User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Dalam hidup kita sebagai anak-anak Allah yang telah dipanggilnya sejak semula, baik sebagai seorang awam maupun religius, tidak jarang kita mengalami suatu kejenuhan dan kekeringan.

Pernah suatu ketika, seorang saudara saya dari komunitas awam mengatakan kepada saya, bahwa dia merasa jenuh melayani Tuhan dan sesama, serta jenuh untuk berdoa. Ketika saya menanyakan alasannya, saya terkejut sendiri mendengar jawabannya. Dia mengumpamakan dirinya sebagai salah seorang dari pekerja di ladang Tuhan yang bekerja sejak pagi-pagi benar (Mat 20:1-16), yang sudah capek-capek bekerja, namun akhirnya dihargai sama dengan orang-orang yang masuk belakangan. Dia menyesali hal itu, terlebih-lebih lagi dia merasa menyesal bertobat lebih dahulu. Dia merasa bahwa Tuhan telah berlaku tidak adil terhadapnya. Orang yang sudah hampir meninggal, namun sebelum meninggal bertobat dan mengakui kesalahannya juga masuk surga koq,” katanya. “Lalu untuk apa saya bertobat cepat-cepat?”

Hal ini menjadi renungan saya waktu itu. Di satu segi, dia benar, bahwa kerahiman Allah mengatasi dosa seberat apa pun, asalkan manusia mau sungguh-sungguh bertobat atas segala dosanya. Namun, apakah benar bahwa Tuhan tidak adil dalam hal ini? Hal pertama yang muncul dalam pikiran saya adalah bahwa adil menurut pikiran kita sangatlah jauh dari anggapan adil menurut Tuhan. Kita tidak akan mampu untuk mengerti kebijaksanaan Tuhan yang Mahatahu. Itu jelas! Lagipula, siapakah yang berani menjamin bahwa ia akan bertobat pada saat menjelang meninggalnya? Siapakah yang berani menjamin bahwa dia dapat sungguh-sungguh bertobat pada akhir hidupnya? Dari kenyataan, orang yang cenderung sadar akan dosa-dosanya terlebih dahulu lebih mudah untuk bertobat. Sebaliknya, orang yang sudah boleh dikatakan “karatan” dalam hal dosa akan mengalami kesulitan untuk bertobat, walaupun dalam saat-saat terakhir dalam hidupnya. Dan kenyataan terakhir adalah tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan dia akan dipanggil Tuhan, kapan dia akan meninggal! Namun, bukan hanya hal ini saja yang membuat saya tetap memegang prinsip saya dan tetap bersyukur dapat melayani Tuhan sampai akhir hidup saya.

Yang merupakan pengalaman yang luar biasa dan terutama dalam hidup saya, ialah ketika saya boleh mengalami kasih Tuhan. Suatu perasaan yang tak terkatakan yang hampir menyamai kemanisan surgawi. Pengalaman yang memampukan saya untuk melupakan segalanya dan rela meninggalkan segalanya untuk memilikinya. Tempat apakah yang lebih indah daripada surga? Apa yang lebih berharga daripada persatuan dengan Kristus? Satu rahasia besar yang ingin saya bagikan kepada Anda: semuanya sudah bisa kita alami di dunia ini! Mampukah Anda untuk mengharapkan lebih dari ini?

Memang, pada akhirnya kita akan mendapatkan upah yang sama yaitu kehidupan kekal (dalam arti kalau kita tetap setia kepada Kristus dan melakukan segala kehendakNya), namun imbalan bagi kita sebagai pelayan Kristus di dunia ini sudah jelas. Apa yang paling berharga pada Yesus yang bisa diberikanNya kepada kita? HidupNya? Sudah sejak 2000 tahun yang lalu diberikanNya kepada kita. Jadi apalagi yang lebih berharga? Tidak lain adalah RohNya sendiri. Dia akan memberikan RohNya sendiri apabila kita tinggal bersama dengan Dia (bdk. Yoh 14:6 dan Luk 11:3). Itulah upah pelayanan kita dan itulah surga di dunia. Dia hadir dalam diri kita dalam setiap pelayanan kita. Dia−Bapa, Putra dan Roh Kudus sendiri hadir di dunia dalam diri kita. Kita yang telah dipanggilNya, sebagai insan Allah, anak-anak Allah, telah menghadirkan kerajaan Alla walaupun masih di dunia ini. sekarang saya bertanya, “Tidak adilkah Tuhan?”

Kodrat Kita sebagai Anak-Anak Allah

Pernah juga seorang bapak mensharingkan hal ini kepada saya, bahwa ia merasa hidupnya di dunia hanya sekedar semata-mata untuk hidup di dunia saja. Artinya dia melihat inilah realitas hidup di dunia ini sebagai manusia yang tidak mungkin bisa membayangkan apalagi merasakan realitas roh di dunia ini. jadi dia tidak ambil pusing salam sekali akan hal-hal di luar nalar atau yang bersifat ilahi ataupun rohani. Dia membandingkannya sebagai berikut: seekor anak ayam tidak mungkin bisa berubah menjadi seorang manusia, karena kodratnya sebagai seekor ayam, sebutir batu yang mati tidak mungkin menjadi hidup, karena akan melanggar kodratnya sendiri. Dia memang mengakui adanya Tuhan, namun yang dia yakini akan Tuhan ini adalah sebatas sesuatu yang tidak bisa dan tidak mungkin bisa terjangkau oleh manusia.

Betapa banyak orang yang mempunyai pikiran semacam ini, bahkan banyak orang Kristen yang terjabak dalam pikiran seperti ini. betapa tipisnya pengharapan mereka yang belum mengalami kasih Tuhan secara hidup dalam diri mereka. Betapa hambarnya hidup di dunia ini tanpa kasih tersebut. Namun satu kabar gembira bagi kita semua adalah Kristus telah wafat dan bangkit bukan saja untuk menghapus dosa-dosa kita namun juga telah memperdamaikan kita dengan Allah Bapa kita di surga, memberikan kita suatu rahmat yang sanggup untuk mengangkat martabat kita menjadi anak-anak Allah. Dengan RohNya sendiri Dia telah memberikan kita kuasa untuk pertama-tama mengenal Dia secara hidup, menikmati kasihNya, dan kuasa untuk menginjak-injak ular dan kalajengking. Betapa tingginya Tuhan telah mengangkat kita. Betapa berharganya kita di mata Tuhan. Tahukah Anda bahwa harga Anda adalah nyawa dari Putra Allah sendiri? Dan sekali lagi kesadaran akan hal ini, iman, pengharapan dan kasih ini sudah bisa kita miliki sekarang, di dunia ini. Dengan melayani Tuhan kita akan menemukan damai dan sukacita serta kebahagiaan yang tak terkatakan. Namun, mengapa ada orang tertentu yang mengalami kekeringan dalam doa?

Kekeringan dalam Doa

Banyak orang yang mengaku mengalami “kekeringan” dalam doanya, lalu langsung memvonis bahwa kekeringan ini berasa dari Tuhan.

Memang, pada orang-orang tertentu, Tuhan sendirilah yang membawa mereka masuk ke dalam kekeringan ini untuk semakin menyempurnakan kasih mereka. Tetapi tidak semua kekeringan tersebut berasal dari Tuhan. Ada beberapa alasan lain yang mungkin menjadi penyebab dari kekeringan itu, antara lain:

1. Hubungan dengan Tuhan

Apakah kita sudah melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan bagi kita? Apakah kita justru menolak rahmat-rahmat yang telah disediakan-Nya bagi kita? Apakah kita telah menjadi puas diri dengan keadaan kita sekarang, dan malas untuk maju dan berkembang dalam cintakasih dan kesempurnaan?

Apa yang dikatakan dosa maut memang meniadakan rahmat. Namun, orang-orang tertentu justru menolak rahmat itu sendiri. Hal ini sungguh merupakan kekejian di mata Allah. Mereka tidak berani memandang Allah yang Mahakasih, yang menyediakan rahmat berlimpah bagi mereka. Mereka sering menolak dengan mengatakan bahwa mereka tidak pantas untuk menerimanya. Kita memang tidak pernah pantas untuk menerima apa pun dari Tuhan. Namun menolak pemberian yang cuma-cuma dariNya justru merupakan suatu kesombongan yang luar biasa. Menolak rahmat atau melarikan diri darinya berarti menolak Dia yang memberikannya, yang sama juga artinya dengan menolak keselamatan yang datang dariNya. Terkadang kita tidak sadar, bahwa tanpa rahmat Tuhan kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita diselamatkan bukan atas jasa atau kesucian kita, melainkan semata-mata oleh pengorbanan Yesus dan kasih karuniaNya (bdk. Ef 2:8). Semuanya adalah pemberian cuma-cuma dari Allah, yang harus kita terima dengan rendah hati dan penuh syukur.

2. Hubungan dengan sesama

Hukum yang terutama bagi orang Kristen adalah mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, kekuatan dan akal budi dan hukum kedua yang setara dengan yang pertama adalah mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Hubungan kita dengan Allah tidak bisa dipisahkan dari hubungan kita dengan sesama. Kasih kepada Allah harus dibuktikan dengan kasih kepada sesama pula. Rasul Yohanes dalam 1Yoh 4:20a berkata: Jikalau seorang berkata: ”Aku mengasihi Allah” dan dia membenci saudaranya maka ia adalah pendusta. Bukan orang yang berteriak: “Tuhan, Tuhan,” yang akan masuk kerajaan surga, melainkan mereka yang melakukan kehendakNya.

Selama kita masih di dunia ini memang tidak bisa melarikan diri dari kenyataan bahwa kita sering merasa sakit hati kepada seseorang. Perasaan marah dan jengkel kerap kali muncul sewaktu-waktu. Tetapi hendaklah semuanya itu sudah selesai sebelum matahari terbenam. Tuhan yang telah begitu murah hati kepada kita dan mau mengampuni semua dosa kita, masakan kita tidak bisa memaafkan secuil kesalahan sesama kita?

Sebelum seseorang mengatakan bahwa ia mengalami kekeringan doa yang diberikan Tuhan kepadanya, sebaiknya ia memeriksa batinnya terlebih dahulu. Segala luka batin berupa: perasaan iri hati, dengki, kebencian, amarah dan lain-lain akan membuat kita tertutup akan kasih Allah Selesaikanlah dahulu semua masalahmu itu, barulah mulai berperkara dengan Tuhan.

3. Ketidaksetiaan dalam Perkara-perkara kecil

Kesombongan karena merasa diri sudah pantas untuk dikasihi Tuhan sering membuat kita seolah-olah meremehkan hal-hal kecil, dan lebih terpaku kepada perkara-perkara dan pelayanan-pelayanan yang besar. Padahal kesempatan untuk pelayanan-pelayanan besar itu jarang sekali ada.

Misalnya, ada seorang aktivis dalam Gereja yang selalu sibuk untuk menyiapkan acara-acara besar dalam paroki maupun di luar parokinya. Ia sering ditunjuk sebagai ketua panitia KRK, diundang sebagai pembicara dalam persekutuan doa, jadi panitia malam dana ini, acara amal itu. Namun, ia tidak pernah memperhatikan seorang pengemis tua yang duduk di perempatan jalan yang dilaluinya setiap hari, tidak peduli pula akan tetangga yang baru mengalami musibah kebakaran yang menghanguskan rumah dan seluruh isinya, bahkan terlalu sibuknya ia sampai melalaikan anaknya sendiri yang akhirnya tumbuh menjadi seorang anak yang suka memberontak dan mabuk-mabukan. Inilah contoh seorang Suku Lewi munafik modern yang melewati begitu saja dari seberang jalan tanpa memperdulikan orang yang tergeletak hampir mati akibat dirampok (Luk 10:32). Mungkin orang Lewi itu juga mempunyai alasan terburu-buru untuk bermacam-macam pelayanan.

Santo Agustinus, seorang bapa dan pujangga Gereja pernah mengucapkan kata-kata ini: “Aku khawatir kalau-kalau Yesus sudah lewat dan aku tidak menyadarinya.” Betapa sering kita melalaikan dan melalaikan Yesus yang hadir dalam perkara-perkara kecil. Banyak orang yang ingin mencari Tuhan lebih mendalam menanyakan tentang cara atau teknik berdoa terus-menerus. Berdoa terus-menerus bukanlah suatu teknik, melainkan hati yang terus-menerus dipenuhi oleh kasih akan Yesus Kristus. Menyadari kehadiran Yesus yang mengasihi kita dalam setiap orang, setiap peristiwa dalam hidup kita. Dan kebanyakan hidup kita justru dilewati dengan perkara-perkara yang kecil dan remeh. Namun, kalau semuanya itu dipersembahkan kepada Yesus betapa jauh dan tingginya nilainya di hadapan Allah.

Demikian pula dalam hal dosa. Kita sering meremehkan dan melupakan secara sengaja dosa-dosa kecil dalam pengakuan dosa seolah-olah itu bukanlah dosa. Dosa-dosa kecil yang kelihatan remeh sehingga dilakukan berulang-ulang dapat menyebabkan suatu cacat yang sukar sekali diobati. Bahkan bukan tidak mungkin dapat melukai roh kita, menumpulkan perasaan hati yang membuat kita tidak peka lagi akan kehadiran Tuhan melalui Pribadi Roh KudusNya. Dan dalam keadaan seperti inilah jiwa seolah-olah mengalami suatu kekeringan. Di sinilah penyadaran diri dan discernment setiap saat akan hal yang kecil-kecil sangat diperlukan.

Di luar semua itu, perlu kita sadari bahwa doa dan pelayanan kita sendiri itu tidak pernah kering. Doa dalam bentuk apa pun yang kita panjatkan dengan penuh iman dan kasih akan Dia yang mendengarkan dan akan mengabulkan setiap permohonan kita yang berkenan kepadaNya, merupakan sesuatu yang dahsyat. Jikalau kita mengandaikan doa yang baik sebagai doa yang penuh dengan sentuhan dan hiburan, seolah-olah kalau tanpa sentuhan atau hiburan, doa kita tidak diterima Tuhan, betapa rendahnya nilai doa itu. Seolah-olah sentuhan-sentuhan dalam doa itu lebih tinggi nilainya dari doa itu sendiri.

Penulis dalam kesempatan ini juga mau mengatakan kepada Anda, bahwa saya tidak pernah menyesal melayani Tuhan. Saya hanya menyesal, mengapa kesempatan ini datangnya tidak lebih cepat lagi.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting