User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Setelah itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di surga dan suara yang dahulu kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, “Naiklah kemari dan aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini.” Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, ada sebuah takhta di surga, dan di takhta itu duduk Seorang. Dia yang duduk di takhta itu tampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis, dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud. Di sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka. Dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: Itulah ketujuh Roh Allah. Di hadapan takhta itu ada lautan kaca bagaimana kristal; di tengah-tengah takhta itu di sekelilingnya ada empat makhluk penuh dengan mata, di sebelah muka dan di sebelah belakang. Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti anak lembu, dan makluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan mahluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang. Keempat makluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan disebelah dalamnya penuh dengan mata, dan tanpa berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.” Setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan hidup selama-lamanya, maka sujudlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata, “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan karena kehendak-Mu, semuanya itu ada dan diciptakan”  (Why 4:1-11).

 

Pengantar

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memberikan sebuah eksegese/tafsiran Kitab Suci, melainkan semata-mata untuk memberikan pemahaman dan sekaligus kesadaran akan keluhuran martabat manusia yang diciptakan Allah untuk kemuliaan-Nya. Seperti yang dikatakan oleh St. Bonaventura bahwa Allah menciptakan segala sesuatu “bukan untuk menambah kemuliaan-Nya, melainkan untuk mewartakan dan menyampaikan kemuliaan-Nya” melalui segala-sesuatu yang Ia berikan kepada ciptaan. Dari pernyataan ini, kita bisa melihat kehidupan sehari-hari yang telah dijalani, “apakah hidup yang saya jalani ini sungguh-sungguh menjadi suatu pujian bagi kemuliaan Allah?” Lalu apa kaitannya dengan kutipan Kitab Suci dari Wahyu kepada Yohanes tersebut?

 

Keluhuran Martabat Manusia

Penciptaan merupakan langkah pertama pemberian diri Allah. Dari yang diciptakan-Nya, manusia menduduki tempat khusus dalam ciptaan. Ia diciptakan menurut citra Allah (Kej 1:26). Karena diciptakan menurut citra Allah ini, manusia memiliki martabatnya sebagai pribadi. Ia mampu mengenal diri sendiri, menjadi tuan atas dirinya, mengabdikan diri dalam kebebasan dan hidup dalam kebersamaan dengan orang lain, dan karena rahmat ia sudah dipanggil ke dalam perjanjian dengan Penciptanya, untuk memberikan jawaban iman dan cinta (KGK 357). Yang lebih utama lagi adalah bahwa hanya manusia yang mampu mengenal dan mencintai Penciptanya. Di dalam diri manusia ada sebuah kerinduan untuk selalu mencari Allah. Ia dipanggil untuk menjalin relasi pribadi dengan Allah. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada (Kis 17:28).

Meskipun diciptakan begitu amat baik dan menampakkan keagungan, kebesaran, kemuliaan Allah di dalam ciptaan-Nya (bdk. Mzm 8), sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri adalah kerapuhan dan ketidakberdayaan yang ada di dalam manusia. Ini berkaitan dengan adanya sebuah tragedi tentang kejatuhan manusia pertama. Selain mengharuskan manusia untuk berjuang secara rohani, manusia diajak untuk melihat dan menyadari terus akan perjalanan dirinya yang belum mencapai tujuannya serta mau membuka diri kepada penyelenggaraan ilahi-Nya. Akan tetapi, kita tahu bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Rm 8:28).

Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia (Ef 1:5-6). Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, termasuk manusia oleh karena kehendak-Nya mengantar ciptaan-Nya menuju tujuannya. Dan tujuan akhir ciptaan ialah bahwa Allah Pencipta akhirnya menjadi “semua di dalam semua” dengan mengerjakan kemuliaan-Nya dan sekaligus kebahagiaan kita (KGK 294). Jadi, manusia diciptakan demi kemuliaan Allah.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting