User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Doa dan Keselamatan Bangsa

Suatu ketika, dalam suatu kursus bahasa Inggris, guru memberi tugas mengarang dengan judul “If I were the President of Indonesia, I would ....” (“Jika saya Presiden Indonesia, saya akan ….”). Para murid dipaksa untuk berpikir dan berimajinasi tentang apa yang akan dilakukannya seandainya ia adalah Presiden Indonesia. Seandainya Anda salah seorang murid itu, apa gagasan Anda? Dalam kursus itu macam-macam gagasan muncul. Ada yang mengatakan berbagai ide untuk mengatasi hutang negara, ada yang lebih memprioritaskan stabilitas nasional, dll. Salah satu dari gagasan-gagasan yang menarik dan (mungkin) mengajak kita untuk berefleksi berbunyi, “Kalau saya Presiden Indonesia, saya akan mencanangkan ‘Empat Puluh Hari Pertobatan Nasional’! Saya akan mengajak seluruh bangsa kitaapa pun agamanyauntuk memohon ampun kepada Tuhan bagi bangsa kita ini.”

Sayang, ini hanyalah suatu tugas mengarang. Seandainya hal ini benar-benar dilakukan, tidak mungkin tidak ada rahmat Tuhan yang tercurah atas bangsa dan negara kita ini. Kita ingat bagaimana Tuhan tidak jadi menghukum penduduk kota Niniwe ketika mereka merendahkan diri di hadapan Tuhan, bertobat, berdoa, dan berpuasa (bdk. Yun 3:1-10). Saat itu, karena dosa orang-orang Niniwe, Tuhan sudah merencanakan akan menunggangbalikkan Niniwe dalam waktu “empat puluh hari lagi” seperti disampaikan Nabi Yunus. Maka, mereka beserta rajanya berpuasa dan berkabung.

Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: ‘Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.’ Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya” (Yun 3:7-10).

Kita juga bisa melihat bagaimana bangsa Yahudi, yang terancam akan dibasmi dan dipunahkan karena kesombongan dan kekejaman Haman, diselamatkan Tuhan ketika mereka berdoa dan berpuasa (bdk. Est 4:1-3.15-17). Kisah yang sangat menarik ini dapat kita baca di Kitab Ester (bab 3 dan selanjutnya).

 

Doa Syafaat Abraham untuk Sodom (Kejadian 18:20-33)

Dalam Kitab Kejadian ada kisah menarik tentang doa syafaat Abraham untuk Sodom. Saat itu Tuhan hendak menghukum dan melenyapkan penduduk kota Sodom karena dosa-dosa mereka (lih. Kej 18:20-33). Abraham memberanikan diri berdiri di hadapan Tuhan dan berkata:

“Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? [...]” TUHAN berfirman: “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka”  (Kej 18:23-26).

Dialog ini kemudian berlanjut dan berlanjut. Akhirnya, jika ada sepuluh orang benar saja di kota Sodom, Tuhan tidak akan memusnahkan kota itu. Mari kita refleksikan perikop ini.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting