Print
Hits: 4325

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

 

 

Intisari iman Kristiani ialah kepercayaan kepada Bapa, dan Putera dan Roh Kudus sebagaimana menjadi iman Gereja. Iman Gereja ini menjadi iman pribadi kita. Pada akhirnya dalam persekutuan umat beriman yang percaya pada Allah Tritunggal dalam pribadi Tuhan kita Yesus Kristus. namun, apa arti beriman kepada Roh Kudus? Sungguhkah kita mengenal Roh Kudus? Apa artinya bagi iman kita? Mari kita renungkan secara mendalam artikel ini semoga kita semakin mempersiapkan diri pada Hari Raya Pentakosta nanti.


1.  Peranan Roh Kudus dalam Hidup Kita

Meskipun setiap hari kita membuat tanda salib sambil berkata: "Atas nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus," namun Roh Kudus yang setiap kali disebutkan tetap tidak begitu kita kenal. Kita memang mengenal gambaran Bapa lewat gambar-gambar atau lukisan-lukisan yang menggambarkan Bapa sebagai seorang bapak tua dengan wajah yang cerah dan penuh belas-kasih. Atau kita mengenal Putera melalui macam-macam lukisan, patung, ikon, dan sebagainya. Namun Roh Kudus? Roh Kudus tidak mempunyai wajah.

Dalam Kitab Suci memang tidak disebutkan bahwa Roh Kudus mempunyai wajah, bahkan tidak ada sebutan untuk-Nya yang mengungkapkan suatu rupa yang dapat dibandingkan dengan manusia. Dalam semua bahasa, nama-Nya merupakan suatu nama yang umum. Dalam Bahasa Ibrani, Ia disebut “Ruah”, dalam Bahasa Yunani: “Pneuma”, dan dalam Bahasa Latin: “Spiritus.” Semua nama atau sebutan ini dipinjam dari sebutan untuk unsur-unsur umum alamiah: angin, napas, dan udara.

Roh Kudus memang merupakan suatu pribadi yang misterius, yang membingungkan; kita mendengar suara-Nya, tahu bahwa Ia telah lewat karena tanda-tanda ajaib yang ditinggalkan-Nya, tetapi kita tidak tahu dari mana datang-Nya atau ke mana pergi-Nya (bdk. Yoh 3:8). Oleh karena itu, Roh Kudus tidak pernah dapat kita jangkau dengan pikiran kita dan karya-karya-Nya selalu melampaui segala pengertian kita. Untuk dapat mengenali-Nya dibutuhkan kerendahan hati serta iman yang hidup.

Dan lagi, Roh inilah yang selalu menjiwai Gereja. Dialah yang membangun Gereja. Di mana ada Roh Kudus, di situlah Gereja terbentuk, didirikan, dan dibangun. Sebaliknya, di mana ada Gereja, di situ pula Roh Kudus. Dia pulalah yang menjadi penggerak setiap orang Kristen, dan melakukan karya-karya agung dalam dirinya. Bila Roh Kudus dicurahkan atas manusia, manusia dihidupkan kembali, walaupun sebelumnya ia telah mati dan mengering se-perti tulang-tulang yang kering (bdk. Yeh. 37). Karena itu Roh Kudus bertugas menghidupkan manusia, menghidupkan hatinya, melunakkan yang keras, meluruskan yang bengkok, menghangatkan yang dingin, dan mengubah hati dari 'batu' serta menggantinya dengan hati yang dari daging, yang dapat merasa dan dapat mencinta (bdk. Yeh. 36:26).

Roh Kudus selalu berkarya di dalam Gereja dan melalui ang-gota-anggotanya. Ia senantiasa berkarya melalui seseorang: menguasai serta mengubahnya. Memang Ia juga menyatakan kehadiran-Nya melalui tanda-tanda yang mengherankan, tetapi segala karya-Nya selalu bertolak dari kedalaman batin manusia. Di  situ pula orang mengenal-Nya. "Kamu mengenal-Nya, karena Ia tinggal dalam kamu" (Yoh.14:17). Lambang-lambang yang dipakai untuk Roh Kudus: api, air, angin, termasuk unsur-unsur alamiah, unsur-unsur alam semesta dan yang tidak mempunyai wajah tertentu. Semuanya ini menyatakan suatu kehadiran yang meresapi segala sesuatu, yang memenuhi segalanya dan selalu berkembang ke dalam.


2.  Hidup dalam Roh

Bila Roh Kudus merupakan kehadiran yang meresapi segala sesuatu, bahkan hadir sebagai Pribadi dalam diri kita, seharusnya kita mengenal-Nya, seperti yang diungkapkan dalam Injil Yohanes tadi: "Kamu mengenal-Nya, karena Ia tinggal dalam kamu."

Santo Paulus menyadari hal ini sedalam-dalamnya. Ia sadar bahwa Roh Kudus harus berkarya dalam diri kita dan bahwa hanya dengan demikian saja kita dapat menjadi orang-orang kristen yang sejati, yakni bila dibimbing Roh Allah sendiri. Karenanya, tak cukuplah bagi kita untuk sekedar tahu bahwa Roh Kudus hadir, namun kita harus menyerahkan diri kepada-Nya supaya Ia berkarya dalam diri kita. Dan Ia sungguh-sungguh berkarya, bila kita mengalaminya.

Bagi orang-orang kristen perdana, pengalaman Roh Kudus ini merupakan hal yang wajar. Bagi mereka, Roh Kudus pertama-tama merupakan suatu pengalaman, baru kemudian suatu ajaran, namun bagi kita sering terjadi justru sebaliknya. Roh Kudus lebih merupakan suatu pengertian belaka, yang tidak pernah kita alami karya maupun kehadiran-Nya.

Tetapi dalam kehidupan orang-orang kristen pertama mengalami kehadiran serta karya Roh Kudus adalah hal yang normal. Ketika orang-orang kristen di Yerusalem berdoa minta keberanian, "rumah tempat mereka berdoa bergoyang dan mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus serta mewartakan Sabda Allah dengan berani" (Kis.4:31).

Beberapa contoh: Untuk menyatakan kesucian Stefanus, Kitab Suci mengatakan bahwa ia "seorang yang penuh iman dan Roh Kudus" (Kis.6:5). Dan Roh Kudus inilah yang memberikan banyak karunia dan kuasa kepadanya, sehingga ia mampu mengadakan tanda-tanda (Kis. 6:8). Ia juga dipenuhi hikmat, sehingga orang Yahudi "tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh Kudus yang mendorong dia berbicara" (Kis.6:10). Filipus disuruh Roh Kudus untuk mendekati kereta orang Etiopia: "Lalu kata Roh kepada Filipus: Pergilah kesitu dan dekatilah kereta itu" (Kis.8:29). Begitu pula Paulus dan Barnabas disendirikan Roh Kudus: "Pada suatu hari ketika mereka sedang beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka" (Kis.13:2).

Dari contoh ini kiranya jelas bahwa banyak hal yang dikerjakan Roh Kudus pada orang-orang kristen pertama dan dengan perantaraan mereka melalui karunia-karunia-Nya. Karunia Roh Kudus itu bermacam-macam dan jumlahnya juga tidak terbatas, sebagaimana Roh sendiri tidak membatasi manifestasinya. Santo Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus menyebutkan pelbagai karunia Roh Kudus (bdk. 1 Kor. 12:7-11). Tetapi masih banyak lagi karunia Roh Kudus yang tidak dituliskan oleh Santo Paulus. Namun karunia yang terbesar ialah mengalami cintakasih Allah sendiri, yang dinyatakan melalui pelbagai karunia tersebut atau dengan cara lain.

Bila Roh Kudus hadir dan bekerja secara aktif dalam diri seseorang, boleh dikatakan bahwa orang itu hidup dalam Roh. Jadi kita sungguh-sungguh hidup dalam Roh bila kita mengalami bahwa Roh Kudus bekerja secara aktif dalam diri kita, seperti yang dikatakan Santo Paulus: "Anak-anak Allah ialah mereka yang digerakkan oleh Roh Allah" (bdk. Rm.8:14). Sesungguhnya semuanya ini merupakan sesuatu yang wajar dan normal bagi orang-orang kristen purba.

Namun dewasa ini kebanyakan orang kristen belum hidup dalam Roh. Kita sering diajar dan barangkali juga mengajar tentang Kristus, tentang kewajiban-kewajiban kristen kita. Kita berniat melakukannya, namun banyak yang tidak mempunyai daya dan kekuatan untuk sungguh-sungguh melakukannya, banyak yang tidak mampu menghayati cita-cita kristen itu. Banyak pula yang tidak memiliki hubungan yang nyata dengan Kristus, atau pun mengalami kehadiran serta karya-Nya. Kita sering mendengar tentang kasih Allah bagi kita, namun tidak mengalami, sama seperti seorang yang lapar mendengar cerita-cerita tentang makanan yang lezat dan berlimpah-limpah, tetapi tidak dapat menikmatinya.

Akan tetapi bila seseorang sungguh-sungguh hidup dalam Roh maka hidupnya akan berbeda. Ia menjadi tahu dan mengalami bahwa Roh Kudus ada dalam dirinya. Ia tidak hanya mendengar dan percaya akan cinta Allah, namun ia juga mengalaminya pula, biarpun semuanya itu terjadi dalam iman. Ia tidak hanya mendengar dan melihat makanan yang lezat-lezat namun boleh ikut menikmatinya pula. Bila demikian halnya, hidup kita akan mengalami perubahan yang cukup mendalam. Kita akan sungguh-sungguh dapat memuji Allah dengan bebas, Kitab Suci pun semakin hidup bagi kita. Yesus menjadi semakin nyata, damai dan kegembiraan menjadi mendalam, kita menjadi bahagia dan doa pun akan menjadi semakin mendalam. Bila demikian, hidup akan menjadi lebih berarti, penyakit batin dan jiwa akan lenyap.

Hidup seperti ini seharusnya menjadi sesuatu yang normal, yang biasa bagi orang kristen. Tidak berarti bahwa semua mengalami, namun harus menjadi ukuran atau pun norma hidup kristen. Memang banyak yang ingin hidup dalam Roh, tetapi tidak tahu caranya.  Bagaimana menemukan kontak dengan Roh Kudus yang memung-kinkan mereka mengala­­mi kehadiran-Nya?

Barangkali ada yang bertanya dalam hatinya: apakah pengalaman seperti itu atau hidup seperti itu mungkin bagi kita yang hidup sekarang ini? Apakah kemungkinan itu juga terbuka bagi kita yang biasanya amat sibuk, yang ditimpa macam-macam persoalan? Tanpa ragu-ragu sedikit pun semuanya itu dapat dijawab secara positif bahwa bagi kita semua itu  mungkin. Juga bagi kita sekarang ini, bagi Anda yang membaca ini, kemungkinan tersebut juga terbuka. Dan hidup dalam Roh ini akan mulai bila kita dibaptis dalam Roh Kudus.


3.  Dibaptis dalam Roh Kudus

Untuk mengerti apa yang dimaksudkan dengan pembaptisan Roh Kudus kita dapat me-lihat apa yang terjadi pada orang-orang yang dibaptis dalam Roh Kudus ini. Kitab Suci juga memberikan beberapa contoh tentang hal ini, misalnya ketika Paulus tiba di Efesus dan bertemu dengan beberapa murid. Setelah berbicara dengan mereka, barangkali Paulus mera-sa bahwa masih ada kekurangan sesuatu pada mereka maka ia pun bertanya: "Adakah kamu telah menerima Roh Kudus ketika percaya?" Dari jawaban mereka itu Paulus tahu bahwa mereka belum menerima Roh Kudus, bahwa mereka belum menjadi orang kristen yang penuh maka ia pun mulai berbicara tentang hal ini: "Ketika mendengar ini, mereka pun dipermandikan dalam nama Tuhan Yesus dan ketika Paulus menumpangkan tangan atas mereka, Roh Kudus turun atas mereka dan mulailah mereka berbicara dalam bahasa roh serta bernubuat" (Kis.19:1-6).

Pada waktu itu mereka tahu bahwa mereka menerima Roh Kudus dan Paulus serta para pengikutnya pun tahu. Hal yang sama kita jumpai pada peristiwa Kornelius (Kis. 10:44-48), pada orang di Samaria (Kis. 8:18). Maka bila seseorang dibaptis dalam Roh Kudus, orang akan tahu hal itu. Juga dewasa ini banyak orang yang mengalami hal yang serupa.

Jadi apakah sesungguhnya arti pembaptisan Roh Kudus ini? Sebenarnya ini bukan lain daripada pengaktifan dan aktualisasi buah-buah Sakramen Pembaptisan dan Krisma, yang sering kali kurang efektif dalam hidup banyak orang. Pembaptisan Roh Kudus ini bukan suatu Sakramen, hanya semacam doa permohonan untuk mengaktifkan rahmat pembaptisan.

Bila rahmat pembaptisan tadi sungguh-sungguh diaktifkan, orang akan mengalami keha-diran Roh Kudus yang sungguh-sungguh berkarya dalam diri-nya. Dan ini dapat merupakan titik tolak suatu hidup baru. Jadi sesungguhnya jelas bahwa pengalaman semacam itu sudah ada sejak semula dalam Gereja, hanya saja banyak orang yang melupakannya. Dewasa ini hal ini diketemukan kembali oleh pembaruan karismatik dengan suatu dimensi yang baru, yaitu dengan suatu kesadaran yang mendalam bahwa hal ini pun terbuka bagi semua orang kristen yang sungguh-sungguh percaya.

Jadi kiranya dapatlah dikatakan bahwa pembaptisan Roh Kudus ini merupakan pelepasan kuasa Roh Kudus yang sudah kita terima dalam Sakramen Pembaptisan dan khususnya dalam Sakramen Krisma. Ini bukan lain dari pengaktifan rahmat pembaptisan.

Apa yang dialami orang pada waktu dibaptis dalam Roh Kudus cukup berbeda-beda. Ada yang mengalami banyak sekali, ada pula yang sedikit. Yang satu merasakan tersentuh dalam sekali, yang lain tidak mengalami apa-apa. Kebanyakan hanya mengalami damai yang men-dalam saja, kasih Allah yang besar. Pengalaman pada waktu itu bukanlah yang terpenting, biarpun dapat menjadi modal yang baik untuk suatu hidup yang baru. Namun yang terpenting ialah perubahan yang dialami orang itu, karena kehadiran Roh Kudus dalam dirinya secara baru. Karena kehadiran baru Roh Kudus ini, terjalin suatu hubungan yang baru antara dia dengan Tuhan.

Bila seseorang dibaptis dalam Roh Kudus, Roh Kudus menim-bulkan perubahan besar dalam dirinya, yang satu lebih dari-pada yang lain. Hidupnya men-jadi berbeda, karena hubungan-nya dengan Allah juga berubah. Ia memasuki suatu hubungan baru dengan Allah, mengalami kehadiranNya yang baru pula. Ia juga akan mengalami Roh Kudus yang berkarya dalam dirinya. Perubahan-perubahan ini dapat berupa:


  1. Pembebasan dari segala macam ikatan dosa dan kelemahan-kelemahan,
  2. Penyembuhan dari segala macam tekanan batin, ketakutan, dan kekuatiran,
  3. Kekuatan baru untuk menghayati hidup sebagai orang kristen, sehingga kebajikan-kebajikan akan berkembang dalam dirinya,
  4. Kekuatan baru untuk mengatasi bermacam-macam godaan dan kelemahan yang sampai saat itu tidak dapat diatasi,
  5. Gairah hidup yang lebih besar, menemukan arti hidup yang sesungguhnya,
  6. Kebahagiaan yang mendalam dan sukacita yang besar,
  7. Kesadaran bahwa benar-benar dicintai Allah dan bahwa Allah itu sungguh-sungguh hidup serta dekat dengannya,
  8. Kitab Suci juga menjadi lebih hidup, lebih menarik, sehingga gairah untuk membaca Kitab Suci bertambah,
  9. Dari kesadaran akan semuanya ini timbullah suatu dorongan untuk memuji Allah secara spontan,
  10. Dan akhirnya makin hari akan makin tampak buah-buah Roh Kudus dalam hidup kita, yakni: kebaikan hati, kesabaran, cinta kasih, kelembutan hati, penguasaan diri, kerendahan hati, dan sebagainya (bdk. Gal.5:23; 1 Kor.13:4-7).

Dengan kata lain, dibaptis dalam Roh Kudus adalah langkah pertama suatu hidup baru, hidup dalam Roh. Ini hanya permulaannya saja, bukan puncaknya. Dan yang memungkinkan seseorang hidup dalam Roh ini ialah kehadiran Roh secara baru itu, yang mengerjakan segala sesuatu dalam diri kita. Dialah yang melaksanakan apa yang tidak dapat kita laksanakan sendiri.

Maka dibaptis dalam Roh Kudus tidaklah menunjukkan suatu kesucian, melainkan hanya permulaan kesucian saja, suatu jalan baru kepada kesucian. Ini juga merupakan suatu permulaan hidup baru yang berpusat pada Kristus, dalam kekuatan Roh Kudus, suatu hidup yang lebih bahagia, lebih damai, lebih harmonis, lebih suci. Karenanya orang yang hidup dalam Roh akan makin cepat berkembang dalam cintakasih.

Perkembangan ini pun  mengikuti pola-pola yang berbeda-beda pula. Yang seorang mengalami perubahan yang cepat sampai kepada suatu titik tertentu. Orang ini mengalami apa yang disebut pengalaman puncak atau pengalaman kritis, artinya suatu pengalaman yang cukup mendalam yang mengubah hidupnya seketika itu juga. Perubahan ini memang terjadi cepat sekali sampai suatu saat tertentu, tetapi kemudian mengikuti hukum pertumbuhan yang biasa, yang diikuti pasang dan surut, terang dan gelap. Yang lain mungkin perubahan dan perkembangannya lebih bertahap, tidak ada perubahan yang mengejutkan, namun lebih konstan, lebih tetap. Saya kira dalam hal ini masing-masing harus mengikuti jalannya sendiri, serta menyerahkan diri ke dalam bim-bingan Tuhan, yang tahu mana yang baik bagi kita masing-masing.

Bagaimana kita dapat mem-perolehnya? Untuk ini dibu-tuhkan beberapa syarat tertentu:

  1. Kita harus bertobat, harus mau berubah sungguh-sungguh, mau menempuh hidup baru, yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita harus rela mengubah arah hidup kita, meninggalkan segala sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Pendek kata meninggalkan segala dosa.
  2. Percaya bahwa hal ini sungguh-sungguh mungkin, bahwa Tuhan dapat melepaskan kuasa Roh Kudus dalam diri kita.
  3. Percaya bahwa Tuhan telah menjanjikannya, dan sesungguhnya Tuhan rindu sekali memberikan Roh-Nya kepada kita (bdk. Luk.11:9-13).
  4. Percaya bahwa ini hanya karunia semata-mata, tidak diberikan karena jasa-jasa seseorang atau karena ia pantas menerimanya, dan karenanya tidak dapat diperoleh karena jasa-jasa kita.
  5. Namun percaya dan yakin bahwa akan dikaruniakan Allah kepada siapa saja yang percaya serta memohon kepadaNya.

Biarpun secara teoritis orang dapat dibaptis dalam Roh Kudus bila ia minta secara langsung kepada Tuhan — dan memang kadang-kadang terjadi demikian — namun dalam kenyataannya sebagian besar dibaptis dalam Roh Kudus karena bantuan orang lain, atau dalam konteks suatu persekutuan doa. Karenanya Retret Awal atau Seminar Hidup Baru Dalam Roh adalah salah satu sarana untuk mempersiapkan diri serta memperoleh pembaptisan dalam Roh.