User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

    Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memberikan sebuah eksegese/tafsiran Kitab Suci, melainkan semata-mata untuk memberikan pemahaman dan sekaligus kesadaran akan keluhuran martabat manusia yang diciptakan Allah untuk kemuliaan-Nya. Seperti yang dikatakan oleh St. Bonaventura bahwa Allah menciptakan segala sesuatu “bukan untuk menambah kemuliaan-Nya, melainkan untuk mewartakan dan menyampaikan kemuliaan-Nya” melalui segala-sesuatu yang Ia berikan kepada ciptaan. Dari pernyataan ini, kita bisa melihat kehidupan sehari-hari yang telah dijalani, “apakah hidup yang saya jalani ini sungguh-sungguh menjadi suatu pujian bagi kemuliaan Allah?”

    Setelah itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di surga dan suara yang dahulu kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, “Naiklah kemari dan aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini.” Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, ada sebuah takhta di surga, dan di takhta itu duduk Seorang. Dia yang duduk di takhta itu tampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis, dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud. Di sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka. Dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: Itulah ketujuh Roh Allah. Di hadapan takhta itu ada lautan kaca bagaimana kristal; di tengah-tengah takhta itu di sekelilingnya ada empat makhluk penuh dengan mata, di sebelah muka dan di sebelah belakang. Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti anak lembu, dan makluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan mahluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang. Keempat makluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan disebelah dalamnya penuh dengan mata, dan tanpa berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.” Setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan hidup selama-lamanya, maka sujudlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata, “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan karena kehendak-Mu, semuanya itu ada dan diciptakan”  (Why 4:1-11).

 

Pengantar

    Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memberikan sebuah eksegese/tafsiran Kitab Suci, melainkan semata-mata untuk memberikan pemahaman dan sekaligus kesadaran akan keluhuran martabat manusia yang diciptakan Allah untuk kemuliaan-Nya. Seperti yang dikatakan oleh St. Bonaventura bahwa Allah menciptakan segala sesuatu “bukan untuk menambah kemuliaan-Nya, melainkan untuk mewartakan dan menyampaikan kemuliaan-Nya” melalui segala-sesuatu yang Ia berikan kepada ciptaan. Dari pernyataan ini, kita bisa melihat kehidupan sehari-hari yang telah dijalani, “apakah hidup yang saya jalani ini sungguh-sungguh menjadi suatu pujian bagi kemuliaan Allah?” Lalu apa kaitannya dengan kutipan Kitab Suci dari Wahyu kepada Yohanes tersebut?

Keluhuran Martabat Manusia

    Penciptaan merupakan langkah pertama pemberian diri Allah. Dari yang diciptakan-Nya, manusia menduduki tempat khusus dalam ciptaan. Ia diciptakan menurut citra Allah (Kej 1:26). Karena diciptakan menurut citra Allah ini, manusia memiliki martabatnya sebagai pribadi. Ia mampu mengenal diri sendiri, menjadi tuan atas dirinya, mengabdikan diri dalam kebebasan dan hidup dalam kebersamaan dengan orang lain, dan karena rahmat ia sudah dipanggil ke dalam perjanjian dengan Penciptanya, untuk memberikan jawaban iman dan cinta (KGK 357). Yang lebih utama lagi adalah bahwa hanya manusia yang mampu mengenal dan mencintai Penciptanya. Di dalam diri manusia ada sebuah kerinduan untuk selalu mencari Allah. Ia dipanggil untuk menjalin relasi pribadi dengan Allah. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada (Kis 17:28).

    Meskipun diciptakan begitu amat baik dan menampakkan keagungan, kebesaran, kemuliaan Allah di dalam ciptaan-Nya (bdk. Mzm 8), sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri adalah kerapuhan dan ketidakberdayaan yang ada di dalam manusia. Ini berkaitan dengan adanya sebuah tragedi tentang kejatuhan manusia pertama. Selain mengharuskan manusia untuk berjuang secara rohani, manusia diajak untuk melihat dan menyadari terus akan perjalanan dirinya yang belum mencapai tujuannya serta mau membuka diri kepada penyelenggaraan ilahi-Nya. Akan tetapi, kita tahu bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Rm 8:28).

    Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia (Ef 1:5-6). Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, termasuk manusia oleh karena kehendak-Nya mengantar ciptaan-Nya menuju tujuannya. Dan tujuan akhir ciptaan ialah bahwa Allah Pencipta akhirnya menjadi “semua di dalam semua” dengan mengerjakan kemuliaan-Nya dan sekaligus kebahagiaan kita (KGK 294). Jadi, manusia diciptakan demi kemuliaan Allah.

 

Belajar dari KeAllahan dan Kemanusiaan Kristus

          Yesus adalah Putra Allah yang abadi yang telah menjadi manusia (KGK 423). “Ia datang dari Allah” (Yoh 13:3), “turun dari surga” (Yoh 3:13; 6:33), “Ia datang sebagai manusia” (1 Yoh 4:2) untuk memberikan sebuah kehidupan, kehidupan yang kekal kepada manusia. Melalui Kitab Suci, kita bukan hanya melihat dan mengenal kemuliaan Allah yang diberikan dengan Putra-Nya (bdk. Yoh 1:14,16), melainkan kita pun disadarkan akan kemanusiaan-Nya melalui penderitaan dan wafat-Nya di kayu salib. Ia taat sampai mati, bahkan sampai mati di salib (Flp 2:8). Melalui Kitab Suci, kita melihat begitu dalam relasi-Nya dengan Allah Bapa. Kepercayaan kepada Bapa-Nya tidak dapat diragukan dan dipatahkan, juga tidak oleh penderitaan di salib. Oleh karena ketaatan-Nya yang luar biasa sampai mati di salib, Allah meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama (Flp 2:9). Peristiwa kebangkitan Yesus dari orang mati dengan jelas menyatakan kemuliaan Allah yang diberikan kepada Putera-Nya. Melalui kematian-Nya Kristus membebaskan kita dari dosa, dan dengan kebangkitan-Nya Kristus membuka pintu masuk menuju kehidupan baru kepada manusia (KGK 654). Sekarang Ia telah duduk di sisi kanan Bapa. Kepada-Nya diberikan kekuasaan, kemuliaan, dan kekuasaan sebagai raja (Dan 7:14) dan kekuasaan-Nya kekal selama-lamanya. Karena itu, sudah sepantasnya kita memberikan pujian, hormat, dan kuasa kepada Allah yang telah memberikan kehidupan baru kepada manusia.

         

Memberikan Pujian, Hormat, dan Kuasa kepada Allah

            Gereja baru akan mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan di surga, bila akan tiba saatnya segala sesuatu diperbaharui, dan bila bersama dengan umat manusia dunia semesta pun, yang berhubungan erat dengan manusia dan bergerak ke arah tujuannya melalui manusia, akan diperbaharui secara sempurna dalam Kristus (LG 48). Pernyataan ini mau mengatakan bahwa perjalanan hidup kita di dunia belum selesai dan ada saatnya dimana Allah akan menjadikan semuanya menjadi baru (Why 21:5) dan menjadi “semua di dalam semua” (1 Kor 15:28). Namun Allah juga tidak menghendaki agar kita tidak berbuat apa-apa atau melemahkan perhatian dalam mengusahakan tujuan hidup sejak hidup di dunia ini. Ketika naik ke surga, Yesus bukan hanya memerintahkan para murid-Nya melaksanakan tugas perutusan-Nya, melainkan akan menyertai manusia sampai ke akhir zaman. “Ia akan datang kembali” (Yoh 14:3.28) dan mengutus Roh Kudus sebagai tanda kehadiran-Nya di tengah-tengah kita.

          Melalui pengalaman Roh, kita disadarkan akan penyertaan Allah dalam hidup. Demikianlah kita ketahui, bahwa kita di dalam Allah dan Allah di dalam kita: kita telah diperbolehkan mengambil bagian dalam Roh-Nya (1 Yoh 4:13). Ia ada di dalam diri kita. Karena ada di dalam diri kita, Allah mempersatukan kita semua dengan Kristus. Inilah yang menyebabkan bahwa tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri (bdk. Rm 14:7). Karena kita semua adalah Tubuh Kristus dan kita masing-masing adalah anggota-anggotanya (1 Kor 12:26-27).

          Melalui pengalaman Roh, kita diajar dan akan selalu diingatkan segala sesuatu yang dikatakan Kristus kepada kita. Roh Kudus itulah yang memberikan kesaksian bahwa Yesus adalah Tuhan. Roh Kudus itulah yang mengantar kita kepada seluruh kebenaran dan akan memuliakan Kristus (KGK 729). Dengan berpegang teguh kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus yang adalah Kepala (Ef 4:15).

          Jika Allah begitu baik kepada manusia sejak penciptaan sampai kepada akhir zaman, apakah manusia tidak memberikan “sesuatu” sebagai tanggapan atas kebaikan dan kasih Allah di dalam hidupnya? Sebagaimana seluruh ciptaan diciptakan demi kemuliaan Allah dan melalui Putera-Nya kita memperoleh hidup, sudah sepantasnya dan layaknya kita memberikan pujian dan hormat dan kuasa kepada Allah yang hidup selama-lamanya. Kita bisa belajar dari Bunda Maria (seorang manusia) yang memberikan lagu pujiannya kepada Allah yang telah mengaruniakan rahmat istimewa kepadanya dengan mengandung dan melahirkan Putera Allah. Kita bisa belajar pula dari kehidupan para kudus yang telah hidup dengan setia kepada rahmat Allah dan dengan sendirinya menjadikan seluruh hidupnya sebagai suatu pujian kepada Allah. Tetapi kita semua, kendati dengan taraf dan dengan cara yang berbeda, saling berhubungan dalam cinta kasih yang sama terhadap Allah dan sesama, dan melambungkan madah pujian yang sama ke hadirat Allah kita. Sebab semua orang, yang menjadi milik Kristus dan didiami oleh Roh-Nya, berpadu menjadi satu Gereja dan saling erat berhubungan dalam Dia (LG 49).

 

Penutup      

    St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus menyatakan, “Saya akan mengisi kehidupan saya di surga dengan melakukan yang baik di dunia.” Memberikan pujian, hormat, kuasa kepada Allah merupakan sesuatu yang baik sejak kita ada di dunia. Bukan hanya mau bersyukur atas anugerah yang kita terima dari Allah karena diciptakan dengan martabat yang begitu luhur di hadapan-Nya, melainkan demi kebaikan kita sendiri. Meskipun menyadari bahwa segala pujian yang kita perbuat tidak akan menambah kemuliaan Allah, kita seharusnya tetap memuliakan Allah di dalam seluruh hidup kita.

    Para penghuni surga senantiasa memberikan puji-pujian, hormat, dan kuasa kepada Allah yang hidup selama-lamanya. Melalui iman kita akan Kristus sebagai kepala, mereka yang masih hidup di dunia, mereka yang telah meninggal dan mengalami penyucian, dan mereka yang telah menikmati kemuliaan sambil memandang “dengan jelas Allah Tritunggal sendiri sebagaimana ada-Nya”, dipersatukan dalam sebuah persekutuan dan saling berbagi harta rohani (bdk. LG 49). Mereka yang telah menikmati kemuliaan Allah mengantar kita yang masih di dunia ini untuk mendekati Kristus sebagai satu-satu Allah yang layak dipuji, dimuliakan, dan disembah. Inilah rahmat yang diberikan Allah melalui Gereja di dalam karya Roh-Nya di dalam diri kita.

Rm. Joseph Krisostomus, CSE

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting