Print
Hits: 6887

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Dalam Kitab Kejadian ada kisah menarik tentang doa syafaat Abraham untuk Sodom. Saat itu Tuhan hendak menghukum dan melenyapkan penduduk kota Sodom karena dosa-dosa mereka (lih. Kej 18:20-33).Di zaman kita … juga di negeri kita … ada banyak bencana dan ada banyak dosa atau kejahatan. Namun, sayang, tidak banyak orang yang menghubungkan keduanya. Umumnya, orang memandang bencana hanya sebagai gejala alam atau peristiwa biasa dan sama sekali tidak dapat mendengar pesan ilahi di baliknya yang mengajak untuk bertobat. Padahal, tidak ada satu pun “kebetulan” di mata Tuhan. Seperti Abraham, kita juga dipanggil untuk berdoa bagi dunia, bagi bangsa dan negara, bagi keselamatan jiwa-jiwa. Mari kita menanya diri, “Pedulikah saya akan keselamatan jiwa-jiwa? Akan keselamatan dunia? Dalam sehari berapa kali kita berpikir atau berusaha atau berdoa atau bersilih untuk itu?”

Doa dan Keselamatan Bangsa

Suatu ketika, dalam suatu kursus bahasa Inggris, guru memberi tugas mengarang dengan judul “If I were the President of Indonesia, I would ....” (“Jika saya Presiden Indonesia, saya akan ….”). Para murid dipaksa untuk berpikir dan berimajinasi tentang apa yang akan dilakukannya seandainya ia adalah Presiden Indonesia. Seandainya Anda salah seorang murid itu, apa gagasan Anda? Dalam kursus itu macam-macam gagasan muncul. Ada yang mengatakan berbagai ide untuk mengatasi hutang negara, ada yang lebih memprioritaskan stabilitas nasional, dll. Salah satu dari gagasan-gagasan yang menarik dan (mungkin) mengajak kita untuk berefleksi berbunyi, “Kalau saya Presiden Indonesia, saya akan mencanangkan ‘Empat Puluh Hari Pertobatan Nasional’! Saya akan mengajak seluruh bangsa kitaapa pun agamanyauntuk memohon ampun kepada Tuhan bagi bangsa kita ini.”

Sayang, ini hanyalah suatu tugas mengarang. Seandainya hal ini benar-benar dilakukan, tidak mungkin tidak ada rahmat Tuhan yang tercurah atas bangsa dan negara kita ini. Kita ingat bagaimana Tuhan tidak jadi menghukum penduduk kota Niniwe ketika mereka merendahkan diri di hadapan Tuhan, bertobat, berdoa, dan berpuasa (bdk. Yun 3:1-10). Saat itu, karena dosa orang-orang Niniwe, Tuhan sudah merencanakan akan menunggangbalikkan Niniwe dalam waktu “empat puluh hari lagi” seperti disampaikan Nabi Yunus. Maka, mereka beserta rajanya berpuasa dan berkabung.

Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: ‘Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.’ Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya” (Yun 3:7-10).

Kita juga bisa melihat bagaimana bangsa Yahudi, yang terancam akan dibasmi dan dipunahkan karena kesombongan dan kekejaman Haman, diselamatkan Tuhan ketika mereka berdoa dan berpuasa (bdk. Est 4:1-3.15-17). Kisah yang sangat menarik ini dapat kita baca di Kitab Ester (bab 3 dan selanjutnya).

 

Doa Syafaat Abraham untuk Sodom (Kejadian 18:20-33)

Dalam Kitab Kejadian ada kisah menarik tentang doa syafaat Abraham untuk Sodom. Saat itu Tuhan hendak menghukum dan melenyapkan penduduk kota Sodom karena dosa-dosa mereka (lih. Kej 18:20-33). Abraham memberanikan diri berdiri di hadapan Tuhan dan berkata:

“Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? [...]” TUHAN berfirman: “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka”  (Kej 18:23-26).

Dialog ini kemudian berlanjut dan berlanjut. Akhirnya, jika ada sepuluh orang benar saja di kota Sodom, Tuhan tidak akan memusnahkan kota itu. Mari kita refleksikan perikop ini.


DosaBencana

Dari perikop Kitab Suci di atas, kita bisa melihat bahwa dosa penduduk kota Sodom mendatangkan bencana yang merupakan hukuman Tuhan. Jika kita refleksikan, di zaman kita … juga di negeri kita … ada banyak bencana dan ada banyak dosa atau kejahatan. Namun, sayang, tidak banyak orang yang menghubungkan keduanya. Umumnya, orang memandang bencana hanya sebagai gejala alam atau peristiwa biasa dan sama sekali tidak dapat mendengar pesan ilahi di baliknya yang mengajak untuk bertobat. Padahal, tidak ada satu pun “kebetulan” di mata Tuhan. Bahkan, tak satu helai rambut pun jatuh karena “kebetulan” bagi Dia. Tuhan sendiri menghendaki agar kita membaca tanda-tanda zaman (bdk. Mat 16:3).

Kalau kita ingat kisah pembunuhan Habel oleh Kain dan bagaimana Tuhan mengatakan kepada Kain, “Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah,” (Kej 4:10) kita bisa ngeri membayangkan berapa banyak jiwa tak bersalah yang darahnya tertumpah di bumi (termasuk di bumi Indonesia ini) dan berteriak-teriak kepada Tuhan menuntut balas? Antara lain, hitung saja jumlah korban aborsi.

 

“Jadilah Orang-orang Benar!”

Sebaliknya, dari perikop itu kita juga bisa melihat bagaimana kebajikan dapat membawa keselamatan. Demi sepuluh orang benar, Tuhan tidak akan memusnahkan kota itu.

Kita tidak tahu berapa jumlah seluruh orang dalam kota itu, tetapi kita bisa menduga bahwa sepuluh orang dalam satu kota bukanlah jumlah yang besar. Kita bisa membayangkan bahwa tidak mudah untuk menjadi kelompok atau mayoritas kecil orang benar di tengah sekian banyak orang yang hidup tidak benar. Sampai sekarang pun banyak orang jatuh dalam godaan dosa karena bisikan si iblis, “Ah, tidak apa-apa. Khan teman-temanmu ... si A, si B, si C, .... juga berbuat begitu.” Pepatah mengatakan, “Tugas utama kita adalah tetap berada di jalan yang lurus pada saat orang lain menyimpang.” S. Paulus juga mengingatkan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini” (Rm 12:2) dan Yesus sendiri menegaskan, "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang” (Mat 5:13).

“Orang benar” lain yang mengetuk pintu kerahiman dan keselamatan dari Tuhan bagi penduduk Sodom dalam kisah di atas adalah Abraham. Abraham yang “tampil” di hadapan Allah dan melalui permohonannyalah maka Allah berkenan tidak memusnahkan kota Sodom, jika didapati sepuluh orang benar di sana. Secara singkat, salah satu pesan dari perikop ini adalah “Jadilah orang-orang benar!”


“Pedulikah Kita?”

Seperti Abraham, kita juga dipanggil untuk berdoa bagi dunia, bagi bangsa dan negara, bagi keselamatan jiwa-jiwa. Mari kita menanya diri, “Pedulikah saya akan keselamatan jiwa-jiwa? Akan keselamatan dunia? Dalam sehari berapa kali kita berpikir atau berusaha atau berdoa atau bersilih untuk itu?”

Suatu ketika S. Theresia Lisieux membaca sebuah berita dalam surat kabar tentang seorang penjahat bernama Pranzini yang akan dijatuhi hukuman mati. Saat itu S. Theresia Lisieux belum masuk biara, jadi belum berumur lima belas tahun. Apa reaksinya? Setiap hari si kecil Theresia berusaha sungguh-sungguh memersembahkan kurban-kurban (matiraga-matiraga) kecil dan doa-doanya kepada Tuhan untuk pertobatan Pranzini, seorang penjahat yang sebetulnya tidak dia kenal sama sekali, hanya dia baca melalui surat kabar. Dia juga mengajak kakaknya untuk berdoa bagi si penjahat ini. Akhirnya, surat kabar memberitakan bahwa saat terakhir sebelum dieksekusi, Pranzini meminta sebuah salib dan tiga kali mencium luka-luka suci Yesus pada salib itu. Sejak saat itu S. Theresia semakin bertekad untuk berdoa dan bersilih bagi jiwa-jiwa, karena Tuhan sudah meneguhkan melalui mukjizat pertobatan Pranzini ini.

Kepedulian akan keselamatan jiwa-jiwa merupakan salah satu ciri kepribadian kristiani yang dewasa. Dalam Sakramen Baptis setiap orang kristiani mengambil bagian dalam ke-nabi-an, ke-raja-an, dan ke-imam-an Kristus. Sadarkah kita akan tugas kita sebagai nabi, imam, dan raja? Ketika kita membaca surat kabar atau mendengar berita-berita negatif, bagaimana reaksi kita? Acuh tak acuh dan dalam hati berkata, ”Ah, sudah biasa”? Cemas dan prihatin? Menggerutu dan memaki si penjahat?

Sebuah buku mengisahkan seorang ibu yang membaca surat kabar dan mendengar berita tentang para buruh tambang yang terperangkap dalam tambang saat bekerja dan belum berhasil ditolong hingga saat itu. Si ibu ini berdoa untuk mereka ini. Lalu, suatu malam dia bermimpi bahwa salah satu buruh tambang yang terperangkap itu adalah anaknya sendiri, sehingga dia langsung berdoa dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati, sampai-sampai dia terbangun dari tidurnya. Dalam refleksinya, ibu ini merasa disadarkan Tuhan bahwa selama ini dia merasa sudah “berdoa” (dan, memang dia sudah berdoa), tetapi dia belum “sungguh-sungguh berdoa” dan peduli.

Seorang istri berceritera bahwa suaminya tidak peduli saat ibu si istri sakit, saat saudara si istri tertimpa kemalangan, dll. Sampai suatu ketika keluarga si suami mengalami peristiwa atau kemalangan beruntun seperti yang dialami si istri. Sejak itu si suami mulai berubah dan peduli. Dia mulai bisa “ikut merasakan” suka-duka si istri.

Jangan menunggu sampai bencana atau kemalangan menimpa kita atau orang-orang yang kita cintai baru kita mau peduli dan mendoakan, terlebih untuk keselamatan kekal bagi jiwa-jiwa.


Dasar Kepedulian Kita

Sebenarnya dasar kepedulian kita akan jiwa-jiwa bukanlah hanya kasih kita kepada mereka, tetapi terlebih lagi kasih kita pada Kristus. Orang yang mengasihi Kristus akan mengasihi apa yang dikasihi-Nya. Orang yang mengasihi Kristus akan mengasihi sesamanya. Penghayatan hukum pertama yang otentik, yaitu mengasihi Tuhan Allah kita, akan “melahirkan” hukum yang kedua, yaitu mengasihi sesama. Orang yang mengasihi akan ikut memikirkan apa yang dipikirkan oleh si tercinta. Kasih itu peduli dan kasih itu melibatkan diri (walau tidak selalu secara konkrit, tetapi bisa melalui doa, dll.).

Bayangkan: seandainya Anda mendonorkan sebuah ginjal Anda untuk seseorang yang berada dalam bahaya maut dan benar-benar membutuhkan transplantasi ginjal. Namun, ternyata .... setelah semua operasi dan kurban Anda itu, orang itu tetap tak tertolong dan Anda tetap kehilangan sebuah ginjal. Bagaimana perasaan Anda?

Bukan tidak mungkin bahwa di tengah puncak sengsara dan pengurbanan-Nya di atas kayu salib, Yesus dapat “melihat” keselamatan bagi banyak jiwa berkat pengurbanan-Nya ini, namun Dia juga “melihat” bahwa banyak jiwa yang akan tetap celaka karena menolak kasih-Nya ini. Yesus tidak hanya mendonorkan sebuah ginjal, tetapi dua ginjal, sebuah jantung, dua mata, dua tangan, dua kaki, .... seluruh tubuh, jiwa, dan roh-Nya untuk keselamatan jiwa-jiwa! Maukah kita berusaha agar kurban-Nya ini tidak sia-sia?

Dalam autobiografinya, S. Theresia Lisieux menulis:

“Di suatu hari Minggu kupandang gambar Yesus di salib. Hatiku tersentuh oleh darah itu yang menetes dari tangan-Nya yang kudus. Kurasa sungguh sayang, sebab darah itu menetes ke tanah tanpa ada yang menampungnya. Saya pun memutuskan untuk dalam roh tinggal di kaki salib supaya menampung embun ilahi yang tercurah pada salib itu dan saya mengerti bahwa setelah itu saya harus menuangkannya atas jiwa-jiwa....

Jeritan Yesus di salib, ‘Aku haus’ senantiasa menggema dalam hatiku. Saya ingin memberi Kekasihku minum dan saya rasa betapa saya sendiri luluh karena haus akan jiwa-jiwa. [...]. Saya dihanguskan oleh kerinduan untuk menyelamatkan mereka dari api yang kekal....” (Aku Percaya akan Cinta Kasih Allah, Karmel-Bajawa, 1995, hlm. 76).

Dalam Puri Batin, S. Theresa Avila mengatakan:

“Tuhan, tidakkah Engkau tahu lebih dahulu cara mati-Mu kelak, sekian pedih dan mengejutkan? Tidak, sebab cinta-Ku yang besar, kerinduan-Ku akan keselamatan jiwa-jiwa jauh melebihi kesakitan ini. Penderitaan tak berhingga yang telah Kualami dan masih Kualami sejak Aku di bumi ini, cukup besar sehingga semua penderitaan lainnya adalah amat kecil, kalau dibandingkan dengannya” (Puri Batin, V, 2, 13).


Waktunya Mendesak!

Sebuah anekdot: seorang anak kecil merengek-rengek minta permen kepada orang tuanya, padahal saat itu mereka sedang cemas, kawatir, dan bergegas-gegas hendak menolong kakaknya yang sakit parah dan dalam keadaan kritis. Si anak kecil tidak peduli dengan situasi gawat dan genting itu. Dia tetap merengek-rengek minta permen. Mungkin, tidak jarang kita bersikap seperti anak kecil ini yang merengek-rengek dan memohon “hal-hal yang sia-sia” (yang dapat diumpamakan seperti permen itu) kepada Allah Bapa kita, tanpa peduli sedikit pun akan jiwa-jiwa yang perlu diselamatkan dari kematian kekal. Bahkan, pernah ada yang meminta doa agar pelayanannya sukses dan terkenal.

Dalam satu menit berapa jiwa tercebur ke dalam api neraka? Kita tidak tahu, tetapi kita bisa membayangkan berapa banyak jiwa di seluruh dunia ini yang meninggal setiap menit dan berapa banyak di antara mereka itu yang dalam keadaan dosa maut dan tidak mau bertobat? Dan, bayangkan jika salah satu dari mereka yang “sedang terancam” bahaya api neraka itu adalah orang yang kita cintai! Kalau mengingat semua ini, sebetulnya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa waktu kita mendesak dalam menyelamatkan jiwa-jiwa!

Sepertinya konyol jika ada petugas pemadam kebakaran yang saat sirene bahaya berbunyi masih berkata, “Santai dulu, ah!” Bagaimana dengan kita? S. Teresa Avila berpesan kepada para susternya, “Kumohon demi cinta kepada Allah, ingatlah selalu jiwa-jiwa ini [yaitu, para pendosa berat] dalam doa-doamu” (Puri Batin, VII, 1, 4), karena:

“Mendoakan orang yang berada dalam dosa berat adalah bukti cinta yang besar. Lebih besar daripada cinta yang kita nyatakan kepada seorang kristen yang tangannya dibelenggu di atas punggungnya terikat pada sebuah tiang dan hampir mati kelaparan. Makanan bukan tidak ada, karena di sisinya ada hidangan-hidangan yang amat lezat. Akan tetapi ia sendiri tidak dapat mencapainya serta menyuapkannya ke dalam mulutnya. Tidakkah kejam sekali kalau menatap dia tanpa memberinya makan, [...]?” (Puri Batin, VII, 1, 4).

Belenggu-belenggu itu dapat dilepaskan oleh doa-doa kita. Kita bisa berdoa bagi keselamatan jiwa-jiwa, tidak hanya secara khusus saat kita duduk manis dalam gereja, tetapi juga dengan memersembahkan semua yang kita lakukan (entah itu doa, puasa, penyangkalan diri, ataupun aktivitas-aktivitas kita lainnya, asal bukan dosa) kepada Yesus untuk keselamatan jiwa-jiwa. Contoh konkritnya: jika kita sedang berjalan, kita bisa katakan kepada Yesus dalam hati, “Untuk-Mu, Yesus setiap langkah-ku, untuk keselamatan jiwa-jiwa.”  Atau, sebelum memulai pekerjaan yang membutuhkan aktivitas intelek, kita bisa berdoa kecil, “Tuhan, kupersembahkan untuk-Mu pekerjaan ini, untuk pertobatan para pendosa, pertobatanku, pertobatan keluargaku, ...” Masih ada banyak contoh lainnya. Jika dipersembahkan kepada Yesus, maka semua yang kita lakukan itu (asal bukan dosa) mempunyai nilai (membawa rahmat) bagi keselamatan jiwa-jiwa. Sayang, khan jika hanya karena kita lupa memersembahkan aktivitas kita kepada Yesus, maka satu jiwa tak tertolong dan tercebur ke dalam api neraka?

Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium, yaitu Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, bab 4 yang membahas tentang “Para Awam” mengatakan:

“[...] semua karya, doa-doa dan usaha kerasulan mereka [para awam], hidup mereka selaku suami-istri dan dalam keluarga, jerih-payah mereka sehari-hari, istirahat bagi jiwa dan badan mereka, bila dijalankan dalam Roh, bahkan beban-beban hidup bila ditanggung dengan sabar, menjadi korban rohani, yang dengan perantaraan Yesus Kristus berkenan kepada Allah (lih. 1Ptr 2:5). Korban itu dalam Ekaristi, bersama dengan persembahan Tubuh Tuhan, penuh khidmat dipersembahkan kepada Bapa. Demikianlah para awam pun sebagai penyembah Allah, yang di mana-mana hidup dengan suci, membaktikan dunia kepada Allah” (LG 34).

Sr. Maria Andrea, P.Karm