User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Sejak awal setiap manusia dipanggil kepada suatu kekudusan. Semua orang beriman menurut Kitab Suci boleh disebut “kudus” namun selanjutnya sifat “kudus/suci” ini diberikan secara khusus kepada mereka yang sepanjang hidupnya senantiasa melakukan hal-hal yang dikehendaki Tuhan, secara istimewa menerima tawaran diri Tuhan dan memberikan diri sepenuhnya dalam mencintai Allah dan akhirnya diyakini sampai kepada suatu tahap kehidupan yang amat sempurna, mencapai tujuan akhir yaitu persatuan yang mesra dengan Allah. Orang-orang seperti ini yang diyakini oleh umat Katolik sebagai orang-orang kudus dan suci, maka di kalangan Gereja Katolik kita kenal dengan istilah orang kudus atau Santo/Santa.

Di antara begitu banyak orang yang diberi gelar kudus oleh Gereja Katolik, Bunda Maria merupakan yang terkudus di antara para kudus. Secara tradisional Maria tidak hanya disebut “kudus” (sancta), namun ia disebut “amat kudus” (sanctissima). Maria telah menerima tawaran diri Allah dan secara istimewa sampai kepada tujuan akhir yaitu surga dan persatuan dengan Allah. Maria menjadi amat kudus karena teladan hidup yang dijalaninya selain ia memang telah dikuduskan sejak semula oleh Allah sendiri.

Dalam Kitab Suci (Injil Lukas) Maria disebut yang berbahagia, ketika malaikat datang menyampaikan kabar sukacita kepadanya. Saat itu Maria merelakan diri untuk sesuatu yang tampaknya mustahil (Luk. 1:37), sehingga Maria hanya berdasarkan imannya kepada firman Tuhan yang disampaikan malaikat (Luk. 1:38). Oleh karena itulah maka Maria dipuji bahagia yaitu karena imannya kepada firman Tuhan. Maria menjadi ibu dari Juruselamat atas dasar pilihan Allah dan oleh karena imannya itu. Yesus Sang Juruselamat yang adalah Putera Maria disebutkan sebagai “kudus” (Luk. 1:35), hasil Roh Allah yang kudus, peserta dari kekudusan Allah, sebab Ia adalah Anak Allah yang Mahatinggi. Bunda Maria dengan imannya merelakan diri secara personal untuk menjadi ibu, mengandung Anak yang kudus itu. Oleh karena itu secara unik pula Maria langsung berhu-bungan dan terpaut pada kekudusan Allah itu. Hal itu berarti bahwa Maria turut dikuduskan juga. Sebab menurut tradisi Perjanjian Lama dan Yahudi, barangsiapa disentuh oleh Allah yang Mahakudus maka mau tidak mau dikuduskan atau mati seketika. Atas dasar kerelaan imannya Maria diintegrasikan ke dalam kekudusan Putera-Nya sendiri yaitu kekudusan Allah.

Beberapa ahli kitab suci berpendapat bahwa Injil Lukas 1–2 menggambarkan Maria sebagai “Kemah Suci” (Bait Allah) dan juga sebagai “Tabut Perjanjian.” Tradisi Yahudi Kemah Suci dan Tabut Perjanjian memang kudus bahkan di-sebut yang paling kudus karena secara nyata menggambarkan kehadiran Allah yang Mahakudus. Dalam Lukas 1:35 dikatakan Maria “dinaungi” Roh Kudus, maka banyak orang akan teringat pada awan berapi yang “menaungi” Kemah Suci di gurun (Kel. 40:35). Menurut tradisi Yahudi, awan dapat disamakan dengan Roh Kudus. Sedangkan Maria digambarkan sebagai “Tabut Perjanjian” berdasarkan pada Injil Luk. 1:39-45 ketika Maria mengunjungi Elisabet saudarinya. Peristiwa itu mengingatkan orang akan Tabut Perjanjian yang datang ke bukit Sion dan Rumah Allah (2 Sam. 6 :2-19). Namun tafsiran atau anggapan ini memang kurang lazim dan tidak umum diterima. Hal yang mung-kin dapat ditarik dari anggapan ini yaitu bahwa dalam Tabut Perjanjian terdapat loh-loh perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Begitu pula dalam diri Maria, dalam rahimnya ada Yesus yang membawa perjanjian antara Allah dan umat manusia. Sebab dalam diri Yesus bersatulah kodrat manusia dan kodrat Allah.

Bunda Maria yang amat kudus disebutkan sebagai “yang penuh rahmat.” Maria dianggap orang yang menerima rahmat paling banyak dibandingkan dengan manusia lainnya bahkan para malaikat. “Rahmat” di sini perlu juga diingat bahwa itu bukan semata-mata menunjuk kepada suatu “benda” atau “barang”. Rahmat ini maksudnya ada-lah suatu relasi personal antara Allah dan manusia atau malaikat, yang men-jadikan manusia itu mengambil bagian dalam kehidupan, dinamika ilahi dan terjadilah suatu persatuan. Dilihat dari sisi Allah, sebenarnya tidak ada lebih atau kurang dalam pemberian diri ini, namun manusia itu sendiri yang dapat lebih atau kurang dalam menerima tawaran diri Allah itu. Semua ini tak lain karena manusia mempunyai kehendak bebas dalam menentukan apakah dia mau menerima tawaran itu atau tidak. Dalam hal ini Maria yang kudus dan murni itu membiarkan dirinya sepenuh-penuhnya diserap oleh Allah, sehingga terjalinlah suatu persatuan dan relasi yang personal dan nyata antara Allah dan Maria. Maria seutuh-utuhnya menjadi peserta dalam kehidu-pan ilahi oleh karena imannya dan kepercayaannya yang bulat kepada Allah. Karena itu untuk menyatakan kepenuhan dan keutuhan ini maka dikatakan Maria lebih melampaui malaikat. Lebih lagi Maria kemudian juga mendapat gelar “Ratu para malaikat.” Maria sebagai ibu dari Anak Allah tentunya mempunyai relasi yang unik dan istimewa dengan Allah yang tidak dimiliki oleh para malaikat, maka tadi dikatakan bahwa Maria lebih unggul dari para malaikat.

Maria yang penuh rahmat dan beroleh kasih karunia dari Allah itu tidak menjadi kudus ketika ia mengandung Yesus karena Roh Kudus, namun Maria memang telah dikuduskan sejak awal. Maria telah dipilih secara khusus oleh Allah dan karenanya ia dipersiapkan sejak semula. Maria yang dipilih itu menanggapi semua tawaran Allah dengan penyerahan diri yang total dan iman yang hidup akan segala karya Allah. Dengan kenyataan itu, maka dapat juga dikatakan bahwa Maria sudah menerima tawaran diri Allah sehingga sudah menjadi peserta dalam kehidupan ilahi dan sudah menjadi “kudus”. Kalau dilihat dari pihak Allah sendiri, maka Maria secara khusus dipilih dan dikuduskan justru untuk kedudukan dan peranannya dalam tata penyelamatan ini. Maka dengan dasar ini dapat diterima bahwa kekudusan Maria sejak semula mempunyai ciri khas yang tidak ada pada kekudusan makhluk lain. Walaupun tentu saja orang-orang yang dipilih oleh Allah mungkin saja sebelumnya tidak hidup dalam kekudusan, namun kemudian ketika dia dipilih oleh Allah, ia mengalami suatu perubahan besar dan akhirnya menjadi seorang yang kudus dan suci.

 Maria Bebas dari Segala Dosa

Bunda Maria yang kudus dalam kepercayaan Gereja Katolik merupakan manusia yang bebas dari segala noda dosa termasuk dosa pribadi. Dosa pribadi pada dasarnya berarti bahwa ma-nusia menolak tawaran diri Allah yaitu kasih-Nya. Pada diri Maria hal itu tidak ada karena Maria selalu dengan segenap hati menerima tawaran diri Allah itu. Anggapan ini muncul pada saat Konsili Trente tahun 1546 yang menyatakan bahwa berkat karunia istimewa Maria seumur hidup bebas dari segala dosa. Pendapat dan keterangan ini merupakan hasil refleksi umat Kristen atas gam-baran diri Maria yang ada dalam kitab suci, di mana digambarkan hubungan yang unik antara Maria dan Yesus Sang Juruselamat. Yesus yang dikatakan be-bas dari segala dosa adalah Anak Maria, dan sebagai akibatnya, maka Maria yang dipilih menjadi ibu-Nya juga adalah kudus dan dibebaskan dari segala noda dosa. Dalam hal ini Maria sama dengan Yesus yang tidak mengenal dosa pribadi, namun memang tetap ada perbedaan. Dalam diri Yesus “ketidak-berdosaan” itu adalah terletak dalam diri-Nya sendiri, karena itu Yesus me-mang tidak bisa berdosa tanpa menia-dakan diri-Nya sendiri. Sedangkan pada Maria, “ketidakberdosaan” itu terletak di luar dirinya sendiri, dasarnya ialah relasi Allah dan Maria melalui Yesus. Dari dalam dirinya Maria sama seperti manusia lain, berdosa seandainya ti-dak tercegah oleh karunia Allah yang istimewa. Dapat dikatakan Maria terlin-dung dari dosa pribadi oleh karena ka-sih karunia Allah melulu. Sebenarnya Maria dapat berdosa tanpa meniadakan dirinya, hanya nyatanya ia tidak berdosa. Inilah karunia terbesar Allah dalam diri Maria.

Salah satu dogma tentang Bunda Maria ini ditetapkan oleh Paus Pius IX tahun 1854 yang intinya adalah bahwa Maria bebas dari dosa asal. Dikatakan dalam dogma tersebut bahwa sejak saat pertama dikandungan Perawan Maria yang amat bahagia terlindung dan bebas dari segala noda dosa asal berkat kasih karunia yang seluruhnya istimewa dari pihak Allah yang Mahakuasa, berdasarkan jasa Yesus Kristus, Juruselamat umat manusia. Maria luput dari segala noda dosa asal semata-mata karena Allah. Sebagai manusia biasa, Maria sebenarnya tak luput dari dosa asal, tetapi berkat Yesus Kristus serta karya penebusan-Nya maka ia terbebas dari dosa asal itu. Jadi Maria sepenuhnya bergantung pada kasih karunia Allah, ia yang adalah manusia biasa seluruh-nya membutuhkan kerahiman Tuhan, ia tetap berada pada pihak manusia dan bukan menjadi sama dengan Allah. Maria memang kudus dan suci namun ia tetap manusia, tidak bisa menjadi Allah. Kekudusan Maria merupakan percikan dari hubungan yang amat per-sonal dengan Allah, relasi yang istimewa dan persatuannya dengan Allah. Keku-dusan Maria tidak membuat Maria kemudian menjadi Allah itu sendiri, jadi kita tidak dapat menyembah Maria walaupun ia sangat kudus. Kita menghormati Bunda Maria atas keku-dusan dan kesuciannya, namun tetap hanya Allah saja yang kita sembah.

Penutup

Kesucian dan kekudusan yang ada pada diri Maria ini menjadikan ia amat mempesona. Bunda Maria yang seder-hana dan murni memancarkan cahaya kekudusan kepada seluruh dunia. Kita sebagai seorang pengikut Kristus yang sejati, seorang Katolik yang matang, sudah selayaknya membawa Bunda Maria ke dalam kehidupan kita. Ketika kita mengatakan mencintai Yesus Kristus, apakah kita juga mau mencin-tai Maria yang adalah ibu Yesus yang melahirkan Dia? Banyak orang menga-takan mencintai Yesus, namun terhadap Maria mereka sama sekali tak pe-duli bahkan seakan tidak mengakui kekudusan Bunda Maria. Padahal jika kita pikir lagi, tanpa peranan Bunda Maria maka Yesus belum tentu hadir di dunia, dan jika Yesus tak lahir ke dunia ini, maka karya penebusan dan penyelamatan umat manusia tak kan pernah ada. Semua ini terjadi juga ka-rena kerelaan Maria menerima tugas Allah ini. Semua ini juga merupakan tanda kekudusan dan kesucian Bunda Maria. Ia begitu bersahaja dan senanti-asa taat kepada firman dan kehendak Allah. Ketaatan dan kepercayaan Maria kepada Allah menjadikan dia sebagai ibu semua kaum beriman. Maria yang kudus dan suci adalah ibu sekalian umat manusia, ibu Gereja di dunia. Jika kita mempunyai ibu yang suci dan kudus, saudara sulung yang Kudus, maka seharusnya kita pun menjadi kudus adanya. Walaupun tidak dengan cara yang istimewa seperti Maria, namun kita dapat mengejar kekudusan itu dan mencapainya. Cara hidup kita sehari-hari akan mampu memancarkan kekudusan di dalam diri kita. Keterbu-kaan hati dan kerelaan hati untuk senantiasa menerima tawaran diri Allah, melakukan setiap kehendak-Nya dan menjadikan Dia sebagai satu-satunya pusat dalam hidup kita semua itu akan membawa kita kepada kekudusan dan kesucian yang sempurna.

Bunda Maria telah banyak memberikan teladan kesuciannya, maka kita pun mau meneladan apa yang dihayati dalam hidupnya itu. Biarlah diri kita dibawa sampai kepada kekudusan yang sempurna itu. Maria akan membantu dan mendoakan kita sampai pada saatnya nanti kita betul-betul telah sampai kepada tujuan akhir hidup bersatu dengan Dia, menjadi kudus dan serupa dengan Dia yang kita cinta.

Doa :

Bunda Maria yang amat baik,

Bunda yang teramat kudus dan suci,

Pandanglah aku anakmu yang rindu untuk menjadi kudus pula,

Doakanlah aku dan tolonglah aku.

Biarlah dengan pertolonganmu aku semakin dibawa kepada Yesus.

Oh Bunda yang terkasih,

Semoga aku mampu mencapai kekudusan itu. Amin.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting