User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

2.  Allah: Bapa Tuhan Kita Yesus Kristus dan Bapa Kita

Dalam Perjanjian Lama, Allah memang menyatakan diri sebagai Bapa bagi bangsa Israel. Ia yang melahirkan bangsa Israel, Ia yang membesarkannya, Ia pula yang membimbingnya. Namun hubungan sebagai Bapa itu khususnya berlaku bagi bangsa Israel sebagai keseluruhan, sehingga pada umumnya Allah masih agak jauh bagi masing-masing individu atau pribadi, sehingga hubungan pribadi antara Allah dan masing-masing umat boleh dikatakan jarang.

Hal itu berubah dengan ketaatan Tuhan Yesus. Yesus telah datang ke dunia untuk mewahyukan kepada kita siapa Allah itu sesungguhnya. Allah yang hidup itu ternyata adalah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Dalam hidup-Nya, Yesus menyatakan adanya suatu hubungan pribadi yang  mesra dengan Allah sebagai Bapa-Nya. Nama Bapa selalu ada dalam hati-Nya dan pada bibir-Nya. Seluruh hidup-Nya diarahkan kepada pelaksanaan kehendak Bapa. Selama hidup-Nya Ia tidak mencari sesuatu lain daripada memuliakan Bapa-Nya dengan melaksanakan kehendak dan rencana keselamatan-Nya. Ia hanya melakukan apa yang berkenan kepada Bapa. “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh.4:34). Karena itu pula Bapa tidak pernah meninggalkan Dia baik dalam karya maupun dalam penderitaan-Nya. Segala sesuatu yang dilakukan Yesus berkenan kepada Bapa: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (Mrk. 9:7). Pelaksanaan kehendak Bapa ini menjadi pedoman mutlak bagi-Nya, juga bila hal itu berarti bahwa Ia harus direndahkan dan mengurbankan hidup-Nya sendiri, walaupun Ia adalah Anak Tunggal Allah. Ia telah rela taat secara mutlak, bahkan sampai wafat di kayu salib.

“Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di salib” (Flp.2:5-8).

Oleh ketaatan-Nya, Ia telah memperolehkan bagi kita Roh Kudus yang menjadikan kita anak-anak Allah. Oleh Roh itu kita pun dijadikan-Nya anak-anak Allah dan saudara-saudari-Nya, sehingga dalam Dia dan oleh kuasa Roh Kudus kita dapat berseru: “Ya Abba, ya Bapa” (Rm. 8:15). Oleh Roh Kudus itu kita telah diberi bagian dalam hubungan-Nya yang mesra dengan Bapa. Karena itu kita telah menjadi anak dalam Sang Anak. Dia adalah saudara sulung kita.

Yesus adalah Anak Allah karena kodrat, setara dengan Bapa. Maka apa yang dimiliki Bapa, juga dimiliki-Nya. Karena itu, Dia adalah Mahakuasa, Mahatahu, Mahakudus seperti Bapa. Oleh Dia, karena penjelmaanNya menjadi manusia, kita telah dijadikan anak-anak angkat Allah. Martabat kita sebagai anak-anak angkat Allah sesungguhnya luar biasa, karena sebagai anak kita juga diberi bagian dalam kodrat-Nya. Fakta bahwa kita dijadikan anak-anak Allah sungguh merupakan suatu karunia yang amat besar dan mengungkapkan kasih Allah yang luar biasa bagi kita, seperti diungkapkan Santo Yohanes: “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah” (1 Yoh.3:1).

Dalam Yesus kita boleh memasuki suatu hubungan pribadi dengan Allah sebagai seorang anak dengan Bapanya. Kita bahkan diperbolehkan menyebut Dia dengan sebutan "Abba, Bapa", suatu sebutan yang amat akrab, yang lazim dipakai seorang anak untuk menyebut ayahnya. Jadi kata Abba dapat diterjemahkan dengan papa, papi, atau daddy. Kalau sungguh direnungkan, hal itu luar biasa, bahwa kita manusia yang berdosa ini, sebagai anak-Nya diperbolehkan menyapa Allah dengan sebutan mesra tersebut.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting