header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Allah Menyingkat Sabda-Nya

User Rating:  / 1
PoorBest 

Ia Menjadi Makanan untuk Kita[2]

Sekali waktu saya pernah menyampaikan pengajaran di sebuah kelompok sel tentang pengantar Kitab Suci Perjanjian Lama. Dalam pengajaran itu saya mengatakan bahwa “makan bersama itu penting” dan hampir semua tertawa karenanya. Mereka mengira saya bercanda, tetapi saya tidak bermaksud demikian. Seluruh Kitab Suci berulang kali menunjukkan Allah menyatakan diri-Nya dalam makan bersama. Kita dapat mengingat bahwa Abraham menjamu tiga malaikat (bdk. Kej 18:1-15), Musa dan tua-tua Israel makan bersama dengan Allah (bdk. Kel 24:9-11), dan akhir zaman digambarkan sebagai perjamuan makan (bdk. Yes 25:6; Why 19:9). Makanan adalah kebutuhan dasar manusia, dan melalui kebutuhan yang dasar ini Allah menyatakan karya keselamatan-Nya. Peristiwa Natal juga menunjukkan hal itu.

Sebagai seorang bayi, Yesus membutuhkan makanan. Ia tahu manusia membutuhkan makanan agar tetap hidup. Maka, Ia memilih sebuah palungan, sebuah tempat makanan bagi binatang, sebagai tempat tidur-Nya. Dengan membaringkan diri di palungan, Ia memberikan diri-Nya sebagai makanan bagi manusia. Manusia membutuhkan makanan untuk hidup, tetapi ia tidak hidup hanya dari makanan saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (bdk. Mat 4:4).

Yesus adalah makanan itu, Ia membaringkan diri-Nya di sebuah tempat makanan. Ia lahir di tempat yang bernama kota roti (Betlehem), kelak Ia menyebut diri-Nya sebagai Roti Hidup yang turun dari surga dan memberikan Tubuh dan Darah-Nya untuk dimakan (bdk. Yoh 6:48.55-56). Makanan ini menguatkan jiwa, memberi arti kepada hidup manusia dan menyiapkannya untuk hidup abadi. Makanan ini membawa firman Allah itu dekat pada kita dan berada dalam hati kita (bdk. Rm 10:8). Sekali lagi dalam rupa sepotong Roti kecil, kita melihat Allah menyingkat firman-Nya, Ia memberikan diri-Nya untuk kita.

Jika Allah menyatakan diri dan membagikan firman-Nya melalui makanan dalam suatu makan bersama, mungkin kita juga perlu melihat bagaimana keberadaan makan bersama dalam keluarga atau komunitas kita sendiri. Makan bersama bukan sekedar beberapa orang makan di satu tempat sendiri-sendiri, tetapi hendaknya menjadi suatu acara keakraban dimana pesertanya saling berbagi cerita hidup. Dengan berbagi kegembiraan, keprihatinan, harapan, dan juga berbagi makanan, kita sesungguhnya sedang meneladan Kristus yang membagikan hidup-Nya kepada kita. Makan bersama adalah acara yang sederhana, namun sangat membantu untuk menghayati pesan-pesan alkitabiah dan menghadirkan Kristus dalam lingkungan keluarga atau komunitas kita.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting