User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

Dasar Kepedulian Kita

Sebenarnya dasar kepedulian kita akan jiwa-jiwa bukanlah hanya kasih kita kepada mereka, tetapi terlebih lagi kasih kita pada Kristus. Orang yang mengasihi Kristus akan mengasihi apa yang dikasihi-Nya. Orang yang mengasihi Kristus akan mengasihi sesamanya. Penghayatan hukum pertama yang otentik, yaitu mengasihi Tuhan Allah kita, akan “melahirkan” hukum yang kedua, yaitu mengasihi sesama. Orang yang mengasihi akan ikut memikirkan apa yang dipikirkan oleh si tercinta. Kasih itu peduli dan kasih itu melibatkan diri (walau tidak selalu secara konkrit, tetapi bisa melalui doa, dll.).

Bayangkan: seandainya Anda mendonorkan sebuah ginjal Anda untuk seseorang yang berada dalam bahaya maut dan benar-benar membutuhkan transplantasi ginjal. Namun, ternyata .... setelah semua operasi dan kurban Anda itu, orang itu tetap tak tertolong dan Anda tetap kehilangan sebuah ginjal. Bagaimana perasaan Anda?

Bukan tidak mungkin bahwa di tengah puncak sengsara dan pengurbanan-Nya di atas kayu salib, Yesus dapat “melihat” keselamatan bagi banyak jiwa berkat pengurbanan-Nya ini, namun Dia juga “melihat” bahwa banyak jiwa yang akan tetap celaka karena menolak kasih-Nya ini. Yesus tidak hanya mendonorkan sebuah ginjal, tetapi dua ginjal, sebuah jantung, dua mata, dua tangan, dua kaki, .... seluruh tubuh, jiwa, dan roh-Nya untuk keselamatan jiwa-jiwa! Maukah kita berusaha agar kurban-Nya ini tidak sia-sia?

Dalam autobiografinya, S. Theresia Lisieux menulis:

“Di suatu hari Minggu kupandang gambar Yesus di salib. Hatiku tersentuh oleh darah itu yang menetes dari tangan-Nya yang kudus. Kurasa sungguh sayang, sebab darah itu menetes ke tanah tanpa ada yang menampungnya. Saya pun memutuskan untuk dalam roh tinggal di kaki salib supaya menampung embun ilahi yang tercurah pada salib itu dan saya mengerti bahwa setelah itu saya harus menuangkannya atas jiwa-jiwa....

Jeritan Yesus di salib, ‘Aku haus’ senantiasa menggema dalam hatiku. Saya ingin memberi Kekasihku minum dan saya rasa betapa saya sendiri luluh karena haus akan jiwa-jiwa. [...]. Saya dihanguskan oleh kerinduan untuk menyelamatkan mereka dari api yang kekal....” (Aku Percaya akan Cinta Kasih Allah, Karmel-Bajawa, 1995, hlm. 76).

Dalam Puri Batin, S. Theresa Avila mengatakan:

“Tuhan, tidakkah Engkau tahu lebih dahulu cara mati-Mu kelak, sekian pedih dan mengejutkan? Tidak, sebab cinta-Ku yang besar, kerinduan-Ku akan keselamatan jiwa-jiwa jauh melebihi kesakitan ini. Penderitaan tak berhingga yang telah Kualami dan masih Kualami sejak Aku di bumi ini, cukup besar sehingga semua penderitaan lainnya adalah amat kecil, kalau dibandingkan dengannya” (Puri Batin, V, 2, 13).

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting