User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” (Rm 8:29)

     Yesus mempunyai banyak gelar, antara lain: Mesias, Nabi, Gembala, Anak Daud, Imam Agung, Putera Sulung. Di antara gelar-gelar tersebut, Putera Sulung merupakan salah satu gelar Yesus yang jarang dibahas. Dalam Perjanjian Baru, gelar Yesus sebagai Putera Sulung hanya muncul sebanyak delapan kali (Luk 2:7; Rm 8:29; Rm 11:16; 1Kor 15:20,23; Kol 1:15,18; Ibr 1:6). Meskipun demikian dalam konteks Asia, gelar Putera Sulung mempunyai makna yang amat penting untuk lebih mengenal pribadi Yesus. Oleh karena itu, dalam terang Sabda Allah dan semangat Asia, kita mencoba merefleksikan makna dan peran Yesus sebagai seorang Putera Sulung dan konsekuensinya bagi kita orang-orang Kristen.

MAKNA GELAR ANAK SULUNG DALAM KITAB SUCI

Gelar Anak Sulung dalam Perjanjian Lama (PL)

     Dalam Perjanjian Lama, “anak sulung”, atau “bekor” dalam Bahasa Ibrani, merupakan gelar kehormatan bagi orang yang terpilih dan yang menerima rahmat. Penggunaan kata “bekor” sering diidentikkan dengan kata “bikkurim” yang artinya “buah sulung” atau “buah pertama”. Gelar tersebut menunjukkan arti penting anak sulung bagi umat Perjanjian Lama. Dalam tradisi mereka, anak sulung mendapat hak istimewa berupa berkat khusus, yang berarti kepemimpinan rohani dan sosial dan mendapat warisan lebih banyak daripada anak-anak yang lain, karena ia mewarisi kegagahan ayahnya (Kej 49:3; Bil 21:17). Sebagai anak sulung, dalam hubungan dengan ayahnya, ia mempunyai prioritas. Jikalau kepala keluarga meninggal, dia yang menggantikan dalam memimpin keluarga. Ibu dan saudara-saudaranya harus taat kepadanya (Kej 7:29). Hak istimewa anak sulung mempunyai kedudukan hukum yang jelas dalam Perjanjian Lama (Ul 21:15-16). Namun hak istimewa anak sulung dapat hilang karena dijual (Kej 25:29-34) atau karena tingkah laku yang tercela (Kej 35:22).

     Di lain tempat, Allah meminta supaya anak sulung dipersembahkan bagi-Nya (Kel 13:11-16). Mengingat bahwa putera sulung adalah sukacita dan harapan keluarga (Kej 4), dengan mempersembahkannya kepada Allah, umat Israel menunjukkan bahwa Allah adalah satu-satunya yang berharga dalam hidup mereka melampaui segala yang berharga di dunia. Selain itu, berdasarkan luputnya anak sulung Israel dari maut pada malam Paskah maka persembahan anak sulung juga menunjukkan ungkapan syukur atas karya agung Allah dalam pembebasan dari penindasan Mesir. Hal ini diwujudnyatakan dalam pengkhususan kaum Lewi (Bil 3:40-41).

     Selain digunakan untuk menunjukkan anak sulung, baik manusia maupun hewan, gelar ini seringkali dikenakan pada suatu bangsa tertentu. Israel adalah anak sulung Allah, sehingga mereka menerima kedudukan istimewa dan berkat melebihi bangsa-bangsa (Kel 4:22; Yer 31:9). Gelar anak sulung dikenakan pada Israel, karena melalui keturunannya akan hadir Mesias dalam keadaannya sebagai manusia. Dengan demikian gelar “anak sulung” dapat dikaitkan dengan gelar Mesias.

     Umat Perjanjian Lama menggunakan frase “anak sulung” untuk melukiskan mutu suatu keadaan. Sebagai contoh, “the first-born of the poor” dalam Yes 14:30 diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “Yang paling hina dari umat-Ku”.

Arti Anak Sulung dalam Perjanjian Baru (PB)

     Dalam Perjanjian Baru, anak sulung merupakan terjemahan dari bahasa Yunani prototokos. Kata ini dapat digunakan dalam kerangka waktu, yang berarti anak pertama dalam urutan waktu (Mat 21:28; Luk 2:25,28). Gagasan anak sulung dalam Perjanjian Baru tidak berbeda dengan Perjanjian Lama. Anak sulung harus dikuduskan bagi Allah (Luk 2:23). Anak sulung mempunyai hak istimewa di rumah bapanya (Luk 15: 25,28). Selain anak pertama dalam urutan waktu, kesulungan dalam Perjanjian Baru menunjukkan kepemilikan Allah (Why 14:4).

     Ide prototokos, seperti halnya “bekor”, tidak hanya menunjukkan waktu, tetapi juga mutu. Karena itu, selain melanjutkan gagasan anak sulung dalam Perjanjian Lama, gelar kesulungan Yesus dalam Perjanjian Baru memberikan beberapa arti baru. Gelar tersebut menunjukkan bahwa:

  • Yesus berkuasa atas segala sesuatu.
  • Yesus mempunyai hubungan yang istimewa dengan Bapa.
  • Yesus adalah Maha agung.
  • Yesus adalah model ideal dari segala ciptaan.
  • Yesus adalah Sang Mesias.
  • Yesus adalah kepala Gereja.
  • Yesus adalah prinsip kebangkitan badan.
  • Yesus memperlihatkan keperawanan Maria.

 

Yesus berkuasa atas segala sesuatu

     Dalam tradisi Perjanjian Lama, anak sulung mempunyai hak istimewa, yaitu mewarisi dua bagian dari harta milik bapanya dan menjadi pengganti bapanya sebagai kepala keluarga. Demikian halnya dengan Yesus Kristus Sang Anak Sulung. Ia berkuasa atas segala milik kepunyaan-Nya, yang telah diserahkan Bapa kepada-Nya (1Kor 15:27), karena bagi-Nya segala sesuatu telah diciptakan (Kol 1:16).

Yesus mempunyai hubungan yang istimewa dengan Bapa

     Keempat Injil memberi kesaksian hubungan yang istimewa antara Yesus dan Bapa (Mat 3:17; 6:9; Mrk 2:49; 3:22; Luk 15:11-32; Yoh 1:2; 2:15-16). Keistimewaan hubungan tersebut ialah kesatuan Yesus dengan Bapa, sehingga “barangsiapa melihat Aku, ia telah melihat Bapa (Yoh 12:45; 14:9). Konsekuensinya, “barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku” (Yoh 13:20) dan “barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga Bapa-Ku” (Yoh 15:23). Yesus adalah “gambar wujud” Allah (Ibr 1:3).

Yesus adalah Maha Agung

     Yesus adalah Maha Agung. Keagungan-Nya nampak pada ide prototokos sendiri. Ide prototokos berkaitan dengan mutu. Karena itu, dengan mengenakan gelar kesulungan pada Yesus, para penulis Perjanjian Baru, khususnya Paulus, hendak menegaskan kedudukan atau keagungan Yesus di atas segala ciptaan. Ia adalah “yang sulung, yang lebih utama dari segala yang diciptakan.” (Kol 1:15)

Yesus adalah model ideal dari segala ciptaan

     Selain itu, sebagai anak sulung, Ia mendahului segala sesuatu. Mendahului segala sesuatu menunjukkan bahwa Yesus adalah prinsip dari segala yang ada (Yoh 1:1-3). Kedudukan atau keagungan Yesus di atas segala ciptaan menempatkan diri-Nya sebagai model ideal bagi seluruh ciptaan. Di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu (Kol 1:16). Ia merangkum segala sesuatu yang ada (Ef 1:10).

Yesus adalah Sang Mesias

     Gelar anak sulung juga berkaitan dengan gelar Mesias, pemakaian gelar ini pada Yesus menunjukkan bahwa Yesus adalah sang Mesias.
     
Yesus adalah kepala Gereja

     Dalam hubungannya dengan Tubuh, yaitu Gereja-Nya, Yesus adalah Kepala (Kol 1:18). Sebagai Kepala, Ia tidak hanya mempunyai wewenang atas hukum, tetapi terutama sebagai sumber dan asal rahmat bagi seluruh Gereja (Ef 1:22-23).

Yesus adalah prinsip kebangkitan badan

     Yesus adalah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati (Kol 1:19). Sebagai yang sulung dari antara orang mati, Ia adalah prinsip utama kebangkitan. Ia adalah sumber dari seluruh harapan dan iman orang Kristen (1Kor 15:4). Selain itu, sebagai yang pertama bangkit dari orang mati, Ia merupakan contoh dan bukti kebangkitan badan yang akan dialami oleh seluruh umat manusia.

Yesus memperlihatkan Keperawanan Maria

     Makna lain dari gelar anak sulung, menurut Collin Brown, ialah untuk menegaskan keperawanan Maria. Ia mengaitkan ide “prototokos” dengan “monogenes”, seperti Injil Lukas yang menyatakan bahwa Yesus adalah “anak sulung” Maria (Luk 2:7).

Gelar Anak Sulung dalam Tradisi Gereja Dewasa ini

     Para Bapa Gereja pada umumnya meneruskan makna anak sulung dalam tradisi Kitab Suci, baik dari Perjanjian Lama maupun dari Perjanjian Baru. Mereka pada umumnya mengaitkan dengan Yesus Kristus sebagai anak sulung. Para Bapa Gereja umumnya mengartikan gelar anak sulung pada akibatnya bagi ciptaan baru, yaitu bahwa Yesus adalah contoh sempurna atau model ideal dari ciptaan baru.

     Teologi Gereja Katolik dewasa ini juga mengaitkan arti dan peran anak sulung pada pribadi Kristus. Menurut Peter C. Phan, sebagai anak sulung, Yesus “constituted not only the continuation of the family but also the continuity and permanence of Israel’s covenantal relationship with God”. Dengan demikian, Gereja sebagai sakramen universal kehadiran Kristus, mewarisi kesulungan Kristus. Sebagai anak sulung, Gereja adalah tanda dan alat yang efektif untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tengah struktur masyarakat yang dirasuki oleh mentalitas materialistis, konsumeristis, hedonis, keserakahan. Kehadirannya tersebut dapat dialami secara konkret, seperti dikatakan oleh Paulus VI dalam Evangelii Nuntiandi (8 Desember 1975), dalam keteladanan dan kekudusan para anggotanya (Evangelii Nuntiandi 21, 41).

GELAR ANAK SULUNG DALAM TRADISI ASIA

     Dalam konteks Asia, sekalipun budayanya amat beragam, diwarnai oleh dua kebudayaan besar yaitu kebudayaan India dan kebudayaan Cina. Dalam uraian ini kita akan melihat gelar putra sulung tradisi Cina. Ada pun alasan kami memilih tradisi Cina sebagai titik tolak adalah: Pertama, sudah banyak tulisan yang mencoba merefleksikan Yesus dari tradisi India. Kedua, peran penting etnis Cina di dunia dan Asia, terutama pada nilai-nilai dan pemikiran filsafat mereka.

     Apa yang menjadi inti tradisi Cina? Tradisi Cina, menurut banyak penulis, diwarnai oleh tiga aliran kepercayaan dan filsafat, yaitu Konfusianisme, Taoisme dan Budhisme-Cina. Namun sesungguhnya, inti tradisi Cina adalah tradisi Ru Jiao. Tradisi Ru Jiao ini mengilhami seluruh sistem, pendidikan, seni, adat-istiadat, upacara tradisional, yang berada di Cina. Bahkan Taoisme dan Budhisme pun dipengaruhi oleh tradisi ini. Tradisi ini kemudian “digenapsempurnakan” oleh Konfusius (bdk. Lun Yi VII:1), sehingga dikenal sebagai Konfusianisme. Hal ini menunjukkan, sekalipun banyak etnis Cina yang mengaku dirinya penganut Taoisme, Budhisme, bahkan Kristiani, Konfusianisme merupakan tulang punggung dari seluruh tradisi mereka. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika tradisi Cina, di mana pun berada, selalu dikaitkan dengan Konfusianisme. Konfusianisme telah menjadi suatu “ketaksadaran kolektif” yang mendasari seluruh hidup orang Cina. Dalam artikel ini, kami mengidentikkan Konfusianisme dengan Tradisi Cina.
    
KESIMPULAN

     Makna kata “ach” dan adelphos” mengalami dinamika sepanjang sejarah Gereja. Pada awalnya, kedua kata tersebut digunakan secara luas, namun dalam perkembangannya mengalami penyempitan arti. Pada umat Perjanjian Lama, “ach” dipersempit hanya pada orang-orang Yahudi, sedangkan dalam Perjanjian Baru dan tradisi Gereja, yang disebut “adelphos” hanyalah orang-orang Kristen. Pandangan ini terus berlangsung hingga Konsili Vatikan II. Sesudah Konsili, pandangan tersebut mengalami perluasan makna. Dokumen-dokumen pasca Konsili Vatikan II dan tulisan para teolog menunjukkan bahwa “saudara” (“ach” dan “adelphos”) mempunyai makna yang luas. Dengan bertolak dari kesendirian manusia pada saat penciptaan, Almarhum Bapa Suci Yohanes Paulus II menekankan bahwa semua manusia itu bersaudara. Kristus telah hadir di Asia sebagai saudara.

     Anak sulung, baik dalam tradisi Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, mempunyai arti yang amat penting. Arti tersebut mencakup hak istimewa atas harta benda milik ayahnya, kepemimpinan dalam keluarga dan kedudukan khusus dalam keluarga. Gelar tersebut dalam perkembangannya, khususnya dalam tradisi Gereja, dikenakan pada pribadi Kristus. Dengan demikian, sebagai anak sulung Yesus Kristus mempunyai kedudukan yang istimewa. Keistimewaan tersebut terutama pada hubungan-Nya yang istimewa dengan Bapa. Ia adalah wujud dan gambar Allah (Ibr 1:2).

     Persaudaraan dalam masyarakat Cina Indonesia amat menonjol. Hal tersebut dapat dilihat pada perayaan-perayaan tradisional mereka, upacara pernikahan dan upacara pemakaman. Demikian juga dengan anak sulung dalam keluarga etnis Cina mempunyai peran yang amat penting. Dengan demikian kami menampilkan model Yesus sebagai Saudara Sulung. Melalui model ini sekurang-kurangnya ada dua hal yang hendak ditekankan, yaitu:

  1. keselamatan bagi semua orang.
  2. penegasan kembali corak definitif dan lengkap dari pewahyuan Yesus.


1. Keselamatan bagi semua orang

     Keselamatan bagi semua orang nampak pada peran Yesus sebagai Saudara Sulung misalnya:

  • menjadikan semua orang sebagai saudara.
  • menghadirkan kebersamaan agung atau Tai Tong.
  • memberi teladan.

     Tradisi persaudaraan Konfusian terungkap dalam salah satu pernyataan, yang menyatakan bahwa semua orang di keempat penjuru lautan adalah saudara (Lun Gi XII:5). Dengan “mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia,” (Ef 2:6-8) Yesus telah menempatkan diri-Nya sebagai saudara bagi seluruh umat manusia. Selain itu, dalam perumpamaan tentang akhir zaman, Yesus menyebut semua orang yang miskin dan hina sebagai “adelphos”-Nya (Mat 25:40). Dengan demikian, Yesus telah menyamakan diri-Nya dengan semua manusia, terutama dengan yang paling hina dan tersisihkan (Mat 2:14; 25:40; Luk 2:7; 2:24). Karena itu bagi Yesus semua orang adalah saudara.

     Dalam tradisi Konfusian atau Ru Jiao persaudaraan terwujud dalam Tai Tong atau Kebersamaan Agung. Tai Tong mempunyai keserupaan dengan ide tentang Syalom dalam Perjanjian Lama, Langit dan Bumi baru dalam Kitab Wahyu, dan Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus. Melalui pewartaan dan kehadiran-Nya di dunia Yesus mewujudkan “Tai Tong” terwujud karena di dunia. Melalui wafat-Nya, Ia mewujudkan “Tai Tong” seluruh alam semesta dan Surga (bdk. Kol 1:20).

     Inti dari seluruh Kitab Suci adalah “Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Mat 22:37; Mrk 12:30; Luk 10:27) dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat 22:39; Mrk 12:31, Luk 10:27) Kedua hukum tersebut dalam tradisi Cina, menurut hemat kami, serupa dengan sikap Tiong-Si.

     Tiong nampak pada kecenderungan manusia untuk mencurahkan pengabdiannya kepada T’ien. Yesus mempunyai sikap “tiong” yang sempurna, karena hati-Nya yang selalu terarah kepada Bapa (Yoh 4:34;6:38) dan ketaatan-Nya sampai wafat di kayu salib (Flp 2:8; Ibr 5:8). Kesempurnaan sikap “tiong” Yesus menjadi pokok keselamatan bagi semua orang yang taat kepada-Nya (Ibr 5:9), sehingga “barangsiapa percaya kepada-Nya, ia mempunyai hidup yang kekal.” (Yoh 6:47)

     Si (tepaselira) merupakan unsur timbal balik, di mana manusia mampu mengukur perasaan orang lain dengan perasaannya sendiri. Maksudnya, “apa yang diri sendiri tidak inginkan, janganlah diberikan kepada orang lain.” (Lun Gi XV:24; Tiong Yong XII:3) Sikap ini serupa dengan khotbah Yesus yang berbunyi: "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” (Mat 7:12) Sikap “si” Yesus terwujud dalam misteri inkarnasi. Dalam misteri inkarnasi, Yesus menjadi sama dengan manusia dan mengambil keadaan manusia, supaya oleh wafat-Nya Ia memusnahkan iblis, yang berkuasa atas maut, dan membebaskan manusia yang hidup di bawah perhambaan maut (Ibr 2:14-15).
     Dengan demikian, melalui kehadiran-Nya di dunia, Yesus telah memberi teladan pelaksanaan kedua hukum tersebut. Melalui wafat-Nya, ia mencurahkan Roh Kudus kepada manusia untuk dapat meneladan-Nya.

2. Penegasan kembali corak definitif dan lengkap dari pewahyuan Yesus

     Penegasan corak definitif dan lengkap pewahyuan Yesus nampak pada keistimewaan-Nya sebagai seorang Putera Sulung dalam pandangan tradisi Cina. Dalam sudut pandang tradisi Cina, gelar kesulungan Yesus dikaitkan dengan simbol “Cien” dari Pat Kwa (Delapan Diagram), yang mempunyai makna kontak atau perjumpaan. Yesus adalah tempat perjumpaan antara Allah dan manusia. Ia sendiri menghadirkan Bapa bagi umat manusia. Karena itu, barangsiapa melihat Yesus, ia melihat Bapa (Bdk. Yoh 14:9). Gelar kesulungan Yesus juga menunjukkan kedudukan-Nya yang istimewa. Keistimewaan tersebut, secara analog, dapat dilihat pada kesatuan sempurna dan harmonis dari “Khian” dan “Khun” dalam diri-Nya. Khian dan Khun adalah dua sifat utama yang saling melengkapi dari “Tai Chi”. “Tai Chi” sendiri adalah sumber dari segala sesuatu dan akhir dari segala sesuatu. Dalam arti ini, secara analog, Yesus dapat dipandang sebagai “Tai Chi” yang menjadi daging.

     Persaudaraan dan putera sulung bukan merupakan hal yang asing dalam tradisi Cina Indonesia, karena itu model Yesus sebagai seorang saudara sulung dapat membantu mengembalikan identitas etnis Cina di Indonesia yang sedang berada dalam krisis. Model ini menunjukkan peran filsafat Cina dalam teologi Kristen kontekstual di Asia sebagaimana pengaruh pemikiran Aristoteles pada abad pertengahan. Peran tersebut terutama, menurut hemat kami, dalam upaya untuk menjelaskan bahwa Yesus menyelamatkan semua orang dan menegaskan kembali corak definitif pewahyuan Kristen.

  • Roma 8:29 “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”
  • Roma 11:16 “Jikalau roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan juga kudus, dan jikalau akar adalah kudus, maka cabang-cabang juga kudus.”
  • I Korintus 15:20 “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.”
  • I Korintus 15:23 “Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya.”
  • Lukas 2:7 “Dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”
  • Yakobus 1:18 “Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.”
www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting