Print
Hits: 9794

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Pengantar

Natal pada dasarnya adalah satu perayaan dengan objek peringatan yang sama yakni: Misteri Inkarnasi Sang Sabda. Akan tetapi aksen perayaannya berbeda antara Gereja Barat dan Gereja Timur. Perbedaan ini menjadi tegas sejak akhir abad keempat di mana Natal bagi Gereja Barat adalah 25 Desember dan bagi Gereja Timur 6 Januari.

 

1.  Awal Mula Perayaan Natal

Sejarah mencatat bahwa pada tahun 336 perayaan Natal diadakan di Roma pada tanggal 25 Desember. Santo Agustinus pun mencatat tanggal yang sama dirayakan di Afrika Utara.  Di dalam perkembangan selanjutnya melewati Italia Utara dan Spanyol dan menjadi suatu perayaan besar di dalam Tahun Liturgi Gereja. Santo Yohanes Krisostomus di dalam khotbahnya menandaskan bahwa perayaan Natal pada 25 Desember itu berbeda aspeknya dari Perayaan Epifania pada 6 Januari, menurut pemahaman Gereja Barat. Mengapa justeru memilih tanggal 25 Desember?

Terus terang apakah benar Yesus dilahirkan pada tanggal tersebut. Yang jelas ialah Gereja mengambil alih tanggal tersebut dari pesta kafir bangsa Romawi yang terkenal dengan ungkapan, “Dies Natalis (Solis) invicti”: Hari Raya Kelahiran Dewa Matahari yang Tak Terkalahkan. Pemujaan terhadap dewa Matahari amat kuat di masa itu dan dirayakan secara khusus pada saat-saat titik balik peredaran matahari.

Untuk menjauhkan umat beriman dari gagasan yang kafir itu, Gereja menggantinya dengan misteri kelahiran Kristus Yesus sebagai Sang Matahari Sejati yang menerangi setiap insan. Selain dari itu ketetapan tanggal perayaan Natal tersebut dipertegas sebagai tantangan balasan terhadap bidaah-bidaah kristologis lewat konsili di Nisea dan Efesus, Kalsedon dan Konstantinopel dalam abad keempat dan kelima. Santo Leo Agung meresmikan perayaan Natal sebagai kesempatan emas untuk memperteguh iman akan misteri Allah yang menjelma menjadi manusia.

 


2.  Struktur Liturgi Masa Natal

Masa Natal dihitung mulai Ibadat Sore I Hari Raya Natal sampai hari Minggu sesudah perayaan Epifania yang biasanya merupakan Pesta Pembaptisan Tuhan, tetapi sekaligus juga sebagai Hari Minggu Biasa I. Sesuai dengan tradisi Romawi sejak abad VI Natal dirayakan dengan tiga Perayaan Ekaristi. Misale baru tahun 1970 tetap mempertahankan kebiasaan ini dengan pengaturan sebagai berikut:

Natal sungguh dilihat sebagai suatu perayaan Penebusan kita, walaupun tidak secara langsung menampilkan Misteri Wafat dan Kebangkitan tetapi berkaitan dan sungguh bercorak Paskah.

 

Beberapa Perayaan Selama Masa Natal

Suatu hal yang perlu kita pahami mengenai beberapa pesta sesudah 25 Desember. Berdasarkan penanggalan yang tertua beberapa pesta orang kudus dirayakan segera sesudah Natal, yakni Santo Stefanus Martir, Santo Yohanes Rasul dan Pengarang Injil, Kanak-kanak Suci Martir, tiga pesta dalam Oktaf Natal ini disebut “Comites Christi” yakni para pengiring Kristus.

Hari Minggu di dalam Oktaf Natal dirayakan Pesta Keluarga Kudus, boleh dikatakan tergolong pesta devosional, yang muncul dari Kanada, abad XIX. Keluarga suci di Nasaret sangat disadari sebagai pelindung semua keluarga kristiani dari berbagai ancaman dunia.

 

Kisah Perayaan pada 1 Januari

Kaisar Yulius Caesar pada tahun 46 sebelum Kristus memindahkan hari awal Tahun Baru dari 1 Maret ke 1 Januari. Bangsa kafir Romawi merayakan pesta Tahun Baru pada 1 Januari ini sambil menghormati dewa Yanus Bifronte dengan sukaria yang tak terkendali, bercampur tahyul dan kemesuman.

Gereja segera mengambil kebijaksanaan khusus untuk melindungi umat beriman dari keterlibatan yang kafir itu, dengan mengadakan puasa. Ada Ekaristi khusus dengan judul “Ad prohibendum ab Idolis” supaya terhindar dari dewa-dewa kafir. Di dalam khotbahnya Santo Agustinus berkata:

 

Orang-orang itu suka saling memberi hadiah pada hari tahun baru, tetapi kamu harus memberi sedekah, mereka suka menyanyikan lagu-lagu kotor sambil berteriak-teriak, tetapi kamu harus mengarahkan perhatianmu pada kata-kata Kitab Suci, mereka suka bergegas ke teater, tetapi kamu hendaknya ke dalam Gereja, mereka suka mabuk-mabukkan dan pesta pora, tetapi kamu harus berpuasa (Sermo 198).

 

Gereja sengaja mengisi tanggal 1 Januari dengan pesta Maria yakni: peringatan kelahiran Bunda Allah. Sejak abad VI dirayakan pula dengan pesta Tuhan Yesus disunat. (Setelah delapan hari menurut adat Yahudi, Luk 2: 21). Pembaruan penanggalan tahun 1969 memuat ketetapan sebagai berikut:

 

Pada tanggal 1 Januari, dalam oktaf Natal, dirayakan Solemnitas Maria Bunda Allah di mana dikenang pula pemberian Nama tersuci Yesus (PTLPL 35f)

 


3.  Teologi Perayaan Natal

Secara singkat dapat dikatakan bahwa Perayaan Natal mau menggarisbawahi Misteri Kedatangan Tuhan Yesus, Putra Allah dalam rupa daging manusia yang secara konkret dilahirkan oleh Santa Perawan Maria di Betlehem. Sungguh mau ditekankan di sini data historis misteri inkarnasi, sehingga peristiwa-peristiwa historis yang mengelilingi kelahiran Sang Penebus pun berperanan penting.

Gereja mengajak kita sekalian untuk memandang misteri penyelamatan kita tidak melulu dalam awan interpretasi yang surgawi, justru karena kehadiran Yesus secara manusiawi. Memang objek perayaan tidak terbatas pada nilai historisnya saja sebab di dalamnya penting pula kita melihat keseluruhan gagasan yang mengitari peristiwa itu. Tetapi tetap tak dapat disangkal kenyataan bahwa data historis itu adalah bukti dasar yang sungguh nyata yang mau diwartakan oleh Gereja.

 

a.  Natal sebagai Misteri Keselamatan

Paus Leo Agung menyadari bahwa misteri Natal mempunyai dasar teologis yang sungguh mendalam sehingga menggolongkannya ke dalam tingkat “solemnitas”. Ia selalu berbicara tentang misteri kelahiran Yesus (“Sacramentum nativitatis Christi”) untuk menunjukkan nilai yang menyelamatkan dari peristiwa kelahiran itu, dan sekaligus menghayatinya tidak sekedar sebagai fakta masa lampau tetapi yang terus menerus menjadi baru bagi yang hidup sekarang ini. “Sang Sabda telah menjadi daging…” (Yoh 1:14).

Kalau Natal adalah Misteri (Sakramen) Keselamatan maka harus dilihat pula sebagai titik awal Misteri Paskah di mana “daging” yang hadir di tengah kita akan menjadi kurban sembelihan bagi Allah untuk menghapus dosa dunia.

Santo Leo Agung sebagai Paus di masa konsili di Kalsedon berjasa besar bagi pendasaran teologis misteri Inkarnasi yang diungkapkannya sebagai “pernyataan diri Tuhan dalam rupa daging” dan hal ini menjadi argumen dasar melawan penafsiran-penafsiran keliru berbagai aliran: gnostisisme, arianisme, docetisme, manikeisme, dan monofisitisme.

 

b. Natal sebagai Persilangan yang Menakjubkan Antara Kodrat Ilahi

     dan Kodrat Manusiawi

Singkatnya dapat dikatakan: Allah menjadi manusia supaya manusia menjadi Allah. Inisiatif pertama datang dari Allah lewat misteri Inkarnasi Kristus: Sang Sabda telah mengambil apa yang menjadi milik kita supaya memberikan kepada kita apa yang menjadi milik-Nya.

Tindakan berikutnya merupakan ungkapan partisipasi kita selama hidup ini pada kodrat ilahi Sang Sabda: Penyelamat dunia yang baru ini lahir telah memberikan kita warisan sebagai anak-anak Allah (bdk. rumusan doa Ekaristi hari Natal).

 

 

c. Natal Berkaitan dengan Misteri Paskah

“Putra Allah telah memilih bagi diri-Nya tubuh manusiawi supaya mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban yang sungguh-sungguh dan bersifat pribadi kepada Allah Bapa” (Ibr 10: 5-10).

Baik di dalam misteri Natal maupun misteri Paskah kita melihat bahwa dasarnya satu dan sama, yakni perayaan penebus kita. Tetapi Natal lebih sebagai perayaan kelahiran karya penebusan, dan Paskah merupakan perayaan kekuatan penebusan.

Liturgi Natal mengungkapkan secara jelas ikatan misteri Paskah di dalam:

Bacaan kedua Ekaristi Malam, Tit 2: 14

Bacaan kedua Ekaristi Siang, Ibr 1: 1-6

Prefasi Natal

 

Dalam keseluruhan pandangan teologis perayaan Natal kita melihat bahwa Natal sekaligus merupakan awal mula kehidupan Gereja. “Kelahiran Kristus adalah pokok pangkal kelahiran baru segenap umat Kristiani: kelahiran Kepala, adalah awal kelahiran semua anggota Tubuh Mistik”, demikian ungkapan Santo Leo Agung.

 



4. Spiritualitas Perayaan Natal

Yang dilihat pada misteri Natal janganlah sekedar aspek kemiskinan dan kerendahan penampilan Tuhan. Semuanya ini memang patut dicontoh, tetapi di atas semuanya itu perlu disadari bahwa misteri Natal memberi kepada kita anugerah untuk menjadi serupa dengan Allah. Kehadiran Tuhan mengarahkan kita untuk terlibat dan berperan serta di dalam hidup ilahi. Spiritualitas Natal adalah Spiritualitas pengangkatan nilai kemanusiaan kita menjadi anak-anak Allah.

Di dalam penghayatan iman tidaklah tepat memandang Allah sebagai “di luar diri kita”, sebab justeru berkat misteri Natal mau dihidupkan kembali Kristus yang selalu berada di dalam diri kita dengan sikap-sikap-Nya yang penuh cinta, setia, sederhana, taat, rendah hati, suci, dan lain sebagainya, yang sekaligus menjadi teladan kita. Santo Leo Agung mengajak umat pada perayaan Natal untuk menyadari diri lagi akan keluhuran kodrat kita sebab dengan turut serta ke dalam kodrat ilahi, kita hendaknya semakin menolak cara dan semangat hidup manusia lama.

Di samping itu aspek eklesial yang perlu mendapatkan perhatian dalah cinta persaudaraan sebab kita semua merupakan satu Tubuh dengan banyak anggota di mana Kristuslah Pemimpinnya. Kegiatan Pastoral selama masa Natal seharusnya dengan tujuan membentuk sikap yang otentik dalam Kristus sebab “hanya dalam misteri Sabda menjadi daging, hidup manusia menemukan cahaya yang benar dan sejati” (GS 22). Dewasa ini pun perayaan Natal hendaknya dilaksanakan secara meriah sebagai perayaan “pengangkatan harga kemanusiaan kita”. “Sesungguhnya Kristus yang adalah Adam Baru mewahyukan misteri cinta Bapa dalam cara manusia sehingga semua orang mengenal Panggilan-Nya yang sangat luhur itu” (GS 22).

 

Penutup

Berdasarkan uraian dan penjelasan Rm. Bosco da Cunha dalam artikel ini, semakin jelaslah pemahaman kita tentang makna Natal dalam Liturgi Gereja. Yang jelas kita tidak hanya sekedar merayakan, mengalami sukacita, berpakaian serba baru dan nyanyian natal yang indah. Namun, perayaan Natal lahir dalam kesatuan dengan Perayaan Paskah di mana Allah yang menjadi manusia dalam Pribadi Kristus menyelamatkan manusia dalam sengsara dan kebangkitan-Nya. Semoga dengan pemahaman yang benar, kita dituntun juga untuk menghayati secara benar pula.

 

Sumber: Bosco da Cunha, Merayakan Karya Keselamatan dalam Kerangka Tahun Liturgi, Yogyakarta: Kanisius, 1992, hlm. 58-64.