User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

Pendahuluan
    Para imam, berkat tahbisan dan perutusan yang mereka terima dari Uskup, diangkat untuk melayani Kristus yang adalah Guru, Imam, dan Raja. Mereka ikut melaksanakan pelayanan-Nya, sehingga Gereja dengan tiada henti-hentinya dibangun menjadi umat Allah, Tubuh Kristus, dan Kenisah Roh Kudus.

1. IMAMAT DALAM PERUTUSAN GEREJA
 
Hakikat Imamat
     Tuhan Yesus, yang diutus oleh Allah Bapa ke dunia sebagai Penyelamat, mengikut-sertakan seluruh Tubuh Mistik-Nya dalam pengurapan Roh yang diterima-Nya sendiri (Mat. 3:16; Luk. 4:18). Semua umat beriman mengambil bagian dalam Imamat Kristus yang kudus dan rajawi untuk mempersembahkan kurban-kurban rohani kepada Allah melalui Yesus Kristus dan mengalami kekuatan-Nya, yang memanggil mereka keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang mengagumkan (1 Ptr. 2:5,9), sehingga kemudian dengan semangat kenabian mereka dapat memberi kesaksian tentang Kristus itu kepada dunia (LG, art. 35).
     Tuhan itu juga mengangkat di tengah mereka para pelayan yang mempunyai kuasa Tahbisan suci untuk mempersembahkan Kurban dan mengampuni dosa-dosa (DENZ. 957 dan 961). Sebagai pengganti para Rasul, para Uskup mengikut-sertakan para imam menjadi rekan kerja mereka untuk melaksanakan misi kerasulan. Melalui Sakramen Imamatnya dan berkat pengurapan Roh Kudus, para imam ditandai dengan meterai istimewa dan dijadikan serupa dengan Kristus Sang Imam, sehingga mereka mampu bertindak dalam pribadi Kristus Kepala (LG, art. 10). Pelayanan mereka bermula dari warta Injil dan menerima daya kekuatannya dari Kurban Kristus, dan melalui pelayanan mereka itu kurban rohani kaum beriman mencapai kepenuhannya dalam persatuan dengan Kurban Kristus Pengantara Tunggal, yang dipersembahkan secara tak berdarah dan sakramental dalam Ekaristi atas nama seluruh Gereja sampai kedatangan Tuhan sendiri (Lih. 1 Kor 11:26).
     Tujuan yang mau dicapai oleh para imam melalui pelayanan dan hidup mereka ialah kemuliaan Allah Bapa dalam Kristus Yesus. Itu dilaksanakan melalui persembahan waktu mereka untuk berdoa dan bersembah sujud kepada Allah, mewartakan Sabda, mempersembahkan Kurban Ekaristi, menerimakan Sakramen-sakramen, dan menjalankan berbagai macam bentuk pelayanan kepada sesama, yang kesemuanya bersumber pada Paska Kristus dan akan mencapai kepenuhannya pada kedatangan Tuhan penuh kemuliaan-Nya, ketika Dia menyerahkan Kerajaan kepada Allah dan Bapa (Lih. 1 Kor. 15:24).

Situasi Para Imam di Dunia
     Seperti teladan Tuhan Yesus yang tinggal di tengah-tengah umat manusia, para imam juga bergaul dengan umatnya sebagai saudara-saudarinya. St. Paulus juga memberi teladan serupa ketika dia mengatakan bahwa ia telah menjadi segalanya bagi semua orang, untuk menyelamatkan semua orang (Lih. 1 Kor. :19-23). Akan tetapi pelayanan mereka sebagai gembala bagi domba-domba meminta supaya mereka tidak menyesuaikan diri dengan dunia ini, sehingga mereka dapat menjadi saksi dan pembagi kehidupan yang lain dari kehidupan di dunia ini. Mereka juga harus mengajak domba-domba yang tidak termasuk kawanan itu supaya mereka pun mendengarkan suara Kristus, sehingga terjadilah satu kawanan dan satu Gembala (Lih. Yoh. 10: 14-16). Untuk mencapai tujuan itu sudah selayaknya para imam memupuk keutamaan-keutamaan, misalnya: kebaikan hati, kejujuran, keteguhan hati dan ketabahan, semangat mengusahakan keadilan, sopan santun, dll.
www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting