User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

 

Pengantar

Setiap hari Natal di banyak paroki dan tempat ibadat Katolik kerap dibangun gua-gua Natal. Sebuah gua yang berfungsi sebagai kandang, seperti lazim di Palestina pada saat itu, lengkap dengan bayi Yesus, Maria, dan Yosef serta beberapa gembala dan malaikat. Pada Hari Raya Epifani yang jatuh pada tanggal 6 Januari biasanya ditambahkan patung tiga orang majus dan orang saling memberi hadiah menurut teladan para majus yang memberi hadiah kepada bayi Yesus.

Selama berabad-abad gua Natal itu adalah khotbah hening yang sangat berguna bagi banyak orang Kristen. Ketika tingkat buta huruf tinggi dan hanya segelintir orang yang mampu membaca kisah Natal di Kitab Suci, ketika teknologi percetakan belum maju dan Kitab Suci masih menjadi barang mahal yang hanya mampu dibeli oleh sedikit keluarga yang berkecukupan, ketika liturgi dirayakan dalam bahasa latin sehingga kebanyakan umat tidak dapat mengerti, gua-gua ini menjadi pengganti Kitab Suci dan homili. Dengan memandangnya orang memahami pesan Natal dan menerimanya dengan hati yang rela.

Dalam gua-gua Natal itu juga kita melihat kebenaran peristiwa Natal “Allah menyingkat sabda-Nya” (bdk. Yes 10:23, Rm 9:28, menurut teks Yunani) karena dalam adegan sederhana gua Natal orang dapat memahami apa yang dikatakan oleh teks-teks Kitab Suci tentang peristiwa Natal. Peristiwa Natal adalah peristiwa Allah menyingkat Sabda-Nya. Setelah Ia berbicara panjang lebar melalui para Nabi dalam rentang waktu berabad-abad, kini Allah menyingkat Sabda-Nya dalam bentuk bayi kecil yang lemah dan tidak berdaya (bdk. Ibr 1:1-3; Yoh 1:14; Luk 2:12).

 

FirmanNya menjadi Bayi Kecil[1]

Selama berabad-abad firman Allah telah menjadi panjang dan menjadi sulit dipahami. Hal ini berlaku tidak hanya bagi mereka yang buta huruf dan tidak terpelajar, tetapi juga bagi mereka yang mengkhususkan diri untuk mempelajarinya, yang tanpa sengaja seringkali terjebak pada masalah-masalah khusus dan melupakan sudut pandangnya yang menyeluruh. Dengan menjadi bayi, firman Allah menunjukkan kesederhanaan-Nya. Firman Allah yang tak terkatakan dan tak terpahami (bdk. Rm 11:33), yang tidak dapat dibagi-bagi menjadi kata-kata dan suku-suku kata (bdk. KGK no. 102) sekarang menjadi bayi kecil sehingga semua orang dapat memandang-Nya dan dapat memerhatikan-Nya, lebih utama lagi semua orang dapat mengasihi-Nya.

Selama hidup-Nya Yesus menunjukkan kepada kita hal yang paling mendasar dalam hubungan kita dengan Allah dan sesama. Ia menegaskan hal yang paling utama dari seluruh Kitab-kitab Suci, yaitu kasih kepada Allah dan kepada sesama (bdk. Mat 22:37-40). Tetapi, bagaimana kita dapat mengasihi Allah jika kita tidak mengenal Dia? Bagaimana kita dapat mengasihi Allah dengan seluruh akal budi jika pikiran kita tidak dapat memahami-Nya? Bagaimana kita dapat mengasihi Allah dengan sepenuh hati jika hati kita hanya dapat menangkap sedikit tentang Dia hanya dari kejauhan?

Dengan menjadi bayi Allah menyingkat sabda-Nya. Ia menunjukkan bagaimana cara kita mengasihi Dia. Dia menjadi seorang bayi kecil yang membutuhkan kasih dari kedua orang tua-Nya, dan Ia ingin kita mendekati-Nya sama seperti kita mendekati seorang bayi yaitu tanpa rasa takut, tanpa prasangka, namun juga dengan penuh kasih sayang. Dia menjadi sesama kita, dan itu menunjukkan bahwa sesama yang seringkali menjengkelkan dan sulit untuk dikasihi sesungguhnya diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Dengan mengasihi mereka kita menunjukkan kasih kepada Allah.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting