User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Maria sebagai ibu Tuhan Yesus Kristus mempunyai peranan yang penting dalam rencana keselamatan Allah. Dia adalah wanita yang telah dipersiapkan sejak awal untuk melahirkan Juru Selamat dunia, seperti yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya: "Lihatlah, seorang perawan akan mengandung seorang anak, dan akan melahirkan seorang putera, dan ia akan menamakan Dia Imanuel." (Yes 7:14, bdk. Mat 1:23). Sehingga di dalam Gereja sudah sejak awal berkembang devosi kepada Maria. Devosi kepada Maria telah memperkaya kehidupan rohani dalam Gereja Katolik. Namun kadang-kadang dapat dijumpai dalam sebagian kecil umat Katolik yang melakukan devosi kepada Maria secara berlebih-lebihan. Devosi yang berlebihan justru mengurangi dan mengaburkan ajaran iman Gereja Katolik tentang Maria dan menimbulkan tuduhan-tuduhan keliru dari pihak Protestan. Mereka menganggap orang Katolik menyembah Maria dan tentunya hal ini tidak benar, karena Gereja Katolik tidak menyembah Maria, melainkan Gereja Katolik menghormati Maria:

"Tepatlah bahwa ia dihormati oleh Gereja dengan kebaktian istimewa. Memang sejak zaman kuno santa Perawan dihormati dengan gelar 'Bunda Allah'; dan dalam segala bahaya dan kebutuhan mereka umat beriman sambil berdoa mencari perlindungannya . . . Kebaktian Umat Allah terhadap Maria . . . meskipun bersifat istimewa, namun secara hakiki berbeda dengan bakti sembah sujud, yang dipersembahkan kepada Sabda yang menjelma seperti juga kepada Bapa dan Roh Kudus, lagi pula sangat mendukungnya." (Lumen Gentium, 66).

Kutipan di atas menegaskan bahwa Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan umatnya menyembah Maria, tetapi Gereja mengajarkan agar umatnya menghormati Maria.
Ajaran Gereja Katolik tentang Maria berasal dari tradisi umat Kristen sejak awal, bukti tertua yang ditemukan bahwa sejak semula umat Kristen awali sudah menghormati Maria, terdapat pada tembok-tembok katakombe, yaitu tempat kediaman dan kuburan Kristen di bawah tanah. Pada katakombe St Priscilla di Roma ditemukan lukisan Bunda Maria dengan Yesus, Puteranya, dan berdasarkan penelitian ilmiah, diperkirakan lukisan ini berasal dari tahun 100 dan 200 M. Di samping itu dalam tulisan-tulisan apokrif dan ajaran-ajaran banyak tokoh Gereja tentang Maria menunjukkan penghormatan kepada Maria sejak awal, misalnya dalam doa Ekaristi yang disusun St. Hipolitus dari Roma (170-235 M) nama Maria sudah disebut. Ini menunjukkan bahwa penghormatan kepada Maria dalam Gereja Katolik berasal dari tradisi umat Kristen awali dan mempunyai dasar Alkitab yang jelas dan kuat. Baru setelah itu diteguhkan dan diresmikan menjadi dogma Gereja. Pada dasarnya ajaran Gereja tentang Maria bersumber dan berpusat pada pribadi Yesus Kristus sendiri, sama sekali tidak mengurangi peranan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Penyelamat dan Pengantara kepada Bapa, tetapi justru menjelaskan iman akan Yesus Kristus.
Apa yang Gereja Katolik percaya dan ajarkan tentang Maria, berakar dalam iman akan Kristus, tetapi sekaligus juga menjelaskan iman akan Kristus. (Katekismus Gereja Katolik, 487)

Penghormatan kepada Maria tidak menjadi monopoli Gereja Katolik saja, karena Gereja Orthodoks dan Gereja Anglikan pun menghormati Maria, demikian juga saat terjadi perpecahan dalam tubuh Gereja Katolik yang menimbulkan gerakan reformasi yang dimulai oleh Martin Luther, yang akhirnya melahirkan gereja-gereja Protestan. Para reformator sendiri (Luther, Kalvin, Zwingli) serta teolog Protestan awal masih menghormati Maria dan menerima ajaran Gereja Kuno tentang Maria (Bunda Allah, keperawanan Maria sebelum dan sesudah mengandung, kesucian Maria). Mereka hanya memprotes devosi kepada Maria yang berlebih-lebihan yang berkembang pada abad pertengahan dalam Gereja Katolik.

Baru sejak abad XVI, seiring perpecahan yang semakin lebar antara Gereja Katolik dan Protestan, sebagai sikap anti Katolik, di kalangan umat Protestan pada waktu itu berkembang juga sikap anti Maria. Akibatnya, devosi kepada Maria yang diwariskan oleh para reformator (Luther, Kalvin, Zwingli) berangsur-angsur memudar dalam kalangan umat Protestan.

Namun, harus pula dikatakan bahwa penghormatan terhadap Maria tidak hilang seluruhnya dari gereja Protestan. Dalam ibadat gereja Lutheran, misalnya masih ada beberapa hari raya yang mengenangkan Maria. Bahkan, akhir-akhir ini dalam gereja Protestan, ada beberapa teolog Protestan yang mau kembali pada pendirian para reformator dalam penghormatan kepada Maria. Di Jerman, ada komunitas para suster Protestan yang bernama "the Evangelical Sisterhood of Mary", yang didirikan oleh Basilea Schlink. Maria mempunyai tempat yang penting dalam penghayatan iman mereka. Itu tampak nyata dari nama kongregasi mereka. Selain itu, di Taize, Perancis, seorang Protestan yang bernama Roger Schultz mendirikan komunitas ekumene, yang anggotanya terdiri dari biarawan-biarawan Katolik maupun Protestan yang hidup bersama. Di dalam komunitas Taize ini penghormatan terhadap Maria mempunyai tempat yang penting dalam peribadatan mereka.

Ada seorang mistici jaman ini, Marthe Robin (1902-1981), Perancis, yang sebagian besar hidupnya dijalani dalam kelumpuhan total. Selama bertahun-tahun ia bahkan tidak dapat makan sama sekali, dan hanya ditopang oleh kekuatan Hosti Kudus yang disambutnya setiap hari. Ia pernah menyatakan: "Agama Kristen, kalau tanpa Maria, bercacat. Allah telah menentukan, bahwa kita tidak hanya mempunyai Bapa yang ada di Surga, melainkan juga seorang Bunda Surgawi. Maka tidak mungkinlah kita menyingkirkan bunda kita dengan tidak menderita rugi sendiri."

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting