Print
Hits: 9517

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 


Dalam hidup berkeluarga, sebagai anak, kita akan memanggil ayah kita, dengan sebutan bapa, babe, father, daddy, dan sebagainya. Apa kita sungguh mengasihi bapa kita? Apa buktinya? Dengan cara apa? Bagaimana dengan Allah Bapa kita? Kita percaya kepada Allah dan Bapa kita.


1.  Allah yang Hidup

Ketika telah tiba saatnya Allah memilih suatu bangsa untuk mempersiapkan kedatangan Putera-Nya ke dunia, sebagai Penebus dan Penyelamat dunia, Ia telah memilih Abraham untuk menjadi bapak bangsa terpilih. Ketika untuk pertama kalinya Allah menyatakan diri kepada Abraham, Ia menyatakan diri sebagai Allah yang hidup, yang menguasai segala sesuatu. Karena itu pula dengan penuh kewibawaan Ia memanggil Abraham untuk meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke tempat yang akan ditunjukkan-Nya. Abraham pun taat tanpa membantah:

Berfirmanlah Tuhan kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya (Kej.12:1-4a).

Di situ Allah menyatakan diri sebagai Allah yang hidup, yang menguasai segala sesuatu, seperti yang dinyatakan-Nya dalam panggilan Abraham tersebut. Pertama-tama Ia akan menjadikan Abraham suatu bangsa yang besar dan membuat namanya masyhur, suatu pernyataan bahwa Dialah yang berkuasa. Sebagai Allah yang hidup dan yang berkuasa atas segala sesuatu, Ia akan menjaga, agar rencana-Nya terlaksana pada waktunya. Karena itu Ia akan melindungi Abraham, orang pilihan-Nya, secara istimewa sedemikian rupa, sehingga Ia akan memberkati orang yang memberkati Abraham, yang waktu itu namanya masih Abram, serta mengutuk orang yang mengutuk dia. Namun Abraham dipilih Allah bukan demi diri sendiri, melainkan demi kepentingan seluruh umat manusia: "Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."

Abraham pun taat dengan segenap hati, bahkan kemudian ketika Allah mencobai dia dan meminta supaya ia mengurbankan anak tunggalnya, Abraham pun tetap taat kepada Allah, karena ia mencintai Allah di atas segalanya, bahkan di atas anaknya sendiri. Dengan ketaatannya Abraham telah menjadi pelaksana rencana keselamatan Allah bagi umat manusia.

Demikianlah sepanjang sejarah keselamatan, hingga hari ini Allah terus-menerus memilih orang-orang yang akan dipakai untuk melaksanakan karya-Nya. Sebagaimana dahulu Abraham, demikian pula di kemudian hari Allah selalu membimbing dan melindungi orang pilihan-Nya sepanjang masa, supaya mereka dapat dipakai-Nya untuk mewujudkan rencana keselamatan-Nya. Karena Allah adalah Allah yang hidup, Dia juga ingin membuat orang-orang pilihan-Nya hidup semuanya.


2.  Allah: Bapa Tuhan Kita Yesus Kristus dan Bapa Kita

Dalam Perjanjian Lama, Allah memang menyatakan diri sebagai Bapa bagi bangsa Israel. Ia yang melahirkan bangsa Israel, Ia yang membesarkannya, Ia pula yang membimbingnya. Namun hubungan sebagai Bapa itu khususnya berlaku bagi bangsa Israel sebagai keseluruhan, sehingga pada umumnya Allah masih agak jauh bagi masing-masing individu atau pribadi, sehingga hubungan pribadi antara Allah dan masing-masing umat boleh dikatakan jarang.

Hal itu berubah dengan ketaatan Tuhan Yesus. Yesus telah datang ke dunia untuk mewahyukan kepada kita siapa Allah itu sesungguhnya. Allah yang hidup itu ternyata adalah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Dalam hidup-Nya, Yesus menyatakan adanya suatu hubungan pribadi yang  mesra dengan Allah sebagai Bapa-Nya. Nama Bapa selalu ada dalam hati-Nya dan pada bibir-Nya. Seluruh hidup-Nya diarahkan kepada pelaksanaan kehendak Bapa. Selama hidup-Nya Ia tidak mencari sesuatu lain daripada memuliakan Bapa-Nya dengan melaksanakan kehendak dan rencana keselamatan-Nya. Ia hanya melakukan apa yang berkenan kepada Bapa. “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh.4:34). Karena itu pula Bapa tidak pernah meninggalkan Dia baik dalam karya maupun dalam penderitaan-Nya. Segala sesuatu yang dilakukan Yesus berkenan kepada Bapa: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (Mrk. 9:7). Pelaksanaan kehendak Bapa ini menjadi pedoman mutlak bagi-Nya, juga bila hal itu berarti bahwa Ia harus direndahkan dan mengurbankan hidup-Nya sendiri, walaupun Ia adalah Anak Tunggal Allah. Ia telah rela taat secara mutlak, bahkan sampai wafat di kayu salib.

“Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di salib” (Flp.2:5-8).

Oleh ketaatan-Nya, Ia telah memperolehkan bagi kita Roh Kudus yang menjadikan kita anak-anak Allah. Oleh Roh itu kita pun dijadikan-Nya anak-anak Allah dan saudara-saudari-Nya, sehingga dalam Dia dan oleh kuasa Roh Kudus kita dapat berseru: “Ya Abba, ya Bapa” (Rm. 8:15). Oleh Roh Kudus itu kita telah diberi bagian dalam hubungan-Nya yang mesra dengan Bapa. Karena itu kita telah menjadi anak dalam Sang Anak. Dia adalah saudara sulung kita.

Yesus adalah Anak Allah karena kodrat, setara dengan Bapa. Maka apa yang dimiliki Bapa, juga dimiliki-Nya. Karena itu, Dia adalah Mahakuasa, Mahatahu, Mahakudus seperti Bapa. Oleh Dia, karena penjelmaanNya menjadi manusia, kita telah dijadikan anak-anak angkat Allah. Martabat kita sebagai anak-anak angkat Allah sesungguhnya luar biasa, karena sebagai anak kita juga diberi bagian dalam kodrat-Nya. Fakta bahwa kita dijadikan anak-anak Allah sungguh merupakan suatu karunia yang amat besar dan mengungkapkan kasih Allah yang luar biasa bagi kita, seperti diungkapkan Santo Yohanes: “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah” (1 Yoh.3:1).

Dalam Yesus kita boleh memasuki suatu hubungan pribadi dengan Allah sebagai seorang anak dengan Bapanya. Kita bahkan diperbolehkan menyebut Dia dengan sebutan "Abba, Bapa", suatu sebutan yang amat akrab, yang lazim dipakai seorang anak untuk menyebut ayahnya. Jadi kata Abba dapat diterjemahkan dengan papa, papi, atau daddy. Kalau sungguh direnungkan, hal itu luar biasa, bahwa kita manusia yang berdosa ini, sebagai anak-Nya diperbolehkan menyapa Allah dengan sebutan mesra tersebut.


3.  Menjadi seperti Seorang Anak Kecil

Tuhan Yesus mengajar kita  supaya dalam hubungan  dengan Allah, kita menjadi seperti anak kecil: Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan  menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan barangsiapa yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga” (Mat.18:2-4).

Apa yang dimaksud menjadi seperti anak kecil itu? Yang jelas, Tuhan tidak menghendaki kita menjadi kekanak-kanakan, melainkan supaya kita memiliki sikap seorang anak terhadap ayah-ibunya. Anak itu menerima keadaan ketergantungannya dari orang tuanya dengan bersahaja, tanpa takut atau kuatir, tetapi mengharapkan segala sesuatu dari mereka. Kondisi kita di hadapan Allah sama seperti keadaan seorang anak kecil, namun toh ada bedanya. Ketergantungan kita terhadap orang tua suatu ketika akan berhenti, sedangkan ketergantungan kita terhadap Allah tetap untuk selama-lamanya.

Seorang anak, waktu kecilnya tergantung seluruhnya dari orang tuanya, baik dalam hal makan, minum, maupun dalam hal-hal lainnya. Namun bila anak itu tumbuh dan menjadi besar, suatu ketika ia tidak akan tergantung lagi dari orang tuanya, bahkan orang tuanya dapat tergantung dari dia. Namun tidak demikian keadaan kita di hadapan Allah, dalam segalanya kita tetap tergantung dari Allah. Seluruh ada kita tergantung dari  Allah. Bila Allah melupakan kita satu detik saja, kita akan kembali ke dalam ketiadaan.

Hal itu lebih benar pula dalam kehidupan rohani. Kita tidak dapat melakukan satu perbuatan baik atau bahkan satu pikiran baikpun bila tanpa rahmat Allah. Seperti dikatakan Santo Paulus: “Allahlah yang memberikan kepada kita baik kemauan mau-pun pekerjaan menurut kerela-anNya” (Flp.2:13). Untuk menghendaki sesuatu yang baik saja, kita membutuhkan rahmat Allah, apalagi untuk mengerjakannya. Ketergantungan kita kepada Allah dan rahmat ini diungkapkan oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaan pokok anggur dan ranting-rantingnya (bdk. Yoh.15:1-8). Dengan tegas Yesus mengatakan, bahwa tanpa Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa: “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh.15:5).

Mengingat semua yang telah disebutkan di atas, jelaslah mengapa kita di hadapan Allah harus bersikap seperti seorang anak kecil. Bagaimana konkretnya? Kita harus pasrah total kepada Allah dan mengharapkan segalanya dari Dia, bahkan juga bila kita suatu ketika jatuh dalam dosa. Seorang anak kecil mengharapkan segala sesuatu dari orang tuanya, kebutuhan makan, minum, pakaian, juga kalau sakit, dan segala kebutuhan lainnya, bahkan sebelum anak itu meminta kepada orang tuanya. Apa yang akan terjadi jikalau ada seorang anak kecil yang baru dimandikan dan diberi pakaian bersih oleh ibunya lalu pergi bermain-main dan kemudian jatuh di tempat basah dan mengotori pakaiannya? Bukankah ibunya, walaupun mungkin jengkel sejenak, akan segera memandikan dia lagi dan memberi pakaian yang baru kepadanya?

Kalau manusia saja dapat bersikap dan berbuat demikian terhadap anak-anaknya, betapa lebihnya Allah Bapa kita kalau kita percaya dan pasrah kepadaNya. Karena itu Tuhan Yesus bersabda: “Adakah seorang daripadamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya” (Mat. 7:9-11; bdk. Luk.11:11-13).

Jadi, bagaimanakah sikap kita seharusnya? Seperti seorang anak kecil di hadapan Bapa surgawi kita harus:

Percaya total kepada Allah serta mengharapkan segalanya dari Dia, baik dalam bidang jasmani maupun rohani, tanpa ketakutan dan kekuatiran. Kita harus mendekati Dia seperti seorang anak kecil mendekati bapaknya, dengan penuh kepercayaan. Sebagaimana seorang bapak mencukupi segala kebutuhan anaknya, demikian pula kita harus berharap kepada Allah, bahwa Dia akan memberikan kepada kita segala sesuatu yang kita perlukan, baik dalam bidang jasmani maupun rohani. Sebagaimana Allah memberi makan burung-burung di udara dan mendandani bunga-bunga di ladang, betapa lebihnya Ia akan memelihara kita, karena kita lebih berharga daripada semuanya itu (bdk.Mat. 6:25-34). Apa yang kita butuhkan harus kita minta dengan rendah hati kepada Bapa, tetapi sekaligus dengan penuh kepercayaan: “Bapamu sudah tahu apa yang kamu butuhkan, sebelum kamu meminta kepada-Nya” (Mat. 6:8). Demikian pula dalam bidang rohani kita harus mengharapkan segala pertolongan dan bantuan dari Allah. Yesus tahu, bahwa kita adalah ranting-ranting pada pokok anggur, yaitu Dia sendiri. Dia tahu bahwa ranting-ranting itu menerima kehidupan dari batang dan Ia akan selalu mengalirkan kehidupan ilahi itu ke dalam diri kita, asalkan kita tetap berpaut kepada-Nya dalam kepercayaan.

Kalau Dia mengajarkan kita berdoa: “Berilah kami rezeki hari ini,” yang dimaksudkan-Nya bukan hanya rezeki jasmani atau duniawi belaka, melainkan juga rezeki rohani, yang kita perlukan setiap saat. Dengan penuh kepercayaan kita harus mengharapkan rezeki rohani itu dari Dia setiap hari. Karena itu cukuplah bila kita berdoa setiap hari: berilah kami rezeki pada hari ini. Jangan berdoa mohon rezeki untuk satu minggu, satu bulan, satu tahun. Berdoalah saja setiap hari: “Berilah kami rezeki pada hari ini”, hanya untuk hari ini saja, juga bila kita mengalami saat-saat gelap, mohonlah: "Berilah kekuatan untuk hari ini saja, berilah ketekunan untuk hari ini saja.” Hiduplah pada saat ini, karena saat inilah yang nyata, sedangkan kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, sebab masa depan kita ada dalam tangan Tuhan yang lebih dahulu mengasihi kita, sedangkan yang sudah lewat ya sudah lewat, sudah tidak ada lagi.

Ini tidak berarti bahwa kita tidak harus berusaha. Tidak! Kita harus berusaha sekuat tenaga dan melakukan segala sesuatu, namun sekaligus sadar bahwa segala-galanya tergantung dari Allah. Secara konkret sikap yang tepat ialah: Berusahalah sekuat tenaga dan lakukanlah segala sesuatu seolah-olah semuanya tergantung daripadamu, namun serahkanlah seluruh keberhasilannya kepada Allah, karena Dia yang menguasai segalanya dan tahu apa yang paling baik bagi kita.

Berharap akan kerahiman Allah dengan penuh kepercayaan sebagaimana seorang anak kecil yang mengotori bajunya yang bersih datang kepada ibunya sambil menangis, demikianlah hendaknya kita, bila terjadi bahwa kita mengotori baju pembaptisan kita dengan dosa:

“Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supa-ya kamu jangan berbuat dosa,  namun jka seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang peng-antara kepada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil” (1 Yoh.2:1).

Kita  memang tidak ingin berbuat dosa, tetapi karena kelemahan kita, kadang-kadang kita masih terjatuh dalam dosa. Kalau demikian kita tahu, bahwa kerahiman Allah tidak terbatas dan bahwa Ia lebih besar dari hati kita , seperti yang dikatakan oleh Santo Yohanes: “Demikian  pula kita boleh menenangkan hati kita dihadapan Allah, sebab jika dituduh olehnya (catatan: maksudnya suara hati kita setelah berdosa), Allah adalah lebih besar daripada hati kita dan mengetahui segala sesuatu” (1 Yoh. 3:19-20).

Hal itu memang sesuai dengan apa yang jauh sebelum itu telah dikatakan Allah sendiri lewat nabi Yesaya. Betapa pun besarnya dosa itu, asal kita dengan penuh kepercayaan kepada kerahiman-Nya datang kepada-Nya, segala dosa itu betapa pun besarnya, akan dihapuskanNya. “Marilah, baiklah kita mengadakan perhitungan!” firman Tuhan. Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju. Sekalipun dosamu merah seperti kain kesumba akan menjadi putih seperti bulu domba. (Yes.1:18).


Pasrah total kepada Allah. Seperti seorang anak kecil, kita harus pasrah total kepada Allah, juga bila kita kadang-kadang tidak mengerti, mengapa hal ini atau hal itu terjadi. Oleh karena kita yakin bahwa Allah itu Mahabaik dan Dia yang lebih dahulu mengasihi kita, serta hanya menghendaki kebaikan kita maka kita dapat memasrahkan diri kita kepada-Nya, tanpa takut dan tanpa kuatir. Walaupun kadang-kadang kita tidak mengerti, serahkan dirimu kepada rencana-Nya, kepada kehendak-Nya yang menyelamatkan. Ia tahu apa yang paling baik bagi kita masing-masing, sedangkan seringkali kita tidak tahu, apa yang membawa manfaat dan faedah bagi kita sendiri. “Kalau kamu yang jahat tahu berbuat baik bagi anak-anakmu, betapa lebihnya Bapamu yang di surga.”

Kita seringkali takut menyerah kepada kehendak Allah, karena seringkali tanpa sadar kita telah mengukur Allah dengan ukuran kita sendiri. Kita kurang menyadari, bahwa Ia Mahabaik dan tak mungkin menghendaki yang jelek untuk kita. Ia lebih baik daripada bapak mana pun juga. Suatu hari saya melihat seorang anak kecil umur kira-kira 3 tahun, yang mengikuti bapaknya berenang di kolam yang dalam. Ia hanya berpegang pada leher bapaknya dan dengan tenang menoleh ke kanan dan ke kiri sambil tertawa, walaupun ia tahu bahwa ia dibawa ke tempat yang dalam. Tak pernah timbul dalam hatinya sejenak pun, bahwa di tempat yang dalam nanti ia akan ditenggelamkan oleh bapaknya itu. Juga saya pernah melihat seorang anak kecil yang bermain-main dengan ayahnya. Oleh ayahnya ia dilemparkan ke udara lalu ditangkap lagi oleh tangan ayahnya yang kuat. Anak itu tertawa ria di udara, tanpa menangis ketakutan, tetapi tertawa senang, karena dalam benaknya tidak pernah timbul pikiran bahwa jangan-jangan nanti ayahnya melepaskan dia setelah dia di udara. Betapa lebihnya Allah Bapa kita, Ia akan selalu melindungi kita. Kita pasrah dan menyerahkan diri kepada-Nya, karena kita yakin bahwa Ia mengasihi kita dan tahu apa yang paling baik bagi kita dan bahwa Ia selalu mempunyai rencana yang indah bagi kita:

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yer. 29:11).

Sesungguhnya Allah telah memilih kita sejak sebelum dunia diciptakan, untuk menjadi anak-anak-Nya dan mengambil bagian dalam kebahagiaan-Nya sendiri: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dari surga telah memberkati kita dalam Kristus dengan segala berkat rohani. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula untuk menjadi anak-anak-Nya oleh Yesus Kristus, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia yang dikaruniakan-Nya kepada Kita di dalam Dia yang dikasihi-Nya” (Ef.1:3-6).

Karena itu pasrah ini bukanlah sikap fatalistik, bukan pula sikap yang menyerah pada nasib. Ya sudah, sudah nasib, apa boleh buat. Tidak! Pasrah kristiani jauh berbeda dengan itu. Kita pasrah karena kita tahu bahwa kita amat berharga bagi Allah dan bahwa Ia mengasihi kita dengan kasih abadi. Lagipula, kita pasrah karena Allah yang mengasihi kita dan yang peduli akan kita itu adalah Yang Mahakuasa, yang menguasai segala sesuatu, dan yang Mahabaik untuk kita.