User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

Allah Mahatahu

 “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33). St. Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma mengatakan “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Rm 8:35.37). Asalkan kita sungguh-sungguh berpaut atau berpegang pada Kristus, maka tidak ada sesuatu pun yang bisa memisahkan kita dari Kristus.

Saudara-saudara yang terkasih, kita harus melihat segala-galanya dari suatu pandangan iman akan kuasa Allah sendiri. Kita baru saja merayakan Natal. Seorang bayi kecil lahir, tetapi kita tahu bahwa bayi ini adalah Putra Allah sendiri, yang menciptakan langit dan bumi. Dikatakan, “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh 1:3). Kita semua diciptakan oleh Allah. Istilahnya, kita diciptakan dari ketiadaan. Artinya, Allah bersabda maka semua itu terjadi. Allah bersabda maka semuanya tercipta. Memang, manusia diciptakan oleh Tuhan dengan perantaraan manusia lain, yaitu orang tua kita masing-masing, tetapi bukan mereka yang menciptakan kita. Bagaimana kita terjadi? Bahkan, orang tua kita sendiri tidak tahu bagaimana kita terbentuk dalam rahim ibu kita. Tuhanlah yang mengatur dan memberikan kuasa penciptaan. Dan, sesudah Dia menciptakan, Dia tetap memelihara.

Jika kita renungkan, alam semesta ini diatur begitu luar biasa. Coba bayangkan, ada sekian banyak bintang di langit, kalau itu tidak teratur, apa jadinya? Ada planet-planet yang berputar pada matahari, seandainya suatu saat arah jalan atau orbit bumi dan Mars menyimpang, lalu terjadi tabrakan, bagaimana? Saya kira sebentar saja kita semua habis. Tetapi, kita lihat semua itu teratur begitu rapi sehingga tidak terjadi tabrakan, dan sebagainya.

Di pihak lain, kalau bumi “diguncang” sedikit saja, maka kita merasa betapa kecilnya manusia dan betapa rapuhnya hidup kita. Tidak ada seorang pun dapat mengatakan sampai kapan dia akan hidup. Hari ini seseorang masih ada, mungkin besok sudah tidak ada. Biarpun demikian, Allah, yang menciptakan segala sesuatu, mengetahui segala-galanya. Tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi yang tidak diketahui oleh Allah. Peristiwa-peristiwa dan perbuatan-perbuatan yang baik memang dikehendaki-Nya. Akan tetapi, semua yang lain (yang tidak baik) dibiarkan terjadi oleh Tuhan demi suatu tujuan yang lebih luhur dan lebih tinggi. Misalnya, kadang-kadang memang Tuhan membiarkan malapetaka-malapetaka terjadi. Kadang-kadang, bahkan di tengah peperangan yang dahsyat, terjadi pertobatan-pertobatan. Jadi, kita yakin tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi di luar pengetahuan Allah. Tuhan memang menghendakinya, kalau itu peristiwa yang baik. Dan, kadang-kadang Dia membiarkan atau mengizinkan peristiwa yang tidak baik terjadi, demi tujuan yang lebih tinggi.

Sebagai contoh bagaimana Tuhan mengizinkan suatu tindakan jahat demi keselamatan yang lebih besar adalah penyaliban Yesus. Yesus sendiri selalu berbuat baik di mana-mana, tetapi Dia dimusuhi, ditangkap, dan dibunuh. Kenapa Tuhan tidak menyelamatkan Dia? Kenapa Tuhan membiarkan Yesus dianiaya, bahkan dibunuh? Tuhan memang tidak menghendaki orang-orang Yahudi membunuh Yesus, tetapi karena kejahatan mereka, Ia membiarkannya demi tujuan yang lebih tinggi. Kita semua diselamatkan karena Yesus menerima kematian-Nya dalam ketaatan pada Bapa-Nya dalam kasih. Memang perbuatan itu jahat, karena itu orang Yahudi yang membunuh Yesus tidak dibebaskan dari dosanya. Namun, kasih Allah lebih besar sehingga dari kejahatan itu timbul kebaikan yang jauh lebih besar, yaitu keselamatan umat manusia.

Contoh lain dari Kitab Suci adalah kisah Yusuf dalam Kitab Kejadian. Yusuf adalah anak bungsu Yakub. Ia sangat dikasihi oleh Yakub, tetapi dimusuhi oleh saudara-saudaranya. Suatu saat, karena kedengkian saudara-saudaranya, ia ditangkap dan mau dibunuh. Tetapi, akhirnya ia dimasukkan ke dalam sumur yang kemudian dijual kepada orang-orang Midian yang lewat di sana. Bisa kita bayangkan Yusuf yang hidup baik dan hidup begitu dekat dengan Allah mengalami ketakutan. Mungkin ketika ditangkap saudara-saudaranya dan dimasukkan ke dalam sumur dia berteriak-teriak kepada Allah, tetapi Allah seolah-olah tuli dan tidak mendengarkan. Namun, kita tahu bahwa Tuhan mengatur dan membiarkan semuanya itu terjadi. Sehingga, tepat ketika kejahatan itu terjadi, di situ ada karavan pedagang-pedagang yang lewat. Mengapa pedagang-pedagang itu tidak lewat dua hari kemudian, atau tidak sehari sebelummya atau beberapa jam sebelummya? Tuhan mengatur itu semua. Akhirnya, Yusuf tidak jadi dibunuh, tetapi dijual. Mungkin ketika dijual ke Mesir, Yusuf berteriak-teriak kepada Tuhan, “Mengapa Tuhan? Mengapa Engkau membiarkan aku di sini?” Dikisahkan dalam Kitab Suci bahwa sesampai di Mesir dia bekerja pada seseorang dan Tuhan menyertai dia sehingga apa pun yang dikerjakannya berhasil. Akan tetapi, ketika keadaannya sudah baik dan enak, dia difitnah dan dimasukkan penjara. Mungkin Yusuf berteriak, “Tuhan, mengapa Engkau membiarkan aku di sini difitnah demikian?” Tetapi Tuhan membiarkan hal itu terjadi karena Ia mempunyai rencana. Saatnya tiba, Yusuf diangkat menjadi pembantu Raja Firaun dan menjadi raja muda di sana, sehingga dapat menyelamatkan bangsanya. Jadi, hal-hal tadi yang tampaknya tidak masuk akal, namun sesungguhnya diatur oleh Tuhan. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi yang tidak diketahui Tuhan. Tentu saja Tuhan melihat segala sesuatu dalam terang keabadian, bukan hanya dalam terang hidup sementara di dunia ini.

Saya teringat suatu peristiwa yang terjadi sudah lama sekali, yaitu pertobatan seorang pemuda. Pada zaman partai komunis dulu dia seorang aktivis partai komunis dan mempunyai cita-cita mau belajar lagi di RRC, tetapi dia mengalami kecelakaan ketika mengendarai sepeda motor. Kecelakaan itu parah sehingga ia harus dirawat di rumah sakit. Kebetulan, rumah sakitnya rumah sakit Katolik di Malang. Dalam keadaan sakit parah di rumah sakit itu, ada suster di sana yang digerakkan Tuhan untuk menginjili dia sehingga akhirnya dia percaya kepada Kristus, menerima Kristus, dan dibaptis. Dalam keadaan sakit parah, sehari sebelum dia meninggal, dia mengatakan kepada suster itu, ”Suster, saya bahagia sekali. Saya tidak menyesal bahwa saya mengalami kecelakaan ini karena kalau saya tidak mengalaminya saya tidak akan mengenal Yesus Kristus. Saya tidak menyesal bahwa saya tidak bisa pergi, karena kalau saya pergi saya tidak akan mengenal Yesus Kristus.” Akhirnya, pemuda itu meninggal, tetapi ia sudah diperdamaikan dengan Tuhan. Seandainya dia terus hidup mungkin saja dia terus menghujat Tuhan, tidak pernah bertobat, dan mati dalam dosanya. Maka, kalau sekarang dia meninggal lebih dahulu, tetapi meninggal dalam Tuhan itu jauh lebih baik bagi dia, karena kita tahu kehidupan kita tidak berhenti di sini, sesudah ini masih ada kehidupan lagi. Jadi, itulah poin pertama kita: Tuhan mengetahui segalanya.


Allah Mahakuasa

Poin kedua, bagi Tuhan segalanya mungkin. Dia itu Mahakuasa. Dia mampu melakukan segala sesuatu sehingga Dia dapat melimpahi dan melindungi. Sehingga, kalau Tuhan tidak mengizinkan suatu perbuatan jahat, maka perbuatan itu tidak terjadi.

Ketika Yesus baru lahir, setan tahu bahwa Dia ini Putra Allah maka ia mengilhami Herodes untuk menyingkirkan Yesus. Herodes, sebagai raja yang berkuasa, bisa menyingkirkan Yesus yang lahir sebagai anak orang miskin di suatu kota kecil. Tetapi, kita tahu bagaimana Tuhan melindungi, sehingga sebelum Herodes dapat bertindak Tuhan telah menyingkirkan Yesus. Tuhan memberitahu Yusuf supaya dia menyingkir dari tempat itu. Maka, ketika Herodes akhirnya bertindak membunuh bayi-bayi, Yesus sudah tidak ada di situ. Akan tetapi, tiga puluh tahun kemudian Yesus dibunuh dan Tuhan seolah-olah tidak berbuat apa-apa. Jadi, ketika tiba waktunya Yesus harus mati untuk kita, Allah tidak campur tangan. Kita tahu juga bahwa ketika Yesus baru mulai muncul di muka umum, Ia sudah mau dilemparkan orang-orang dari tebing, tetapi karena belum waktunya Yesus menyelinap dari antara mereka, dan Dia lolos, tidak terjadi apa-apa (lih. Luk 4:29-30). Ketika orang-orang lain berupaya membunuh Dia dengan macam-macam cara, ini tidak terjadi sampai saat yang ditentukan Allah. Memang Yesus menyerahkan hidup-Nya bukan karena terpaksa, tetapi karena itulah rencana Bapa demi keselamatan kita semua. Jadi, Allah sebetulnya mampu, sehingga kalau memang Tuhan menghendaki itu, Dia dapat melindungi kita dari macam-macam hal sehingga kita tetap selamat.

 

Allah Mahakasih

Poin ketiga, Allah (yang Mahatahu dan Mahakuasa ini) lebih dahulu mengasihi kita. Ia mengasihi supaya kita mengalami kasih-Nya, yaitu kita boleh mengalami kasih-Nya sejak di bumi ini dan kemudian diselamatkan untuk hidup yang kekal. Memang panggilan manusia itu berbeda-beda, tetapi bagi semua orang Tuhan perintahkan untuk memberitakan Injil, untuk lebih dahulu mencari kerajaan dan kebenaran-Nya, maka yang lain-lain akan diberikan sebagai tambahan: “carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33).

 Saya katakan panggilan berbeda-beda. Ada di antara para murid Yesus yang dipanggil untuk meninggalkan segala sesuatu dan hidup melulu bagi Allah sebagai imam, biarawan-biarawati, tetapi tidak semua dipanggil untuk itu. Seandainya semua orang Katolik harus menjadi suster atau frater atau pastor, dalam lima puluh tahun gereja Katolik bangkrut dan punah. Tidak ada lagi orang Katolik baru. Juga ada di antara orang-orang Kristen atau Katolik yang diberi karunia istimewa untuk menjadi saksi-saksi Kristus dengan mencurahkan darahnya. Kita merayakan pesta para martir. Misalnya, setiap tanggal 28 Desember kita merayakan pesta para martir kanak-kanak. Kita juga merayakan pesta martir-martir lainnya. Bahkan, abad ke-20 merupakan abad para martir, selama abad ke-20 itu saja jumlah orang Kristen yang dibunuh demi imannya jauh lebih besar daripada jumlah martir dalam sembilan belas abad sebelumnya.

Mengapa mereka dibiarkan mati oleh Tuhan demi imannya? Kita harus melihat semua itu dari pandangan iman Kristiani karena hidup kita tidak terbatas pada tubuh ini. Berbahagialah mereka itu, karena kita tahu mereka sekarang telah mulia di surga untuk selama-lamanya. Dikatakan dalam Kitab Wahyu,” Barangsiapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua" (Why 2:11). Maut atau kematian yang kedua tidak akan berkuasa atas mereka dan kematian yang kedua inilah yang paling berbahaya. Kematian kedua itu apa? Yaitu kematian rohani, manusia terpisah selama-lamanya dari Allah. Atau, dengan kata lain, “neraka” itulah kematian yang kedua.

Kematian kedua inilah yang paling mengerikan, karena kematian ini selama-lamanya, sedangkan kematian yang pertama (kematian fisik), memang harus dilewati setiap orang cepat atau lambat, tetapi itu bukan kata akhir, karena bagi orang beriman hidup tidak berakhir, tetapi berubah. Bila pengembaraan kita di bumi ini berakhir, tersedia suatu tempat di surga bagi kita. Allah menantikan kita, maka bagi orang Kristen meninggal itu berarti pulang ke rumah Bapa. Jadi, tidak ada kengerian seperti itu lagi.


Allah betul-betul mengasihi kita. Apa artinya Dia mengasihi kita? Artinya Dia menghendaki keselamatan kita semua melalui segala liku-liku hidup. Akhirnya, semakin tua kita, semakin kita merenungkan hidup kita, dan semakin kita melihat perjalanan hidup kita, kita akan semakin bersyukur kepada Tuhan, asalkan kita mampu melihat dalam iman: “Tuhan, Engkau telah menuntun aku, Engkau membimbing aku, Engkau begitu mengasihi aku, Engkau mengampuni segala dosaku, Engkau menjauhkan aku dari kebinasaan, ....”

Anehnya, semakin kita mampu berterima kasih, semakin kita akan melihat dengan jelas bahwa segala yang ada pada kita─entah itu milik jasmani, entah itu kemampuan intelektual, kemampuan rohani, dan semuanya─adalah pemberian Tuhan semata-mata dan diberikan kepada kita supaya kita mempergunakan untuk kepentingan orang lain, bukan semata-semata untuk kita sendiri. Jika demikian, hidup kita akan dipenuhi dengan sukacita dan syukur, walaupun di tengah-tengah duri-duri yang tajam. Perjalanan kita di dunia ini harus lewat duri-duri dan batu-batu kerikil yang tajam, yang dapat melukai kaki kita, dan sebagainya, tetapi itu tidak ada artinya bila dibandingkan dengan kemuliaan yang disediakan Allah bagi kita (bdk. Rm 8:18). Memang, saya tidak mau mengatakan bahwa kalau orang mengikuti Yesus, hidupnya secara duniawi akan mulus terus, walaupun saya yakin bahwa bagaimana pun juga Tuhan akan selalu memimpin dan melindungi kita, sehingga dari setiap peristiwa pahit, kita bisa menarik manfaat lebih besar dan seringkali memang demikian.

Bahkan, kalau kita melihat hidup para kudus, yaitu orang-orang Kristen yang dalam pandangan Kristen sungguh-sungguh berhasil, hidup mereka penuh dengan tantangan, pengalaman-pengalaman ketidakadilan, dianiaya dll, tetapi itu semua bagi mereka itu tidak ada artinya bila dibandingkan dengan kemuliaan yang disediakan Allah bagi mereka yang yang mengasihi Dia. Hal ini bahkan sudah dalam hidup ini. Maka, kadang-kadang kita melihat orang-orang yang mengalaminya penuh dengan sukacita. Mengapa? Karena, pengalaman kasih Allah itu, walau hanya sedikit, sudah jauh lebih berharga daripada pengalaman-pengalaman yang lain karena itu kita melihat mereka bisa tetap gembira, bahagia di tengah-tengah tantangan, kesulitan, dll. Memang, saat-saat tertentu mereka mengaduh, tetapi hanya sebentar karena setelah itu timbul sukacita.

Oleh karena itu, kalau kita melihat semuanya dalam terang iman, maka banyak hal membuat kita bersyukur kepada Tuhan, walaupun tidak tanpa kesulitan dan tantangan. Dan, semakin kita dapat bersyukur kepada Tuhan, semakin Tuhan akan melimpahi kita dengan pelbagai macam berkat, baik berkat rohani maupun jasmani, sesuai dengan panggilan dan keadaan kita masing-masing karena Dia yang menguasai segala sesuatu, Dia yang mengetahui segala sesuatu, dan Dia mengasihi kita.

Oleh karena itu, inilah doa St. Theresia dari Avila yang begitu indah, ”Tuhan, Engkau mengetahui segala sesuatu, tidak ada suatu perkara pun yang luput dari pandangan-Mu. Engkau dapat melakukan segala sesuatu, tak ada yang mustahil bagiMu. Dan, Engkau yang Mahatahu dan Mahakuasa ini telah lebih dahulu mengasihi aku. Oleh karena itu, ke dalam tangan-Mu kuserahkan hidupku. Mengapa aku harus takut? Mengapa aku harus kuatir? Aku tak perlu takut sebab Engkau telah lebih dahulu mengasihi aku, Engkau mengetahui segalanya, dan Engkau dapat melakukan segalanya. Jika ini benar-benar itu menjadi keyakinan kita, maka kita tidak akan digoyahkan oleh apa pun, seperti dikatakan Paulus tadi,

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:35.37-39).

Kematian pun tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus karena bagi orang Kristen ”hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp 1:21). Mati berarti melihat Yesus dari muka ke muka, maka merupakan keuntungan. Dilihat dalam terang iman, hidup bagi seorang Kristen adalah menjadikan Kristus segala-galanya, dan mati berarti bertemu Kristus (yang dirindukannya) dengan lebih dekat lagi, dari muka ke muka. Jadi, sebetulnya orang Kristen itu tidak terkalahkan. Secara duniawi ia bisa dikalahkan, tetapi secara rohani ia tidak bisa dikalakan. Tidak ada seorang martir pun yang saat dibunuh mengutuk, “Terkutuk kamu nanti!” Sebaliknya, umumnya mereka berdoa, “Tuhan, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat,” seperti diteladankan Sang Guru, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34) dan dilakukan oleh St. Stefanus (martir pertama yang kita rayakan setiap tanggal 26 Desember), ”Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (Kis 7:60). Beberapa suster Karmelites di Perancis dibunuh dengan guillotine karena iman mereka. Ketika menungu giliran menuju tempat pemenggalan itu, mereka memuji Tuhan dan memuliakan Tuhan, tidak memaki atau pun mengutuk. Ini hanya mungkin karena Allah, yang lebih dahulu mengasihi kita, menunjukkan bahwa memang itu penderitaan sesaat, tetapi kemuliaan setelah itu jauh lebih besar dan selama-lamanya.

Oleh karena itu, kalau kita mengerti semua itu, kita dapat mengatakan, ”Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan seluruh hidupku, karena Engkau yang mengerti semuanya, Engkau akan melindungiku dan ke mana pun aku pergi di situ Engkau ada, di situ Engkau senantiasa hadir untuk melindungiku dan menolongku. Amin.”

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting