Print
Hits: 4875

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

    Setiap hari Natal di banyak paroki dan tempat ibadat Katolik kerap dibangun gua-gua Natal. Sebuah gua yang berfungsi sebagai kandang, seperti lazim di Palestina pada saat itu, lengkap dengan bayi Yesus, Maria, dan Yosef serta beberapa gembala dan malaikat. Selama berabad-abad gua Natal itu adalah khotbah hening yang sangat berguna bagi banyak orang Kristen. Dalam gua-gua Natal itu juga kita melihat kebenaran peristiwa Natal “Allah menyingkat sabda-Nya” karena dalam adegan sederhana gua Natal orang dapat memahami apa yang dikatakan oleh teks-teks Kitab Suci tentang peristiwa Natal. Peristiwa Natal adalah peristiwa Allah menyingkat Sabda-Nya.

Pengantar

    Setiap hari Natal di banyak paroki dan tempat ibadat Katolik kerap dibangun gua-gua Natal. Sebuah gua yang berfungsi sebagai kandang, seperti lazim di Palestina pada saat itu, lengkap dengan bayi Yesus, Maria, dan Yosef serta beberapa gembala dan malaikat. Pada Hari Raya Epifani yang jatuh pada tanggal 6 Januari biasanya ditambahkan patung tiga orang majus dan orang saling memberi hadiah menurut teladan para majus yang memberi hadiah kepada bayi Yesus.

    Selama berabad-abad gua Natal itu adalah khotbah hening yang sangat berguna bagi banyak orang Kristen. Ketika tingkat buta huruf tinggi dan hanya segelintir orang yang mampu membaca kisah Natal di Kitab Suci, ketika teknologi percetakan belum maju dan Kitab Suci masih menjadi barang mahal yang hanya mampu dibeli oleh sedikit keluarga yang berkecukupan, ketika liturgi dirayakan dalam bahasa latin sehingga kebanyakan umat tidak dapat mengerti, gua-gua ini menjadi pengganti Kitab Suci dan homili. Dengan memandangnya orang memahami pesan Natal dan menerimanya dengan hati yang rela.

    Dalam gua-gua Natal itu juga kita melihat kebenaran peristiwa Natal “Allah menyingkat sabda-Nya” (bdk. Yes 10:23, Rm 9:28, menurut teks Yunani) karena dalam adegan sederhana gua Natal orang dapat memahami apa yang dikatakan oleh teks-teks Kitab Suci tentang peristiwa Natal. Peristiwa Natal adalah peristiwa Allah menyingkat Sabda-Nya. Setelah Ia berbicara panjang lebar melalui para Nabi dalam rentang waktu berabad-abad, kini Allah menyingkat Sabda-Nya dalam bentuk bayi kecil yang lemah dan tidak berdaya (bdk. Ibr 1:1-3; Yoh 1:14; Luk 2:12).

 

FirmanNya menjadi Bayi Kecil[1]

    Selama berabad-abad firman Allah telah menjadi panjang dan menjadi sulit dipahami. Hal ini berlaku tidak hanya bagi mereka yang buta huruf dan tidak terpelajar, tetapi juga bagi mereka yang mengkhususkan diri untuk mempelajarinya, yang tanpa sengaja seringkali terjebak pada masalah-masalah khusus dan melupakan sudut pandangnya yang menyeluruh. Dengan menjadi bayi, firman Allah menunjukkan kesederhanaan-Nya. Firman Allah yang tak terkatakan dan tak terpahami (bdk. Rm 11:33), yang tidak dapat dibagi-bagi menjadi kata-kata dan suku-suku kata (bdk. KGK no. 102) sekarang menjadi bayi kecil sehingga semua orang dapat memandang-Nya dan dapat memerhatikan-Nya, lebih utama lagi semua orang dapat mengasihi-Nya.

    Selama hidup-Nya Yesus menunjukkan kepada kita hal yang paling mendasar dalam hubungan kita dengan Allah dan sesama. Ia menegaskan hal yang paling utama dari seluruh Kitab-kitab Suci, yaitu kasih kepada Allah dan kepada sesama (bdk. Mat 22:37-40). Tetapi, bagaimana kita dapat mengasihi Allah jika kita tidak mengenal Dia? Bagaimana kita dapat mengasihi Allah dengan seluruh akal budi jika pikiran kita tidak dapat memahami-Nya? Bagaimana kita dapat mengasihi Allah dengan sepenuh hati jika hati kita hanya dapat menangkap sedikit tentang Dia hanya dari kejauhan?

    Dengan menjadi bayi Allah menyingkat sabda-Nya. Ia menunjukkan bagaimana cara kita mengasihi Dia. Dia menjadi seorang bayi kecil yang membutuhkan kasih dari kedua orang tua-Nya, dan Ia ingin kita mendekati-Nya sama seperti kita mendekati seorang bayi yaitu tanpa rasa takut, tanpa prasangka, namun juga dengan penuh kasih sayang. Dia menjadi sesama kita, dan itu menunjukkan bahwa sesama yang seringkali menjengkelkan dan sulit untuk dikasihi sesungguhnya diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Dengan mengasihi mereka kita menunjukkan kasih kepada Allah.

Ia Menjadi Makanan untuk Kita[2]

    Sekali waktu saya pernah menyampaikan pengajaran di sebuah kelompok sel tentang pengantar Kitab Suci Perjanjian Lama. Dalam pengajaran itu saya mengatakan bahwa “makan bersama itu penting” dan hampir semua tertawa karenanya. Mereka mengira saya bercanda, tetapi saya tidak bermaksud demikian. Seluruh Kitab Suci berulang kali menunjukkan Allah menyatakan diri-Nya dalam makan bersama. Kita dapat mengingat bahwa Abraham menjamu tiga malaikat (bdk. Kej 18:1-15), Musa dan tua-tua Israel makan bersama dengan Allah (bdk. Kel 24:9-11), dan akhir zaman digambarkan sebagai perjamuan makan (bdk. Yes 25:6; Why 19:9). Makanan adalah kebutuhan dasar manusia, dan melalui kebutuhan yang dasar ini Allah menyatakan karya keselamatan-Nya. Peristiwa Natal juga menunjukkan hal itu.

    Sebagai seorang bayi, Yesus membutuhkan makanan. Ia tahu manusia membutuhkan makanan agar tetap hidup. Maka, Ia memilih sebuah palungan, sebuah tempat makanan bagi binatang, sebagai tempat tidur-Nya. Dengan membaringkan diri di palungan, Ia memberikan diri-Nya sebagai makanan bagi manusia. Manusia membutuhkan makanan untuk hidup, tetapi ia tidak hidup hanya dari makanan saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (bdk. Mat 4:4).

    Yesus adalah makanan itu, Ia membaringkan diri-Nya di sebuah tempat makanan. Ia lahir di tempat yang bernama kota roti (Betlehem), kelak Ia menyebut diri-Nya sebagai Roti Hidup yang turun dari surga dan memberikan Tubuh dan Darah-Nya untuk dimakan (bdk. Yoh 6:48.55-56). Makanan ini menguatkan jiwa, memberi arti kepada hidup manusia dan menyiapkannya untuk hidup abadi. Makanan ini membawa firman Allah itu dekat pada kita dan berada dalam hati kita (bdk. Rm 10:8). Sekali lagi dalam rupa sepotong Roti kecil, kita melihat Allah menyingkat firman-Nya, Ia memberikan diri-Nya untuk kita.    

    Jika Allah menyatakan diri dan membagikan firman-Nya melalui makanan dalam suatu makan bersama, mungkin kita juga perlu melihat bagaimana keberadaan makan bersama dalam keluarga atau komunitas kita sendiri. Makan bersama bukan sekedar beberapa orang makan di satu tempat sendiri-sendiri, tetapi hendaknya menjadi suatu acara keakraban dimana pesertanya saling berbagi cerita hidup. Dengan berbagi kegembiraan, keprihatinan, harapan, dan juga berbagi makanan, kita sesungguhnya sedang meneladan Kristus yang membagikan hidup-Nya kepada kita. Makan bersama adalah acara yang sederhana, namun sangat membantu untuk menghayati pesan-pesan alkitabiah dan menghadirkan Kristus dalam lingkungan keluarga atau komunitas kita.

Kekristenan Bukan Agama Buku

    Di dalam diri Yesus firman Allah dipersingkat. Dalam rahim Perawan Maria Allah menyingkat firman-Nya. Kitab-kitab Suci yang panjang itu kini disatukan, diringkas kembali dalam Pribadi Kristus[3]. Bukan ajaran-ajaran Yesus yang utama dalam iman kita, tetapi pribadi-Nya. Ajaran Yesus tidak dapat dipisahkan dari pribadi-Nya. Mustahil orang menerima ajaran-Nya tanpa menerima pribadi-Nya. Berusaha melaksanakan ajaran Yesus tanpa menerima pribadi-Nya akan berakhir dengan penyelewengan atau pembelokan terhadap ajaran-Nya. Menerima firman Allah berarti menerima pribadi Yesus, mengakui Dia sebagai pusat dan tujuan hidup kita.

    Untuk memperjelas hal itu marilah kita menyimak dialog antara Rabbi Neusner dan Rabbi Simelai. Rabbi Neusner baru saja menghabiskan waktu mempelajari ajaran Yesus dalam keempat kitab Injil dan kemudian ia mempelajari Taurat bersama sejumlah Rabbi lainnya. Dalam pelajaran itu Rabbi Simelai mengatakan, “613 perintah diberikan kepada Musa, 315 perintah negatif, sepadan dengan jumlah hari dalam tahun matahari, dan 248 perintah positif, sepadan dengan jumlah bagian-bagian tubuh manusia. Daud datang dan mengurangkannya menjadi sebelas. Yesaya datang dan mengurangkannya menjadi enam. Yesaya datang lagi dan mengurangkannya menjadi dua. Selanjutnya, datang Habakuk dan mengurangkannya menjadi satu, sebagaimana konon dikatakan: Tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya (Hab 2:4). Jadi, apakah ini yang dikatakan oleh Yesus itu?” Rabbi Neusner kemudian menjawab, “Tidak persis, tetapi mirip.” Rabbi Simelai berkata kembali, “Apakah yang sudah Ia kurangkan?” Rabbi Neusner menjawab, “Tidak ada.” Akhirnya, Rabbi Simelai bertanya, “Apa yang sudah ia tambahkan?” Dan, Rabbi Neusner menjawab, “Diri-Nya sendiri.”[4]

    Jawaban Neusner mengungkapkan suatu alasan yang tepat bagi para penganut Yudaisme mengapa mereka sulit menerima Yesus. Hal ini disebabkan karena pengajaran Yesus berpusat pada diri-Nya. Ia mengangkat diri-Nya kepada kewibawaan melebihi Musa, bahkan setara dengan Allah. Yesus bukanlah seorang bijak yang datang dan mengajar orang untuk berbuat baik. Ia bukan seorang filsuf yang menawarkan pandangan-pandangan-Nya tentang dunia dan alam untuk diikuti dan dijalankan oleh orang-orang. Ia juga bukan sekedar juru bicara Allah. Sebaliknya, Ia berbicara tentang Allah dalam suatu sudut pandang baru, yaitu diri-Nya sendiri. Pusat pewartaan Yesus adalah diri-Nya. Ada banyak orang yang merasa sudah mengikuti Yesus dan menjalankan ajaran-Nya, meskipun menolak untuk menerima pribadi-Nya. Rabbi Neusner, sebagai orang beragama Yahudi yang tidak mengimani Yesus dan pada saat yang sama mengenal dengan baik Kitab Taurat, dengan tepat menunjukkan bahwa hal itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Pewartaan Yesus yang berpusat pada diri-Nya sendiri itulah yang akhirnya menyebabkan Rabbi Neusner memilih menolak Dia dan tetap tinggal bersama “Israel abadi.”

    Akhirnya, keterpusatan kepada pribadi Yesus ini juga menunjukkan bahwa iman Kristen bukanlah “agama buku” dan juga bukan “agama Alkitab,” tetapi agama “firman Allah,” bukan firman yang tertulis dan hanya sekedar kata-kata, tetapi yang hidup dan menjadi daging (bdk. KGK no. 108). Seluruh Kitab Suci diinspirasikan oleh Allah dan memberi kesaksian tentang satu-satunya Firman yang tunggal, yang menjadi daging dan tinggal di antara kita. Akhirnya, Kekristenan adalah agama dari Yesus orang Nazareth[5].

Sumber:

 


[1] Bagian ini disadur dari Homili Paus Benediktus XVI pada Malam Natal 2006.

[2] Sama seperti bagian sebelumnya bagian ini disadur dari homili Paus Benediktus XVI pada Malam Natal tahun 2006. Gagasan bahwa Logos (Firman) diberikan sebagai makanan dalam Roti Ekaristi diulangi kembali oleh Joseph Ratzinger dalam bukunya Yesus dari Nazareth halaman 169-170.

[3] Henry de Lubac, Medieval Exegesis. The Four Senses of Scripture, Volume III, ringkasan dalam majalah 30Days: In the Church and in the world, Year XXIV number 11, hal. 35.

[4] Joseph Ratzinger (terj. B.S Mardiatmadja SJ), Yesus dari Nazareth, Gramedia, Jakarta, 2008. hal. 112.

[5] De Lubac, op.cit., hal.38.

 

Oleh: Fr. Mansur, CSE