User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

 

Kita semua diciptakan untuk Tuhan dan untuk kehidupan di surga kelak. Oleh sebab itu, kita semua rindu untuk bersatu dengan Tuhan, seperti dikatakan oleh St. Agustinus, “Hatiku tidak dapat tenang sebelum beristirahat di dalam Engkau.” Dan, sebenarnya Tuhan tidak berada jauh dari kita. Tuhan sendiri, Sang Pencipta kita, tidak hanya mencintai kita tetapi juga sangat merindukan agar kita mengenal dan mengerti kedalaman cinta-Nya.

Ketika manusia pertama memilih untuk tidak taat pada perintah-Nya, Tuhan amat sedih. Demikian pula, manusia Adam dan Hawa merasakan perbedaan antara hidup jauh dari Allah dengan sebelumnya dimana mereka bebas untuk berkomunikasi secara intim dengan Tuhan. Tuhan kini terasa jauh. Mereka tidak dapat lagi berbicara langsung dengan Tuhan dari muka ke muka sebagaimana dulu. Keintiman itu telah lenyap. Akan tetapi, Tuhan tidak mencoret kita dari rencana-Nya untuk membahagiakan kita. Ia telah merencanakan penyelamatan kita kembali dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal. Hati Bapa merindukan kita dan mau menarik kita kembali ke sisi-Nya.

Keintiman dengan Tuhan ini merupakan kebutuhan dalam diri kita. Kerinduan akan kesempurnaan, keindahan, kebaikan adalah cerminan dari kerinduan kita akan surga yang hilang. Kita diciptakan untuk kembali ke surga bersatu dengan Bapa, oleh karena itulah kita frustrasi jika kita tidak hidup di dalam surga. Namun, surga bukan hanya kelak setelah kita meninggal dunia, melainkan sudah dimulai sejak di dunia ini, yaitu melalui cinta akan Dia, karena “hidup di dalam surga berarti ‘ada bersama Kristus’” [Katekismus Gereja Katolik, no.265]. Surga tidak lain adalah kehidupan yang sempurna bersama Tritunggal Mahakudus, suatu persekutuan cinta bersama-Nya. 

 

Siapakah Tuhan Bagiku?

Tuhan adalah Pemulihku yang Mengubah Pahit Menjadi Manis

Sepuluh tahun yang lalu hidup terasa gelap bagi saya. Saya tidak tahu untuk apa hidup ini. Saya merasa tidak berguna karena setelah menikah saya tidak dapat berkarier sebagaimana yang saya bayangkan sejak masa sekolah dan kuliah. Saya harus pindah ke kota lain yang lebih kecil dengan orang-orangnya yang tidak mengenal saya maupun segudang prestasi saya.

Hari-hari saya lewati dengan rasa frustrasi. Tidak ada yang dapat menghibur saya. Saya mencoba menghibur diri dengan bacaan-bacaan yang berupa self-help namun tidak berhasil. Paling-paling hanya sejenak saya dapat merasakan kelegaan, namun dalam hitungan jam atau hari akan kembali pada situasi depresi dan tertekan. Saya kehilangan semangat hidup. Banyak kejadian yang membuat saya ingin mengakhiri hidup saya. Rasanya tiada artinya lagi hidup tanpa dapat meraih cita-cita dan tujuanku semula. Sampai akhirnya saya mulai berkenalan dengan teman-teman dari suatu komunitas awam, yaitu Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM), yang mengajak saya ikut berdoa bersama. Saya mulai ikut retret-retret dan mulai pelan-pelan menemukan tujuan hidupku kembali. Saya sadar sekarang bahwa saya seharusnya hidup untuk melayani-Nya melalui keluarga dan sesama, dan bukan semata-mata hidup untuk diri saya sendiri.

Apa yang semula terasa pahit sekali kini mulai terasa manis. Buah-buah dari proses penempaan itu kini mulai dapat saya rasakan hasilnya. Ternyata hidup untuk melayani-Nya, berbuat baik untuk orang lain adalah tujuan saya.

Pengalaman awal perkawinan yang berat membawa saya sampai pada titik pasrah. Dan Tuhan mulai nyata bekerja.

Kepercayaan kita akan cinta Tuhan dan pemulihan-Nya adalah jembatan dari bencana ke dalam sukacita. Jika saat ini ada situasi yang terasa pahit dalam kehidupan kita, yakinlah Tuhan dapat mengubahnya menjadi berkat. Mengingat kembali kejadian dimana Tuhan telah mengubah yang pahit menjadi manis dapat membuat kita makin percaya. 

 

Tuhan adalah Penyelamatku yang Memberiku Hidup yang Baru

Pada tahun 1987, ketika saya duduk di kelas 3 SMP di Surabaya, saya mengikuti Novena Pentakosta. Waktu itu saya belum dibaptis. Saya tahu saya rindu untuk menjadi biarawati, namun tidak ada yang membimbing saya. Suatu malam, sepulang dari gereja yang waktu itu masih menempati gedung sekolah Karitas, hati saya dipenuhi kehangatan cinta-Nya. Di rumah saya melanjutkan berdoa. Entah mengapa, saya menangis lama sekali. Saat itulah saya merasakan suatu sentuhan Tuhan yang hangat dalam jiwa saya. Selanjutnya sebagaimana anak-anak muda lainnya saya banyak disibukkan oleh pelajaran sekolah, organisasi, kegiatan sosial dan organisasi lainnya. Sehingga hubungan dengan Tuhan terbatas pada hari minggu ke gereja dan misa pagi serta berdoa paling-paling 10 menit sehari.

Dalam perjalanan hidup saya sebenarnya Tuhan telah beberapa kali menyentuh hati saya, namun saya mengabaikan panggilan-Nya yang lembut itu hingga akhirnya pada tahun 1997 ketika saya sudah melahirkan anak kedua saya, saya benar-benar putus asa karena tidak dapat melanjutkan kuliah S2. Saat itulah Tuhan membuka mata saya untuk mengarahkan hati dan hidupku kepada-Nya. Untuk mencintai-Nya lebih dari siapapun dan apapun di dunia ini. Ini adalah awal hidup saya yang baru. Artinya, orientasi hidup saya kini tidak berpusat pada diri saya, melainkan berpusat pada Tuhan. Ketika kita memikirkan Tuhan, Ia akan memikirkan hidup kita.

Sejak saat itu Ia terus saja menuntun saya dan tidak pernah melepaskan saya lagi. Sayapun tidak akan pernah mau dilepaskan daripada-Nya. Lebih baik jatuh ke dalam tangan Tuhan daripada jatuh ke tangan manusia. Apapun tak dapat melepaskan kita dari cinta Kristus, seperti kata St. Paulus, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:38-39).

Seluruh hidup saya adalah suatu campur tangan Allah. Dari diri saya sendiri saya tidak berdaya apapun untuk berdiri seperti sekarang ini. Dari kerapuhan dan kelemahan saya, Tuhan menegakkan saya dan Ia terus saja melanjutkan karya-karya-Nya melalui saya yang rapuh dan lemah ini. Tanpa saya, Tuhan dapat sekali melakukan karya-karya-Nya, namun Tuhan merendahkan diri untuk melibatkan saya dalam karya-Nya, walaupun sebenarnya saya tidak pernah layak, tidak pernah mampu dengan kekuatan saya sendiri. Apa yang dapat saya banggakan? Selain bahwa saya kuat di dalam Dia yang memberi saya kekuatan. Saya justru dapat berbangga di dalam kelemahan saya karena dengan demikian sungguh makin nyata kuasa Allahlah yang bekerja dan melakukan semua yang tak dapat saya lakukan.

Awalnya sulit bagi saya untuk menerima kenyataan bahwa saya tidak pernah berkarier sebagaimana saya impikan sejak duduk di SMP. Gelar dan segudang prestasi dan pengalaman berorganisasi yang telah saya kumpulkan dan pupuk sejak di Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi adalah bekal yang saya banggakan untuk memasuki dunia kerja supaya saya siap bersaing. Saya tidak pernah membayangkan diri saya tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak. Masa-masa harus di rumah setelah menikah tanpa prestasi dan keterlibatan sosial dalam gereja atau masyarakat adalah masa-masa yang berat untuk saya lewati. Kami dikaruniai anak kedua pada tahun ketiga pernikahan kami. Saya marah pada Tuhan karena cita-cita yang terhambat. Saya tidak dapat menerima keadaan dimana saya tidak dapat mengambil gelar master dan berkarier gemilang.

Hingga suatu ketika Tuhan menyentuh saya melalui sabda-Nya. Saya disadarkan bahwa panggilan saya adalah melayani-Nya melalui keluarga, sesama dan bukannya mencari pengakuan diri saya melulu. Saya menjadi sadar bahwa karier, prestasi ataupun gelar bukanlah segalanya. Lewat proses panjang dan pertemuan dengan teman-teman yang membawa saya pada komunitas hidup Kristiani saya mengenal jalan yang selama ini di luar pemikiran dan bayangan saya. Saya menyadari bahwa selama ini saya masih mencari pengakuan demi pengakuan dalam segala aktifitas di sekolah, gereja, organisasi, dan dalam pelbagai aktifitas sosial kemanusiaan maupun rohani sekalipun. Saya banyak membaca dan mendengar pengajaran tentang spiritualitas yang mengajarkan untuk mencintai-Nya dan memperkenalkan saya pada tujuan hidup untuk lebih bersatu dengan-Nya juga ketika di dunia ini.

Setelah saya menerima panggilan hidup saya sebagai seorang ibu dan isteri dalam keluarga, saya tetap berjuang untuk mengatasi ambisi, ketakutan, kegelisahan dan berbagai kekecewaan serta harapan yang terkubur karena tanggung jawab yang baru sebagai ibu dan isteri. Seringkali keadaan dan tanggung jawab sebagai ibu dan isteri masih menimbulkan penolakan-penolakan dalam diriku. Saya merasa tidak berguna dan tidak berarti karena tidak terlibat dalam organisasi gereja atau kemasyarakatan lainnya. Namun, di sisi lain saya bersyukur karena saya dapat mulai belajar memupuk relasi pribadi dengan Tuhan.

Pelan-pelan Tuhan menunjukkan jalan untuk berkarya. Saya diminta mengajar dan juga membawakan renungan Kitab Suci kepada teman-teman komunitas dalam kelompok kecil, kemudian kepada kelompok yang lebih besar, akhirnya saya juga diminta mengisi rekoleksi maupun pertemuan-pertemuan kerohanian yang lebih besar lagi. Semua yang saya jalani itu tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya sadar bahwa semua itu hanya mungkin karena Tuhan memberi saya kesempatan dan kesanggupan.

Ada saat-saat dimana saya bebas dari kegiatan organisasi atau pelayanan gereja dan komunitas. Awalnya saya bingung menghadapi situasi seperti ini. Saya merasa sepi dan seperti terbuang dari lingkungan yang selama ini saya tekuni. Sebenarnya waktu itu saya juga merasakan ketertarikan yang lebih besar untuk doa hening di rumah sambil membaca buku-buku rohani yang telah sekian lama saya koleksi, tetapi belum sempat saya baca karena kesibukan pelayanan di gereja dan komunitas. Hari demi hari, minggu demi minggu saya seakan dibiarkan tinggal dalam keheningan, lepas dari pelbagai kesibukan di luar rumah. Ketika anak-anak pergi sekolah dari pagi hingga siang, dan suami bekerja di luar rumah, saya mempunyai kesempatan untuk menjalin relasi lebih intim dengan Yesus, Kekasih saya. Saya tidak menyangka bahwa saya yang senang terlibat dalam banyak kegiatan dengan orang banyak, ternyata juga senang berada di rumah saja dan mengalami suatu oase cinta-Nya yang meluap-luap, mengalir dari dalam rumah saya.

Namun, timbul tanda tanya dan kegelisahan dalam diri saya. “Masakan pada usia saya yang masih 33 tahun ini saya hanya di rumah saja?” Pertanyaan seperti itu masih menggelayut di dalam pikiran saya, sementara saya terus saja ditarik untuk menekuni buku-buku bacaan rohani yang amat menarik minat saya. Tarikan untuk “terjun” kembali ke dunia yang hingar-bingar memang kuat dan peluangnya terbuka luas. Waktu itu kami baru memulai usaha event organizer. Saya mencoba terjun dalam acara-acara pesta yang kami tangani. Namun, hati saya tidak merasa tenteram dengan hal itu. Bukankah pekerjaan itu sudah ada yang mengurusi? Akhirnya, saya menarik diri dan kembali dalam keheningan di rumah saya.

Saya semakin menghargai dan mensyukuri keadaan saya saat itu. Di satu sisi, seperti ada yang hilang dan mati, yaitu pelbagai kesibukan itu, namun, di sisi lain, sesuatu sedang bertumbuh, yaitu cinta saya pada-Nya. Saya makin mencintai-Nya. Sementara sebagian ibu-ibu muda bekerja di tempat kerja mereka dari pagi hingga sore hari, saya mempunyai waktu, yang ternyata baru saya sadari sebagai saat-saat emas untuk berdoa lebih banyak di rumah dan mengenal-Nya lewat bacaan rohani, Kitab Suci, spiritualitas Santo Santa. Ini yang kemudian saya sebut sebagai suatu kemewahan di zaman sekarang ini. Saya mendapat privilege karena saya seorang ibu yang bisa tinggal di rumah menunaikan tugas dan tanggung jawab saya. Bahkan dari rumah, saya juga dapat mengatur toko buku rohani kami yang berada di plaza. Dari rumah pula, saya masih tetap dapat mengikuti perkembangan sekolah untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus yang kami dirikan.

Tuhan memberi kesempatan untuk berkarya menurut jalan yang Ia sediakan bila kita dengan rela hati menerima panggilan kita masing-masing. Sebagai seorang ibu, kita mempunyai kesempatan luas untuk melayani, pertama-tama keluarga kita, kemudian juga sesama di sekitar kita. Doa seorang ibu menggema lebih luas melampaui tembok, pintu maupun pagar rumahnya. Dalam diam, dalam ketenangan seorang ibu menghasilkan dan mempersembahkan buah-buah yang ranum dan manis bagi anak-anak, suami, sesama dan Tuhan.

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting