Print
Hits: 1269

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.”

(Mat 22:37-38)

 

“Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"

(Mat 4:10)

Prolog

Dihadapkan pada pertanyaan “Apakah Anda percaya pada Tuhan?” saya yakin hanya sedikit sekali orang yang akan menjawab “Tidak”. Begitupun jika orang-orang yang beragama Kristen atau Katolik ditanya, “Percayakah Anda bahwa Yesus adalah Tuhan?” tentulah akan menjawab, “Saya percaya.” Hal ini wajar dan mereka memang merasa percaya. Namun, kita perlu lebih mencermati kata “percaya” itu. Ada yang beranggapan bahwa “percaya bahwa Yesus adalah Tuhan” itu sudah cukup untuk masuk surga. Kita lupa bahwa setan juga percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, tetapi mereka tidak masuk surga. Kenapa? Karena mereka tidak men-tuhan-kan Yesus dalam diri mereka. Mereka tidak mencintai dan mengabdi Yesus, bahkan membenci dan menentang-Nya. St. Yakobus mengatakan, “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?” (Yak 2:14), karena “iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong” (Yak 2:20).

 

Dosa Manusia Pertama Terulang Kembali?

Pada suatu kesempatan, Rm. Yohanes Indrakusuma, O.Carm mengatakan bahwa dosa manusia jaman ini dapat dibandingkan dengan dosa manusia pertama. Kita tahu bahwa dosa manusia pertama adalah mereka ingin menjadi seperti Allah. Dengan kata lain, mereka mau lepas (mau otonom) dari Allah, tidak mau mengakui ketergantungannya pada Allah. Begitupun manusia jaman ini. Kalau dulu orang masih “mengacu atau memandang” Allah, misalnya dalam hal hukum: eutanasia dan aborsi tidak diperbolehkan mengingat bahwa nyawa adalah ciptaan Tuhan, dll. Sekarang orang cenderung tidak memandang Allah sama sekali. Di banyak tempat semuanya jadi diperbolehkan: aborsi, pernikahan homoseksual, eutanasia, dll. Jika kita jujur, alasannya kurang-lebih sebagai berikut: “Yah, daripada saya repot mengurus anak, mengurus orang tua yang sudah jompo dan tidak bisa apa-apa” “Pernikahan homoseksual boleh? Karena saya suka.” Inti semua jawaban itu adalah “yang penting saya senang, nyaman, enak.” Jadi, “saya”-lah yang menjadi acuan, bukan lagi Tuhan. “Saya” menggantikan “Tuhan.” Manusia menggeser dan merampas posisi dan kedudukan Tuhan. Manusia tidak lagi mengakui Tuhan, Pencipta yang menguasai segalanya. Manusia tidak peduli juga apakah Tuhan berkenan atau tidak.

Dalam bukunya “Menuju Persatuan Cinta Kasih dengan Allah” Rm. Yohanes Indrakusuma, O.Carm mengatakan,

“Bila kita melihat dalam hidup banyak orang, Allah bahkan dikesampingkan, Dia mendapat tempat pinggiran atau yang terakhir dan bukan pada pusat hidupnya. Dan yang paling menyedihkan adalah melupakan Allah sama sekali, suatu bentuk ateisme praktis. Dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan, Allah sudah tidak masuk hitungan lagi, sebab yang diperhitungkan ialah komfor, kenikmatan, rasa enak, dan seringkali semuanya itu dikejar tanpa memperhitungkan realitas Allah, atau Hukum-Nya, bahkan tanpa rasa berdosa samasekali, misalnya banyak orang membuang janin dalam kandungannya tanpa rasa berdosa samasekali. Sungguh mengerikan.”

Konsili Vatikan II menyatakan,

“Makna paling luhur martabat manusia terletak pada panggilannya untuk memasuki persekutuan dengan Allah. [...]. Akan tetapi, banyak di antara orang-orang zaman sekarang sama sekali tidak menyadari hubungan kehidupan yang mesra dengan Allah itu atau tegas-tandas menolaknya, sehingga sekarang ini ateisme memang termasuk kenyataan yang paling gawat, [...]” (GS, no. 19).

Dan, tentang ateisme sistematis, Konsili menjelaskan bahwa penganut ateisme ini mempertahankan “bahwa kebebasan berarti: manusia menjadi tujuan bagi dirinya sendiri; ialah satu-satunya perancang dan pelaksana riwayatnya sendiri” (GS, no. 25). Mereka tidak dapat menerima bahwa Tuhan adalah Pencipta dan tujuan segala sesuatu.

“Karena ateisme menyangkal atau menolak keberadaan Allah, ia adalah dosa melawan keutamaan penyembahan kepada Allah[1]” (Katekismus Gereja Katolik, no. 2125) atau “dosa melawan perintah pertama” (Katekismus Gereja Katolik, no. 2140).

 

Berbagai Gejala Ateisme

Dalam sebuah homili, seorang imam menceritakan anekdot berikut: Pak Karyo mempunyai seorang istri dan tiga orang anak, yaitu Tini, Tina, dan Tono. Pak Karyo seorang yang “gila kerja” (workaholic). Dari hari Senin sampai hari Senin berikutnya ia bekerja terus di toko mereka. Tiada hari saat mana dia tidak bekerja, termasuk hari Minggu. Suatu saat ia jatuh sakit dan terpaksa dirawat di rumah sakit. Keadaannya makin parah dan kritis. Antara hidup dan mati, di antara selang-selang infus dan berbagai peralatan medis itu, Pak Karyo yang sudah sulit untuk membuka mata, bergumam perlahan, “Bu ....” Istrinya pun menjawab, “Ya, Pak, aku di sini.” “Tini,” panggil Pak Karyo dengan suara yang sudah lemah. Si Tini pun segera memeluk ayahnya sambil menangis. “Tina,” suara Pak Karyo hampir tak terdengar. “Pak, jangan pergi, Pak,...jangan pergi....” Akhirnya, dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaganya, Pak Karyo menyebut nama anaknya yang terakhir, “Tono.” “Ya, Pak,” jawab Tono. Begitu mendengar jawaban anaknya yang terakhir ini, Pak Karyo sekonyong-konyong membuka mata dan berteriak, “Astaga! Kalau kalian semua di sini, siapa yang menjaga toko kita?!”

Mendengar anekdot ini, yang disampaikan dengan ekspresif oleh si imam, umat pun langsung tertawa. Yah, memang kita umumnya tertawa mendengar cerita konyol ini. Namun, sayang bahwa banyak orang yang menjadikan kisah konyol ini menjadi kisah nyata. Dalam salah satu penampakannya, Bunda Maria menyatakan kesedihan dan kepedihan hatinya melihat banyaknya jiwa yang sampai detik-detik terakhir hidupnya hanya memikirkan perkara-perkara duniawi. Mengenaskan, bukan? Surga dan neraka di depan mata, tetapi tidak dilihat dan hanya memikirkan perusahaannya, warisannya, dendamnya, ....

Tokoh Pak Karyo dalam anekdot di atas menggambarkan salah satu figur ateis jaman ini, yaitu ateis yang tidak memikirkan Tuhan sama sekali dalam hidupnya. Baginya, hidup hanyalah sebatas apa yang tampak di dunia ini. Ia tidak pernah berpikir tentang kematian dan hidup sesudah kematian.

Sebuah kisah lain: seorang pemudi yang cukup beriman dan aktif dalam pelayanan gerejani ditegur oleh ibunya. Si ibu mengatakan, “Jaman sekarang ini tidak cukup orang hanya ke gereja, perlu cari pegangan lain juga ... ke orang pinter, dan lain-lain. Tuhan saja tidak cukup.” Kisah ini menampakkan kecenderungan lain dari manusia jaman ini, yaitu kecenderungan untuk melucuti ke-Esa-an Tuhan. Tuhan tidak lagi Dia yang Mahaesa, melainkan hanyalah salah satu dari sekian banyak “yang lain”. Manusia mensejajarkan-Nya dengan banyak “ilah-ilah” lain. Wujud “ilah-ilah” lain itu bisa bermacam-macam. Misalnya: harta, kenikmatan, ilmu pengetahuan, perdukunan, kuasa, ramalan, magi, dll. Siapa yang mencintai atau menghargai atau mengejar sesuatu yang bukan Allah “melebihi” Allah berarti telah menjadikannya berhala/ilah-ilah. Yesus mengatakan, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat 6:24).

Oleh karena itu, St. Yohanes berbicara tentang bahayanya kelekatan terhadap ciptaan. Ia mengatakan, “Sebagaimana kita memperoleh kebaikan karena mengarahkan hati kepada kehendak Allah, demikian juga setiap kerugian dan kejahatan timbul dalam jiwa karena orang menjauhkan diri dari pada-Nya, karena kelekatan pada makhluk.”

Ada juga ateisme yang beranggapan bahwa iman dan agama membuat manusia mengabaikan tanggungjawabnya di dunia ini, karena iman dan agama membuat manusia mengarahkan pandangannya ke kehidupan kekal (bdk. GS, no. 20). Ateis demikian tidak sadar bahwa justru dengan pandangan ke keabadian itu seorang beriman semakin didorong dan dikuatkan untuk melaksanakan tanggung jawabnya di dunia ini, karena kehidupan kekal adalah “kelanjutan” dari “hidup saat ini”. Dan, kenyataannya justru orang yang tidak berimanlah yang seringkali melarikan diri dari tanggungjawab di dunia ini. Karena tak beriman, mereka seringkali menjadi putus asa dan tak jarang yang bunuh diri.

Akan sangat berkepanjangan jika kita mau membahas satu per satu gejala-gejala ateisme, maka untuk meringkasnya baiklah kita baca apa yang dikatakan Konsili Vatikan II tentang berbagai macam gejala ateisme:

“[...] ada sekelompok orang yang jelas-jelas mengingkari Allah; ada juga yang beranggapan bahwa manusia tidak dapat mengatakan apa-apa tentang Dia; ada pula yang menyelidiki persoalan tentang Allah dengan metode sedemikian rupa, sehingga masalah itu nampak kehilangan makna. Banyak orang [...] berusaha keras untuk menjelaskan segala sesuatu dengan cara yang melulu ilmiah [...], atau sebaliknya [...] tidak menerima adanya kebenaran yang mutlak lagi. Ada yang menjunjung tinggi manusia sedemikian rupa, sehingga iman akan Allah seolah-olah lemah tak berdaya; [...]. Ada juga yang menggambarkan Allah sedemikian rupa, [...] sama sekali bukan Allah menurut Injil. Orang-orang lain bahkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang Allah pun tidak, [...], atau juga tidak menangkap mengapa masih perlu memedulikan agama” (GS, no. 19).

 

Gambaran Tentang Allah

Gambaran yang kita punyai tentang Allah akan memengaruhi “percaya” kita kepada-Nya dan ungkapan-ungkapan “percaya” kita itu.

Seorang pemuda tidak pernah ke gereja, tidak pernah berdoa, dan lain-lain, walaupun ia adalah seorang pemuda yang baik (rajin, sopan, bukan pemabuk, dan sebagainya). Ketika ditanya apakah ia percaya pada Tuhan, ia menjawab bahwa ia percaya. Ketika ditanya lebih lanjut, menurutnya Allah itu seperti apa atau bagaimana, ia mengatakan bahwa Allah itu menciptakan manusia dan pada saat menciptakan manusia (membuat seorang manusia lahir di dunia) Allah telah memberinya segala sesuatu yang diperlukannya, maka selanjutnya Allah tidak melakukan apa-apa lagi dan meninggalkan si manusia itu mengusahakan segalanya sendirian. Ini merupakan salah satu gambaran tidak benar tentang Allah. Gambaran ini sebetulnya sangat merendahkan Allah. Kalau seekor binatang saja (misalnya, anjing, kucing, dll.) setelah melahirkan anaknya masih memerhatikan dan merawatnya, masakah Allah akan mengabaikan manusia setelah menciptakannya? Tidakkah kurban salib Yesus sudah membuktikan bahwa Allah peduli terhadap kita?

Ada juga yang menggambarkan Allah sebagai suatu kekuatan atau energi impersonal yang menguasai dan menggerakkan alam semesta. Hal ini, misalnya, dianut oleh pengikut New Age, sehingga dalam meditasinya, mereka berusaha menyatu dengan alam dan energi itu. Tentu pandangan ini bertentangan dengan iman Kristiani. Bagi kita, Allah pertama-tama bukanlah suatu kekuatan atau energi (walaupun Allah mempunyai kekuatan), melainkan “pribadi”, yaitu pribadi Tritunggal Mahakudus. Sehingga, meditasi dan doa-doa kita merupakan suatu perjumpaan dan persahabatan dengan Dia, Pribadi yang sangat mencintai kita. Inti hidup seorang Kristen adalah relasi pribadi dengan Allah Tritunggal Mahakudus.

Sehubungan dengan hal ini, ada sebuah anekdot: dalam sebuah pertunjukan, seorang akrobatik berjalan di atas seutas tali yang terbentang di antara dua tiang yang cukup tinggi. Ketika ia berhasil melakukannya, semua penonton bertepuk tangan. Si akrobatik bertanya, “Percayakah Anda bahwa saya bisa melakukannya sambil menggendong seseorang?” Penonton pun berteriak, “Percaya, percaya!” Maka, si akrobatik bertanya lagi, “Kalau begitu, siapakah yang mau menjadi sukarelawan untuk saya gendong?” Semua penonton diam. Si akrobatik mengulang pertanyaannya, “Percayakah ...?” dan jawaban penonton tidak berubah, “Percaya, percaya!” Namun, tetap saja semua membisu saat diminta menjadi sukarelawan. Ketika ketiga kalinya si akrobatik mengulang pertanyaannya, dari kerumunan penonton, larilah seorang anak laki-laki kecil yang berteriak, “Aku mau ... aku mau!” Semua mata langsung tertuju kepadanya. Suasana tegang saat si anak digendong dan perlahan-lahan mereka berjalan menyeberang di atas tali itu. Ketika berhasil, kembali para penonton bertepuk tangan. Namun, seorang bapak tua segera menegur anak itu, “Nak, bahaya sekali perbuatanmu itu. Kamu bisa terjatuh dan mati!” Akan tetapi, si anak dengan tenang dan dengan muka berseri-seri menjawab, “Tidak mungkin, dia itu ayah saya! Ayah sanggup melakukannya dan tidak mungkin dia menjatuhkan saya. Dia baik.” Kisah di atas mengajak kita untuk bercermin tentang “percaya” kita kepada-Nya. Apakah “percaya” kita seperti “percaya” para (“gerombolan”) penonton? “Percaya” yang hanya sebatas bibir ... saat di Gereja kita ucapkan Credo “Aku percaya akan Allah Bapa yang Mahakuasa ...,” namun saat kita harus “berjalan di atas seutas tali” dalam hidup ini “percaya” kita kandas sudah, kita tidak lagi mengandalkan Dia? Ataukah, “percaya” kita seperti “percaya” seorang anak kecil kepada ayahnya? Allah adalah Bapa kita yang Mahakasih dan Mahakuasa.

 

Sebuah Pertanyaan Reflektif

Mungkin pertanyaan berikut bisa membantu kita untuk sedikit berefleksi tentang mutu “percaya” kita pada Kristus: “Seandainya saya tidak mengenal Yesus, apa yang berbeda dengan diri dan hidup saya yang sekarang?”

Mungkin ada yang menjawab, “Seandainya saya tidak mengenal Kristus, saya tidak akan ke gereja pada hari Minggu, saya masih tetap korupsi, ....” Semakin banyak dan mendalam perubahan yang ada (tentunya, perubahan yang positif), semakin baik dan mendalam Kristus meraja dalam diri dan hidup kita. Semoga tidak ada yang menjawab bahwa, “Tidak ada perbedaan apa-apa dalam diri saya, entah saya mengenal Yesus, ataupun tidak.”

Istilah-istilah “Katolik KTP” (yaitu ke-“Katolik”-an yang hanya di kartu identitas saja) atau “Katolik kapal selam” (ke-“Katolik”-an yang hanya muncul saat-saat tertentu saja, misalnya hanya saat Natal dan Paska saja ke gereja, sehingga ada juga istilah “Katolik Na-Pas”) tentu tidak asing bagi kita. Ada juga istilah “Katolik hari Minggu” yang bersikap “hari Minggu saya Katolik (ke gereja), tetapi hari Senin sampai Sabtu saya ateis (saya mau berbuat suka-suka saya)”. Tentu ini semua tidak benar. Seorang Kristiani adalah “seorang Kristiani 24 jam”, entah dia sedang makan, rekreasi, bercanda, bekerja, dll. Tidak ada satu pun aspek hidupnya boleh dipisahkan dari Kristus atau ke-Kristen-annya. Kadang-kadang ada orang yang bercanda dengan humor yang tidak sehat, lalu mengatakan, “Ah, ini khan cuma bercanda.” Sebetulnya persoalannya adalah apakah saat bercanda saya boleh menjadi tidak Kristiani (atau boleh menanggalkan ke-Kristen-an saya)? Tentu tidak. St. Paulus mengajarkan untuk melakukan segalanya demi kemuliaan Tuhan, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1Kor 10:31).

 

Keluarga: Tempat Persemaian Awal Iman

Seorang frater, yang menjadi guru agama di sebuah sekolah anak-anak, menceritakan tantangan yang harus dihadapinya dalam menjalankan tugasnya. Seringkali ketika ia bercerita tentang Yesus, kasih-Nya, kuasa-Nya, maka ia tertegun mendengar reaksi beberapa anak, “Kata ayah dan ibu saya, tidak begitu.” Dan, wajarlah bahwa seorang anak akan lebih mempercayai orang tuanya daripada siapa pun di dunia ini. Maka, orang tua ateis umumnya akan “melahirkan” anak ateis juga.

Setiap orang tua selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya dan masa depan mereka. Antara lain dengan memberi mereka kursus dan sekolah ini dan itu, memberi mereka hadiah ini dan itu, bahkan jauh-jauh hari sudah mempersiapkan rumah atau modal usaha untuk masa depan mereka, dan lain-lain. Sayang, tidak sedikit orang tua yang lupa mengajari anak-anaknya untuk berdoa sebelum makan/tidur, lupa untuk mendongengkan kisah-kisah dalam Kitab Suci dan santa-santo untuk mereka, lupa untuk mengajak mereka ke gereja, lupa untuk mengajar mereka mengulurkan tangan ketika berjumpa dengan seorang yang miskin dan menderita, dll. Tidakkah Yesus dan iman akan Dia merupakan pemberian yang terbaik bagi mereka? Suatu pemberian yang akan menjamin kebahagiaan mereka tidak hanya untuk kehidupan di dunia ini, tetapi juga untuk kehidupan kekal. Uang, ilmu, perusahaan, ... tidak dapat menjamin kebahagiaan mereka, tidak di dunia ini, tidak di dunia yang akan datang.

 

Penutup: Meneladan Maria, “Hawa Baru”

Di hadapan tantangan ateisme-ateisme jaman ini, yang dengan berbagai macam bentuknya berusaha mengingkari Allah dan mengingkari ketergantungannya kepada Allah, marilah kita mengarahkan pandangan kita kepada Maria. Tuhan telah memilih Maria, seorang perawan, dalam menyelamatkan manusia yang telah jatuh dalam dosa. “Keperawanan” Maria menyiratkan suatu kebutuhan dan ketergantungan akan Allah. Hawa tidak mau mengakui ketergantungannya pada Tuhan, sebaliknya Maria dengan sepenuh hati mengakui ketergantungannya kepada Tuhan, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:38). Dialah Hawa baru yang imannya “tidak tercemar oleh keraguan sedikit pun” (LG 63).

[1] Bdk. Rm 1:18.