User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

“Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku” (Yoh 15:8).

Panggilan untuk menjadi kudus bukanlah suatu pilihan beberapa orang saja, melainkan kewajiban setiap orang kristen. Memiliki kemampuan yang baik bukanlah ukuran bagi setiap orang untuk menjadi kudus. Kekudusan itu diperoleh karena rahmat Allah semata-mata (1 Tes4:3). Kita adalah ciptaan Allah dan sebagai ciptaan kita harus selalu berusaha dan berjuang hari demi hari untuk menyerupai Yesus Kristus. Dengan cara apa? Berdoa, membaca Kitab Suci, dan latihan rohani lainnya. Untuk mencapai kesucian ini, dan kita dituntut relasi pribadi yang mendalam dengan Yesus, tanpa ini kekudusan itu hanya suatu impian atau angan-angan belaka. Kita pun sudah seharusnya memuliakan Yesus dalam hidup kita (berpikir, bertindak, dan gaya hidup kita). Karena Diatelah memerdekakan dan membebaskan kita dan dosa, yaitu dengan kematian-Nya di kayu salib.

Kehadiran orang-orang kristen adalah suatu ‘pertentangan’ bagi dunia. Mengapa? Seperti Yesus dahulu ditolak oleh bangsa-Nya sendiri (bdk. Mat13:53- 58) maka kita pun akan ditolak oleh dunia ini. Kehadiran orang kristen di dunia seperti cahaya yang berada di atas gunung yang tinggi. Segala perbuatan, tutur kata, dan cara hidup kita akan tampak keluar dari diri kita jika kita sungguh-sungguh menghayati cara hidup Yesus sendiri. Karena itu sebagai pengikut Yesus sudah selayaknyalah kita selalu berusaha memupuk sikap tobat yang terus menerus.

Para kudus di surga sangat mendambakan agar semakin banyak orang yang mencintai Yesus Kristus dan dalam hidup ini berusaha untuk menyenangkan Dia. Para kudus sendiri telah berjuang dengan sekuat tenaga untuk mencapai tujuan ini.Mereka setia pada tugas-tugas mereka baik tugas yang berat maupun yang ringan, baik tugas yang mereka kehendaki maupun tugas yang tidak mereka kehendaki, melakukan kurban-kurban baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk sesama, dan mereka tetap menjaga kemurnian hati mereka terhadap tawaran-tawaran dunia yang menggiurkan. Karena kita hidup dalam dunia maka kita harus melawan keinginan-keinginan kita. Kebanyakan orang kristen mau mengikuti Yesus bila selalu mengalami kemuliaan, kesenangan, sukacita, tetapi sangat sedikit orang kristen yang mau mengikuti Yesus ke Golgota. Para kudus menasihatkan: “Apa yang kamu lakukan, lakukanlah demi cinta kepada Yesus. Apa yang kamu katakan, katakanlah tanpa takut dan kasihilah seorang akan yang lain dengan tulus hati.” Nasihat ini adalah pengalaman mereka sendiri, mereka telah merasakan dan mereka ingin supaya kita yang masih berjuang mi mencontoh kehidupan mereka. Dengan jalan ini kita akan memperoleh kesucian. Laki-laki, perempuan, anak-anak, semuanya dipanggil untuk menjadi kudus. Untuk mencapai ini kita mengalami banyak tantangan cobaan, dan godaan,baik dari dirisendiri maupun dan lingkungan.

Manusia tidak dilahirkan dalam keadaan kudus dan tidak pula dilengkapi dengan karunia-karunia yang istimewa. Tetapi sejak manusia lahir, manusia sudah dinodai oleh dosa asal. Semenjak kejatuhan Adam, manusia dilahirkan untuk berjuang terus-menerus melawan dunia, daging, dan iblis. Dalam hal ini manusia tidak akan mampu berjuang dengan usahanya sendiri. Diperlukan bantuan rahmat Allah untuk menguatkan manusia. Saat dibaptis semua orang katolik telah menerima Roh Kudus dengan lambang lilin sebagai terang dan dibersihkan dari dosa asal yang dilambangkan dengan air baptisan. Sejak saat itu kita diberi rahmat untuk melawan ketiga musuh di atas.

Akan tetapi, perkembangan dan pertumbuhan karunia-karunia yang kita terima dari Allah sangatlah tergantung pada keterbukaan kita, si penerima rahmat, dan kehendak Allah. Allah memberikan karunia-karunia-Nya secara berlimpah, namun seringkali yang menjadi persoalan adalah si penerima yang kurang bersedia atau kurang menanggapi tawaran-tawaran itu. Memang di lain pihak, kita jumpai pula banyak pengikut Yesus yang terbuka dalam menerima karunia-karunia, seperti para rasul dahulu dan masih banyak orang-orang kudus lainnya sepanjang sejarah.

Ada karunia-karunia yang diberikan Tuhan kepada kita sebagai sarana untuk melayani orang lain dan ada pula karunia-karunia untuk memupuk perkembangan hidup rohani kita, tetapi segala karunia itu haruslah dipandang sebagai sarana dan bukan tujuan akhir. Jika kita melihat sarana-sarana itu sebagai tujuan maka kita sendiri tidak akan mencapai kesucian itu.

Kita melihat kenyataan ini dalam hidup Yudas Iskariot. Yudas telah belajar dan mengikuti Yesus selama kurang lebih tiga tahun. Dia memiliki karisma-karisma, mempunyai kuasa untuk menyembuhkan, berkhotbah, dan mengusir setan, tetapi Yudas tidak berusaha membangun kesucian dirinya sendiri. Ia terpukau oleh segala sukses lahiriah yang membuatnya terbuai dan yang akhirnya membuatnya tidak mampu melihat kepada tujuan yang jauh lebih luhur. Akibatnya, ketika ia melihat sikap Yesus yang temyata tidak mencari sukses duniawi, kekecewaanya meluap tak terkendalikan. Ia pun kehilangan kekuatan yang diperlukannya untuk tetap setia kepada Yesus.

Orang-orang kristen adalah ahli waris Kerajaan Allah jika mereka menuruti perintah-Nya. Jika segala sesuatu kita lakukan berpaut pada Kristus sendiri, kita akan mengerti sabda Tuhan:

“Hendaklah mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapa di surga.” Kita tidak akan menaruh pelita bawah gantang, melainkan di atas kaki dian. Perbuatan-perbuatan kita yang baik memancarkan buah yang baik dari diri kita (bdk. Mat5:15-16). Jika kita menjadi kristen, itu berarti bahwa kita sudah dipilih. Jika kita dipilih, itu berarti bahwa kita pun akan dibawa kepada kekudusan sesuai dengan rencana-Nya. Allah memilih kita supaya kita berbuah dan buah itu akan kita nikmati kelak bersama Dia.

Satu biji kecil tidak langsung bertumbuh dan menjadi pohon besar, namun dia akan bertumbuh dan berkembang jika dipelihara, dipupuk, dan dirawat. Dan jika pohon itu menjadi besar, maka pohon itu akan menjadi tempat perteduhan bagi siapa saja. Yesus membandingkan ini dengan pertumbuhan rohani manusia. Benih yang kecil, setelah ditanam pada tanah yang subur, bertumbuh, berkembang, dan menghasilkan buah yang dapat dinikmati oleh kita dan orang lain. Inilah gambaran yang diberikan Yesus kepada kita. Kita tidak langsung menjadi kudus tetapi membutuhkan usaha yang terkadang gagal.

Mengapa kita tidak suci?

Setiap orang mendengar firman Tuhan tentang surga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu. Ini ibarat benih yang ditaburkan di pinggir jalan (bdk. Mat13:18- 23). Begitu banyak orang yang berada di “pinggir jalan”. Realitas dunia yang modem ini, dunia yang serba canggih, justru membawa banyak orang pada suatu ketidaksadaran bahwa dirinya serba kekurangan. Mereka hidup di antara kebisingan dan keramaian dunia. Mereka sungguh-sungguh hidup di pinggir jalan—mendengar, tetapi tidak mengerti—ditarik oleh dunia ini. Orang-orang seperti ini menyia-nyiakan gagasan kekudusan itu. Karena kekudusan berarti berjalan di dalam Yesus. Namun orang seperti ini malah sebaliknya, mereka memperoleh kesenangan pada jalan yang mereka temukan sendiri.

Orang yang menerima sabda dan menanamnya pada tanah yang berbatu adalah orang yang mendengar firman dan menerimanya dengan gembira, tapi sabda itu tidak berakar dalam hatinya sehingga tidak lama kemudian sabda itu mati. Bila cobaan atau penganiayaan datang ia akan mudah jatuh dan mengambil sikap menyangkal. Sikap seperti mi muncul dan orang-orang beriman hanya sebatas pemikiran saja, tidak disertai dengan penghayatan atas sabda itu dalam hatinya. Bagaimana dengan orang semacam ini? Orang semacam ini tidak boleh berlarut-larut dalam keadaan ini, mereka harus memiliki kemauan untuk beralih dan keadaan ini menuju suatu pandangan yang benar. Dasar dan semua ini adalah mencintai Allah, semakin besar kerinduan kita pada-Nya, Semakin kuat pula kemauan kita untuk mencintai Dia.

Tidaklah cukup hanya memiliki pengetahuan tentang hal-hal rohani, pengetahuan yang luas ataupun kecakapan, untuk perkembangan hidup rohani seseorang, tetapi diperlukan penghayatan akan apa yang telah diketahui dan dipelajari. Penghayatan yang sungguh-sungguh akan ajaran-ajaran Injil dan para kudus akan memberikan pengaruh yang besar bagi perkembangan hidup rohani. Yesus mengecam orang-orang yang berbangga atas pengetahuan mereka, itu termasuk pengetahuan akan hal-hal rohani. Ada orang-orang tertentu yang begitu rakus akan pengetahuan-pengetahuan akan hal-hal rohani sehingga menjadikannya sebagai tujuan. Padahal semuanya hanya sarana untuk mencapai tujuan yang sejati, yaitu Allah sendiri.

Orang yang menerima sabda seperti benih yang jatuh di tanah yang subur adalah orang yang mendengarkan sabda itu, mengerti dan berusaha untuk menghayati dalam hidupnya. Mereka akan menghasilkan buah berlimpah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat (bdk. Mat13:23). Yesus membangkitkan semangat kita lewat perumpamaan ini. Dia mengingatkan bahwa akan tiba saatnya kita berbuah dan buah itu pun matang, dan kita dapat menikmatinya jika kita tetap bertahan dalam penderitaan, pencobaan, dan hambatan-hambatan yang menimpa kita.

Segala sesuatu yang kita peroleh tergantung pada pengharapan kita kepada Allah. Motivasi yang kurang baik membuat segala perbuatan yang baik menjadi sia-sia (bdk. 1 Kor13:1-3). Dalam Injil kita jumpai semangat pewartaan Yesus. Kemana pun Ia pergi, Ia selalu mewartakan Kabar Baik. Dia menerima itu dari Bapa-Nya secara cuma-cuma dan Dia pun memberikan dengan cuma-cuma pula. Oleh karena itu, supaya hidup kesucian itu terus bertumbuh dalam hidup kita, kita harus meneladani Yesus dan berjalan pada jalan Yesus. Di dunia ini kita berjuang dan kita akan mendapat ganjarannya setelah kita beralih dan dunia ini.

PARA KUDUS YANG MANUSIAWI

Dalam Injil kita jumpai ketidaksempumaan para rasul dan jemaat awali. Namun setelah mereka dibaharui seakan-akan ada kekuatan lain dalam hidup mereka. Mereka diubah oleh Roh Kudus. Para rasul dibaharui pada saat Pentakosta. Paulus diubah ketika mendapat sinar yang membutakan saat ia mengadakan perjalanan ke Damsyik. Ini adalah suatu tanda bahwa kuasa Roh Kudus mampu menerobos kisi-kisi kehidupan manusia. Paulus sebelumnya memburu para pengikut Kristus. Namun pada saat Paulus ‘ditangkap’ oleh Yesus, ia bertobat dan menjadi manusia yang baru (hidup oleh Roh Kudus). Suatu realitas bahwa dalam hidupnya, Paulus giat mewartakan Kristus yang hidup. Inilah tanda bahwa karya Roh Kudus mengubah Seorang pembunuh menjadi pewarta Sabda. Paulus dikagumi oleh orang banyak atas kuasa Allah yang bekeija melalui dia.

Pada hari Pentakosta para murid diubah oleh Roh Kudus. Mereka mulai mengerti arti mengikuti Yesus. Pikiran, cara pandang, dan seluruh kegiatan mereka diwarnai oleh kasih Allah yang telah berkarya di dalam diri mereka. Mereka berani mewartakan Injil kepada orang banyak, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dan banyak orang percaya pada pemberitaan mereka. Bahkan mereka rela dipenjara dan disiksa demi iman mereka. Para rasul semakin bertumbuh dalam iman dan kasih akanYesus Kristus dan keberanian mereka untuk mewartakan Injil semakin tangguh.

Dalam kehidupan para kudus kita jumpai keidentikan mereka antara lain: 

mengasihi Allah dan sesama, kerelaan, keikhlasan, dan ketekunan mereka untuk mengikuti jejak Kristus, bila mengalami kejatuhan mereka segera bangun dan berjalan kembali dan mereka terus-menerus bertumbuh dalam doa, melakukan kebajikan, kurban-kurban sampai mengakhiri kehidupan mereka di dunia ini.

Semua faktor-faktorini sangatlahperlu bagi setiap orang yang mau mengejar kesucian atau kesempurnaan kristiani. Para kudus telah memelihara perintah-perintah Tuhan supaya mereka menjadi pengikut-pengikut Yesus yang bermutu dan mencapai kekudusan. Kelemahan-kelemahan membuat mereka tetap memilih Allah daripada dirinya sendiri. Kekurangan-kekurangan membuat mereka sadar bahwa mereka tidak ada artinya tanpa Allah dan supaya mereka hanya herharap pada Kristus.

Kekudusan adalah suatu “pertumbuhan pengalaman” perkembangan terdiri dan:
perkembangan dalam pengetahuan, kasib, penguasaan diri, serta memperoleh kebajikan dan Yesus. Semakin kasih bertumbuh dalam diri seseorang, semakin berkembang pula kesuciannya dan semakin dia berharap pada Allah. Kerinduan yang mendalam kepada Allah bukan berarti mengasingkan diri dan persekutuan dengan sesama, tetapi pertumbuhan kasih kepada Allah akan mengarah kepada persatuan dengan sesama.

Hubungan yang mendalam dengan Allah menguatkan jiwa kita dan membuat kita bertumbuh dalam cintakasih. Relasi itu tidak hanya sebatas diri kita tetapi lebih dari itu, supaya orang lain dapat mengalami cinta Allah dalam hidupnya. Dalam kehidupan kristiani kita harus saling mendukung, mendorong, membantu sesama supaya berkembang dalam kesucian juga. Mungkin ada orang tertentu yang sangat berkembang dalam hidup rohani, dia dapat membantu orang lain yang baru mulai belajar dengan cara: mengarahkan mereka dalam membaca Kitab Suci, berdoa, dan melalui sharing pengalaman rohani (lebih baik kalau menggunakan pengalaman pribadi), atau mendorong mereka untuk membaca riwayat hidup dan tulisan-tulisan para kudus. Hal ini akan menggugah semangat untuk lebih mengabdi Tuhan. Relasi ini dapat dinyatakan dalam berbagai tingkat dan status hidup, misalnya:

  • Suami-istri yang telah dipersatukan oleh Tuhan untuk menjalin relasi cinta, baik dengan keluarga maupun dengan Tuhan. Relasi ini tetap terjalin jika keduanya mengalami kasih dan menghayati hidup perkawinan mereka sesuai dengan janji yang mereka ucapkan kepada Tuhan. Dengan saling melengkapi, membantu, dan mendukung baik dalam mengatur hidup berkeluarga maupun hidup rohani masing-masing, setiap anggota keluarga dapat bertumbuh bersama dalam kekudusan, seolah-olah mereka berjalan bersama menuju Tuhan.
  • Para religius berkembang dalam kesucian jika mereka saling mendorong satu sama lain, belajar dari anggota yang berpengalaman atau belajar dari kehidupan para kudus sendiri, setia pada tugas-tugasnya, dan setia pada rahmat penggilannya. Di sini selalu dibutuhkan rahmat Allah. Menjadi murid Yesus berarti menjadi seperti Dia. Bagi para munid Kristus, kehidupan rohani adalah hal yang mendasar supaya mereka di tengah-tengah dunia dapat tetap mengarahkan pandangan pada Kristus.

Kekristenan adalah suatu jalan kehidupan, jalan yang berlawanan dengan jalan dunia. Hal ini membuat orang kristen berdiri sendiri dari keterasingan itu, membuat banyak orang kristen berkecil hati dalam berjuang mencapai kesucian. Bagaimanapun juga, di lain pihak, kesendirian ini membuat banyak pula orang kristen lainnya, oleh rahmat Allah, dapat berdiri teguh dengan gagah berani, misalnya para martir.

Mungkin ada yang menanyakan mengapa pengikut Yesus itu sering mengalami penderitaan, aniaya, penyesahan, dan penindasan? Kembali kita lihat kehidupan Yesus sendiri yang juga mengalami berbagai macam penderitaan. Dia diadili walaupun tidak bersalah, Dia dicaci, dipukul, bahkan disalibkan. Dia memang harus mengalami ini supaya kita diperdamaikan dengan Allah. Seperti kata rasul Paulus bahwa penderitaan Kristus merupakan teladan bagi orang Kristen. Artinya sudah selayaknya kita harus menderita jika kita mau mengikuti Yesus.

Semua pergolakan dalam kehidupan orang kristen itu merupakan suatu ajang pengujian kesabaran untuk menguatkan peristiwa-peristiwa itu mereka tetap bergantung pada kuasa Allah. Peristiwa demi peristiwa dalam kehidupan orang kristen bukanlah suatu keburukan. Banyak orang kristen yang mengeluh karena dianiaya, difitnah, disingkirkan, dan lain-lain demi Kristus, padahal sebenarnya pengalaman ini justru merupakan suatu tanda yang baik bahwa dia boleh mengambil bagian dalam penderitaan Kristus. Orang yang sungguh-sungguh kristen akan dapat mengerti apa artinya mengikuti Kristus dan konsekuensinya.

Para kudus adalah orang yang sudah mengasihi Allah di atas segala-galanya. Mereka sendiri telahbelajarmengasihi seperti Kristus telah mengasihi. Keutamaan Yesus ialah melakukan kehendak Bapa dengan sempurna dan para kudus pun belajar dan Yesus. Mereka telah berjuang dan hasil perjuangan itu telah mereka rasakan sekarang, yaitu bersatu bersama Bapa di surga. Para kudus memiliki sikap belas kasihan dari Bapa dan kerendahan hati dari Yesus dan semangat yang berkobar-kobar dalam hati. Sikap ini bertumbuh hari demi hari dalam setiap situasi. Suatu sikap yang akan melahirkan kesucian.

Bapa memberikan Putra-Nya supaya kita menjadi anak-anak-Nya serta ahli waris kerajaan-Nya. Yesus telah lahir, hidup, mati, dan bangkit supaya kita memperoleh jalan masuk kepada Bapa. Roh Kudus memberikan kita karunia-karunia supaya kita memperoleh permata dan kebajikan, emas dan kasih, ratna mutu-manikam dan pengharapan, dan intan-berlian dan iman. Agar kita memperoleh kekudusan ini, kita pun harus menanggapi tawaran dari Bapa itu dengan sikap terbuka, artinya membiarkan diri kita dibentuk, dipakai seturut rencana Allah.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting