header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Mengenang Paus Yohanes Paulus II

User Rating:  / 7
PoorBest 

Siapa diantara kita yang tidak terkesan oleh Bapak Suci Paus Yohanes Paulus II, seorang Paus yang paling menonjol diantara paus-paus lain dalam Gereja Katolik. Dimana saja dan kemana saja Beliau selalu disambut antusias oleh seluruh Umat Katolik.

Paus Yohanes Paulus II yang lahir pada tanggal 18 Mei 1920 di Krakow, Polandia. Nama aslinya adalah Karol Wojtyla, juga dikenal sebagai paus peziarah karena Belaiu sudah banyak mengunjungi negara-negara di dunia.

Paus Yohanes Paulus II ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1946, dan ditahbiskan menjadi uskup pada tahun 1958. Beliau sangat aktif dan berpengaruh dalam Konsili Vatikan II. Pada tahun 1978 Beliau terpilih sebagai Paus. Paus Yohanes Paulus II ini sangatlah dikagumi dunia karena Beliau merupakan pemimpin moral dan kepeduliannya terhadap kedamaian, kerukunan serta penderitaan manusia amatlah besar sehingga Beliau mewartakan kabar keselamatan kepada seluruh umat manusia di belahan dunia ini tanpa kenal lelah.

Sehingga setiap kata-kata yang diucapkannya sungguh sangat menawan bagi banyak orang di dunia. Kata-kata Beliau benar-benar mengandung suatu kekuatan yang luarbiasa besar karena sungguh berakar pada kesucian hidup dan hidup doa Paus Yohanes Paulus II.

Inilah sebagian kecil dari kata-kata Paus Yohanes Paulus II yang di muat untuk mengenang akan Paus kita yang suci, yang telah menjalankan tugasnya selama 26 tahun, dialah Paus Yohanes Paulus II.

Kata-Kata Harapan dan Inspirasi (Kebijaksanaan Paus)

  •  Setiap kali Kristus mendorong kita untuk tidak takut. Dia adalah Allah dan sekaligus manusia dalam pemikiran-Nya. Ia ingin mengatakan: Jangan takut kepada Allah, yang menurut para filsuf adalah Yang Absolut dan Transenden. Jangan takut kepada Allah, tetapi berserulah kepada-Nya bersama Aku, “Bapa Kami” (Mat. 6:9). Jangan Takut untuk berkata “Bapa”! Berusahalah untuk menjadi sempurna seperti Dia, karena Dia sempurna (Melintasi Ambang Pintu Harapan).
  • Kita Harus menghadap Sang Putra, Putra Manusia, Putra Allah, apapun penderitaan yang harus kita hadapi apapun resiko yang harus kita tanggung, karena mengenal dan mengasihi Dia sungguh akan mengubah hidup kita (Homili Central Park - 1995).
  • Semoga Roh Kudus, Roh Pentakosta, menolong engkau menjelaskan apa yang meragukan, memberikan kehangatan kepada apa yang biasa saja, menerangkan apa yang tidak jelas, menjadi saksi sejati dari kasih Kristus di hadapan dunia karena “tidak seorang pun dapat hidup tanpa kasih” (Doa-doa Paus Yohanes Paulus II).
  • Jika engkau mengikuti nasihat Yesus dan senantiasa berdoa kepada Allah, engkau akan belajar berdoa dengan baik. Allah sendiri akan mengajari engkau (Pertemuan dengan Kaum Remaja, New Orleans - 1987).
  • Apakah doa itu? Doa biasanya dimengerti sebagai sautu percakapan. Dalam suatu percakapan selalu ada “aku” dan “Engkau”. Jika pada permulaan “aku” terkesan menjadi unsur yang paling penting dalam doa, doa mengajar bahwa keadaan yang sebenarnya berbeda. Engkau menjadi lebih penting karena doa kita mulai dengan Allah (Melintasi Ambang Pintu Harapan).
  • Hendaknya engkau setia pada doa-doa harian engkau, doa-doa itu akan merawat imanmu sehingga tetap hidup dan bersemangat (Pesan kepada seminaris, Chicago - 1979).
  • Doa membawa kekuatan yang menyelamatkan dari Yesus Kristus ke dalam keputusan dan kegiatan hidup harian (Salam Pembukaan di Katedral St. Patrick, 1995).
  • Dalam setiap pencarian iman sudah ada iman secara tersirat. Ini berarti syarat utama untuk keselamatan sudah terpenuhi (Melintasi Ambang Pintu Harapan).
  • Menjadi seperti anak kecil, dengan percaya sepenuhnya kepada Bapa dan dengan kelembutan yang diajarkan Injil, tidak hanya suatu keharusan etis, tetapi sikap demikian juga merupakan alasan untuk berharap. Juga meskipun kesukaran sedemikian besar sehingga menyebabkan kehilangan semangat dan kekuatan kejahatan sedemikian mengerikan sehingga mengecilkan hati, mereka yang dapat menemukan kembali kesederhanaan seorang anak dapat mulai berharap kembali (Pesan Hari Perdamaian Dunia -1996).
  • Kasih adalah pemberian diri. Ini berarti mengosongkan diri untuk menggapai orang lain. Dalam arti tertentu, kasih berarti melupakan diri sendiri bagi kebaikan orang lain (Kasih Manusia yang Sejati mencerminkan Kasih Ilahi - 1993).
  • Makna sejati dan sesungguhnya dari belas kasih tidak tercapai hanya karena memperhatikan kejahatan susila, fisik dan materi, meskipun secara tajam dan dengan belas kasihan, belas kasih diwujudkan dalam aspeknya yang sejati dan sesungguhnya bila itu memulihkan nilai-nilai, memajukan dan menarik kebaikan dari segala bentuk kejahatan yang ada di dunia dan dalam diri manusia (Dives in Misericordia).
  • Berkat korban Kristus di Salib tercapailah kejayaan Kerajaan Allah sekali untuk selamanya. Akan tetapi, kehidupan kristiani menuntut perjuangan melawan godaan dan kekuatan kejahatan. Baru menjelang akhir sejarah Tuhan akan datang lagi dalam kemuliaan-nya untuk penghakiman terakhir dengan membangun langit baru dan bumi baru. Namun demikian sepanjang sejarah pertentangan antara kebaikan dan kejahatan tetap akan berlangsung dalam lubuk hati manusia (Centesimus Annus).
  • Tidak ada dosa manusia yang dapat menghapus belas kasih Allah, atau mencegah-Nya melepaskan semua kuasa-Nya yang mengatasi segalanya, jika kita berseru kepada-Nya (Veritatis Splendor).
  • Kita dipanggil kepada kepenuhan hidup yang jauh melampaui dimensi keberadaan duniawi kita, karena hal itu meliputi pengambilan bagian dalam hidup Allah. Keluhuran dari panggilan adikodrati ini menyingkapkan kebesaran dan nilai yang tak terhitung dari kehidupan manusia bahkan dalam tahapnya yang sementara (Evangelium Vitae)

Bacaan Ofisi (dari Homili Misa Inaugurasi Yohanes Paulus II, 22 Oktober 1978) 

Petrus datang ke Roma! Selain dari ketaatan terhadap ilham yang diterimanya dari Tuhan, apalagikah yang dapat menuntun dan membawanya datang ke kota ini, ke jantung Kekaisaran? Mungkin, nelayan dari Galilea itu tidak mau datang ke sini. Mungkin, ia lebih senang tinggal di sana, di tepi danau Genesareth dengan perahu dan jalanya. Tetapi, ia datang ke sini, karena dibimbing oleh Tuhan, dan karena ketaatan kepada dorongan-Nya!

Menurut tradisi kuno, Petrus mencoba lari pada saat penganiayaan Nero. Bagaimanapun, Tuhan campur tangan dan datang menemui dia. Petrus berbicara kepada-Nya: “Quo vadis, Domine?”- Kemana Engkau akan pergi, Tuhan?” Dan Tuhan menjawab: “ Aku hendak pergi ke Roma untuk disalibkan lagi.” Petrus kembali ke Roma dan tinggal di sana sampai akhirnya ia disalibkan.

Zaman kita ini memanggil dan mendesak kita untuk memandang Tuhan dan menenggelamkan diri dalam kerendah hatian dan merenungkan dengan setia kuasa agung Kristus sendiri.

Dia yang lahir dari Perawan maria, dan Anak si tukang kayu (sebagaimana Dia dianggap demikian), adalah Putera Allah yang hidup (sebagaimana diakui oleh Petrus), dan Ia datang untuk menjadikan kita “kaum imam dan raja”.

Konsili Vatikan II mengingatkan kita akan misteri ini dan mengingatkan kita akan kenyataan bahwa misi Kristus sebagai Imam, Nabi-Guru, dan Raja terus berlanjut dalam Gereja. Seluruh umat Allah, siapapun dia, ikut ambil bagian dalam misi ini. Mungkin, dalam tiara, mahkota bersusun tiga yang dulu dikenakan atas kepala Paus untuk menunjukkan secara simbolis rencana Allah bagi Gereja-Nya, yaitu bahwa tatanan hierarkis dalam Gereja Kristus, semua “kuasa suci” yang dijalankan Gereja, tidak lain daripada sebuah pelayanan, dan pelayanan ini hanya memiliki satu tujuan, yaitu: untuk memastikan bahwa seluruh Umat Allah ambil bagian dalam tiga karya perutusan Kristus dan tetap berada di bawah kuasa Tuhan; suatu kuasa yang sumbernya bukan dari kuasa-kuasa dunia ini, tetapi berasal dari misteri Kristus dan Kebangkitan-Nya.

Kuasa Tuhan yang mutlak, namun lembut dan manis, menanggapi seluruh kedalaman diri manusia, bahkan sampai kepada kerinduan intelektual, kehendak, dan hatinya yang terdalam. Kuasa ini tidak menggunakan sarana pemaksaan, tetapi mengungkapkan diri dalam cinta kasih dan kebenaran.

Hari ini, Pengganti Petrus yang baru di Tahta Roma membuat suatu doa yang mendesak, sederhana, dan penuh kepercayaan: Kristus, buatlah aku tetap menjadi hamba kuasa-Mu yang unik, pelayan dari kuasa-Mu yang manis, pelayan dari kuasa-Mu yang tak mengenal kegelapan. Buatlah aku pelayan-Mu; sungguh, seorang hamba dari hamba-hamba-Mu.

Saudara-saudari, janganlah takut menyambut Kristus dan menerima kuasa-Nya. Bantulah Paus ini dan semua orang yang hendak melayani Kristus dan yang dengan kuasa Kristus hendak melayani seluruh umat manusia.

Jangan takut. Bukalah, saya katakana lagi, bukalah lebar-lebar pintu bagi Kristus. Bukalah batas-batas Negara, ekonomi, dan sistem politik, kebudayaan, peradaban, dan perkembangan secara lebar-lebar bagi kuasa-Nya yang menyelamatkan. Jangan takut. Kristus mengetahui “apa yang ada dalam diri manusia. Hanya Dia saya yang mengetahui hal itu.

Pada zaman ini, manusia sering kali tidak mengenal apa yang ada dalam dirinya, apa yang ada dalam kedalaman pikiran dan hatinya. Seringkali manusia tidak mengerti arti kehidupannya di dunia ini. Ia diserang oleh keraguan, suatu keraguan yang menuntun kepada keputusasaan. Karena itu kami meminta keapda kalian semua dengan kerendahan hati dan dengan penuh kepercayaan, biarkanlah Kristus berbicara kepada manusia. Hanya Dia sajalah yang memiliki sabda kehidupan, ya, hanya Dia yang memiliki sabda kehidupan abadi.

Doa

Ya Allah yang kaya akan belas kasihan dan yang telah menghendaki supaya beato Yohanes Paulus II memimpin Gereja-Mu yang universal sebagai Paus, kami mohon, semoga karena terdorong oleh ajarannya, kami dapat membuka hati kepada rahmat keselamatan dari Kristus, satu-satunya Penebus umat manusia, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting