User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

Waktunya Mendesak!

Sebuah anekdot: seorang anak kecil merengek-rengek minta permen kepada orang tuanya, padahal saat itu mereka sedang cemas, kawatir, dan bergegas-gegas hendak menolong kakaknya yang sakit parah dan dalam keadaan kritis. Si anak kecil tidak peduli dengan situasi gawat dan genting itu. Dia tetap merengek-rengek minta permen. Mungkin, tidak jarang kita bersikap seperti anak kecil ini yang merengek-rengek dan memohon “hal-hal yang sia-sia” (yang dapat diumpamakan seperti permen itu) kepada Allah Bapa kita, tanpa peduli sedikit pun akan jiwa-jiwa yang perlu diselamatkan dari kematian kekal. Bahkan, pernah ada yang meminta doa agar pelayanannya sukses dan terkenal.

Dalam satu menit berapa jiwa tercebur ke dalam api neraka? Kita tidak tahu, tetapi kita bisa membayangkan berapa banyak jiwa di seluruh dunia ini yang meninggal setiap menit dan berapa banyak di antara mereka itu yang dalam keadaan dosa maut dan tidak mau bertobat? Dan, bayangkan jika salah satu dari mereka yang “sedang terancam” bahaya api neraka itu adalah orang yang kita cintai! Kalau mengingat semua ini, sebetulnya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa waktu kita mendesak dalam menyelamatkan jiwa-jiwa!

Sepertinya konyol jika ada petugas pemadam kebakaran yang saat sirene bahaya berbunyi masih berkata, “Santai dulu, ah!” Bagaimana dengan kita? S. Teresa Avila berpesan kepada para susternya, “Kumohon demi cinta kepada Allah, ingatlah selalu jiwa-jiwa ini [yaitu, para pendosa berat] dalam doa-doamu” (Puri Batin, VII, 1, 4), karena:

“Mendoakan orang yang berada dalam dosa berat adalah bukti cinta yang besar. Lebih besar daripada cinta yang kita nyatakan kepada seorang kristen yang tangannya dibelenggu di atas punggungnya terikat pada sebuah tiang dan hampir mati kelaparan. Makanan bukan tidak ada, karena di sisinya ada hidangan-hidangan yang amat lezat. Akan tetapi ia sendiri tidak dapat mencapainya serta menyuapkannya ke dalam mulutnya. Tidakkah kejam sekali kalau menatap dia tanpa memberinya makan, [...]?” (Puri Batin, VII, 1, 4).

Belenggu-belenggu itu dapat dilepaskan oleh doa-doa kita. Kita bisa berdoa bagi keselamatan jiwa-jiwa, tidak hanya secara khusus saat kita duduk manis dalam gereja, tetapi juga dengan memersembahkan semua yang kita lakukan (entah itu doa, puasa, penyangkalan diri, ataupun aktivitas-aktivitas kita lainnya, asal bukan dosa) kepada Yesus untuk keselamatan jiwa-jiwa. Contoh konkritnya: jika kita sedang berjalan, kita bisa katakan kepada Yesus dalam hati, “Untuk-Mu, Yesus setiap langkah-ku, untuk keselamatan jiwa-jiwa.”  Atau, sebelum memulai pekerjaan yang membutuhkan aktivitas intelek, kita bisa berdoa kecil, “Tuhan, kupersembahkan untuk-Mu pekerjaan ini, untuk pertobatan para pendosa, pertobatanku, pertobatan keluargaku, ...” Masih ada banyak contoh lainnya. Jika dipersembahkan kepada Yesus, maka semua yang kita lakukan itu (asal bukan dosa) mempunyai nilai (membawa rahmat) bagi keselamatan jiwa-jiwa. Sayang, khan jika hanya karena kita lupa memersembahkan aktivitas kita kepada Yesus, maka satu jiwa tak tertolong dan tercebur ke dalam api neraka?

Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium, yaitu Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, bab 4 yang membahas tentang “Para Awam” mengatakan:

“[...] semua karya, doa-doa dan usaha kerasulan mereka [para awam], hidup mereka selaku suami-istri dan dalam keluarga, jerih-payah mereka sehari-hari, istirahat bagi jiwa dan badan mereka, bila dijalankan dalam Roh, bahkan beban-beban hidup bila ditanggung dengan sabar, menjadi korban rohani, yang dengan perantaraan Yesus Kristus berkenan kepada Allah (lih. 1Ptr 2:5). Korban itu dalam Ekaristi, bersama dengan persembahan Tubuh Tuhan, penuh khidmat dipersembahkan kepada Bapa. Demikianlah para awam pun sebagai penyembah Allah, yang di mana-mana hidup dengan suci, membaktikan dunia kepada Allah” (LG 34).

Sr. Maria Andrea, P.Karm

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting