengaduh, tetapi hanya sebentar karena setelah itu timbul sukacita.

Oleh karena itu, kalau kita melihat semuanya dalam terang iman, maka banyak hal membuat kita bersyukur kepada Tuhan, walaupun tidak tanpa kesulitan dan tantangan. Dan, semakin kita dapat bersyukur kepada Tuhan, semakin Tuhan akan melimpahi kita dengan pelbagai macam berkat, baik berkat rohani maupun jasmani, sesuai dengan panggilan dan keadaan kita masing-masing karena Dia yang menguasai segala sesuatu, Dia yang mengetahui segala sesuatu, dan Dia mengasihi kita.

Oleh karena itu, inilah doa St. Theresia dari Avila yang begitu indah, ”Tuhan, Engkau mengetahui segala sesuatu, tidak ada suatu perkara pun yang luput dari pandangan-Mu. Engkau dapat melakukan segala sesuatu, tak ada yang mustahil bagiMu. Dan, Engkau yang Mahatahu dan Mahakuasa ini telah lebih dahulu mengasihi aku. Oleh karena itu, ke dalam tangan-Mu kuserahkan hidupku. Mengapa aku harus takut? Mengapa aku harus kuatir? Aku tak perlu takut sebab Engkau telah lebih dahulu mengasihi aku, Engkau mengetahui segalanya, dan Engkau dapat melakukan segalanya. Jika ini benar-benar itu menjadi keyakinan kita, maka kita tidak akan digoyahkan oleh apa pun, seperti dikatakan Paulus tadi,

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:35.37-39).

Kematian pun tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus karena bagi orang Kristen ”hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp 1:21). Mati berarti melihat Yesus dari muka ke muka, maka merupakan keuntungan. Dilihat dalam terang iman, hidup bagi seorang Kristen adalah menjadikan Kristus segala-galanya, dan mati berarti bertemu Kristus (yang dirindukannya) dengan lebih dekat lagi, dari muka ke muka. Jadi, sebetulnya orang Kristen itu tidak terkalahkan. Secara duniawi ia bisa dikalahkan, tetapi secara rohani ia tidak bisa dikalakan. Tidak ada seorang martir pun yang saat dibunuh mengutuk, “Terkutuk kamu nanti!” Sebaliknya, umumnya mereka berdoa, “Tuhan, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat,” seperti diteladankan Sang Guru, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34) dan dilakukan oleh St. Stefanus (martir pertama yang kita rayakan setiap tanggal 26 Desember), ”Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (Kis 7:60). Beberapa suster Karmelites di Perancis dibunuh dengan guillotine karena iman mereka. Ketika menungu giliran menuju tempat pemenggalan itu, mereka memuji Tuhan dan memuliakan Tuhan, tidak memaki atau pun mengutuk. Ini hanya mungkin karena Allah, yang lebih dahulu mengasihi kita, menunjukkan bahwa memang itu penderitaan sesaat, tetapi kemuliaan setelah itu jauh lebih besar dan selama-lamanya.

Oleh karena itu, kalau kita mengerti semua itu, kita dapat mengatakan, ”Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan seluruh hidupku, karena Engkau yang mengerti semuanya, Engkau akan melindungiku dan ke mana pun aku pergi di situ Engkau ada, di situ Engkau senantiasa hadir untuk melindungiku dan menolongku. Amin.”

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting