User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Article Index

KELUHURAN PENDERITAAN DALAM KRISTUS

Yesus bersabda, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku.” (Luk. 9:23) Salib identik dengan penderitaan, penderitaan Kristus. Penderitaan kita yang disatukan dengan penderitaan Kristus mempunyai nilai penebusan juga. Dengan ini, kita bisa mengerti kata-kata S. Paulus dalam Kol. 1:24, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.”

Kita andaikan demikian, jika doa penuh keyakinan dari orang benar saja sudah sangat manjur dan besar kuasanya (bdk. Yak. 5:16b), apalagi penderitaan yang dipersembahkannya sebagai silih untuk suatu intensi. Ini merupakan doa dua kali. Misalnya, seorang ibu tua yang saleh, yang hidup selalu dalam hadirat Allah, suatu ketika mengalami kecelakaan. Akibatnya, ia tidak bisa berjalan lagi. Namun, bukannya menyesali nasibnya, ia justru bersyukur kepada Kristus karena boleh menderita, “Tuhan, kupersatukan penderitaanku ini dengan penderitaan-Mu.” Lalu, ia mempersembahkan penderitaannya itu sebagai silih untuk jiwa anaknya.

Cerita di atas dan banyak cerita sejenis lainnya memberikan penghiburan kepada banyak orang sepanjang sejarah. Ungkapan, “Persembahkan saja...,” muncul dalam hati mereka jika mereka mengalami kesulitan dan kesusahan dalam perjalanan hidup mereka. Dengan mempersembahkan penderitaan mereka dan mempersatukannya dengan penderitaan Kristus, seringkali beban penderitaan tidak terasa berat lagi, dan tidak jarang beban itu justru hilang sama sekali. Mengapa Anda tidak mencobanya?
Penderitaan, karenanya, bukanlah suatu kemalangan jika kita berpegang pada salib Kristus. Penderitaan yang kita alami sekarang mungkin tidak dapat kita mengerti, tetapi kita tahu bahwa Tuhan tidak mencobai kita melampaui kemampuan kita. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Lagipula, penderitaan di dunia ini tidaklah sebanding dengan kebahagiaan yang akar kita terima kelak di surga (bdk 1Kor.10:13; Rm.8:18). Semoga kita bisa berkata seperti S. Paulus, “Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga.” (2Kor.1:6)

PENUTUP

Seorang gadis bertanya kepada seorang pertapa yang terkenal kesuciannya, “Tuan, bagaimana cara untuk hidup tetap terarah kepada Tuhan?” Sang pertapa dengan lembut menatap mata gadis itu dan berkata, “Percayalah bahwa Allah selalu hidup terarah kepadamu.”

Allah kita hidup dan tidak pernah melalaikan kita sesaat pun. Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan kita (bdk. Rm.8:28). Meskipun kita sering melupakan Dia dalam hidup kita, bahkan seringkali menyakiti hati-Nya, Ia tidak surut mengasihi dan menarik kita kembali kepada-Nya. Ia tidak pernah salah. Yang salah adalah keengganan kita untuk membalas kasih-Nya, menolak tarikan-Nya. Marilah kita berdoa supaya kita jangan sampai menolak tawaran kasih-Nya.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting