Print
Hits: 1203
Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 
  1. Pengantar

Ketika dua kelompok budaya bertemu terjadi pelbagai macam kemungkinan. Dalam bentuk yang ekstrim, pertemuan dua kebudayaan dapat mengakibatkan perang. Di pihak lain, pertemuan kebudayaan menghasilkan kedua budaya saling mempertahankan identitasnya masing-masing. Atau, melahirkan suatu bentuk kebudayaan baru yang disebut sinkretisme dan inkulturasi. Karya tulis ini akan membahas pertemuan dua kebudayaan yang melahirkan suatu bentuk kebudayaan baru: sinkretisme dan inkulturasi. Maka, makalah ini akan mengalir dalam jalan pikiran: Latar Belakang, Pertemuan Dua Kelompok Budaya, Tanggapan atas Sinkretisme dan Inkulturasi dan Kesimpulan.

 

  1. Latar Belakang

Menurut Reksosusilo[1] proses perkembangan ekonomi telah menyebabkan pertemuan pelbagai macam kebudayaan. Dalam proses perkembangan ekonomi, faktor akal budi manusia memegang peranan yang penting demikian dikatakan oleh P.J. Zoetmulder. Dengan akal budinya, manusia berusaha menikmati apa yang dimiliki orang lain. Dengan cara-cara damai, ia melakukan tukar menukar barang yang kemudian dikenal dengan perdagangan barter. Seiring dengan perkembangan zaman, manusia menemukan ilmu hitung dan menggunakan uang sebagai alat penukar barang dalam perdagangan. Dengan ditemukan kapal laut, manusia mulai menjelajahi daerah-daerah asing dan menemukan sumber daya alam yang dapat diperdagangkan. Muncul, perdagangan antar pulau bahkan antar negara dalam bentuk barter maupun jual-beli barang dengan menggunakan uang. Usaha ini lebih bersifat pencarian emas dan rempah-rempah.

Melalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), manusia zaman modern telah menemukan dan memproduksi peralatan yang sangat canggih yang dapat memenuhi kebutuhan fisiknya. Namun, kemajuan IPTEK telah menghasilkan segi-segi gelap dalam kehidupan manusia, yaitu kemunduran besar dalam pelbagai kehidupan manusia, dalam nilai-nilai insani, moral dan rohani dalam hubungan dengan sesamanya.[2] Salah satu dampak negatif dari kemajuan IPTEK adalah perang. Demi kepentingan ekonomi suatu negara, negara tertentu memperkuat angkatan bersenjatanya dengan senjata nuklir. Demi tujuan tersebut, diadakan perlombaan senjata perang. Peran akal budi telah diselewengkan hanya dengan alasan perbaikan ekonomi dan perdamaian. Negara-negara yang kuat seperti Amerika Serikat telah membumihanguskan negara kecil seperti Irak.

Dengan demikian, nilai perkembangan ekonomi telah bergeser dari cara-cara damai untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia menjadi penggunaan senjata nuklir dan perang sebagai pemenuhan kebutuhan hidup suatu negara dengan mencaplok negara lain. Kebudayaan yang unsur jasmaninya kuat akan mengalahkan kebudayaan yang unsur jasmaninya lemah. Akan tetapi, kebudayaan yang memiliki unsur rohani atau batiniah sangat kuat tidak akan mudah digoncangkan oleh kebudayaan lain. Maka, seandainya Indonesia diserang oleh bangsa lain dan bersandar sepenuhnya pada iman akan Allah yang hidup. Indonesia akan tetap bertahan dan tidak mudah digoyang oleh kekuatan lain. Sejarah bangsa Indonesia telah membuktikan keadaan tersebut.

 

  1. Pertemuan Dua Kelompok Budaya

Ternyata, dalam bentuk yang ekstrim pertemuan dua kelompok budaya telah mengakibatkan perang yang merugikan kedua belah pihak. Selain itu, pertemuan dua kelompok kebudayaan dapat menghasilkan beberapa nilai perubahan kebudayaan.

Pertama, untuk tetap bertahan dan tidak dikalahkan oleh kebudayaan asing. Kebudayaan asli harus memiliki unsur batiniah atau rohani yang kuat. Zoetmulder mengatakan bahwa kalau segi rohani suatu budaya kuat, ia tidak akan terombang-ambing oleh unsur-unsur asing. Paling-paling budaya asli hanya mengambil segi lahiriah, tetapi unsur batiniah mengendalikan unsur lahiriah itu. Sebaliknya, kalau unsur rohani budaya asli lemah maka kebudayaan asing akan menghancurkan budaya tersebut.

Kedua, ketika pertemuan dua kelompok budaya bertemu. Dua kebudayaan yang memiliki unsur rohani yang kuat dapat mempertahankan jati dirinya masing-masing. Dapat dikatakan, dua kelompok kebudayaan itu sama-sama kuat tetapi dapat hidup berdampingan atas dasar sikap terbuka, mengerti dan menghargai perbedaan yang lain serta tidak memaksakan kebudayaan yang satu kepada kebudayaan yang lain. Perubahan budaya seperti ini terjadi di Amerika Latin dan Meksiko.

Ketika kebudayaan Spanyol dan budaya suku Aztek bertemu. Kedua kelompok kebudayaan tetap hidup berdampingan secara damai dan masing-masing kelompok tetap mempertahankan identitas kebudayaannya. Dalam perkawinan campur antara kebudayaan Spanyol dan suku Aztek yang disebut mestizo. Kedua budaya itu bertemu dan bercampur. Kedua kelompok kebudayaan tersebut tetap saling menghargai dan suku Aztek tetap berpegang pada karakternya yang khusus sebagai penduduk asli.

Ketiga, kemungkinan yang lain dalam pertemuan kebudayaan ialah kedua kelompok kebudayaan yang bertemu mencoba menghargai dan mengambil yang baik dari kebudayaan yang lain. Zoetmulder menggambarkan keadaan ini ketika budaya yang satu mengambil unsur batiniah, semangat, kerohanian budaya yang lain, kemudian mengolah dalam budayanya sendiri apa yang diperolehnya dari kebudayaan luar. Maka, perpaduan semangat dan kerohanian tidak melulu bersifat materi. Unsur rohani dapat melahirkan unsur lahiriah yang sesuai.

Keempat, kedua kelompok budaya yang bertemu dengan cara yang damai akan hidup berdampingan dan saling meresapi melahirkan kebudayaan yang baru. Perubahan kebudayaan ini disebut sinkretisme. Bentuk sinkretisme terjadi dalam budaya Hindu Jawa dan Islam Jawa. Perubahan budaya terjadi tanpa jalan paksaan. Dua budaya tersebut memiliki unsur batiniah yang kuat. Karena itu, dua budaya itu hidup berdampingan. Unsur asli Jawa menerima unsur ajaran budaya Hindu dan Islam. Sebaliknya, Islam dan Hindu menerima unsur budaya Jawa maka terjadi perpaduan yang serasi. Keduanya mengurbankan kepenuhan aslinya dan pengambilalihan kedua budaya itu berjalan cukup sepenuh hati. Akan tetapi, sinkretisme ini ditolak oleh agama samawi karena mengubah doktrin-doktrin agama. Agama lebih mengizinkan bentuk inkulturasi daripada sinkretisme.

 

  1. Tanggapan atas Sinkretisme dan Inkulturasi

Alasan utama mengapa agama samawi menolak bentuk sinkretisme adalah sinkretisme telah menggabungkan bermacam gagasan, pemikiran, tradisi, spiritualitas, dan lain sebagainya untuk menjawab persoalan manusia zaman ini. Tetapi, akibat buruknya agama atau prinsip-prinsip iman menjadi kabur dan bahkan hilang sama sekali. Identitas atau jati diri agama pun luntur sama sekali dan kehilangan bentuknya. Demikian ditegaskan Komisi Kebudayaan dan Komisi Dialog Antar Agama Kepausan.[3]

Sinkretisme modern atau kerap dikenal dengan nama New Age merupakan percampuran dari unsur esoterisme dan unsur-unsur sekular. Sepintas menawarkan solusi bagi manusia zaman ini tetapi sesungguhnya menjauhkan dirinya dari kepenuhan hidup manusia yang melulu berasal dari Allah yang hidup. Bahkan dalam bentuk ekstrimnya mengandung nilai-nilai kejahatan atau satanisme. Begitu juga dengan istilah pluralisme yang sesungguhnya bukan pluralisme karena pluralistas hilang ketika orang berbicara tentang "semua agama sama" dan "meremehkan kekhasan yang dimiliki agama".[4]

Kalau demikian, bagaimana posisi yang aman dalam penghayatan iman sesuai dengan perkembangan zaman ini yang syarat dengan kemajemukan budaya dan agama? Franz Magnis-Suseno mengatakan "Inklusivisme agama adalah posisi Konsili Vatikan II dan teolog-teolog Muslim seperti Nurcholish Madjid dan banyak tokoh dari generasi intelektual muslim muda di Indonesia". Inklusivisme agama tidak melepaskan keyakinan bahwa yang benar adalah agama sendiri. Bagi orang Kristen, Yesus Kristus adalah satu-satunya pengantara keselamatan Ilahi dan tak ada orang yang bisa ke Bapa selain melalui-Nya. Menurut Cak Nur (sebutan populer bagi Nurcholish Madjid) orang yang dalam agamanya benar-benar berserah diri kepada Allah merupakan "Islam" karena ia berkenan di hadapan Allah. Namun, agama-agama tersebut bersikap inklusif, yaitu mengakui perbedaan, menghormati identitas masing-masing agama dan tidak merelatifkan diri. Sebab, Gereja mengakui bahwa dalam agama-agama lain dapat memperoleh keselamatan kekal (lih. LG 16 dan NA 2).

Dalam hubungannya dengan iman dan budaya, Injil menerima hal-hal yang baik dalam kebudayaan setempat, tetapi disembuhkan, diangkat dan disempurnakan demi kemuliaan Allah (AG 9; LG 17; GS 44; NA 2). Dengan inkulturasi iman, orang Kristen dapat menghayati imannya sesuai dengan budayanya masing-masing. Yohanes Paulus II memakai istilah "inkulturasi" untuk menggambarkan dengan jelas "Inkarnasi Injil dalam pelbagai kebudayaan yang otonom dan sekaligus memasukkan kebudayaan-kebudayaan tersebut ke dalam kehidupan Gereja".[5] Walaupun demikian, bukan berarti inkulturasi berjalan tanpa adanya persoalan. Pidyarto menyebutkan kerapkali permasalahan timbul menyangkut isi dan pengungkapan penghayatan sehingga menimbulkan ketegangan antara iman Kristiani dan kebudayaan.[6] Jadi, inkulturasi iman merupakan suatu proses yang terus menerus antara Gereja Lokal dan umat beriman. Dengan kata lain, inkulturasi iman merupakan tugas bersama antara Uskup dan teolog lokal serta umat beriman dalam mengusahakan suatu bentuk inkulturasi yang sehat sesuai dengan Magisterium Gereja.

 

  1. Kesimpulan

Dari uraian di atas, pertemuan kebudayaan dapat menghasilkan pelbagai bentuk kemungkinan. Perang adalah salah satu bentuk ekstrim dari pertemuan tersebut. Selain itu, kedua kebudayaan dapat mempertahankan jati dirinya masing-masing dengan cara damai, atau kebudayaan yang kuat mendominasi kebudayaan yang lemah atau keduanya saling meresapi dan menyesuaikan sehingga terjadi sinkretisme. Akan tetapi, sinkretisme ini ditolak oleh agama-agama karena mengaburkan nilai-nilai luhur dari agama. Karena itu, dalam Gereja Katolik dan Islam lebih menekankan sikap inklusivisme agama sesuai dengan semangat Konsili Vatikan II. Dalam penghayatannya, inkulturasi iman berperan dalam menjelmakan Injil ke dalam kebudayaan dan memasukkan kebudayaan ke dalam persekutuan Gereja sendiri.

 

DAFTAR PUSTAKA

DOKUMEN KONSILI VATIKAN II, diterj. R. Hardawiryana, Jakarta: Dokpen KWI - Obor, 1993.

Indrakusuma, Yohanes, Akhir Jaman Sudah di Ambang Pintu?, Cianjur: Shanti Bhuana, 2004.

Liturgi Romawi dan Inkulturasi, Jakarta: Dokpen KWI, 1995.

Magnis-Suseno, Franz, "Membongkar Kedok Pluralisme, Merayakan Inklusivisme" dalam A. Sudiarja dan A. Bagus Laksana (eds.), Berenang di Arus Zaman, Yogyakarta: Kanisius, 2003.

Pidyarto, H., "Tanggapan Terhadap Ruwatan Cara Katolik", Studia Philosophica et Theologica, 6 (Maret 2006).

Reksosusilo, S., Filsafat Kebudayaan, Malang: STFT Widya Sasana, 2005, (diktat kuliah).

Yesus Kristus Pembawa Air Hidup, Sebuah Refleksi Kristiani tentang New Age, Jakarta: Dokpen KWI, 2005.

 

[1] Seorang ahli filsafat, pengamat kebudayaan dan dosen penulis dalam mata kuliah Filsafat Kebudayaan. Pendapatnya ini disarikan dari S. Reksosusilo, Filsafat Kebudayaan, Malang: STFT Widya Sasana, 2005, 5-6 (diktat kuliah).

[2] Yohanes Indrakusuma, Akhir Jaman Sudah di Ambang Pintu?, Cianjur: Shanti Bhuana, 2004, 3-16.

[3] Yesus Kristus Pembawa Air Hidup, Sebuah Refleksi Kristiani tentang New Age, Jakarta: DOKPEN KWI, 2005.

[4] Franz Magnis-Suseno, "Membongkar Kedok Pluralisme, Merayakan Inklusivisme" dalam A. Sudiarja dan A. Bagus Laksana (eds.), Berenang di Arus Zaman, Yogyakarta: Kanisius, 2003, 96-106.

[5] Liturgi Romawi dan Inkulturasi, Jakarta: DOKPEN KWI, 1995.

[6] H. Pidyarto, "Tanggapan Terhadap Ruwatan Cara Katolik", Studia Philosophica et Theologica, 6 (Maret 2006), 86-95.