User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

Prolog

Mengawali artikel ini, saya ingin mengajak Anda melakukan refleksi kecil dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut: “Banggakah Anda menjadi seorang Katolik?” “Apa yang paling Anda banggakan sebagai seorang Katolik?” atau “Apa yang paling Anda banggakan dari Gereja Katolik?”

Beberapa orang menjadi Katolik hanya karena “ikut-ikutan”, sebagian orang lagi menjadi Katolik hanya sekedar untuk mengisi KTP, daripada tidak ada agama, dan masih banyak motivasi tak jelas lainnya. Tidak heran jika seringkali seseorang meninggalkan agama Katolik hanya karena khotbah romo tidak enak, lagu-lagu bikin mengantuk, doa-doa membosankan, atau karena pacar, dll. Jika alasan-alasan atau hal-hal seperti ini yang dijadikan dasar (fondasi) dalam memilih agama, maka alangkah rapuhnya hidup keagamaan dan iman seseorang. Jika ada agama lain yang lagu-lagu atau khotbahnya lebih menarik, ia akan pindah agama lagi. Atau, jika mendapat pacar baru yang beragama lain lagi, ia akan pindah agama lagi.

 Masalah agama bukanlah sekedar masalah lagu enak, khotbah enak, dll. Agama Katolik tidak sedangkal itu. Semoga artikel ini dapat membantu kita untuk melihat fakta-fakta dan kebenaran-kebenaran yang lebih mendalam akan Gereja Katolik sebagai Gereja yang didirikan Kristus sendiri.

Eksistensi dan Persatuan Gereja Katolik

Fakta

Dalam suatu kesempatan seorang non-Katolik mengatakan, “Di seluruh dunia ini tidak ada organisasi yang sekuat Gereja Katolik dalam hal persatuannya.” Sekilas pernyataan ini terdengar sederhana dan sepele, tetapi sebenarnya membawa banyak makna mendalam. Kita bisa tertegun merenungkannya. Betapa mengagumkan persatuan Gereja Katolik! Gereja Katolik di seluruh dunia, bahkan di tempat-tempat terpencil yang tidak termuat di peta karena terlalu kecil, ada persatuan, ada kontak dengan pusat Gereja Katolik di Vatican. Juga, jika kita menghadiri Misa di gereja-gereja Katolik di tempat atau negara-negara lain, kita merasa satu, walaupun tidak mengerti bahasanya.

Kita akan semakin tertegun jika mengingat fakta bahwa Gereja Katolik telah berdiri lebih dari 2000 tahun! Banyak kerajaan besar, kaya, dan jaya dalam sejarah dunia, misalnya Majapahit, Singasari, dll, tetapi akhirnya runtuh juga. Ketakjuban kita semakin besar jika kita ingat bahwa Gereja Katolik 2000 tahun lalu diawali Yesus bersama dengan dua belas “orang sederhana”, bahkan orang-orang yang menurut pandangan dunia adalah “orang-orang kecil, miskin, tidak terpelajar, tidak punya kuasa”. Duabelas orang seperti inilah yang dipilih Yesus menjadi rasul-rasul-Nya.

Tidak cukup kita hanya tertegun di hadapan fakta tentang eksistensi dan persatuan Gereja Katolik. Mari kita renungkan beberapa makna yang bisa diambil dari fakta ini.

Karya Roh Kudus

“Mungkinkah eksistensi dan persatuan Gereja Katolik itu merupakan hasil usaha atau kuasa manusia?” Kiranya kita semua dengan yakin menjawab pertanyaan di atas dengan, “Tidak mungkin.” Yah, coba saja kita mencari orang terpandai, terkuat, terkaya, paling berkuasa dan memintanya mendirikan organisasi yang meliputi seluruh dunia dan bertahan 2000 tahun! Bisakah? Pasti tidak bisa, bukan?

“Mungkinkah eksistensi dan persatuan Gereja Katolik itu merupakan hasil usaha atau kuasa roh jahat?” Tidak mungkin. Roh jahat itu selalu berusaha memecah-belah. Keluarga, organisasi, kelompok doa, gereja, dll. selalu hendak dipecahbelahnya. Sebaliknya, Roh Kudus selalu mempersatukan. Bahwa Gereja Katolik mampu mempertahankan diri terhadap usaha si jahat dan tetap bersatu merupakan bukti karya  Roh Kudus.

Mungkin, ada sanggahan berikut, “Yah, tentu saja roh jahat tidak berusaha memecah belah Gereja Katolik karena Gereja Katolik adalah kerajaannya sendiri. Setan tidak akan menghancurkan dirinya sendiri, bukan?!” Sanggahan ini berdasarkan pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa Gereja Katolik adalah gereja setan, menyembah patung, menyembah berhala, menyembah Maria, dll.

Untuk menjawabnya, mari kita lihat “lulusan-lulusan atau sarjana-sarjana” Gereja Katolik, yaitu para kudusnya. Misalnya Beata Teresa Calcutta, Beato Yohanes Paulus II, Santa Teresia Lisieux, dll. Mereka adalah orang-orang yang dijiwai kasih yang heroik, kerendahan hati mendalam, kerelaan berkorban yang mengagumkan, dan segala macam kebajikan lainnya.  Mungkinkah orang-orang demikian merupakan hasil karya kerajaan setan? “[…] dari buahnya pohon itu dikenal” (Mat 12:33), sabda Yesus.

Masih ada kemungkinan sanggahan lain, “Kalau Gereja Katolik merupakan karya Roh Kudus, kenapa ada banyak orang Katolik, bahkan para religiusnya yang ‘bobrok’ … penuh dosa dan kejahatan?” Kita tidak memungkiri bahwa banyak orang Katolik yang ‘bobrok’, termasuk para religiusnya. Tetapi, “kebobrokan” itu disebabkan mereka tidak sungguh-sungguh menerapkan dan menghayati ajaran-ajaran Gereja Katolik. Hal ini bisa kita umpamakan seperti seorang murid yang, walaupun sekolah di universitas terbaik, tetapi ia malas, sering tidak membuat tugas, tidak belajar, sering bolos kuliah, maka ia tidak akan menjadi sarjana yang baik. Ini bukan salah universitasnya, tetapi salah si murid.

Sebaliknya, santa-santo Gereja Katolik bagaikan murid-murid yang rajin. Mereka sungguh-sungguh menerapkan ajaran Gereja Katolik, maka mereka berkilau-kilau dalam kekudusan dan menghasilkan buah-buah yang baik. Jika benar bahwa Gereja Katolik adalah gereja setan, tidak mungkin akan ada seorang pun pengikutnya yang menjadi kudus karena mengikuti ajarannya!

Jadi, kiranya jelas bahwa eksistensi dan persatuan Gereja Katolik tidak mungkin merupakan hasil usaha atau kuasa dari manusia maupun roh jahat. Eksistensi dan persatuan Gereja Katolik  merupakan kuasa dan karya Roh Kudus!

Seorang non-Katolik dan juga non–Kristen menyatakan hasil pengamatannya. Ia merasa heran bahwa yang disebut-sebut dan diserang oleh aliran/ajaran hitam selalu Gereja Katolik, sedang agamanya, maupun agama lain, tidak disebut-sebut. Misalnya: dalam musik rock, dimana ada “pesan-pesan” untuk bunuh diri, free-sex, dll., ada ungkapan-ungkapan yang menyerang dan memaki Gereja Katolik. Tidakkah hasil pengamatan ini mengungkapkan bahwa Gereja Katolik dianggap musuh besar oleh si jahat? Juga, jika kita mengingat adanya usaha-usaha pencurian Hosti Kudus (hosti yang sudah dikonsekrasi) oleh gereja setan, misalnya untuk misa hitam mereka dimana Hosti itu dihina, dll.


Buah dari Doa dan Sabda Yesus

Sebelum meninggalkan para rasul dan kembali ke surga, Yesus berdoa agar pengikut-Nya sempurna bersatu sehingga menjadi “tanda” bagi dunia (lih. Yoh 17:1 dst.). Kuasa dan buah dari doa Yesus ini tampak jelas dalam persatuan Gereja Katolik.

 “[…] bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku” (Yoh 17:20-23)

Eksistensi dan persatuan Gereja Katolik juga mengingatkan kita akan sabda-sabda Yesus lainnya, antara lain:

Sesaat setelah Petrus, karena rahmat Allah Bapa, mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, Putra Allah yang hidup (bdk. Mat 16:16-17), maka Yesus jelas-jelas meneguhkan Petrus sebagai “fondasi Gereja-Nya”: “[…] Aku pun berkata kepadamu: ‘Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga’” (Mat 16:19).

“Peran istimewa” Petrus ini juga tampak dalam sabda Yesus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? […] Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kita tahu bahwa Petrus—pemimpin para rasul—bagi Gereja Katolik adalah Paus pertama. Jabatan ini diteruskan turun-temurun kepada paus-paus berikutnya. Demikian juga para uskup merupakan pengganti para rasul.

Sebelum naik ke surga Yesus mengutus para rasul dan berjanji akan menyertai mereka tidak hanya beberapa tahun, tetapi sampai akhir zaman:

“Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku […]. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Mat 28:18-20).

Eksistensi dan persatuan Gereja Katolik juga merupakan buah dan sekaligus bukti janji penyertaan Yesus yang Dia genapi.

Sampai ke Surga dan Api Penyucian

Sebenarnya persatuan Gereja Katolik tidak hanya menjangkau atau meliputi seluruh dunia, tetapi sampai ke api penyucian, bahkan surga. Kita mendoakan jiwa-jiwa di api penyucian dan kita mohon perantaraan doa para kudus di surga seperti seorang adik yang meminta bantuan dari kakak-kakaknya. Tidakkah Yesus sendiri selama hidup-Nya di dunia, selain berdoa kepada Bapa, juga “berbicara” kepada Musa dan Elia, tentang misi-Nya melaksanakan kehendak Bapa? Musa dan Elia adalah orang-orang kudus yang saat itu sudah meninggal dunia.

“Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia. Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem” (Luk 9:29-31).

Bukankah ini merupakan suatu persatuan yang indah dalam melaksanakan kehendak Bapa? Jika kita melaksanakan kehendak Bapa, apa anehnya jika seluruh isi surga mendoakan dan mendukung kita?

Buah dari Ekaristi

Persatuan Gereja Katolik juga mengingatkan kita akan perayaan Ekaristi. Ekaristi dirayakan setiap hari di seluruh dunia, kecuali Jumat Agung. Jadi, setiap hari 24 jam kurban salib Kristus dihadirkan kembali terus-menerus melalui perayaan Ekaristi (Kurban Kristus tidak diulangi, tetapi kurban Kristus yang satu itu dihadirkan kembali. Hal ini mungkin karena Tuhan tidak dibatasi ruang dan waktu: “[...] di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari” (2Ptr 3:8)). Saat belahan bumi yang satu sedang malam, belahan bumi yang lain sedang siang. Dalam perayaan Ekaristi Gereja berdoa untuk dan dalam persatuan Gereja.

Hal ini bisa kita lihat dari doa-doa yang dipanjatkan, misalnya dalam Doa Syukur Agung: “Bapa, perhatikanlah Gereja-Mu yang tersebar di seluruh bumi. Sempurnakanlah umat-Mu dalam cintakasih, dalam persatuan dengan Paus kami ….. dan Uskup kami ….., serta para imam, diakon, dan semua pelayan sabda-Mu”, “Ingatlah (pula) akan saudara-saudari kami, kaum beriman, yang telah meninggal dengan harapan akan bangkit, dan akan semua orang yang telah berpulang dalam kerahiman-Mu. Terimalah mereka dalam cahaya wajah-Mu”, juga dalam prefasi: “Maka, kami melambungkan madah kemuliaan bagi-Mu bersama para malaikat dan seluruh laskar surgawi yang tak henti-hentinya bernyanyi / berseru: ‘Kudus, kudus, […]’.

Eksistensi dan persatuan Gereja Katolik merupakan buah dari kurban salib Kristus yang dihadirkan terus-menerus setiap hari (kecuali Jumat Agung) ke hadapan Bapa melalui Ekaristi.


Para Kudus

Fakta lain yang menarik adalah keajaiban-keajaiban yang sering terjadi pada jenasah para kudus. Misalnya:

St. Yohanes dari Salib (1542-1591). Pada malam setelah penguburan St. Yohanes dari Salib tampaklah cahaya yang sangat cemerlang selama beberapa menit. Sembilan bulan setelah kematiannya, saat kuburnya dibuka dengan maksud untuk memindahkan tulang-tulangnya, terciumlah bau harum dan ternyata tubuhnya—walaupun tanpa pengawet—masih utuh, segar, dan tetap lentur (tidak kaku),. Saat salah satu jarinya diamputasi, darah segar mengucur, seperti layaknya orang yang masih hidup. Sembilan bulan kemudian saat kubur dibuka kembali untuk memindahkan jenasah itu, bau harum menyelimuti seluruh ruangan. Dalam perjalanan, bau harum tetap semerbak, walaupun jenasah tersebut sudah dibungkus plastik, sehingga orang-orang yang berjumpa bertanya apa isi plastik itu. Terakhir kubur digali pada tahun 1955 dan didapati bahwa tubuhnya seutuhnya lentur serta tidak kering, walaupun ada sedikit perubahan warna.

St. Bernadet Soubirous (1844-1879). Sudah seratus tahun sejak kematiannya, jenasah St. Bernadet tetap utuh, walaupun tanpa pemakaian balsam atau bahan pengawet.

Tidakkah fakta ini meneguhkan iman kita akan hidup kekal dan mengingatkan kita akan sabda-sabda Yesus? Misalnya:

“[…] Aku pun berkata kepadamu: ‘Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. […]’” (Mat 16:19).

“Akulah roti hidup. […]. Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. […] Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:48.50.54).

Proses pemberian gelar kudus—venerabilis, beata/o, santa/o—(proses beatifikasi, kanonisasi) dalam Gereja Katolik tidaklah mudah. Kadar iman, harapan, kasih, serta kebajikan-kebajikan dari orang yang bersangkutan semasa hidupnya akan dilihat dan ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Salah satu syaratnya adalah harus ada mujizat yang terjadi berkat perantaraan doanya sesudah ia meninggal. Syarat ini tidak mungkin dipenuhi oleh kuasa manusiawi belaka. Tidakkah ini “stempel surgawi”? Suatu pengesahan (peneguhan) ilahi dari surga. Ini juga mengingatkan kita akan “pengesahan/peneguhan” langsung Bapa dari surga akan Yesus, Putra-Nya, "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia" (Mat 17:5). St. Paulus mengatakan, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Rm 8:29). Jika orang tersebut benar-benar kudus, tentu setelah meninggal jiwanya masuk surga, bersatu dengan Tuhan, dan tidak di neraka. Dan, tentu Tuhan mengabulkan doanya karena doa orang benar sangat besar kuasanya (bdk. Yak 5:16).


Beberapa Poin Lain

Sakramen-Sakramen Gereja

Sakramen-sakramen sungguh-sungguh merupakan kekayaan Gereja Katolik yang tak terkatakan, dimana kita bisa mengalami Kristus dalam hidup kita secara nyata, efektif, kelihatan. Misalnya:

Sakramen Ekaristi

Sakramen Ekaristi adalah salah satu kekayaan dan rahmat luar biasa yang tak tergantikan bagi seorang katolik karena ia menerima Tubuh dan Darah Kristus sendiri. Beberapa ayat Kitab Suci tentang ini: Yoh 6:35.55; 1Kor 10:16;11:27-30; dll. Sebenarnya menyambut komuni sekali seumur hidup saja kita tidak layak.

Sakramen Tobat (Sakramen Pengakuan Dosa)

Sakramen Tobat juga merupakan kekayaan dan rahmat luar biasa dimana seorang katolik mengakukan dosanya dan menerima pengampunan Tuhan secara begitu nyata dan eksplisit. Tidak jarang orang Katolik mengabaikan rahmat dan kesempatan istimewa ini dengan berbagai dalih: “Buat apa mengaku dosa ke romo. Cukup mengaku dosa langsung ke Tuhan”, “Ah, romonya juga manusia … penuh dosa”, dll. Tanpa sadar orang-orang demikian menganggap dirinya lebih pintar dan lebih bijaksana daripada Tuhan Yesus sendiri. Kenapa? Karena, Yesus sendirilah yang mengatakan kepada para rasul, "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada"” (Yoh 20:22-23).

Maria, Bunda Allah

“Posisi” Bunda Maria yang istimewa dalam Gereja Katolik juga merupakan rahmat yang tidak kecil bagi seorang Katolik. Bunda Maria yang adalah Bunda Tuhan juga ditentukan Tuhan sendiri untuk menjadi Bunda kita juga:

Melalui mulut Elisabet, Roh Kudus mengajar kita untuk menyebut Maria sebagai “Ibu Tuhan” dan untuk menyadari kerendahan kita di hadapan Maria.

“[…] ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? (Luk 1:41-43)

Di atas kayu salib, Yesus pun menyatakan relasi ini: “[…] berkatalah Ia kepada ibu-Nya: ‘Ibu, inilah, anakmu!’ Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: ‘Inilah ibumu!’ “ (Yoh 19:26-27). Yohanes, satu-satunya rasul yang ada di situ, merupakan wakil dari murid-murid Kristus lainnya. Bukanlah hal kecil untuk memiliki Ibu Tuhan yang begitu suci menjadi ibu kita sendiri!

Penutup

Masalah agama pertama-tama adalah masalah kebenaran. Semoga artikel ini memperdalam iman dan motivasi Anda sebagai seorang Katolik.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting