User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Pada zaman sekarang praktek pengakuan dosa atau menerima Sakramen Tobat (Sakramen Rekonsiliasi) mengalami kemerosotan yang cukup memprihatinkan. Kenyataan yang dapat kita lihat, antrean panjang di depan ruang pengakuan Gereja hanya ada pada saat menjelang Natal dan Paskah. Sedangkan pada hari-hari yang lain, dapat dikatakan hampir tidak ada yang datang untuk mengaku dosa. Padahal manusia berbuat dosa tidak hanya pada saat menjelang Natal atau Paskah saja. Tetapi setiap hari manusia dapat berbuat dosa, bahkan dalam satu hari manusia dapat berbuat dosa banyak sekali, baik disadari maupun tidak disadari.

Dalam suatu retret yang diadakan di Pertapaan Karmel, banyak ungkapan-ungkapan jujur yang sangat mengejutkan. Dengan jujur mereka mengatakan bahwa pengakuan dosa yang mereka lakukan saat itu adalah pengakuan yang dilakukannva pertama kali setelah bertahun-tahun menjadi Katolik tidak pernah mengaku dosa.

Atau ada yang mengatakan pengakuan dosa terakhir kali yang dilakukan adalah lima belas tahun yang lalu, sehingga dia sudah lupa cara-caranya. Mengapa sampai terjadi waktu itu, rupanya salah satu penyebab utama dan kemerosotan praktek pengakuan dosa ini adalah kurang adanya pengertian tentang Sakramen Tobat.

Karena dosa, manusia dapat terpisah dan Allah. Keterpisahan ini dapat menyebabkan kebinasaan manusia. Tetapi karena Allah sangat mencintai manusia, Dia tidak menghendaki satu orang pun binasa sehingga Ia mengutus Putera-Nya yaitu Yesus Kristus untuk menyatukan kembali manusia dengan Allah. Selama hidup-Nya di dunia, Yesus melakukan banyak hal untuk menyelamatkan manusia, bahkan sampai mengorbankan diri-Nya wafat di salib. Tetapi kemudian Dia bangkit kembali dan mengalahkan maut serta kembali kepada Bapa untuk semakin mengukuhkan keselamatan manusia. Setelah kembali kepada Bapa, bukan berarti karya Yesus di dunia berakhir. Dia sudah menganugerahkan kepada kita sakramen-sakramen melalui Gereja sebagai tanda bahwa Dia tetap hadir di tengah-tengah umat manusia dan akan menyelamatkan mereka.

Salah satu sakramen yang diberikan oleh Yesus adalah Sakramen Tobat atau Sakramen Rekonsiliasi. Sakramen mi diberikan oleh Yesus karena Dia mengetahui kelemahan manusia dan kekuatan setan yang berusaha terus-menerus menarik manusia kepada dosa. Melalui Sakramen Tobat, manusia menerima pengampunan dan rahmat belas kasihan Allah, sehingga manusia disatukan kembali dengan Allah dan Gereja. Jadi, Sakramen Tobat memiliki kuasa membebaskan manusia dan dosa dan kuasa untuk mempersatukan manusia kembali dengan Allah. Sakramen Tobat dapat sungguh-sungguh berdaya guna bila memiliki empat unsur pembentuknya yaitu: tobat, pengakuan, absolusi dan penitensi.

1. Sikap Tobat

Pemberian Sakramen Tobat, selain menunjukkan bahwa Allah mau mengampuni manusia, juga menunjukkan atau mengandaikan bahwa manusia sendiri ingin dan mau diampuni. Jadi dalam Sakramen Tobat ada keterlibatan kita sebagai penerima sakramen. Keterlibatan yang harus kita berikan terwujud dalam suatu sikap tobat. Kalau dengan melakukan dosa berarti manusia menolak Allah, sehingga terpisah dari-Nya, maka dengan mengambil sikap tobat berarti manusia menolak dosa dan segala hal yang bertentangan dengan hukum Allah. Dia yang awalnya memalingkan diri dan Allah, sekarang mengarahkan pandangannya lagi kepada Allah.

Bagaimanakah sikap tobat yang baik dan benar? Sikap tobat yang baik dan benar adalah sikap tobat yang dilandasi oleh rasa cinta kepada Allah. Karena cinta itu, ia sadar bahwa diri dan perbuatannya sudah melukai Dia yang dicintainya. Inilah sikap tobat ideal yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang. Janganlah sikap tobat kita hanya dilandasi oleh rasa takut, malu dan sungkan, kalau dikatakan tidak berani mengaku dosa. Juga janganlah kita mengaku dosa karena takut pada dosanya. Tetapi mengaku dosalah justru karena sadar bahwa kita sudah melukai Dia yang mencintai kita dan kita cintai pula. Kalau kita dapat melakukan hal ini, sudah menunjukkan bahwa kita telah menjadi pribadi dewasa yang sudah dapat melihat nilai yang indah dan kasih dan cinta Tuhan, tidak hanya bersaksi karena adanya dosa.

Konkretnya, yang dituntut dalam pertobatan adalah sikap jujur mengakui bahwa ada hal-hal yang keliru dalam hidup kita yang membutuhkan perubahan. Kemudian dengan rendah hati menyatakan kesediaan untuk berubah, sadar bahwa kita mau berpaling dan segala perbuatan salah serta mengambil keputusan untuk berusaha tidak melakukan hal itu lagi. Akhirnya kita mau mohon ampun kepada Tuhan atas segala dosa dan kesalahan kita. Semua hal di atas kita wujudkan secara konkret dengan masuk ke dalam ruang pengakuan untuk mengakui dosa kita dan menerima pengampunannya.


2. Pengakuan

Pengakuan adalah wujud keterlibatan yang lebih dalam dari pihak manusia. Dalam hal ini yang penting adalah ketulusan kita untuk mengakukan segala dosa yang sudah kita lakukan. Kalau kita sungguh-sungguh mau bertobat, maka pengakuan secara tulus bukanlah sesuatu yang berat untuk dilaksanakan. Ketulusan ini diperlukan sehubungan dengan peran Allah yang diwujudkan melalui wakil-Nya, yaitu imam. Jadi kita harus mengakukan dosa kita secara langsung, jelas dan tulus kepada Allah melalui imam-Nya. Keterbukaan dan ketulusan ini akan membantu Imam untuk mencari sumber yang membuat kita jatuh dalam dosa itu. Misalnya seseorang datang kepada Imam untuk mengaku bahwa ia telah memukul istrinya, dan hal itu sudah menjadi kebiasaannya kalau ia sedang marah. Dia tidak tahu mengapa dirinya sangat ringan tangan. Kalau dia dengan jujur dan tulus mengungkapkan hal ini kepada Imam, maka Imam itu akan memberikan nasehat yang tepat kepadanya. Mungkin ia memiliki luka batin, dulunya sering diperlakukan kasar oleh orang tuanya. Sehingga sikapnya sekarang meniru sikap orang tuanya. Kalau memang benar sumbernya adalah luka batin, maka ia dapat minta untuk didoakan penyembuhan batin. Akhirnya Sakramen Tobat sebagai saat berahmat, sungguh-sungguh mengukuhkan dirinya sepenuhnya.

Kejujuran dan ketulusan dalam mengakukan dosa juga menunjukkan adanya kerendahan hati dan cinta yang mendalam kepada Allah. Sadar bahwa sudah melukai Allah, sehingga dengan kesungguhan hati dapat mengakukan seluruh dosanya dan pada akhirnya dapat menyenangkan hati Allah dan bersatu kembali dengan Dia. Jadi dalam penerimaan Sakramen Tobat yang penting bukanlah sudah berapa kali kita mengaku dosa, tetapi mutu dan pengakuan itu.

 
3. Absolusi

Absolusi adalah penghapusan dosa yang dilakukan Allah hanya melalui imam-Nya. Kuasa yang dimiliki imam mi disebut kuasa untuk melepaskan yang diterima oleh seorang imam lewat tahbisannya. Jadi seorang imam hanyalah wakil Allah, bukan dia sendiri yang mengampuni dosa. Yang dapat mengampuni dosa adalah Allah sendiri, walaupun imamlah yang mengucapkan: “Aku menghapus dosamu dan melepaskan engkau dari…”

Pada saat ini janganlah kita memandang siapa imamnya, tetapi pandanglah Allah yang diwakili oleh kehadiran imam itu. Mungkin ada yang mempertanyakan: “Mengapa kita harus mengakukan dosa melalui seonang imam. Tidakkah lebih baik kita datang secara langsung kepada Yesus, mengaku dosa dan mohon pengampunan-Nya?” Untuk menjawab hal ini, marilah kita lihat kata Yesus dalam Kitab Suci. Dalam Yoh. 20:21-23, Yesus bersabda: “Maka kata Yesus sekali lagi:
Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian Aku juga mengutus kamu. Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: ‘Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.’”

Dan kutipan Injil di atas, terlihat bahwa Yesus melimpahkan kuasa-Nya kepada para rasul untuk menyatakan bahw dosa seseorang sudah dihapus. Dalam praktek pelayanannya Paulus juga menjelaskan hal in kepada jemaat di Korintus dalam suratnya yaitu: 2 Kor 5: 18-20: “Dan semuanya ini dan Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan pemberitaan ini kepada kami.”

Paulus mengatakan bahwa Allah sudah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepadanya sebagai seorang rasul. Pelayanan pendamaian dalam teks ini dapat diartikan sebagai praktek menerima pengakuan dosa, yang dilanjutkan dengan absolusi oleh Paulus. Karena absolusi yang diberikan oleh Paulus atau oleh para rasul lainnya, seseorang yang awalnya terpisah dengan Allah, sekarang disatukan kembali dengan-Nya. Hubungan dengan Allah didamaikan kembali sehingga kesempatan untuk meraih persatuan dengan Allah menjadi terbuka kembali.

Dalam perjalanan sejarah, kita dapat melihat bahwa kedudukan para rasul di tengah jemaat kemudian digantikan oleh para uskup dan para imam. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa kuasa seorang imam untuk memberikan Sakramen Tobat berasal dan Yesus sendiri.


4. Peniten atau Denda Dosa

Selain memberikan absolusi, seorang imam juga memberikan penitensi atau denda dosa. Seorang peniten (yang mengaku dosa dan menerima penitensi) hendaknya melaksanakan denda ini dengan sepenuh hati dan tulus. Kesungguhan dan ketulusan dalam melaksanakan peniten dapat menunjukkan ketulusan tobat peniten itu sendiri. Berat ringannya penitensi yang diberikan, biasanya tergantung dan imam, melihat berat ringannya dosa yang dilakukan dan kebutuhan peniten itu sendiri. Ada imam yang juga meminta ungkapan lahiriah dalam penitensi. Misalnya: setelah mengaku dosa, peniten harus pulang jalan kaki, atau peniten harus melakukan perbuatan baik untuk orang yang telah disakitinya. Imam ini mengatakan bahwa dia meminta hal itu karena dia memandang tobat bukan sekedar sikap hati dan perasaan, tetapi menyangkut juga seluruh pribadinya. Oleh karena itu penitensi juga harus melibatkan ungkapan lahiriahnya. Kalau peniten dapat menjalankan penitensi yang juga bersifat lahiriah itu dengan tulus, maka dia akan menerima rahmat yang sungguh melimpah dan Allah.

Berapa kali kita harus mengaku dosa dalam setahun?

Pertanyaan ini sering terlontar dari orang-orang yang sungguh mau mencari Allah. Pimpinan Gereja memang menentukan minimal setahun satu kali mengaku dosa yaitu saat menjelang Paskah. Tujuannya supaya kita dapat mempersiapkan diri agar semakin mampu menghayati dan menyadari arti sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Sang Penebus dalam diri kita dan melayakkan kita untuk memperingati peristiwa penebusan ini. Tetapi kalau kita mau jujur dan mengakui, kita sebenarnya memerlukan lebih banyak pengakuan dosa dalam setahun, karena tiada hari tanpa melakukan dosa bagi kita. Sekalipun mungkin dosa yang kita lakukan adlaah dosa ringan, tetapi itu tetaplah dosa yang berusaha memisahkan kita dari Allah.

Dengan kesadaran pribadi yang didasarkan atas cinta kepada Allah hendaknya kita menentukan sendiri kapan kita harus mengaku dosa tanpa terikat pada minimalistis yang diumumkan oleh Gereja. Mungkin kita mewajibkan diri kita untuk mengaku dosa sebulan atau dua bulan sekali. Silakan merenungkan dan memutuskan sendiri.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting