Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

1. PENYERTAAN ABADI 

          Dalam perjalanan sejarah umat manusia, semenjak awal penciptaan hingga saat ini peradaban manusia telah mengalami banyak perkembangan dan perubahan. Manusia, seperti yang dituliskan dalam Kitab Suci, diciptakan menurut citra Allah, merupakan mahluk religius dan penuh dengan kreatifitas dan jiwa seni. Dalam kemampuan karya seninya, mereka dapat membuat berbagai macam tulisan, lukisan, dan tarian. Karya seni ini yang mengekspresikan perasaan, kekaguman, kerinduan kepada banyak hal dalam hidupnya. Manusia banyak membuat ritus-ritus yang berwarna religius, mengungkapkan keyakinan terhadap Pencipta walaupun masih dalam pola pikir yang sederhana. Disisi lain di dalam hatinya telah terdapat unsur cinta diri, kekerasan, serakah. Kebaikan dan kejahatan telah ada dalam hatinya.

          Dalam sejarah umat beriman kepada Allah, Abraham adalah seorang figur teladan dengan rahmat iman yang penuh pengharapan (Expecting/Expectant faith), ketika berangkat dari tanah kasmid menuju Mesir, ia berangkat dengan keyakinan akan pemenuhan janji-janji Allah yang sungguh mengagumkan (lih. Kej. 12). Begitu juga seterusnya terhadap ujian-ujian yang harus dia alami ketika Allah meminta ia untuk mengurbankan anaknya dengan tangannya sendiri.

          Setelah zaman Abraham, di kalangan bangsa Israel, Allah telah menyatakan diri-Nya secara nyata melalui kuasa-kuasa para nabi. Nabi-nabi yang telah diutus-Nya begitu penuh dengan kuasa, sehingga mereka dapat berbicara atas nama Allah sendiri. Kitab Keluaran dan Bilangan menyebutkan bahwa dengan kuasa Yahwe, ia telah mengeluarkan bangsa itu dari perbudakan Mesir dibawah pimpinan Musa. Penyelamatan dari setiap musuh pun bangsa itu alami, berbagai macam tanda ajaib pun muncul di depan mata mereka seperti ketika terbelahnya laut merah. Ini merupakan pertanda bahwa Allah sungguh peduli dengan mereka dan ingin agar bangsa itu taat kepada-Nya. Perjanjian antara Yahwe dan Israel terlaksana di Gunung Sinai: dari antara segala bangsa kamu akan menjadi umat kesayangan-Ku  (lih. Kel. 19:5).

          Selanjutnya seluruh kisah perjalanan hidup bangsa Israel selalu diiringi dengan pengalaman nyata akan kasih dan kuasa Allah, tetapi juga diikuti dengan kedegilan hati bangsa itu. Walaupun telah nyata bahwa Allah sudah berkarya atas mereka, mereka tetap menyimpan keragu-raguan, pengkhianatan dan sungut-sungut (lih. Kel. 17 & 32).


2. KASIH ALLAH DAN GEREJA DEWASA INI

          Kisah hidup bangsa Israel seperti yang digambarkan dalam Kitab Suci, sesungguhnya merupakan gambaran hidup manusia secara umum. Allah telah  benar-benar menyatakan kasih setia yang tak terhapuskan, terlebih lagi melalui pengorbanan Putera-Nya, selanjutnya Ia mencurahkan Roh Putera-Nya sendiri kepada manusia. Dengan Roh itu, manusia mendapatkan kasih murni secara pribadi dan menjadikan manusia berani menjawab atas perintah Allah untuk mencintai-Nya dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan segenap kekuatan) juga dimampukan untuk mencintai sesama, sama seperti Dia yang telah mengasihi manusia2).

          Saat ini di tengah kehidupan modern dan kemajuan dipelbagai bidang Allah telah memberikan tugas khusus kepada Gereja untuk menjadi tanda harapan dan kasih bagi setiap bangsa, saat ini juga Gereja Katolik telah dihadapkan kepada sebuah momen yang menentukan bagi perkembangan Gereja selanjutnya.

          Pada era 1970-an, Gereja diperkenankan untuk melihat pencurahan baru Roh di kalangan umat Allah dan mengintegrasikan kembali doa kontemplatif sejati dalam Gereja. Ini merupakan jawaban Allah kepada  doa Paus Yohanes Paulus II dalam “Humanae salutis “ yang menulis sebagai berikut: “Roh Kudus, perbaharuilah di zaman kami mukjizat-mukjizat-Mu, seperti untuk pentekosta baru. Semoga karena bersatu padu dalam doa terus-menerus bersama Maria, ibu Yesus dan juga dipimpin St. Petrus, Gereja kudus diperkenankan memperkembangkan kerajaan penyelamat ilahi, kerajaan kebenaran dan keadilan, kerajaan kasih dan damai”.

          Hembusan Roh Allah yang telah mengalir, secara nyata mempunyai daya kekuatan besar, membangkitkan hidup Gereja yang pada tahun 1960-an mengalami pengenduran dalam struktur-strukturnya. Secara nyata juga pada pribadi-pribadi anggota Gereja yang telah mengalami “kehidupan baru dalam Roh ini“ terbangkitlah hasrat untuk lebih merindukan dalam doa-doa, hasrat untuk membangun diri dan tidak hanya suam-suam kuku saja3), semangat berkomunitas, dan lebih lagi menjadikan Yesus sebagai pusat hidupnya. Membuat manusia lebih haus untuk mendapatkan penyegaran dan ketenangan melalui pembacaan Kitab Suci dan tulisan para kudus, di sinilah Allah memberikan anugerah yang berupa pengenalan lebih tinggi dan penuh kasih akan Dia serta penambahan Iman akan Alkitab-Nya sendiri4). Perkembangan ini tentu membawa angin segar kepada Gereja terutama bagi umat sendiri dan kelompok-kelompok Kristiani untuk menjadi “ Terang dan Garam “ bagi dunia.


2.1. Pribadi Yang Diperbaharui

          Pembaharuan hidup dalam Roh yang dialami oleh Gereja pertama-tama bertujuan agar setiap pribadi mengalami dan menghayati sendiri kasih Allah yang memperbaharui dan menyelamatkan. Dalam pengalaman yang pertamanya ketika memasuki hidup baru dalam Roh Allah ini adalah melalui pencurahan Roh Kudus Allah yang biasanya akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi setiap pribadi.

          Bagi umat Katolik sendiri ini merupakan jalan yang baik untuk memasuki hubungan yang baik dengan Allah, untuk menyadari doa pribadi merupakan suatu kebutuhan yang selanjutnya menjadi suatu komitmen tetap. Ini juga memberikan pemahaman akan kekayaan Gereja Katolik melalui sakramen-sakramennya. Salah satunya adalah adorasi sakramen Mahakudus, yang sampai saat ini masih sangat sulit dipahami penghayatannya oleh banyak jemaat Katolik bahkan oleh para tokoh jemaat. Terbukti masih sangat sedikitnya minat para jemaat datang misa pada jumat pertama di beberapa tempat di Indonesia dan luar negeri5.

          Adorasi sakramen Mahakudus seharusnya menjadi salah satu kekuatan setiap pribadi umat Katolik, karena dalam acara itu umat bukan hanya dibawa dalam serentetan doa-doa yang panjang dan lagu penyembahan yang menghanyutkan perasaan manusia tetapi dalam adorasi itu umat dapat melihat langsung dengan: mata hati, pribadi dan kehadiran Tuhan Yesus dalam rupa Roti. Inilah sumber kekuatan Gereja.

          Dengan adanya pembaharuan hidup dalam Roh ini justru akan membuat umat menjadi semakin paham akan pentingnya doa dan kekuatan rohani yang diperoleh dalam adorasi. Dengan kata lain, sesungguhnya pembaharuan kharismatik atau pembaharuan hidup dalam Roh adalah ” Tindakan Allah sendiri kepada umatnya dewasa ini agar masing-masing pribadi dapat menikmati sendiri kesegaran, kekuatan dan penyelamatan dari Allah yang hidup, Sang mata air (Oase) sejati.


2.2.    Dalam komunitas dan Evangelisasi

          Komunitas dan evangelisasi merupakan dua hal yang berhubungan, keduanya adalah unsur yang telah ada dalam Gereja. Dalam lingkungan komunitas masing-masing umat Allah dapat mengembangkan diri-Nya dalam penghayatan iman, pengharapan dan cinta kasih.

          Dalam komunitas, seseorang dapat juga menjadi figur teladan bagi yang lain, memberikan contoh hidup rohani yang benar kepada sesamanya seperti yang telah Yesus lakukan. Terutama bagi pemimpinnya, ini akan menjadi sarana yang tepat untuk menularkan iman, pengharapan dan cinta kasih yang bukan hanya “teori saja“ tetapi merupakan bukti nyata dalam tindakan. Terutama ketika komunitas menghadapi situasi sulit atau hal lain yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran yang lebih besar.

          Lebih dari itu komunitas merupakan Tubuh Kristus yang saling melengkapi dan yang menguatkan; yang satu membutuhkan dan yang lainnya menguatkan, sehingga di dalamnya terdapat cinta kasih antara Allah dan manusia dan manusia dengan manusia.

          Evangelisasi sendiri merupakan tugas atau kewajiban yang telah menjadi misi hakiki Gereja dan saat ini menjadi penting karena perubahan-perubahan besar dan luas yang terjadi dalam masyarakat dewasa ini. Evangelisasi pada hakekatnya adalah rahmat dan panggilan khusus Gereja, identitasnya yang terdalam (Evangelii Nutiandi No. 14).

          Jadi dengan adanya evangelisasi pada Gereja dewasa ini, ketika Allah telah mencurahkan Roh-Nya secara baru tidak lain adalah untuk memperkuat atau membangun suatu komunitas umat beriman yang di dalamnya umat dapat mengalami kuasa Allah, kehadiran Roh Kudus yang memperkuat persaudaraan, serta karya penyelamatan Allah dalam Ekaristi dan Sakramen-sakramen).


2.3.    Menuju Kekudusan

          Kehidupan yang dimiliki manusia adalah karunia cuma-cuma yang diberikan oleh Allah begitu juga Roh Kudus yang dicurahkan-Nya. Oleh karena Roh Allah ini, manusia mendapat kasih yang murni dan dapat mengenal Allah yang Kudus yang melampaui segala sesuatu. Inilah awal manusia dapat mengerti arti hidup kudus, yang menjadi panggilan hidup untuk seluruh umat manusia saat ini. Hidup Kudus atau kesempurnaan Kristiani adalah rencana Allah untuk manusia sejak perjanjian lama  sampai perjanjian baru.

          Menuju kekudusan hanya dimungkinkan oleh bimbingan Roh Allah dan pernyataan iman dari manusia serta cinta kasih yang memenuhi hidup manusia itu. Karena Allah adalah kasih, bimbingan Roh Allah selalu mengarahkan manusia ke dalam hidup yang penuh kasih. Memang pembaharuan yang dilakukan oleh Roh Kudus yang terjadi pada Gereja merupakan sebuah kekuatan yang besar. Akan tetapi, masih sebuah awal dari kehidupan yang baru, yang membutuhkan perkembangan mendalam serta proses yang panjang untuk mencapai kesempurnaan kristiani, sebuah persatuan cintakasih yang tak terpisahkan antara Bapa dan anak-Nya7).


3 . KESIMPULAN DAN PENUTUP

          Allah dapat menyatakan diri-Nya kepada setiap manusia dengan berbagai macam cara, semua Ia lakukan demi kebaikan manusia. Gerakan Roh Allah saat ini, menuntut manusia untuk bersikap pro-aktif menangkap perkembangan dan kemajuan rohani yang diberikan kepada Gereja. Gereja dan umat, serta pemimpin umatnya harus menyambut suatu tahap baru ini serta berani membuka diri disertai dengan discerment yang baik, daripada menutup diri atas perkembangan dari Roh, membuat status quo atas pernyataan Roh yang telah nyata-nyata telah membangkitkan perikehidupan manusia dan yang telah memberikan pengalaman yang sejati atas cintakasih Allah.  Selain itu pemberian karisma-karisma Roh yang ajaib dapat digunakan untuk membangun hidup gereja dewasa ini).


_____________________________

CATATAN AKHIR:

1) Mrk 12:30;  Bdk. Saduran E. Sisyanti kata pengantar : Rm.Yohanes Indrakusuma O.Carm. Buku ”Menuju kedewasaan Rohani”. Pertapaan Karmel Tambunan, Malaysia 2004. Hal 1&2

2) Mat 22:39; Yoh 13:34; Bdk. Buku ”Menuju kedewasaan Rohani” hal 3.

3) Bdk. Rm. Yohanes Indrakusuma O. Carm. Buku Spritualiti Karismatik Katolik , Pertapaan  Karmel Tambunan, Sabah, Malaysia. hal 28.

4) Bdk. Dom G.Belorge,OCSO. The Practice of Mental Prayer, Mercier Press 1951, hal 144-145.

5) Pengamatan penulis pada setiap kegiatan Adorasi dibeberapa Gereja Katolik baik di Indonesia maupun di Malaysia

6) Sumber: Majalah Rohani Katolik “Hidup Dalam Roh“. Pertapaan Shanti Bhuana, Jawa Barat, Indonesia , Edisi khusus Maret-April 2004 Tahun VIII/No. 02. Hal 32.

7) Bdk. Pesan Paus Yohanes Paulus II untuk Prapaskah 2004

8) Bdk. LG art. 12; 1 Kor.12:7    

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting