User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Mengapa kita minta doa kepada orang kudus? Bukankah mereka sudah mati? Bukankah kita tidak boleh berkomunikasi dengan mereka yang sudah meninggal?

Memanggil arwah orang yang telah mati (atau necromancy) memang tidak pernah diizinkan. Hal tersebut merupakan kekejian di mata Allah. Para kudus memang telah mati. Hanya bedanya mereka tidak mati untuk seterusnya! Gereja percaya bahwa saat ini mereka telah berbahagia - dan sangat hidup - di surga. Kadang-kadang bahkan, atas izin Allah, mereka dapat menampakkan diri kepada manusia. Yesus sendiri pernah berbicara dengan Musa dan Elia di Gunung Tabor (bdk. Mat 17:3). Ini tanda bahwa mereka masih hidup! Mereka masih bisa berkarya di dunia dan mempengaruhinya. Para kudus tersebut tetap punya hubungan persekutuan dengan kita. Mereka disebut "Gereja yang Mulia atau Jaya".

Karena masih hidup, tentunya kita boleh meminta mereka untuk mendoakan kita sama seperti kita meminta doa dari mereka di dunia ini. Semakin banyak orang yang mendoakan, tentunya lebih baik. Bukankah doa orang-orang benar amat besar kuasanya (bdk. Yak 5:16)? Siapa yang lebih benar daripada para kudus di Surga yang siang-malam memandang Allah sendiri? 

Doa para kudus tentu amat berkuasa. Hanya masalahnya sekarang, bagaimana kita bisa mengetahui seseorang itu telah menjadi kudus atau belum? Pada awalnya dalam Gereja, penggelaran "Kudus" pada seseorang lebih merupakan pesta lokal. Orang-orang yang dipandang memiliki keutamaan, khususnya para martir, digelarkan oleh orang-orang yang dekat dengan mereka sebagai Santo atau Santa. Namun, kebiasaan semacam ini bisa mengarah kepada praktik-praktik berbahaya, seperti mendewa-dewakan para kudus. Karena itu, akhirnya wewenang penggelaran seseorang menjadi kudus menjadi milik Paus saja.

Perlukah penggelaran kudus ini? Bayangkan iklan-iklan di televisi. Tujuan semuanya itu untuk apa? Supaya orang tertarik membeli produk-produk yang ditawarkan, bukan? Lalu ada pula kisah-kisah orang-orang tertentu yang difilmkan. Apa tujuannya? Semuanya untuk mempengaruhi opini penonton, bisa ke arah yang baik, bisa pula ke arah yang buruk. Kita juga sering membaca obituari seseorang yang bagus-bagus, untuk menunjukkan penghormatan penulisnya atas almarhum yang bersangkutan. Penggelaran kudus itu pertama mau menunjukkan penghormatan Gereja universal terhadap jiwa-jiwa heroik dalam mengikuti Kristus. Mereka pernah bersama-sama dengan kita. Namun, di samping itu, Gereja juga mau menunjukkan betapa sucinya jalan yang mereka tempuh. Lebih penting daripada itu, kalau mereka bisa, mengapa kita tidak?

Dengan menggelarkan seseorang kudus, Gereja sebenarnya menjadikan mereka milik publik. Semua orang diajak untuk mengenal mereka lebih dalam. Kisah hidup mereka diungkapkan supaya orang bisa menimba kekayaan rohani yang mereka miliki.

Apa bukti seseorang itu pantas disebut kudus? Bagaimana kita yakin bahwa seseorang sudah ada di surga? Jangan kuatir, pertanyaan itu pula yang menjadi pertanyaan pertama yang diajukan Paus bila ada permintaan penggelaran kudus bagi seseorang. Gereja Katolik memiliki syarat yang sangat ketat dalam proses penggelaran kudus bagi seseorang. Terkadang butuh waktu yang juga sangat lama. Gereja tidak pernah pelit soal waktu. Khususnya untuk meneliti kelayakan seseorang disebut kudus.

Tanda pertama yang harus ada dalam diri kandidat (calon) kudus ialah keutamaan iman dan moral yang tampak jelas, bahkan harus mencapai taraf heroik. Biasanya ini dimiliki oleh para martir yang otentik. Keutamaan ini harus bisa dibuktikan oleh banyak saksi mata. Di sini saja kita bisa melihat betapa seriusnya proses penggelaran kudus ini. Akibatnya, dari sekian banyak para kudus di surga, sedikit sekali yang digelarkan kudus oleh orang-orang di dunia. Namun, bahkan itu saja tidak cukup. Perlu syarat kedua.

Tanda bahwa seorang itu kudus ialah adanya mukjizat yang pernah terjadi berkat perantaraan doa atau imannya. Bukan mukjizat yang pernah dilakukannya semasa hidupnya. Kalau itu, bisa menjadi bukti berdasarkan saksi mata seperti di atas. Mukjizat di sini berarti pengabulan doa seseorang yang sebelumnya secara spesifik memohon perantaraan doa dari calon kudus yang bersangkutan. Pengabulan doa tersebut pun harus bersifat mukjizat, misalnya penyembuhan penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara medis atau terjadinya peristiwa yang mengatasi sebab-sebab alamiah (tentu saja, mukjizat tersebut terjadi seizin Allah berkat doa orang kudus itu. Sebaliknya, itu tidak berarti kalau tidak ada mukjizat orang tersebut tidak ada di surga!). Mukjizat ini harus bisa dibuktikan, artinya diteliti dulu apakah ada kemungkinan sebab-sebab alamiah.

Oke, sekarang sudah ada mukjizat. Apakah kalau sudah demikian, seseorang bisa langsung dinyatakan kudus? Oh tidak, itu masih proses awal. Sampai tahap ini, seseorang mungkin akan dinyatakan sebagai beato atau beata. Setelah memperoleh gelar beato atau beata dimulai tahap berikutnya. Perlu ada kesaksian yang lebih meyakinkan dan mukjizat baru untuk sampai pada kemungkinan penggelaran santo atau santa. Apabila memperoleh gelar santo atau santa, seseorang akan memperoleh hari peringatan khusus dalam kalender liturgi Gereja. Nama yang bersangkutan pun boleh digunakan untuk menjadi pelindung paroki-paroki yang ada.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting