Print
Hits: 1291

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Pengantar

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebagai orang beriman tentu selalu bergembira apabila segala sesuatunya berjalan lancar. Namun, ketika kita mengalami situasi yang amat sulit, kita mudah mengeluh bahkan kita tidak jarang hampir “putus asa”. Padahal, kita mestinya “makin tumbuh dalam iman yang berpengharapan” seperti yang dikatakan penulis Surat kepada Orang Ibrani, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibr 11:1). Jika demikian, Apa itu Iman? Mengapa kita harus beriman? Bagaimana cara kita beriman? Langkah seperti apa yang harus kita tempuh? Ya, kita belajar beriman dari S. Yohanes dari Salib.

 

Iman Adalah Satu-satunya Pembimbing Kita

Santo Yohanes dari Salib adalah seorang kudus dan Pujangga Gereja yang sungguh-sungguh memahami tentang iman ini, karena dia sendiri telah menghayati kebajikan ini dalam hidupnya. Khususnya, ketika dia sendiri mengalami masa-masa sulit ketika ia “dikucilkan” oleh saudara-saudaranya dalam satu komunitas biara.  Ketika itu, S. Yohanes dari Salib bersama-sama S. Teresia dari Avila melakukan pembaruan dalam Ordo Karmel dan usahanya ini ternyata menyebabkan biarawan-biarawan yang lainnya mencegah dia untuk melakukan pembaruan ini, maka diapun di penjarakan di dalam sebuah kamar kecil di dalam biaranya.  Di dalam “penjara biara” itu, ia mengalami kekeringan, kegelapan karena ia merasa ditinggalkan oleh teman-teman dan Tuhan. Namun dalam penderitaannya inilah Tuhan memberikan rahmat-Nya, penerangan-penerangan ilahi-Nya kepadanya.  Karena belas kasihan seorang penjaga penjaranya yang memberikan dia alat tulis supaya dia dapat menuliskan inspirasi-inspirasinya dalam bentuk puisi-puisi. Santo Yohanes dari Salib tetap setia dalam imannya selama dipenjarakan 9 bulan sebelum dia dapat melarikan diri dengan pertolongan Bunda Maria.

Nampaknya, S. Yohanes dari Salib pada waktu itu mengalami suatu “Pemurnian Rohani”, artinya suatu pengalaman iman dan hidup rohani yang semakin mendalam dan matang sehingga ia dibawa kepada suatu persatuan cinta kasih dengan Allah. Bagi seorang seperti S. Yohanes dari Salib, iman adalah “Satu-satunya Jalan dan Pembimbing Menuju Persatuan dengan Allah.” Bagaimana realitas ini dapat dijelaskan? Bila kita menyimak salah satu adegan dalam film Harry Potter ketika dia memperoleh “mantol ajaib” di mana ia tak akan dapat dilihat baik oleh temannya, maupun oleh musuh-musuhnya, demikian juga dengan iman akan tersembunyi baik oleh panca indra maupun daya-daya batin, bahkan oleh musuh-musuh jiwa, yakni egoisme, dunia, dan setan. Sebaliknya, iman akan mengubah kemampuan kodrati menjadi ilahi, iman akan menyingkirkan segala hambatan dan iman akan mengarahkan segala ada kita kepada Allah (bdk. Mendaki Gunung Karmel Buku II, Bab 1, No. 2). Dengan demikian, dalam iman kita dapat menerima dan kita percaya kepada kebenaran-kebenaran ilahi yang diwahyukan Allah kepada kita, misalnya kebenaran iman tentang Allah Tritunggal (lh. Ibid, Buku II, Bab 3, No. 3).

Itulah sebabnya, orang yang melangkah dalam iman tidak lagi sibuk memikirkan pengertian, perasaan, ataupun keinginan-keinginannya, melainkan ia semakin melepaskan kecenderungan afeksi dan kehendaknya, agar ia mencapai persatuan dengan Allah yang mengatasi segala-galanya (bdk. Ibid, Buku II, Bab 4, No. 2). Dalam iman yang murni, ia dipersatukan dengan Allah, ia diubah ke dalam Allah, bukan karena kodrat, melainkan ia mengambil bagian dalam hidup Allah. Semakin dia mencapai keserasian sempurna dengan kehendak Allah, semakin ia mencapai persatuan dengan Allah. Sebaliknya, bila ia cenderung membangga-banggakan kemampuan intelektualnya, semakin ia menghambat karya Allah dan ia semakin jauh dari Allah (lh. Ibid, Buku II, Bab 5, No. 4). Dengan kata lain, Allah menganugerahkan rahmat persatuan hanya dalam rahmat dan kasih-Nya.

Dalam keadaan ini, “Jiwa akan tampak seperti Allah sendiri dan ia memiliki segala sesuatu yang dimiliki oleh Allah” (Ibid, Buku II, Bab 5, No. 7). Bukan berarti jiwa telah menjadi Allah, sebab dia tetap makhluk ciptaan, dan Allah tetap Sang Pencipta, akan tetapi jiwa menjadi serupa dengan Allah karena partisipasi. Betapa pentingnya persiapan kita untuk menggapai anugerah yang amat luhur kita, yakni kemurnian dan cinta kasih yang mengatasi perasaan atau pengertian manusiawi belaka. Keterbukaan kita untuk membebaskan segala ikatan yang masih membelenggu budi, ingatan dan kehendak kita sehingga kita layak menerima anugerah yang paling indah dalam hidup kita.

Memang, di satu pihak, jalan iman adalah jalan yang sederhana dan semua orang dengan bantuan rahmat Allah dapat menghayatinya. Namun, di lain pihak, suatu jalan yang amat kompleks (lh. Ibid., Buku II, Bab 6). Sebab, budi harus disempurnakan dalam kegelapan iman, ingatan harus disembuhkan oleh pengharapan kepada Allah, dan kehendak harus sungguh dimurnikan oleh cinta kasih kepada Allah. Hanya dengan mengandalkan iman yang “membebaskan pengertian yang keliru”, hidup dalam pengharapan yang “tiada lagi terbelenggu oleh belenggu masa lalu kita”, cinta kasih yang berkobar-kobar “hanya mengenal Allah di atas segalanya”, maka kita akan sampai pada persatuan dengan Allah yang kita rindukan itu.

 

Beriman Berarti Keberanian Mengikuti Yesus Kristus

Seperti yang dikatakan S. Paulus Rasul, “orang benar hidup melalui iman” (bdk. Rm 1: 17), maka hanya dalam dan melalui iman yang hidup, orang akan sampai kepada persatuan dengan Allah. Akan tetapi, bagaimana tujuan ini dapat dicapai dalam hidup sehari-sehari secara konkret? Dalam hal ini, orang tidak hanya percaya kepada Yesus Kristus di saat ia mengalami “penghiburan rohani” tetapi juga pada saat “kekeringan rohani”. Apa gunanya “penyangkalan diri lahiriah”, seperti doa, puasa dan sebagainya, namun kita tak sadar masih dibelenggu oleh “kesombongan rohani.” Karena itu, kita perlu membedakan antara “penghiburan rohani” dan “Allah yang menganugerahkan penghiburan tersebut kepada kita”. Jika kita menyadari hal, dalam situasi sulit, ketika kita ditolak, dihina, dikhianati bahkan dilupakan sama sekali, kita tetap bersikap “sabar, lemah lembut, dan tetap tenang” (bdk. 1 Kor 13: 1-13). Inilah yang disebut dengan “kemiskinan dalam roh dan kemurnian hati” (Ibid., Buku II, Bab 7, No. 5) yang menjadi buah persatuan yang nyata dalam keseharian hidup dan suatu kebajikan yang heroik yang berkenan di hadapan Allah dan sesama kita.

Orang hendaknya menghindari kelekatan terhadap segala pengenalan dan penghiburan rohani, sebab sikap tersebut tidak menunjukkan penyangkalan diri yang benar dan kemiskinan roh, sebaliknya realitas itu menyatakan kegemarannya terhadap perkara-perkara rohani (bdk. Ibid.). Sebaliknya, seperti Kristus yang telah “mengosongkan dirinya dan taat kepada Bapa-Nya sampai wafat-Nya di kayu salib” (bdk. Flp 2: 6-11), demikian juga kita berani untuk “menerima salib kehidupan”, “menanggung penderitaan kita”, dan “setia dalam kesulitan dan tantangan.” Bila kita peka dan rela “memanggul salib dan menanggung pencobaan demi cinta kepada Allah, maka ia akan memperoleh sukacita dan kemanisan rohani yang melampaui segala pengertian” (bdk.  Mendaki Gunung Karmel, Buku II, Bab 7, No. 7). Maka, dalam hidup doa dan meditasi, jika pada permulaan orang terbantu pada suatu metode dan penghiburan rohani, maka ketika ia semakin maju dalam hidup rohani, ia semakin rela menanggalkan itu semua, untuk menerima anugerah Allah yang jauh lebih luhur lagi. Satu hal saja yang patut diperhatikan, yakni “penyangkalan diri secara indrawi maupun rohani” (bdk. Ibid., Buku II, Bab 7, No. 8) yang merupakan “sumber dan puncak” segala kebajikan.

Lebih jauh dan lebih dalam lagi, pada saat wafat-Nya, Kristus tidak mengalami lagi penghiburan baik indrawi maupun rohani, ia sungguh mengalami “ditinggalkan Bapa-Nya”, namun ia menjadi Penebus, Perantara supaya manusia mengalami persatuan dengan Allah  (bdk. Ibid., Buku II, Bab 7, No. 11). Demikian juga dengan kita supaya kita belajar dan berani “melatih kelepasan tidak hanya dari hal-hal duniawi tetapi juga dari hal-hal rohani”, artinya kita tidak lagi melekat pada segala perasaan, pengalaman, bahkan pengenalan rohani, namun sepenuhnya “rela dan setia menanggung salib Yesus Kristus dalam kelepasan dari segala hal indrawi - batiniah dan pengalaman jasmani dan rohani”. Kita semakin sadar, bahwa kita mengikuti Tuhan, bukan soal perkara anugerah dan pemberiannya, melainkan kita mau setia dan hidup di dalam Yesus Kristus, bukan dalam kesenangan rohani, melainkan bertekun hingga akhir dalam pencobaan dan penderitaan agar “Allah menjadi segalanya di dalam semua” (bdk. 1 Kor 15:28).

 

Pemurnian Budi Oleh Iman

Berdasarkan pengalaman sehari-sehari, kemampuan manusiawi tidak dapat melukiskan realitas Allah yang sesungguhnya, malah sebaliknya cenderung menyesatkan sehingga kita sulit mencapai persatuan dengan Allah. Oleh sebab itu, budi “takkan mampu memahami”, ingatan “tak dapat mengingat”, serta kehendak “tak mungkin” mengenal Allah secara sempurna, maka daya-daya batin perlu dimurnikan oleh iman, pengharapan dan kasih (bdk. Mendaki Gunung Karmel, Buku II, Bab 8, No. 5). Sebab, pengenalan akan Allah berarti “mengenal tanpa dikenal” atau “cahaya kasih dalam Allah adalah kegelapan bagi budi kita” (Mendaki Gunung Karmel, Buku II, Bab 8, No. 6), maka kita hanya berjalan dalam iman yang murni dan gelap untuk sampai kepada Allah.

Selain itu, dalam hidupnya manusia mampu mengenal sesuatu baik secara kodrati maupun adikodrati. Pengenalan kodrati adalah pengenalan melalui panca indra manusia, kemudian kita mengerti, ingat, dan inginkan, lalu kita ungkapkan dalam perbuatan. Karena itu, betapa pentingnya pengertian yang benar supaya kita tidak bertindak keliru. Demikian juga pengenalan adikodrati melalui panca indra, seperti melihat, mendengar, merasa, mencium, meraba sesuatu yang tak kelihatan (setan, malaikat, roh-roh, dan Tuhan); juga pengenalan adikodrati melalui indra batin atau imajinasi dan fantasi, seperti penglihatan orang kudus, Bunda Maria, Yesus; begitu juga pengenalan adikodrati melalui budi, seperti penglihatan (visiun), sabda, wahyu, dan rasa rohani.

Dalam hal ini, kita hendaknya tidak terikat, atau melekat, atau memperhatikan pengenalan-pengenalan tersebut. Sebab, selain pengenalan tersebut bukan Tuhan, melainkan hanya anugerahnya, dan semakin pengenalan itu bersifat indrawi dan jasmani, maka pengenalan itu harus semakin kurang untuk dipercaya serta amat riskan tertipu oleh setan “yang tampil laksana malaikat terang”. Karena itu, jalan yang paling aman ialah apabila kita terus berjalan maju hanya dalam iman yang murni, dalam suatu kontemplasi iman yang gelap. Hanya dengan demikian, kita terlindung dari jebakan setan, egoisme, dan hal-hal duniawi, dalam keterarahan hanya kepada Allah.

 

Petunjuk Praktis Menghayati Iman yang Sejati

Setelah kita memahami apa arti iman sebagai jalan satu-satunya menuju persatuan dengan Allah, sekarang kita mau belajar untuk menghayatinya. Pertama, setiap pengenalan khususnya yang bersifat indrawi - jasmani harus ditolak. Sebab, selain mengakibatkan penyimpangan dan kesombongan, dapat menyebabkan orang meninggalkan imannya, dan menimbulkan “cinta diri yang terselubung” yang dapat dimanfaatkan oleh setan. Oleh karena itu, dengan menolak segala bentuk pengenalan itu, apabila pengertian itu datang dari Allah, maka “Allah akan menganugerahkan efeknya secara langsung ke dalam lubuk jiwanya yang terdalam tanpa ia dapat menghindarinya” (bdk. Mendaki Gunung Karmel, Buku II, Bab 11, No. 6).

Kedua, bila orang melekat pada pengenalan tersebut, maka ia terperosok dalam jebakan iblis dan ia akan mengalami kesedihan, ketakutan dan kesombongan. Sebaliknya, bila ia hanya berjalan dalam iman, maka seluruh kehendaknya diarahkan untuk mencinta. Karena itu, ada beberapa kerugian bila orang memperhatikan pengenalan tersebut, bahkan pengenalan yang bersifat rohani. Bukan karena pengenalan tersebut, melainkan karena keterikatan tersebut yang akan mengakibatkan kerugian-kerugian bagi jiwa. Dia akan “kehilangan iman” karena ia selalu mencari hal-hal tersebut, orang hanya mencari “tanda-tanda bukan hidup dalam iman”, kemudian orang bertindak secara “posesif” artinya kesenangannya hanya mengumpulkan pengenalan-pengenalan tersebut, perlahan-lahan ia mulai “kehilangan rahmat Allah”, dan akhirnya ia “terbuka pada kekuatan si jahat”.

Ketiga, ada beberapa keuntungan dan manfaat apabila seorang tak terikat terhadap pengenalan kodrati maupun adikodrati, yakni bila hal itu datang dari setan, maka dia akan terlindung dari jerat si jahat; namun bila hal itu datang dari Tuhan, tidak berarti ia menolak Tuhan, tetapi ia mengalami efeknya secara langsung dalam jiwanya. Selain itu, jika kita melekat terhadap pengenalan seperti, maka jiwa akan semakin jauh dari persatuan dengan Allah, ia tidak akan mengalami kemanisan rohani, kebebasan dan kontemplasi (bdk. Amsal Tentang Cahaya dan Cinta, No. 24). Akan tetapi, bila kita hidup dalam iman, belajar rendah hati, dan berusaha menggapai kebebasan rohani, maka pada saatnya Tuhan akan menganugerahkan pengenalan-pengenalan rohani yang merupakan hakekat dan buah dari persatuan, seperti yang dikatakan dalam sketsa Mendaki Gunung Karmel, “Aku menerimanya tanpa keinginan” (bdk. Amsal Tentang Cahaya dan Cinta, No. 26).

 

Penutup

Memang tidak mudah untuk “memahami” dan “menghayati” ajaran iman menurut S. Yohanes dari Salib. Sebab, uraiannya tidak hanya sekedar percaya kepada Tuhan, tetapi lebih daripada itu supaya kita berani dan memiliki tekad bulat untuk menerima anugerah yang amat luhur dan indah, yang disediakan Allah bagi kita. Mengingat begitu besar, agung, dan berharganya rahmat tersebut, maka dari pihak kita juga diminta suatu pengorbanan yang besar dan harga yang amat mahal. Namun, bila kita rela “menjual segala milik kita demi memperoleh mutiara yang indah” (bdk. Mat 13:46) betapa bahagianya kita, karena “tidak semua orang akan mengertinya, hanya mereka yang dikaruniai saja” (bdk. Mat 19:11) dan jiwa-jiwa yang rindu mengejarnya “dengan sepenuh hati, jiwa dan segenap kekuatannya” (bdk. Mat 12:30). Tuhan memberkati kita semua.

 

DAFTAR PUSTAKA

The Collected Works of Saint John of the Cross, trans. by Kieran Kavanaugh and Otilio Rodriguez, Washington D.C: Institute of Carmelite Studies Publications, 1991.

Indrakusuma, Yohanes. Menuju Persatuan Cinta Kasih Dengan Allah, Cikanyere: Pertapaan Shanti Buana, 2008.

Muto, Susan. John of the Cross for Today: The Ascent, Notre Dame: Ave Maria Press, 1991.