Print
Hits: 7389

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Pertanyaan “Apakah Allah pernah salah?” sebenarnya adalah suatu pertanyaan klasik yang seringkali diangkat orang sepanjang sejarah. Ia begitu sering muncul di tengah-tengah masa krisis seseorang, saat orang mulai menyaksikan sendiri kenyataan hidup yang menyedihkan. Ia muncul di tengah-tengah jeritan memohon keadilan. Ia muncul di balik selubung bencana yang menimpa orang benar. Ia hadir mengusik hati orang saleh yang melihat kesuksesan para penindas, sementara orang-orang benar tertindas dan mati mengenaskan. Coba simak kata-kata Ayub, “Mengapa orang fasik tetap hidup, menjadi tua, bahkan menjadi bertambah-tambah kuat. Rumah-rumah mereka aman, tak ada ketakutan, pentung Allah tidak menimpa mereka. Mereka bernyanyi dengan iringan rebana dan kecapi, dan bersukaria menurut lagu seruling. Mereka menghabiskan hari-hari mereka dalam kemujuran dan dengan tenang mereka turun ke dalam dunia orang mati.” (Ayb. 21:7.9.12-13).

SEANDAINYA ALLAH PERNAH SALAH

Seorang pemuda, akibat pemakaian heroin terlalu lama, akhirnya mengalami kelumpuhan. Di dalam rasa hampir putus asanya ia meratap, “Begitu banyak temanku yang juga memakai (heroin), mengapa justru aku yang lumpuh?” Namun ternyata Allah mempunyai rencana Untuknya. Pada masa-masa penderitaannya inilah Allah memberikan suatu rahmat besar kepadanya. Di dalam ketakberdayaannya ia menemukan kembali imannya yang telah hilang. Dengan terasing dari dunia luar akibat kelumpuhannya, ia memiliki banyak waktu untuk merenung dan menemukan kebenaran. Di tengah kegelapan inilah akhirnya ia menemukan sinar yang selama ini tenggelam di tengah sinar-sinar kenikmatan duniawi. Allah memberikan kepadanya harta yang jauh lebih berharga daripada segala harta duniawi melalui suatu cara yang tidak terbayangkan.

Pernahkah Anda mengalami suatu “Kesialan” yang ternyata akhirnya menjadi suatu berkah yang besar bagi Anda? Mampukah Anda melihat tangan Tuhan di balik peristiwa itu? S. Paulus mempunyai pengalaman seperti ini dan ternyata ia kemudian berubah menjadi manusia baru yang tidak hanya mampu melihat karya Allah di dalam “Kesialannya” itu, tetapi juga yang tidak segan-segan untuk terjun ke dalam penderitaan, mengikuti Tuhannya, Yesus Kristus. Ia menjadi buta, tetapi justru dalam kebutaannya ia melihat terang sejati. Di dalam terang ini, yakni terang salib Kristus ia menemukan kebahagiaan sejati.

Banyak lagi orang yang mempunyai pengalaman seperti pemuda lumpuh dan S. Paulus. Akan tetapi, dari mereka itu ada satu yang terbesar, yakni Yesus Kristus. Yesus, yang adalah Putera Allah sendiri, akhirnya dibiarkan Allah menderita lahir-batin dan akhirnya mati disalib. Jika Allah pernah salah, sengsara dan wafat Kristus pastilah merupakan kesalahan-Nya yang terbesar. Namun, Ia tidak pernah salah. Justru dengan membiarkan Putera-Nya menderita dan wafat disalib, karya keselamatan umat manusia digenapi.

Sebenarnya kalau Anda membaca sub-judul ini, Anda sudah pasti akan dapat menarik kesimpulan bahwa saya tidak percaya bahwa Allah pernah salah. Ya, itulah jawaban saya. Saya yakin bahwa Allah selalu benar dan adil dalam segala keputusanNya, berbeda dengan manusia. Jika manusia melihat peristiwa hanya dari satu sudut pandang yang sempit, Allah melihatnya secara keseluruhan sehingga keputusan-Nya merangkum segala kebijaksanaan.

Dibandingkan dengan kebijaksanaan Allah, keterbatasan manusia untuk mengerti dan menafsirkan peristiwa sering membuatnya sulit untuk menerima nasib buruk orang baik (apalagi jika orang baik yang dimaksud adalah dirinya sendiri). Kenyataan ini bisa dibandingkan dengan perumpamaan berikut:

Seorang arsitek mendapat pekerjaan untuk merenovasi sebuah bangunan besar dan megah yang menurut orang-orang lain sangat indah dan megah. Akan tetapi, sang arsitek mempunyai pandangan lain. Setelah mempelajari keadaan tanah dan alam sekitarnya, ia menarik kesimpulan bahwa akan lebih baik jika bangunan tersebut dibongkar seluruhnya sampai ke dasar-dasarnya, lalu dibangun kembali. Pada awal pekerjaan besar itu, banyak orang yang melontarkan kritik tajam dan keras terhadapnya, termasuk sang pemilik rumah, tetapi ia tetap jalan terus. Baru setelah rumah itu selesai dibangun kembali semua orang tercengang melihat keindahannya yang luar biasa. Keindahan yang terpancar tidak hanya dari segi fisik bangunannya, tetapi juga dari keserasiannya dengan lingkungan sekitar dan pemandangan yang dapat dinikmati dari rumah tersebut.

Allah adalah Arsitek Agung dan jiwa kita adalah proyek-Nya. Kadang-kadang memang Allah melakukan perombakan total terhadap jiwa kita, menghancurkan bangunan yang telah kita dirikan dengan susah-payah. Pada waktu-waktu itu, kita akan merasa sakit dan mungkin mengeluh. Akan tetapi, jika kita berani membiarkan Allah menyelesaikan pekerjaan-Nya, kita tidak akan kecewa.


KELUHURAN PENDERITAAN DALAM KRISTUS

Yesus bersabda, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku.” (Luk. 9:23) Salib identik dengan penderitaan, penderitaan Kristus. Penderitaan kita yang disatukan dengan penderitaan Kristus mempunyai nilai penebusan juga. Dengan ini, kita bisa mengerti kata-kata S. Paulus dalam Kol. 1:24, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.”

Kita andaikan demikian, jika doa penuh keyakinan dari orang benar saja sudah sangat manjur dan besar kuasanya (bdk. Yak. 5:16b), apalagi penderitaan yang dipersembahkannya sebagai silih untuk suatu intensi. Ini merupakan doa dua kali. Misalnya, seorang ibu tua yang saleh, yang hidup selalu dalam hadirat Allah, suatu ketika mengalami kecelakaan. Akibatnya, ia tidak bisa berjalan lagi. Namun, bukannya menyesali nasibnya, ia justru bersyukur kepada Kristus karena boleh menderita, “Tuhan, kupersatukan penderitaanku ini dengan penderitaan-Mu.” Lalu, ia mempersembahkan penderitaannya itu sebagai silih untuk jiwa anaknya.

Cerita di atas dan banyak cerita sejenis lainnya memberikan penghiburan kepada banyak orang sepanjang sejarah. Ungkapan, “Persembahkan saja...,” muncul dalam hati mereka jika mereka mengalami kesulitan dan kesusahan dalam perjalanan hidup mereka. Dengan mempersembahkan penderitaan mereka dan mempersatukannya dengan penderitaan Kristus, seringkali beban penderitaan tidak terasa berat lagi, dan tidak jarang beban itu justru hilang sama sekali. Mengapa Anda tidak mencobanya?
Penderitaan, karenanya, bukanlah suatu kemalangan jika kita berpegang pada salib Kristus. Penderitaan yang kita alami sekarang mungkin tidak dapat kita mengerti, tetapi kita tahu bahwa Tuhan tidak mencobai kita melampaui kemampuan kita. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Lagipula, penderitaan di dunia ini tidaklah sebanding dengan kebahagiaan yang akar kita terima kelak di surga (bdk 1Kor.10:13; Rm.8:18). Semoga kita bisa berkata seperti S. Paulus, “Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga.” (2Kor.1:6)

PENUTUP

Seorang gadis bertanya kepada seorang pertapa yang terkenal kesuciannya, “Tuan, bagaimana cara untuk hidup tetap terarah kepada Tuhan?” Sang pertapa dengan lembut menatap mata gadis itu dan berkata, “Percayalah bahwa Allah selalu hidup terarah kepadamu.”

Allah kita hidup dan tidak pernah melalaikan kita sesaat pun. Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan kita (bdk. Rm.8:28). Meskipun kita sering melupakan Dia dalam hidup kita, bahkan seringkali menyakiti hati-Nya, Ia tidak surut mengasihi dan menarik kita kembali kepada-Nya. Ia tidak pernah salah. Yang salah adalah keengganan kita untuk membalas kasih-Nya, menolak tarikan-Nya. Marilah kita berdoa supaya kita jangan sampai menolak tawaran kasih-Nya.