User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

2.  Struktur Liturgi Masa Natal

Masa Natal dihitung mulai Ibadat Sore I Hari Raya Natal sampai hari Minggu sesudah perayaan Epifania yang biasanya merupakan Pesta Pembaptisan Tuhan, tetapi sekaligus juga sebagai Hari Minggu Biasa I. Sesuai dengan tradisi Romawi sejak abad VI Natal dirayakan dengan tiga Perayaan Ekaristi. Misale baru tahun 1970 tetap mempertahankan kebiasaan ini dengan pengaturan sebagai berikut:

  • Ekaristi Malam, terutama diwarnai oleh perikop evangelis tentang kelahiran Yesus Kristus di Betlehem (Luk 2: 1-14).
  • Ekaristi Fajar, atau Misa para gembala, diambil dari bacaan InjilNya di mana perjumpaan yang sangat sederhana tetapi mengesankan antara para gembala dengan kanak-kanak Yesus di palungan (Luk 2: 15-20).
  • Ekaristi Siang, dengan bacaan yang diambil dari prolog Injil Yohanes: misteri Sabda menjadi daging dan tinggal di antara kita (Yoh 1: 1-18).

Natal sungguh dilihat sebagai suatu perayaan Penebusan kita, walaupun tidak secara langsung menampilkan Misteri Wafat dan Kebangkitan tetapi berkaitan dan sungguh bercorak Paskah.

 

Beberapa Perayaan Selama Masa Natal

Suatu hal yang perlu kita pahami mengenai beberapa pesta sesudah 25 Desember. Berdasarkan penanggalan yang tertua beberapa pesta orang kudus dirayakan segera sesudah Natal, yakni Santo Stefanus Martir, Santo Yohanes Rasul dan Pengarang Injil, Kanak-kanak Suci Martir, tiga pesta dalam Oktaf Natal ini disebut “Comites Christi” yakni para pengiring Kristus.

Hari Minggu di dalam Oktaf Natal dirayakan Pesta Keluarga Kudus, boleh dikatakan tergolong pesta devosional, yang muncul dari Kanada, abad XIX. Keluarga suci di Nasaret sangat disadari sebagai pelindung semua keluarga kristiani dari berbagai ancaman dunia.

 

Kisah Perayaan pada 1 Januari

Kaisar Yulius Caesar pada tahun 46 sebelum Kristus memindahkan hari awal Tahun Baru dari 1 Maret ke 1 Januari. Bangsa kafir Romawi merayakan pesta Tahun Baru pada 1 Januari ini sambil menghormati dewa Yanus Bifronte dengan sukaria yang tak terkendali, bercampur tahyul dan kemesuman.

Gereja segera mengambil kebijaksanaan khusus untuk melindungi umat beriman dari keterlibatan yang kafir itu, dengan mengadakan puasa. Ada Ekaristi khusus dengan judul “Ad prohibendum ab Idolis” supaya terhindar dari dewa-dewa kafir. Di dalam khotbahnya Santo Agustinus berkata:

 

Orang-orang itu suka saling memberi hadiah pada hari tahun baru, tetapi kamu harus memberi sedekah, mereka suka menyanyikan lagu-lagu kotor sambil berteriak-teriak, tetapi kamu harus mengarahkan perhatianmu pada kata-kata Kitab Suci, mereka suka bergegas ke teater, tetapi kamu hendaknya ke dalam Gereja, mereka suka mabuk-mabukkan dan pesta pora, tetapi kamu harus berpuasa (Sermo 198).

 

Gereja sengaja mengisi tanggal 1 Januari dengan pesta Maria yakni: peringatan kelahiran Bunda Allah. Sejak abad VI dirayakan pula dengan pesta Tuhan Yesus disunat. (Setelah delapan hari menurut adat Yahudi, Luk 2: 21). Pembaruan penanggalan tahun 1969 memuat ketetapan sebagai berikut:

 

Pada tanggal 1 Januari, dalam oktaf Natal, dirayakan Solemnitas Maria Bunda Allah di mana dikenang pula pemberian Nama tersuci Yesus (PTLPL 35f)

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting