User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

Para Kudus

Fakta lain yang menarik adalah keajaiban-keajaiban yang sering terjadi pada jenasah para kudus. Misalnya:

St. Yohanes dari Salib (1542-1591). Pada malam setelah penguburan St. Yohanes dari Salib tampaklah cahaya yang sangat cemerlang selama beberapa menit. Sembilan bulan setelah kematiannya, saat kuburnya dibuka dengan maksud untuk memindahkan tulang-tulangnya, terciumlah bau harum dan ternyata tubuhnya—walaupun tanpa pengawet—masih utuh, segar, dan tetap lentur (tidak kaku),. Saat salah satu jarinya diamputasi, darah segar mengucur, seperti layaknya orang yang masih hidup. Sembilan bulan kemudian saat kubur dibuka kembali untuk memindahkan jenasah itu, bau harum menyelimuti seluruh ruangan. Dalam perjalanan, bau harum tetap semerbak, walaupun jenasah tersebut sudah dibungkus plastik, sehingga orang-orang yang berjumpa bertanya apa isi plastik itu. Terakhir kubur digali pada tahun 1955 dan didapati bahwa tubuhnya seutuhnya lentur serta tidak kering, walaupun ada sedikit perubahan warna.

St. Bernadet Soubirous (1844-1879). Sudah seratus tahun sejak kematiannya, jenasah St. Bernadet tetap utuh, walaupun tanpa pemakaian balsam atau bahan pengawet.

Tidakkah fakta ini meneguhkan iman kita akan hidup kekal dan mengingatkan kita akan sabda-sabda Yesus? Misalnya:

“[…] Aku pun berkata kepadamu: ‘Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. […]’” (Mat 16:19).

“Akulah roti hidup. […]. Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. […] Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:48.50.54).

Proses pemberian gelar kudus—venerabilis, beata/o, santa/o—(proses beatifikasi, kanonisasi) dalam Gereja Katolik tidaklah mudah. Kadar iman, harapan, kasih, serta kebajikan-kebajikan dari orang yang bersangkutan semasa hidupnya akan dilihat dan ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Salah satu syaratnya adalah harus ada mujizat yang terjadi berkat perantaraan doanya sesudah ia meninggal. Syarat ini tidak mungkin dipenuhi oleh kuasa manusiawi belaka. Tidakkah ini “stempel surgawi”? Suatu pengesahan (peneguhan) ilahi dari surga. Ini juga mengingatkan kita akan “pengesahan/peneguhan” langsung Bapa dari surga akan Yesus, Putra-Nya, "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia" (Mat 17:5). St. Paulus mengatakan, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Rm 8:29). Jika orang tersebut benar-benar kudus, tentu setelah meninggal jiwanya masuk surga, bersatu dengan Tuhan, dan tidak di neraka. Dan, tentu Tuhan mengabulkan doanya karena doa orang benar sangat besar kuasanya (bdk. Yak 5:16).

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting