header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Kekudusan

User Rating:  / 6
PoorBest 

Karena kalau Tuhan Yesus menyebutkan bahwa model kekudusan itu adalah Allah sendiri, ini mengandung makna yang tidak terbatas. Selama kita masih ada di dunia mi, kita harus berjuang untuk mencapainya secara tak terbatas pula. Maka kita tidak dapat berkata, “Cukup sampai di sini.” Tetapi kita harus berkata, “Aku mau melangkah sampai Allah memanggil aku kembali.”

Kalau kekudusan merupakan tujuan hidup kita, bukan berarti kekudusan dapat secara otomatis dicapai begitu saja. Kekudusan harus diperjuangkan secara serius dan tekun. Kita setiap saat harus memasuki suatu sikap hidup yang senantiasa terarah kepada jalan-jalan di mana kekudusan dapat kita capai. Entah dalam doa, penyangkalan diri atau dalam hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup kita. Memang untuk ini dibutuhkan iman dan bimbingan Roh Allah, yang senantiasa menjernihkan pandangan kita untuk melihat kehadiran Allah setiap saat. Ia yang hadir dalam setiap peristiwa dengan menawarkan suatu rahmat baru yang terus menerus kepada kita.

Kalau kita membaca kisah hidup S. Theresia Lisieux dan kalau pikiran serta hati kita tidak dijiwai iman, kita hanya menemukan suatu tindakan biasa yang terjadi juga dalam hidup kita. Namun kalau pikiran dan hati kita dijiwai iman, kita akan melihat suatu “Gerak” dan kehendak Allah yang menjiwai Theresia karena dorongan-dorongan dan inspirasi Roh Kudus.

Maka pentinglah bagi kita, dalam seluruh hidup kita bersandar kepada kuasa Roh Kudus yang sebenarnya menjadi penolong perjalanan hidup kita untuk mencapai kekudusan. Maka dengan bersandar pada kuasa-Nya, kekudusan dapat dicapai dan memang demikianlah yang seharusnya dicapai oleh setiap orang, baik awam maupun religius. Karena apa? Karena setiap panggilan hidup, baik selibat maupun berkeluarga memiliki sifat kekudusan.

PANGGILAN HIDUP DAN KEKUDUSAN

Ketika kedua orang murid Yohanes Pembaptis bertanya kepada Yesus, “Rabi di manakah Engkau tinggal?” Yesus memberi jawaban yang bernada mengundang, “Marilah dan kamu akan melihatnya.”

“Marilah dan kamu akan melihatnya,” adalah undangan untuk setiap orang yang rindu untuk berjumpa dengan Yesus. Dan sebagai orang Kristen, kita semua telah menerima panggilan itu, “Mari dan lihatlah.” Panggilan itu telah diteguhkan dalam hidup kita oleh rahmat Sakramen Pembaptisan. Dalam Sakramen ini, kita telah datang, melihat dan bahkan menerima Tritunggal Mahakudus dalam hidup kita. Tritunggal Mahakudus yang hadir dalam hidup kita senantiasa menyerukan panggilan yang baru, “Mari dan lihatlah.”

Atas dasar seruan inilah kita setiap saat harus menjawab “Ya” terhadap panggilan itu. “Mari dan lihatlah” adalah undangan yang terus-menerus kepada kita, supaya kita masuk dan masuk lebih dalam kepada kehidupan Tritunggal Mahakudus. Berarti ini adalah undangan untuk hidup kudus dan sempurna dalam Allah.

Seruan “Mari dan lihatlah” tertuju kepada setiap orang, karena ini panggilan dasar, tetapi juga menggema dalam panggilan hidup setiap orang, baik awam maupun religius. Bagaimana cananya? Tentu saja pertama-tama kita harus menemukan apakah panggilan hidup kita ini sesuai dengan kehendak Allah. Kalau memang itu sesuai dengan kehendak Allah, kita harus mendalaminya dengan penuh kesetiaan dan ketekunan sebagai jawaban hidup kita kepada rencana Allah. Tetapi bukan hanya demikian, kita harus juga mewarnai hidup panggilan kita dengan kebajikan-kebajikan yang telah kita terima dalam Sakramen Pembaptisan. Maka di situlah kita akan menemukan suatu gerak rahmat yang menjiwai kehidupan kita, sehingga hidup kita tetap terarah kepada rencana dan kehendak Allah, dalam terang bimbingan Roh Kudus. Misalnya, seorang ibu dalam sebuah keluarga yang dengan setia dan tekun membaktikan hidupnya, penuh pengurbanan di dalam mendidik putra-putrinya dalam kekuatan harapan, iman dan cinta kasih. Hal ini lebih bernilai daripada suatu tindakan besar dalam pandangan dunia, tetapi tidak didasari kebajikan sama sekali. Karena itu, kita semua, apapun status panggilan hidup kita, kita dipanggil untuk bersama-sama secara pribadi berjuang mencari kekudusan yang disediakan Allah bagi kita. “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia, itulah yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1Kor.2:9)

ROH KUDUS SANG PEMBIMBING

Kita tidak dapat melepaskan peran Roh Kudus dalam karya kekudusan. Sebab Dialah yang dengan kuasa-Nya membimbing perjalanan kita menuju kepada persatuan dengan Yesus. Ketika Yesus berkata, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran, sebab Ia tidak akan berkata-kata dan diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya, itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. (Yoh.16:13)

Ini adalah ungkapan misteri ilahi dan karya Roh Kudus yang akan membimbing jiwa-jiwa menuju kepada kebenaran hidup. Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran, yaitu kebenaran yang nyata, yang ada pada Allah sendiri. Ia akan membimbing bagaimana supaya kita dapat masuk ke dalam kebenaran itu.

Demikianlah Ia dengan setia menuntun kita di setiap kehidupan bahkan sampai yang terkecil dari tindakan kita. Namun, ini bukanlah sesuatu yang otomatis. Kehendak bebas kita harus diberikan kepada Dia untuk dijadikan lahan bagi karya-Nya, supaya Dia dapat berkata, “Lakukanlah ini untuk memuliakan Allah.” Seperti Sabda Yesus tentang Roh Kudus, “Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya daripada-Ku.” (Yoh. 16:14)

Akhirnya, Roh Kudus akan senantiasa menyatakan kehendak Allah melalui dorongan dan inspirasi-Nya dalam setiap kehidupan kita. Sehingga hidup kita senantiasa diwarnai oleh tindakan-tindakan yang sesuai dengan kehendak Allah. Inilah kekudusan dan kesempurnaan, yaitu kalau hidup kita seluruhnya selaras dengan kehendak Allah.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting