User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

 

Bahkan nomor 1091 ini menyebutkan adanya sedikit keraguan saja tentang ada atau tidaknya hubungan sedarah pada 1 pasang calon pengantin, sudah bisa menggagalkan suatu perkawinan Katolik yang sah.

Kemudian di nomor 1092 disebutkan bahwa hubungan semenda dalam garis lurus juga dapat menggagalkan perkawinan. Apakah yang disebut dengan hubungan semenda? Tidak lain adalah hubungan yang diperoleh karena adanya pernikahan, atau hubungan dengan ipar. Jadi seorang ayah atau ibu mertua tidak bisa menikah dengan menantunya. Demikian juga seorang pria atau wanita tidak bisa menikah dengan saudara iparnya.

Dari penjelasan tentang halangan nikah itu, kita bisa melihat bahwa incest sangat ditentang dalam kehidupan Gereja. Mungkin ada yang merasa dan berpikir bahwa Gereja terlalu ketat, mau mengatur segalanya, dan lain sebagainya. Sebenarnya larangan incest yang dikeluarkan oleh Gereja adalah upaya dan juga merupakan wujud kepedulian Gereja akan terciptanya keturunan yang sehat, keluarga yang normal, dan stabilitas kehidupan sosial yang harmonis. Dengan mengharuskan anak untuk mencari pasangan di luar keluarga dekatnya, maka kita akan mendukung anak muda untuk menjadi anggota masyarakat secara keseluruhan dan mencegah terpusatnya kesatuan keluarga yang tidak diinginkan dan penuh keanehan.

Mengapa dikatakan bahwa larangan incest bisa membantu terciptanya keturunan yang sehat? Karena memang pada kenyataannya banyak keturunan cacat mental yang berasal dari orang tua incest. Bahkan banyak juga yang memiliki cacat fisik atau penyakit yang berat. Misalnya kalau dalam garis keturunan terdekat itu, ada anggota keluarga yang menderita penyakit jantung, hal ini akan menjadi penyakit keturunan untuk generasi selanjutnya. Jadi pengaruhnya adalah sangatlah negatif, baik dalam masyarakat maupun dalam keluarga. Singkat kata, hubungan ini tidak sesuai dengan moral yang berlaku umum dalam masyarakat. Lebih dari itu perbuatan tadi dapat menumpulkan suara hati yang baik dan menodai relasi kita dengan Tuhan. Bahkan nafsu tidak hanya menumpulkan suara hati yang baik tetapi juga berakibat pada kerusakan pola hidup yang sehat dan normal.

Orang yang percaya kepada Tuhan pasti dapat membedakan dengan baik mana perbuatan yang benar dan mana yang salah, baik berdasarkan norma-norma umum yang berlaku di masyarakat maupun berdasarkan norma-norma moral dan iman. Seperti misalnya yang dilakukan oleh Paulus dalam 1 Korintus bab 5 ayat 1 sampai dengan 13, yaitu saat dia mengekskomunikasi seorang pria yang melakukan hubungan seksual dengan ibu tirinya sendiri.

Tindakan apakah yang seharusnya diambil oleh orang-orang yang sudah terjebak di dalam penyimpangan seksual ini? Pertama-tama, dia hendaknya memikirkan dan merefleksikan dengan baik segala perbuatannya dan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya itu baik terhadap dirinya maupun di hadapan Tuhan. Setelah itu, dia harus berusaha untuk meningkatkan komunikasi yang penuh kasih antar anggota keluarga, terutama antara ayah, ibu, dan anak. Keakraban dalam keluarga justru akan mengalirkan cintakasih yang baik dalam keluarga itu sendiri. Segala usaha ini akan menumbuhkan sikap jujur terhadap diri sendiri termasuk segala gejolak yang terjadi dalam dirinya. Hal lain yang tak kalah pentingnya untuk diusahakan adalah menghayati ajaran agama dengan baik. Pengaruh yang diberikan oleh penghayatan ajaran iman ini sangat kuat. Penghayatan agama yang baik akan menumbuhkan iman yang baik pula. Dan memang penghayatan nilai-nilai iman memiliki peran penting dalam proses membenahi diri sehingga segala perbuatan yang dilakukan akan banyak dipengaruhi oleh penghayatan iman tersebut.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting