header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Peranan Keheningan Dalam Hidupku

User Rating:  / 3
PoorBest 

Pengantar

Betapa pentingnya kita membedakan arti “keheningan” (silence) dan “kesunyian” (solitude). Sepintas lalu keduanya nampaknya sama, padahal keduanya amat berbeda, sekaligus keduanya tak terpisahkan. Hubungan keduanya terletak pada keheningan atau silentium adalah unsur hakiki dari kesunyian. Tanpa keheningan tiada tercipta kesunyian. Demikian juga, kesunyian tidak akan tercipta tanpa keheningan. Maka, bila keheningan tercipta, terwujudlah kesunyian. Dalam kesunyian, Allah bekerja secara leluasa, dan secara total kepada jiwa. Jiwa pun secara aktif, sadar, dan kreatif dalam sikap yang pasif, terbuka terhadap bimbingan Roh Kudus dan ia setia melaksanakan apa yang dikehendaki Allah. Bila seorang terbuka terhadap bimbingan Allah dalam kuasa Roh-Nya, maka ia pun akan mencapai persatuan cinta kasih dengan Allah dalam Kristus. Simaklah apa yang dikatakan S. Paulus, Anak Allah adalah semua orang yang dibimbing oleh Roh Allah (Rm 8: 14). Sejak saat itu, ia hanya “hidup tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah” (Kol 3:3).

Makna keheningan dalam Hidupku

Ada beberapa hal pokok yang perlu kita perhatikan dalam penghayatan keheningan.

1. Keheningan dalam penghayatan pribadi: Keheningan itu susah-susah gampang!

Sebelum saya mensharingkan pengalaman saya tentang keheningan, kiranya pertanyaan yang patut diajukan ialah “Sudahkah saudara menghayati keheningan secara radikal, konsekuen dan kontinu?”. Tentu saja, saya mengalami keheningan, namun kalau ditanyakan kualitas keheningan, saya masih harus terus bertekun, menghayatinya dan mendalaminya. Saya sadar tidak mudah untuk menghayatinya, sebab seringkali saya jatuh bangun, apalagi saya cenderung untuk banyak omong, suka usil dan seringkali menggoda, guyon, mengejek orang, ya supaya suasana agak hidup. Mudah-mudahan tidak ada yang tersinggung. Karena itu, menurut hemat saya, untuk mengalami keheningan, saya harus belajar menghayatinya. Itulah sebabnya, pemahaman yang baik tentang keheningan, akan sangat membantu untuk menghayatinya, dengan demikian dapat pula mengalaminya dengan baik. Untuk mengalami keheningan, seseorang harus belajar menjawab pertanyaan berikut ini, “Apa itu keheningan?”.

2. Arti Keheningan dalam hidupku.

Dalam arti longgar, keheningan amat diperlukan bagi hidup religius pada umumnya, bahkan kaum awam. Dalam arti tegas, keheningan amat penting, mutlak, wajib, tidak dapat tidak ada, harus dihayati semua orang beriman yang mengaku “frater CSE”. Apalagi “unsur keheningan” hendaknya mewarnai komunitas-komunitas CSE (lh. Statuta Asosiasi Publik CSE, no. 19; bdk. Pedoman Hidup CSE, pasal 35).

Di luar itu, untuk menghindari eksterm meremehkan keheningan, “bidaah karya sosial”, yaitu segerombolan orang yang mengaku “karyaku adalah doaku”, padahal ada beda tegas antara doa dan karya. Doa adalah jiwa dari karya dan karya akan semakin kosong melompong tanpa doa yang otentik. Maka benar yang dikatakan S. Yohanes dari Salib, Pujangga Gereja dari Karmel, dalam “keheningan akan menciptakan karya kerasulan Gereja yang berlimpah-limpah, bila dibandingkan dengan segala pelayanan aktif tapi melupakan unsur keheningan yang hanya akan menghasilkan sedikit saja buah-buah rohaninya” (bdk. Madah Rohani, bait 28, no. 8).

Sebaliknya, kita juga perlu menghindari ekstrem mendiamkan orang, artinya dengan dalih menjaga keheningan, kita sengaja mendiamkan orang karena konflik batin tertentu. Hal ini patut dihindari sebab menimbulkan pertikaian dan hidup komunitas yang tak sehat serta yang paling penting melawan cinta kasih, jadi suatu dosa melawan Allah sendiri.

Oleh sebab itu, kita perlu memahami arti keheningan secara benar, seimbang, dan tepat. Ada tiga tahap keheningan (Pedoman Praktis CSE, no. 32).

Pertama, Keheningan lahir. Kendati diperlukan tiadanya lagi suara-suara di sekitar kita, tetapi yang terpenting ialah belajar untuk tutup mulut, khususnya pada waktu “silentium agung” sesudah ibadat sore hingga sesudah makan pagi. Meskipun di luar waktu itu, keheningan mesti dijaga sebab “dalam banyak bicara terkandung banyak dosa” (lh. Regula Karmel, no. 21). Demikian juga S. Yohanes dari Salib menekankan kebajikan menjaga lidah untuk menghindari “berbicara hal-hal yang baik tapi menjerumuskan orang pada siksa hukuman neraka” (lh. Nasehat-nasehat kepada Religius, no. 2 dan Nasehat untuk Berjaga-jaga, no. 8-9).

Kedua, keheningan batin. Ketekunan dan keseimbangan dalam penghayatan keheningan lahir akan membawa kepada keheningan dalam bidang budi, ingatan dan kehendak. Dalam tahap ini, tidak sekedar “jaga mulut” tapi lebih dalam lagi, yaitu pentingnya keutamaan iman, pengharapan dan cinta kasih (bdk. Marie Eugene, I Want to See God, hlm. 420-431).

Ketiga, keheningan ilahi. Inilah keheningan, ketenangan yang didamba jiwa-jiwa yang murni hatinya di hadapan Allah. Mereka telah mengalami “perjumpaan dengan Allah, Sang Keheningan Sejati” dalam lubuk jiwa yang terdalam. Inilah persatuan jiwa dengan Allah. Jadi, benar apa yang dikatakan seorang teolog hidup rohani Marie Eugene, “keheningan adalah buah kekudusan sekaligus keheningan adalah sarana untuk mencapai kesucian hidup” (Ibid., hlm. 418).

3. Penghayatan dan Pengalaman Keheningan dalam Hidupku.

Dengan pemahaman yang jelas, benar dan tepat tentang keheningan. Saya pun belajar untuk menghayatinya. Pada kenyataannya, dalam permulaan hidup membiara, karena masih semangat, saya tekun menghayatinya. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu saya agak kendor dengan praktek penghayatan keheningan. Akibatnya, hidup rohani agak kacau, penghayatan hidup komunitas semakin runyam, sampai akhirnya kurang memperhatikan hal-hal ini, saya jatuh dalam kelalaian besar, akibat kurang peka dan malas menghayatinya. Kini, belajar dari pengalaman jatuh-bangun selama hidup membiara kurang lebih 12 tahun ini, mengingat betapa pentingnya keheningan dalam hidupku, dan dalam keheningan kita terlindung dari banyak dosa dan kejahatan, maka saya mulai belajar dari saat ke saat, dari waktu ke waktu untuk menghayatinya. Selain itu, tidak kurang pentingnya ialah peran sesama saudara dan pelayan atau pembimbing rohani untuk selalu mengingatkan, sebab manusia sering lupa dan cenderung untuk meninggalkannya. Saya bersyukur, bahwa “pengalaman adalah guru yang terbaik” sehingga bersama dengan komunitas, saya mau menghayatinya dengan baik.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting