Allah Mahatahu, Allah Mahakuasa, Allah Mahakasih!

User Rating:  / 7
PoorBest 

Allah Mahatahu

 “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33). St. Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma mengatakan “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Rm 8:35.37). Asalkan kita sungguh-sungguh berpaut atau berpegang pada Kristus, maka tidak ada sesuatu pun yang bisa memisahkan kita dari Kristus.

Saudara-saudara yang terkasih, kita harus melihat segala-galanya dari suatu pandangan iman akan kuasa Allah sendiri. Kita baru saja merayakan Natal. Seorang bayi kecil lahir, tetapi kita tahu bahwa bayi ini adalah Putra Allah sendiri, yang menciptakan langit dan bumi. Dikatakan, “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh 1:3). Kita semua diciptakan oleh Allah. Istilahnya, kita diciptakan dari ketiadaan. Artinya, Allah bersabda maka semua itu terjadi. Allah bersabda maka semuanya tercipta. Memang, manusia diciptakan oleh Tuhan dengan perantaraan manusia lain, yaitu orang tua kita masing-masing, tetapi bukan mereka yang menciptakan kita. Bagaimana kita terjadi? Bahkan, orang tua kita sendiri tidak tahu bagaimana kita terbentuk dalam rahim ibu kita. Tuhanlah yang mengatur dan memberikan kuasa penciptaan. Dan, sesudah Dia menciptakan, Dia tetap memelihara.

Jika kita renungkan, alam semesta ini diatur begitu luar biasa. Coba bayangkan, ada sekian banyak bintang di langit, kalau itu tidak teratur, apa jadinya? Ada planet-planet yang berputar pada matahari, seandainya suatu saat arah jalan atau orbit bumi dan Mars menyimpang, lalu terjadi tabrakan, bagaimana? Saya kira sebentar saja kita semua habis. Tetapi, kita lihat semua itu teratur begitu rapi sehingga tidak terjadi tabrakan, dan sebagainya.

Di pihak lain, kalau bumi “diguncang” sedikit saja, maka kita merasa betapa kecilnya manusia dan betapa rapuhnya hidup kita. Tidak ada seorang pun dapat mengatakan sampai kapan dia akan hidup. Hari ini seseorang masih ada, mungkin besok sudah tidak ada. Biarpun demikian, Allah, yang menciptakan segala sesuatu, mengetahui segala-galanya. Tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi yang tidak diketahui oleh Allah. Peristiwa-peristiwa dan perbuatan-perbuatan yang baik memang dikehendaki-Nya. Akan tetapi, semua yang lain (yang tidak baik) dibiarkan terjadi oleh Tuhan demi suatu tujuan yang lebih luhur dan lebih tinggi. Misalnya, kadang-kadang memang Tuhan membiarkan malapetaka-malapetaka terjadi. Kadang-kadang, bahkan di tengah peperangan yang dahsyat, terjadi pertobatan-pertobatan. Jadi, kita yakin tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi di luar pengetahuan Allah. Tuhan memang menghendakinya, kalau itu peristiwa yang baik. Dan, kadang-kadang Dia membiarkan atau mengizinkan peristiwa yang tidak baik terjadi, demi tujuan yang lebih tinggi.

Sebagai contoh bagaimana Tuhan mengizinkan suatu tindakan jahat demi keselamatan yang lebih besar adalah penyaliban Yesus. Yesus sendiri selalu berbuat baik di mana-mana, tetapi Dia dimusuhi, ditangkap, dan dibunuh. Kenapa Tuhan tidak menyelamatkan Dia? Kenapa Tuhan membiarkan Yesus dianiaya, bahkan dibunuh? Tuhan memang tidak menghendaki orang-orang Yahudi membunuh Yesus, tetapi karena kejahatan mereka, Ia membiarkannya demi tujuan yang lebih tinggi. Kita semua diselamatkan karena Yesus menerima kematian-Nya dalam ketaatan pada Bapa-Nya dalam kasih. Memang perbuatan itu jahat, karena itu orang Yahudi yang membunuh Yesus tidak dibebaskan dari dosanya. Namun, kasih Allah lebih besar sehingga dari kejahatan itu timbul kebaikan yang jauh lebih besar, yaitu keselamatan umat manusia.

Contoh lain dari Kitab Suci adalah kisah Yusuf dalam Kitab Kejadian. Yusuf adalah anak bungsu Yakub. Ia sangat dikasihi oleh Yakub, tetapi dimusuhi oleh saudara-saudaranya. Suatu saat, karena kedengkian saudara-saudaranya, ia ditangkap dan mau dibunuh. Tetapi, akhirnya ia dimasukkan ke dalam sumur yang kemudian dijual kepada orang-orang Midian yang lewat di sana. Bisa kita bayangkan Yusuf yang hidup baik dan hidup begitu dekat dengan Allah mengalami ketakutan. Mungkin ketika ditangkap saudara-saudaranya dan dimasukkan ke dalam sumur dia berteriak-teriak kepada Allah, tetapi Allah seolah-olah tuli dan tidak mendengarkan. Namun, kita tahu bahwa Tuhan mengatur dan membiarkan semuanya itu terjadi. Sehingga, tepat ketika kejahatan itu terjadi, di situ ada karavan pedagang-pedagang yang lewat. Mengapa pedagang-pedagang itu tidak lewat dua hari kemudian, atau tidak sehari sebelummya atau beberapa jam sebelummya? Tuhan mengatur itu semua. Akhirnya, Yusuf tidak jadi dibunuh, tetapi dijual. Mungkin ketika dijual ke Mesir, Yusuf berteriak-teriak kepada Tuhan, “Mengapa Tuhan? Mengapa Engkau membiarkan aku di sini?” Dikisahkan dalam Kitab Suci bahwa sesampai di Mesir dia bekerja pada seseorang dan Tuhan menyertai dia sehingga apa pun yang dikerjakannya berhasil. Akan tetapi, ketika keadaannya sudah baik dan enak, dia difitnah dan dimasukkan penjara. Mungkin Yusuf berteriak, “Tuhan, mengapa Engkau membiarkan aku di sini difitnah demikian?” Tetapi Tuhan membiarkan hal itu terjadi karena Ia mempunyai rencana. Saatnya tiba, Yusuf diangkat menjadi pembantu Raja Firaun dan menjadi raja muda di sana, sehingga dapat menyelamatkan bangsanya. Jadi, hal-hal tadi yang tampaknya tidak masuk akal, namun sesungguhnya diatur oleh Tuhan. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi yang tidak diketahui Tuhan. Tentu saja Tuhan melihat segala sesuatu dalam terang keabadian, bukan hanya dalam terang hidup sementara di dunia ini.

Saya teringat suatu peristiwa yang terjadi sudah lama sekali, yaitu pertobatan seorang pemuda. Pada zaman partai komunis dulu dia seorang aktivis partai komunis dan mempunyai cita-cita mau belajar lagi di RRC, tetapi dia mengalami kecelakaan ketika mengendarai sepeda motor. Kecelakaan itu parah sehingga ia harus dirawat di rumah sakit. Kebetulan, rumah sakitnya rumah sakit Katolik di Malang. Dalam keadaan sakit parah di rumah sakit itu, ada suster di sana yang digerakkan Tuhan untuk menginjili dia sehingga akhirnya dia percaya kepada Kristus, menerima Kristus, dan dibaptis. Dalam keadaan sakit parah, sehari sebelum dia meninggal, dia mengatakan kepada suster itu, ”Suster, saya bahagia sekali. Saya tidak menyesal bahwa saya mengalami kecelakaan ini karena kalau saya tidak mengalaminya saya tidak akan mengenal Yesus Kristus. Saya tidak menyesal bahwa saya tidak bisa pergi, karena kalau saya pergi saya tidak akan mengenal Yesus Kristus.” Akhirnya, pemuda itu meninggal, tetapi ia sudah diperdamaikan dengan Tuhan. Seandainya dia terus hidup mungkin saja dia terus menghujat Tuhan, tidak pernah bertobat, dan mati dalam dosanya. Maka, kalau sekarang dia meninggal lebih dahulu, tetapi meninggal dalam Tuhan itu jauh lebih baik bagi dia, karena kita tahu kehidupan kita tidak berhenti di sini, sesudah ini masih ada kehidupan lagi. Jadi, itulah poin pertama kita: Tuhan mengetahui segalanya.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting