User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Apa itu “Purgatorium?”

Istilah bahasa Latin purgatorium atau dalam bahasa Inggris purgatory diterjemahkan dengan api penyucian. Istilah tersebut memperlihatkan situasi manusia sesudah kematian, suatu keadaan ketika seseorang berada di antara surga dan neraka. Kesamaan dengan neraka terungkap dengan kata “Api”, namun perbedaan dengan neraka adalah purgatorium bukan dalam arti hukuman abadi melainkan persiapan untuk masuk surga. Di satu pihak, jiwa-jiwa dalam api penyucian mati dalam rahmat karena itu mereka termasuk anggota surga. Tetapi di lain pihak, masih ada dosa-dosa ringan tertentu yang menghalangi mereka masuk ke dalam surga (Dister, 2004: 599-600). Itulah sebabnya Gereja mengajarkan: “Siapa yang mati dalam rahmat dan dalam persahabatan dengan Allah, namun belum disucikan sepenuhnya, memang sudah pasti akan keselamatan abadinya, tetapi ia masih harus menjalankan suatu penyucian untuk memperoleh kekudusan yang perlu, supaya dapat masuk ke dalam kegembiraan surga” (KGK, 1030).

Purgatorium sebelum kematian

Selain purgatorium sesudah kematian, Gereja juga mengakui adanya purgatorium sebelum kematian. Yang dimaksud dengan purgatorium sebelum kematian adalah suatu keadaan ketika seseorang telah mengalami pemurnian yang mendalam selama hidupnya di dunia sehingga ia tidak perlu lagi menjalani purgatorium sesudah kematian, yaitu api penyucian. Sekalipun ia masih mengalami api penyucian sesudah kematian, biasanya tidak berlangsung lama. Jiwa-jiwa yang suci dan saleh sesudah kematiannya langsung masuk ke dalam kebahagiaan surga (bdk. S. Yohanes dari Salib, Malam Gelap, buku II, bab VI, no. 6).

Dalam Ensiklik Spe Salvi (dalam pengharapan kita diselamatkan), Bapa Suci Benediktus XVI dengan mengutip ajaran S. Agustinus mengajarkan: “Manusia diciptakan bagi keagungan - bagi Allah, dia diciptakan untuk dipenuhi oleh Allah” (no. 33). Betapa luhur dan mulia panggilan manusia ini. Namun, akibat dosa asal, yakni kecenderungan yang tak teratur terhadap dosa dan kejahatan, dia kerapkali jatuh ke dalam dosa-dosa dan hal ini merupakan hambatan serta rintangan untuk mengalami kasih Allah. Akan tetapi,kita meyakini kebenaran iman yang diajarkan oleh S. Yohanes Rasul: “Betapa besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Di dalam Kristus, manusia menerima pengampunan atas dosa-dosanya dan keselamatan yang kekal dari Allah Bapa surgawi.

Allah menanamkan kerinduan di kedalaman hati manusia sehingga jiwa mencari, mengejar, dan mengasihi Dia di atas segala sesuatu (bdk. Garrigou-Lagrange, 1991: 30-36). Pada saat itu jiwa mulai mengalami pertobatan, meninggalkan dosa-dosa kendati ia masih jatuh bangun dalam kelemahan, dan menyingkirkan hambatan-hambatan yang membawanya pada dosa ini. Keadaan ini disebut dengan pemurnian pasif inderawi. Dalam pemurnian ini, Allah membawa jiwa untuk menanggalkan penghiburan rohani, maupun kesenangan-kesenangan pada bidang inderawi (panca indera) serta kenikmatan-kenikmatan fantasi dan imajinasi.

Apabila jiwa semakin bertumbuh dan berkembang dalam iman, pengharapan, dan kasih, sikap yang diambilnya ialah “melupakan segala sesuatu yang mengganggunya, memelihara damai batin, dan menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah” (S. Yohanes dari Salib, Malam Gelap, buku I, bab 10, no. 3-4 dan 6). Dia terus berkembang dalam hidup rohani dan Allah akan menempatkan pada pemurnian yang lebih dalam, mengerikan, dan amat gelap. Dalam pemurnian tersebut, di satu sisi jiwa akan mengalami penderitaan yang amat menyakitkan, namun di lain sisi dia dibersihkan, disembuhkan, dan dimurnikan dari cacat cela serta kelemahannya. Dia mengalami persiapan menuju persatuan yang amat mesra dengan Allah.

Pemurnian ini disebut dengan istilah pemurnian pasif rohani, suatu pemurnian yang dikenal dengan purgatorium sebelum kematian. Pemurnian ini hanya dialami beberapa orang saja, karena memang sesuai dengan panggilan yang khusus dari Allah dan Allah sendiri secara istimewa membawa orang pada pemurnian ini agar dia mencapai persatuan yang mesra dengan Allah. Pemurnian ini ditandai dengan pencobaan yang amat berat,misalnya ditinggalkan oleh orang yang dikasihinya atau bahkan oleh Allah sendiri tanpa tahu sebabnya, mengalami fitnah serta kesulitan besar karena sesama,dan penderitaan besar lainnya.

Dalam keadaan ini, Tuhan menganugerahkan rahmat yang besar bagi jiwa-jiwa yang mengalaminya, sebuah“Kematian mistik”, yaitu kematian atas dirinya, kematian atas egoisme dan cinta dirinya, penyembuhan atas kesombongan dan kerakusan khususnya pada bidang rohani yang menjadi akar dan penyebab cacat cela, dan kelemahan yang lain. Pada saat itu juga jiwa menerima anugerah “Teologi mistik”, suatu pengenalan akan Allah yang melampaui segala pengertian karena Allah menganugerahkan cinta kasih dan kebijaksanaan-Nya yang melampaui apa yang dapat dipikirkan manusia (Malam Gelap, buku II, bab 5, no. 1).

Pemurnian sebelum kematian ini dialami oleh para kudus besar seperti S. Theresia dari Kanak-kanak Yesus yang mengalami pencobaan yang besar bahkan juga pada saat terakhir hidupnya.Demikian juga S. Vincensius a Paulo yang mengalami fitnah dan kesulitan besar dari salah satu imamnya dan S. Paulus dari Salib yang selama 45 tahun mengalami pencobaan dan penderitaan besar sebagai kurban bagi keselamatan jiwa-jiwa, dunia, dan rencana Allah dalam hidupnya untuk mendirikan Kongregasi Passionis.

Bagi S. Yohanes dari Salib, pemurnian sebelum kematian ini merupakan persiapan panjang sebelum jiwa menerima anugerah persatuan dengan Allah.Keadaan ini disamakan dengan “api penyucian” (purgatorium sesudah kematian). Hanya perbedaannya terletak pada sarana pemurniannya, yaitu apabila dalam api penyucian jiwa akan dimurnikan oleh api yang gelap, sedangkan dalam purgatorium sebelum kematian selama hidupnya di dunia ini dia akan dimurnikan oleh api cinta kasih” (Malam Gelap, buku II, bab 12, no. 3).

“Jiwa yang mengalami penderitaan-penderitaan pada waktu ini tidak dapat dibayangkan; penderitaan-penderitaan ini mirip dengan penderitaan-penderitaan di api penyucian. Betapa dahsyatnya pencobaan ini dan betapa dalamnya penderitaan yang dialami jiwa pada keadaan ini” (Nyala Cinta yang Hidup, Stanza I, no. 21). “Penderitaan ini menyerupai penderitaan di api penyucian. Seperti jiwa-jiwa menderita di api penyucian akan memandang wajah Allah dari muka ke muka dalam hidup selanjutnya, demikian juga jiwa-jiwa yang mengalami penderitaan ini selama di dunia ini akan diubah ke dalam Allah melalui cinta dalam hidup ini” (Nyala Cinta yang Hidup, Stanza I, no. 24).

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting