User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

“Pedulikah Kita?”

Seperti Abraham, kita juga dipanggil untuk berdoa bagi dunia, bagi bangsa dan negara, bagi keselamatan jiwa-jiwa. Mari kita menanya diri, “Pedulikah saya akan keselamatan jiwa-jiwa? Akan keselamatan dunia? Dalam sehari berapa kali kita berpikir atau berusaha atau berdoa atau bersilih untuk itu?”

Suatu ketika S. Theresia Lisieux membaca sebuah berita dalam surat kabar tentang seorang penjahat bernama Pranzini yang akan dijatuhi hukuman mati. Saat itu S. Theresia Lisieux belum masuk biara, jadi belum berumur lima belas tahun. Apa reaksinya? Setiap hari si kecil Theresia berusaha sungguh-sungguh memersembahkan kurban-kurban (matiraga-matiraga) kecil dan doa-doanya kepada Tuhan untuk pertobatan Pranzini, seorang penjahat yang sebetulnya tidak dia kenal sama sekali, hanya dia baca melalui surat kabar. Dia juga mengajak kakaknya untuk berdoa bagi si penjahat ini. Akhirnya, surat kabar memberitakan bahwa saat terakhir sebelum dieksekusi, Pranzini meminta sebuah salib dan tiga kali mencium luka-luka suci Yesus pada salib itu. Sejak saat itu S. Theresia semakin bertekad untuk berdoa dan bersilih bagi jiwa-jiwa, karena Tuhan sudah meneguhkan melalui mukjizat pertobatan Pranzini ini.

Kepedulian akan keselamatan jiwa-jiwa merupakan salah satu ciri kepribadian kristiani yang dewasa. Dalam Sakramen Baptis setiap orang kristiani mengambil bagian dalam ke-nabi-an, ke-raja-an, dan ke-imam-an Kristus. Sadarkah kita akan tugas kita sebagai nabi, imam, dan raja? Ketika kita membaca surat kabar atau mendengar berita-berita negatif, bagaimana reaksi kita? Acuh tak acuh dan dalam hati berkata, ”Ah, sudah biasa”? Cemas dan prihatin? Menggerutu dan memaki si penjahat?

Sebuah buku mengisahkan seorang ibu yang membaca surat kabar dan mendengar berita tentang para buruh tambang yang terperangkap dalam tambang saat bekerja dan belum berhasil ditolong hingga saat itu. Si ibu ini berdoa untuk mereka ini. Lalu, suatu malam dia bermimpi bahwa salah satu buruh tambang yang terperangkap itu adalah anaknya sendiri, sehingga dia langsung berdoa dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati, sampai-sampai dia terbangun dari tidurnya. Dalam refleksinya, ibu ini merasa disadarkan Tuhan bahwa selama ini dia merasa sudah “berdoa” (dan, memang dia sudah berdoa), tetapi dia belum “sungguh-sungguh berdoa” dan peduli.

Seorang istri berceritera bahwa suaminya tidak peduli saat ibu si istri sakit, saat saudara si istri tertimpa kemalangan, dll. Sampai suatu ketika keluarga si suami mengalami peristiwa atau kemalangan beruntun seperti yang dialami si istri. Sejak itu si suami mulai berubah dan peduli. Dia mulai bisa “ikut merasakan” suka-duka si istri.

Jangan menunggu sampai bencana atau kemalangan menimpa kita atau orang-orang yang kita cintai baru kita mau peduli dan mendoakan, terlebih untuk keselamatan kekal bagi jiwa-jiwa.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting