Print
Hits: 4206

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Di bentangan luas tanah Palestina, adalah suatu tempat yang tidak terlalu luas, namun namanya tercatat dalam sejarah untuk waktu yang tidak terbatas. Hari itu hari biasa, tempat itu tempat biasa, gadis itu gadis biasa. Desa kecil yang tenang, dengan penduduknya yang sederhana, tidak ada yang luar biasa. Gadis muda yang jelita, dengan perangainya yang lembut, namun tidak tampak ada yang luar biasa. Akan tetapi, ada sesuatu yang luar biasa terjadi. Peristiwa penting yang sangat menentukan dalam sejarah keselamatan manusia memulai. Sang malaikat diutus Tuhan untuk mewartakan kabar gembira kepada Maria, bahwa ia adegannya akan mengandung dan melahirkan Putera Raja!“Tetapi setelah genap waktunya maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.” (Gal. 4:4) Allah mengutus Anak-Nya. Yesus datang ke dunia ini karena diutus oleh Bapa. Betapa inisiatif selalu datang dari Bapa, selalu saja ada sesuatu yang dilakukan bagi manusia oleh Bapa.

Mengapa Yesus harus datang? Maria tidak mengerti apa-apa, karena memang Tuhan tidak segera menerangkan sebagaimana yang kita ketahui dari Kitab Suci, yaitu: “Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.” (Gal. 4:5) Apa yang Maria mengerti hanyalah sejauh apa yang dikatakan malaikat kepadanya, yaitu apa yang bisa ditangkap oleh matanya, oleh pendengarannya, pikiran dan perasaannya. Demikianlah manusia, hidup dengan mencoba mengerti segala sesuatu, sesuai dengan apa yang bisa ditangkap oleh indera dan segenap kemampuannya. Akan tetapi, rupanya masih begitu banyak hal yang tidak dapat dimengerti. Hidup penuh misteri, hari esok tidak terpahami, peristiwa yang telah lalu tidak terselami, seolah anak-anak manusia berjalan ditelan kabut tidak bertepi. Satu hal yang pasti, Allah tidak akan pernah membiarkan kita sendiri. Setiap jalan setebal apa pun kabutnya, berujungkan kebahagiaan yang melabuhkan jiwa di pantai kasih ilahi. Setiap peristiwa, setiap perutusan, disertai dengan rahmat Allah sehingga kita mampu melalui dan menunaikannya. "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." (2Kor.12:9) Bahkan sekali pun mata kita memandang jalan sudah buntu, pikiran kita dipenuhi dengan pertanyaan mengapa dan perasaan sarat dengan pahit serta kecewa, biarlah iman kita membimbing untuk tetap percaya, bahwa itu semua pastilah yang terbaik untuk kita. Suatu hari nanti kita akan melihat bahwa masa-masa tersulit itu menjadi hiasan yang paling indah dalam hidup kita. Perhiasan yang membuat jiwa kita semakin cemerlang mempesona. “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir” (Pkh.3:11).

Maria merupakan teladan sempurna dari jiwa yang menanti kegenapan waktu Allah dengan iman. Walaupun ada banyak hal yang tidak dimengertinya, bahkan mungkin bertentangan dengan pikirannya, namun ia tetap setia untuk percaya. Nazaret masih terlihat biasa saja, walaupun peristiwa luar biasa baru saja terjadi. Desa yang kecil, sederhana, bahkan tidak pernah disebut satu huruf pun dalam Perjanjian Lama, sehingga tidak heranlah jika Natanael mempertanyakan, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh. 1:46).

Nazaret yang kecil dan sederhana menjadi gambaran Maria, rakyat kecil yang bersahaja. Maria adalah gadis miskin yang harus berjuang setiap harinya untuk dapat meneruskan hidup. Meskipun ia bukanlah gadis yang kaya dan terkenal, perjuangan hidupnya tidak pernah membuatnya mengeluh dan menyesal. Demikianlah Allah rupanya tidak mementingkan kedudukan sosial seseorang dan keseharian hidupnya. Kekudusan justru terjadi pertama-tama di dalam kesetiaan manusia menjalani hidup sehari-harinya.

Maria hidup dalam ketersembunyian yang besar. Kerendahan hatinya begitu dalam sehingga tidak seorang pun yang menyangka bahwa ia adalah Bunda Allah. Sepanjang hidupnya ia tidak pernah membuat mujizat, tidak pernah pergi merasul ke mana-mana, semua orang mengenalnya hanya sebagai seorang ibu biasa. Pekerjaan sehari-harinya adalah sebagaimana pekerjaan seorang ibu lainnya yang miskin dan sederhana. Ia memasak, mencuci, pergi ke sumur mengambil air dan tentu saja mengasuh Yesus puteranya. Tetangganya, kenalannya, tidak seorang pun mengira bahwa di tengah mereka hadir Maria, Sang Mempelai Roh Kudus, Sang Bunda Allah. Bahkan agaknya seluruh alam semesta pun tidak mengenalinya sebagai Perawan Suci yang penuh dengan rahmat Allah sehingga Maria hanya hadir dan dikenal sepenuhnya oleh Allah saja.

Demikianlah teladan kerendahan hati Maria mengajak kita semua anak-anaknya untuk tidak menonjolkan diri, tidak tinggi hati, menyadari selalu bahwa tanpa Allah kita tidak berarti. Mencari nama baik, mempertahankan harga diri, semua itu hanyalah akan membuat kita mudah tersinggung, putus asa dan kecewa. Apakah artinya kita berharga di mata dunia namun tidak berkenan di mata Allah? Bukankah itu sama dengan sekotak nasi yang indah bungkusnya namun basi dalamnya?

Misteri Nazaret sebagai tempat yang penuh dengan karya Roh Kudus terkuak oleh sikap kontemplatif Maria. Nazaret yang gersang menjadi tanah misi yang subur karena jawaban “Ya” Maria kepada kehendak Allah. Dalam Nazaret yang sunyi itu Maria hidup bersama Allah sehingga seolah Nazaret menjadi klausura Maria, tempat ia tinggal berdua saja dengan Allah dalam ketersembunyian dan keheningan batin yang besar. Betapa indahnya jikalau hati kita juga dapat menjadi Nazaret. Hati yang hening dan sederhana, tidak diributkan dengan segala ambisi, kebencian dan cinta diri. Hati yang diperuntukkan untuk Tuhan saja dan di sanalah kita tinggal berduaan dengan Allah dalam ketersembunyian dan keheningan surgawi yang menyenangkan.

Seringkali yang menjadi sumber keributan hati adalah karena terlalu banyaknya keinginan. Ingin berkuasa, ingin berbicara, ingin melukai, ingin memusuhi. Sebagai manusia biasa, tentunya Maria juga memiliki keinginan-keinginan pribadi. Akan tetapi, ketika harus memilih, Maria hanyalah lembut merunduk, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Luk. 1:38)

Di hati banyak keinginan di hadapan mata banyak pilihan, itulah manusia di setiap peredaran jaman. Akan tetapi, Sang Bunda Suci mengajarkan kita untuk melepaskan kehendak pribadi dalam ketaatan seorang anak yang mengasihi Bapanya. Hati yang taat akan menjalani hari-harinya dengan mencari kehendak Tuhan dalam hidupnya. Hati yang miskin dengan sederhana akan percaya bahwa kehendak Allah selalu yang terbaik bagi hidupnya. Hati yang murni, lepas dari segala hawa nafsu duniawi, mencintai kehendak Allah yang menjadi segalanya bagi dirinya. Demikianlah ketaatan, kemiskinan dan kemurnian, menuntun kita untuk mempersatukan kehendak kita dengan kehendak Allah. Dalam persatuan kehendak itulah manusia mencapai kepenuhannya, karena cintanya menyatu dengan cinta ilahi, yang membuat jiwanya semakin hidup dan sempurna.

Melihat seorang malaikat Allah berdiri di hadapannya, Maria terperanjat keheranan. Wajahnya yang sedang terpesona itu tampak semakin jelita bermandikan cahaya surgawi yang memenuhi ruangan pondoknya. Duhai, jelita suci berseri, siapakah engkau gerangan? “Salam, hai engkau yang dikaruniai...” (Luk. 1: 28) Demikianlah Gabriel menjelaskan siapa Maria, yaitu perawan suci yang dikaruniai, dipenuhi dengan rahmat ilahi.

“Maria adalah karya termulia dari Allah yang Mahatinggi. Di dalam Maria Allah menuangkan segala pengetahuan dan keindahan-Nya untuk menjadi milik-Nya. Maria adalah mempelai Roh Kudus yang termeterai sehingga tidak seorang pun yang dapat memasukinya. Maria adalah bait Roh Kudus dan tempat peristirahatan Allah Tritunggal. Di sanalah tempat persemayaman kesukaan Allah yang tidak seorang pun di dunia ini dapat menandinginya.” (St. Louis Marie de Montfort)

Apa yang telah dilakukan Maria sehingga ia menjadi seorang yang demikian “hebat”, penuh dengan rahmat Allah? Lukas tidak menerangkan apa pun dalam Injilnya. Inilah kasih karunia cuma-cuma dari Allah, karena ia tidak memperhatikan penampilan, tetapi melihat langsung ke kedalaman hati manusia.“Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1Sam.16:7)

Kekudusan..., ke sanalah setiap insan manusia dipanggil tanpa terkecuali. Akan tetapi, kebebasan untuk menjawab juga Tuhan berikan kepada setiap orang tanpa terkecuali. Tuhan tidak memandang miskin atau kaya, pintar atau bodoh, terkenal atau terlupakan. Tuhan akan berkarya sepenuh-penuhnya di dalam jiwa yang terbuka kepada-Nya. Segala sesuatu tergantung dari tanggapan manusia. Maria memang telah dipilih Tuhan. Walaupun demikian, tanpa jawaban “Ya” dari Maria, Tuhan tidak akan melakukan apa pun juga melalui Maria. Dalam hal ini, Maria mengajarkan anak-anaknya untuk membuka hati kepada Tuhan. Tuhan ingin membentuk dan memurnikan setiap jiwa sehingga sampai pada kekudusan. Jiwa yang menutup hati hanyalah mengambat karena Allah dalam dirinya. Tuhan menyertai engkau (Luk. 1:28) Betapa seringnya ungkapan ini kita temukan di sepanjang Kitab Suci, yang tidak lain merupakan surat cinta Allah kepada manusia. ” Janganla takut, Abram, Akulah perisaimu.” (Kej. 15:1) Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi." (Yos.1:9) "TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani." (Hak.6:12)

Salam malaikat ini begitu merdu di telinga Maria, begitu hangat di hatinya. Tuhan menyertai senantiasa, inilah kerinduan terdalam yang tidak pernah pudar di lubuk jiwa Maria. Tuhan mempunyai rencana yang besar dalam hidup Maria dan untuk itu, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan Maria sedikit pun.

Demikianlah Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dalam hidup ini. Setiap manusia diciptakan untuk suatu misi. Ada rencana besar Allah yang akan diwujudkan dalam hidup kita, asal saja kita mau menjawab “Ya” atas panggilan-Nya ini. Kita cukup menganggukkan kepala atas kehendak-Nya dan selanjutnya Ia sendiri yang akan berkarya dalam hidup kita. Ia tidak akan membiarkan kita sendirian untuk melaksanakan segala tugas perutusan-Nya, untuk mewujudkan rencana ilahi-Nya. Jikalau Ia telah memanggil, Ia akan terus mendampingi karena Ia tidak pernah menyesali panggilan-Nya.“Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya.” (Rm. 11:29)

Karya keselamatan masih terus berlanjut dan ke dalamnyalah kita dipanggil Allah untuk turut serta merajut benang-benang keselamatan di tengah dunia yang semrawut. Setiap orang dipanggil Tuhan untuk menjadi seuntai benang yang dipakai-Nya untuk membuat suatu sulaman yang amat indah, yaitu sulaman keselamatan. Gelengan kepala kita terhadap panggilan Bapa surgawi akan membuat benang itu terputus. Walaupun kita hanyalah seutas benang yang lemah dan kecil, tidak berarti dan nyaris tidak terlihat, namun di tangan Seniman Agung, setiap benang menjadi penuh arti dalam membangun sulaman yang indah dan penuh warna.

Bunda Maria telah mewujudkan misinya di dunia ini. Benangnya tersulam indah di sepanjang garis sejarah keselamatan umat manusia. Banyak orang sebetulnya menyadari bahwa ia memiliki suatu panggilan tertentu dalam hidupnya, sebuah misi yang istimewa. Akan tetapi, banyak di antara mereka pula yang menolak panggilan-Nya, entah karena lebih mementingkan kehendak pribadi, cinta diri, atau pun cemas tanpa alasan yang berarti. Maria mengajarkan manusia di segala jaman, untuk menjawab panggilan Allah ini dengan iman. Walaupun mungkin kita tidak mengerti apa-apa, atau pun merasa tidak mampu apa-apa, namun iman membuat kita memahami, bahwa “Tuhan menyertai engkau,” merupakan suatu kekuatan yang besar karena memiliki arti bahwa segala sesuatu adalah karya Allah dan bukan karya manusia.

“Jangan takut, Maria...,” (Luk. 1:30) lembut Malaikat Gabriel menenangkan Maria. Undangan Tuhan adalah undangan sukacita, bukan undangan ketakutan. Panggilan Allah adalah panggilan kebahagiaan bukan panggilan kehancuran. Maria hanyalah gadis belia yang sederhana. Anaknya akan menjadi Raja? Bukankah ini sesuatu yang mencemaskan untuk seorang gadis miskin yang masih sangat muda dan sederhana? Akan tetapi, kecemasan itu tidak tinggal lama. Sapaan malaikat mengangkat segala kecemasan dan ketakutannya. Suara malaikat mengangkat hati manusia kepada sukacita.“Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu.” (Luk. 1:13-14) “Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: "Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring.” (Mat. 28:5-6) Dalam perjalanan hidup kita, juga Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk menyapa, “Jangan takut.”Senyum ibu yang menenangkan, nasihat imam yang menyejukkan, hiburan teman yang menggembirakan, semua itu adalah malaikat-malaikat Tuhan bagi kita.

Maria masih duduk terpesona memandang malaikat yang berbicara di hadapannya. Angin lembut yang mengusap keningnya tidak dirasakannya, burung-burung kecil yang memahligai pondok sederhananya tidak ditengoknya. Dirinya begitu terserap dengan kehadiran Gabriel. Senyumnya, wajahnya dan kata demi kata yang keluar dari bibirnya, tidak satu pun yang luput dari perhatian Maria. Sehingga akhirnya rasa terpesona itu pun berubah menjadi keheranan, ketika ia mulai mengerti bahwa ia harus mengandung. "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" (Luk. 1:34) Maria ingin mencoba menerima pernyataan malaikat yang mengherankan ini, yaitu bahwa ia harus mengandung seorang putera. Sungguh sesuatu yang mengherankan, melampaui pengertian Maria, karena ia adalah seorang perawan yang menurut pemikiran manusiawi tidak mungkin bisa mengandung. Iman mencari penjelasan. Iman bekerja sama dengan akal budi, untuk dapat mengerti apa yang ia percayai.

Pertanyaan Maria, “Bagaimana mungkin,” sama sekali bukan berarti ia meragukan Allah, sebaliknya mengungkapkan imannya yang luar biasa. Pada jaman Maria, menjadi seorang perawan tanpa suami adalah sesuatu yang nista. Begitu pula seorang perempuan tanpa anak adalah suatu aib. Tidak heran ketika Elisabet diberitahu akan melahirkan seorang putera, ia bersyukur dengan berkata, “...sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang." (Luk. 1:25) Akan tetapi, di jaman yang serba tidak mungkin bagi Maria itu, ada kerinduan yang amat kuat dalam hatinya untuk hidup perawan bagi Tuhan. Ia ingin memberikan dirinya seutuh-utuhnya kepada Tuhan saja. Oleh karena itu, ungkapan Maria “Bagaimana mungkin” itu menunjukkan iman Maria yang besar, karena ia percaya Tuhan tentu menerima persembahan hidupnya untuk menjadi perawan Allah. Itulah sebabnya ia ingin mencoba mengerti bagaimana mungkin ia seorang perawan dapat melahirkan seorang putera.

Pertanyaan Maria ini berbeda sekali dengan pertanyaan Zakharia, “Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: "Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya." (Luk.1:18) Zakharia merasa dirinya sudah tua dan Elisabet istrinya sudah lanjut umurnya. Dalam pikirannya, sungguh tidak mungkin dalam keadaan mereka seperti itu Elisabet bisa mengandung dan melahirkan seorang anak. Itulah sebabnya, ketika malaikat mengatakan kepada Zakharia bahwa istrinya akan melahirkan, Zakharia ragu dan sulit percaya. Sebaliknya dengan Maria; ketika diberitahu oleh malaikat, tidak ada keraguan sedikit pun dalam hatinya. Pertanyaannya justru mengungkapkan imannya dan ketertarikannya untuk mengerti bagaimana itu semua dapat terjadi.

Sejak jaman dahulu kala, sudah banyak orang yang ragu akan kehendak Allah. Seringkali mereka meminta tanda dan tanda untuk memastikan. Jikalau tidak, mereka tidak akan melakukan apa pun juga. “Sebelum itu Hizkia telah berkata kepada Yesaya: "Apakah yang akan menjadi tanda bahwa TUHAN akan menyembuhkan aku dan bahwa aku akan pergi ke rumah TUHAN pada hari yang ketiga?" (2 Raj. 20:8) “Kemudian berkatalah Gideon kepada Allah: "Jika Engkau mau menyelamatkan orang Israel dengan perantaraanku, seperti yang Kaufirmankan itu maka aku membentangkan guntingan bulu domba di tempat pengirikan; apabila hanya di atas guntingan bulu itu ada embun, tetapi seluruh tanah di situ tinggal kering maka tahulah aku, bahwa Engkau mau menyelamatkan orang Israel dengan perantaraanku, seperti yang Kaufirmankan." (Hak. 6:36-37)

Sebaliknya dengan Maria, ia tidak meminta tanda apa pun juga. Ia langsung percaya walau belum mengerti. Pertanyaannya „Bagaimana mungkin“ justru merupakan langkah pertamanya untuk mencari apa yang telah ia percayai. Pernyataan malaikat bahwa Elisabet saudaranya yang sudah tua itu mengandung memang bisa menjadi tanda bagi Maria. Akan tetapi, Maria tidak pernah meminta tanda itu.

Demikian pulalah saat kita membuka Kitab Suci dengan keingintahuan yang besar, sama sekali bukan tindakan yang lahir dari keraguan akan Sabda Allah. Sebaliknya, membuka lembaran Kitab Suci merupakan langkah untuk dapat semakin mengenal Dia yang yang kita imani, dan mengerti kehendak-Nya dalam kehidupan kita.

Takjub, terpengarah dan heran, akhirnya di hadapan malaikat yang menyampaikan tawaran Tuhan, Maria hanya dapat berucap penuh kepasrahan dan cinta, „Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Inilah Fiat terkenal dari Bunda Maria, jawaban YA yang mengawali sejarah keselamatan umat manusia.

Maria hanyalah perempuan biasa sebagaimana perempuan pada umumnya di muka bumi ini. Untuk dapat mengerti, untuk dapat berjuang, untuk dapat mengatakan YA kepada kehendak Allah, sama sekali bukan hal yang mudah. Akan tetapi, benang-benang iman, harapan dan cintakasih Maria kepada Allah telah merajut tuntas rangkaian sejarah keselamatan umat manusia. Hidupnya yang miskin, taat dan murni di hadapan Allah, menghantar kita untuk datang kepada Tuhan dan berkata pula dengan segenap hati, „Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut kehendak-Mu." Maka pada saat itulah kita dapati diri kita telah menjadi benang yang tersulam rapi dalam sulaman ilahi yang amat indah. Sulaman keselamatan yang menghantar jiwa-jiwa ke pangkuan Bapa di surga.