User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

 Seringkali di dalam menghayati kehidupan iman sebagai orang katolik, kita sering sekali diserang oleh sejumlah pertanyaan tentang siapakah Yesus itu. Banyak orang mempertanyakan ajaran iman katolik dengan  mengatakan: “Mana ada Allah atau Tuhan yang menjadi manusia” atau “Benarkah Yesus itu Allah dan manusia sekaligus.” Lebih dari itu kita mendengar pernyataan yang seperti ini: “Yesus itu setengah manusia dan setengah Allah” atau “Yesus itu manusia yang sempurna.” 

Namun karena keterbatasan pengetahuan kita terhadap ajaran Katolik, acapkali kita bingung dan diam tidak bisa berbuat apa-apa.  Dengan serangan ini seharusnya membawa kita semakin terprovokasi. Kita mampu menjawab seluruh persoalan tersebut dengan sikap iman yang benar, yaitu tidak hanya sekedar percaya, tetapi sungguh-sungguh mengimani dan menghayati iman katolik secara tepat dan benar dengan mengetahui ajaran-ajaran Gereja, Tradisi Gereja, dan Kitab Suci. Bahkan sebagai orang beriman yang didorong oleh cinta Kristus, kita mampu membawa terang Allah yang menghidupkan itu kepada semua orang, yang tidak mengenal-Nya atau menolak-Nya.

Mari bersama-sama kita melihat seluruh permasalahan tersebut dan menjawabnya sesuai dengan ajaran Gereja yang benar bahwa, “Yesus Kristus itu adalah sungguh Allah dan sungguh manusia, bukan setengah Allah dan setengah manusia, melainkan Yesus Kristus itu adalah Allah benar dan manusia benar, dua kodrat yang dipersatukan dalam pribadi Sang Sabda.”


1. Mengapa Sabda Menjadi Manusia?

Kita mengakui bersama Syahadat Nisea-Konstantinopel yang mengatakan: “Ia turun dari surga untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita, menjadi daging oleh Roh Kudus dari Perawan Maria dan menjadi manusia”. Sabda menjadi manusia untuk mendamaikan kita dengan Allah dan menyelamatkan kita (bdk. 1 Yoh. 4:10). Kodrat kita yang sakit membutuhkan dokter; manusia yang jatuh membutuhkan orang yang mengangkatnya kembali; yang kehilangan kehidupan membutuhkan seorang yang memberi hidup; yang kehilangan hubungan dengan yang baik membutuhkan seorang yang membawanya kembali kepada yang baik; yang tinggal dalam kegelapan merindukan kedatangan sinar; yang tertawan merindukan seorang penyelamat, yang terbelenggu seorang pelepas, yang tertekan di bawah kuk perhambaan memerlukan seorang pembebas. Bukankah itu hal-hal yang cukup berarti dan penting untuk menggerakkan Allah, sehingga Ia turun bagaikan seorang dokter yang mengunjungi kodrat manusiawi, setelah umat manusia terjerat dalam situasi yang sangat menyedihkan dan memprihatinkan (Gregorius dari Nisa or.catech. 14).

Kita tahu bahwa, “Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juru Selamat dunia” (1 Yoh. 4:14) dan “Ia telah menyatakan Diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa.” (1 Yoh. 3:5) 
Sabda sudah menjadi manusia supaya kita:

  • Mengenal cinta Allah. “Kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.” (1 Yoh. 4:9)
  • Menjadi contoh kekudusan bagi kita. “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku” (Mat. 11:29). “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6). Yesus adalah gambaran inti dari sabda bahagia dan norma hukum yang baru, supaya saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu (lih. Yoh. 15:12). Kasih ini menuntut penyerahan diri sendiri, dengan mengikutinya.
  • Mengambil bagian dalam kodrat ilahi (bdk. 2 Ptr. 1:4). Untuk itulah Sabda Allah menjadi manusia, dan Anak Allah menjadi anak manusia, supaya manusia menjadi Sabda dalam dirinya, dan sebagai anak angkat, menjadi anak Allah (Ireneus, haer. 3,19,1). Sabda Allah menjadi manusia, supaya kita diilahikan (Atanasius, inc. 54,3). Karena Putera Allah yang tunggal hendak memberi kepada kita bagian dalam ke-Allahan-Nya, Ia menerima kodrat kita, menjadi manusia, supaya mengilahikan manusia (Tomas Aquinas, opusc. 57 in festo Corp. Chr. 1).


2. Penjelmaan Menjadi Manusia

Dengan menggunakan ungkapan Santo Yohanes, “Verbum caro factum est – Sabda telah menjadi daging.” (Yoh. 1:14) Gereja menggunakan istilah inkarnasi atau menjadi daging untuk peristiwa Putera Allah mengambil kodrat manusiawi untuk dapat melaksanakan keselamatan kita. Dalam satu madah yang dikutip Santo Paulus, Gereja memuji rahasia inkarnasi itu, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Flp. 2:5-8)

Kepercayaan akan penjelmaan Putera Allah menjadi manusia adalah tanda pengenal iman Kristen yang paling khas, “… setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah” (1 Yoh. 4:2). Itulah sejak awal mula keyakinan Gereja yang menggembirakan. Gereja menyanyikan, ‘Sungguh agunglah rahasia ibadah kita’  karena “Ia telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia.” (1 Tim. 3:16)


3. Yesus Itu Sungguh Allah dan Sungguh Manusia

Peristiwa inkarnasi Putera Allah yang unik dan terjadi hanya satu kali, tidak berarti bahwa Yesus Kristus sebagian Allah dan sebagian manusia atau setengah Allah dan setengah manusia atau juga peristiwa itu merupakan pencampur-adukkan yang tidak jelas antara yang ilahi dengan yang manusiawi. Yesus Kristus adalah Allah benar dan manusia benar, sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Selama abad-abad pertama Gereja harus membela dan menjelaskan kebenaran iman ini terhadap bidaah yang menafsirkannya secara salah.

Bidaah-bidaah yang pertama kurang menyangkal ke-Allah-an Kristus daripada kemanusiaan-Nya yang benar (Doketisme gnostis). Sudah sejak zaman para Rasul, iman Kristen menegaskan inkarnasi benar dari Putera Allah, yang “datang mengenakan daging”. Namun dalam abad ke-3, dalam Konsili di Antiokia Gereja sudah harus menegaskan untuk melawan Paulus dari Samosata, yakni Yesus Kristus adalah Putera Allah menurut kodrat-Nya dan bukan melalui adopsi. Konsili Nisea dalam Credonya mengakui, bahwa Putera Allah “dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa”. 

Bidaah Nestorian melihat dalam Kristus satu pribadi manusiawi yang digabungkan dengan Pribadi Putera Allah yang ilahi. Untuk melawan ajaran yang salah ini, Santo Sirilius dari Aleksandria dan Konsili ekumenis ketiga di Efesus tahun 431 mengakui bahwa, “Sabda menjadi manusia… dengan cara mempersatukan daging yang dijiwai berakal dengan diri-Nya sendiri menurut hupostasis (pribadi).” Kodrat manusiawi Kristus tidak memiliki subyek lain kecuali pribadi ilahi Putera Allah, yang menerimanya dan sudah menjadikannya milik-Nya pada waktu Ia dikandung. 

Monofisitisme mengatakan bahwa kodrat manusia terlebur dalam Kristus, kodrat itu diterima oleh Pribadi ilahi-Nya, oleh Putera Allah. Konsili ekumenis keempat di Kalsedon tahun 451 menjelaskan melawan bidaah ini: “Sambil mengikuti para Bapa yang kudus mereka sepakat untuk mengajarkan, untuk mengakui Tuhan kita Yesus Kristus sebagai Putera yang satu dan sama; yang sama itu sempurna dalam ke-Allah-an dan kemanusiaan; yang sama itu sungguh Allah dan sungguh manusia dari jiwa yang berakal budi dan dari tubuh; yang sama menurut ke-Allahan-Nya sehakikat dengan Bapa dan menurut kemanusiaan-Nya sehakikat dengan kita, ‘sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa’ (Ibr. 4:15). Yang sama pada satu pihak menurut ke-Allah-an-Nya dilahirkan dari Bapa sebelum segala waktu, di lain pihak menurut kemanusiaan-Nya dalam hari-hari terakhir karena kita dan demi keselamatan kita, dilahirkan dari Maria, perawan dan Bunda Allah. Yang satu dan sama itu adalah Kristus, Putera tunggal dan Tuhan, yang diakui dalam dua kodrat, tidak tercampur, tidak berubah, tidak terpisah dan tidak mungkin dibagi-bagikan, di mana perbedaan kodrat tidak dihilangkan karena persatuan, tetapi kekhususan dari tiap kodrat itu dipertahankan dan mempersatukan diri dalam satu pribadi dan dalam satu hupostasis.”

Sesudah Konsili Kalsedon, beberapa orang menafsirkan kodrat manusiawi Kristus seperti pribadi yang berdiri sendiri. Melawan bidaah ini konsili ekumenis kelima di Konstantinopel tahun 553 mengakui dalam hubungan dengan Kristus, “satu hupostasis (pribadi) ialah Tuhan Yesus Kristus, yang adalah satu dari Tritunggal Mahakudus.” Dengan demikian, segala sesuatu yang ada pada kodrat manusiawi Kristus harus dikenakan kepada Pribadi ilahi-Nya sebagai pembawa-Nya yang sebenarnya, bukan hanya mukjizat-mukjizat melainkan juga penderitaan juga kematiannya karena Tuhan Yesus Kristus yang disalibkan dalam daging adalah sungguh Allah dan Tuhan kemuliaan dan satu dari Tritunggal Mahakudus.

Jadi, Gereja mengakui bahwa Yesus itu sungguh Allah dan sungguh manusia secara tidak terpisahkan. Ia sesungguhnya Putera Allah yang menjadi manusia, saudara kita, dan tetap tinggal Allah Tuhan kita. Liturgi Santo Yohanes Krisostomus mewartakan dan menyanyikan: “O Putera yang tunggal dan Sabda Allah, walaupun tidak dapat mati, Engkau berkenan demi keselamatan kami, menerima daging dari Maria Bunda Allah yang suci dan tetap perawan. Tanpa perubahan Engkau menjadi manusia dan disalibkan. O Kristus Allah, melalui kematian-Mu Engkau menghancurkan kematian; Engkau adalah satu dari Tritunggal Kudus, dimuliakan bersama Bapa dan Roh Kudus, selamatkanlah kami.”


4. Kemanusiaan Putera Allah

Dalam inkarnasi yakni dalam persatuan yang penuh rahasia ini, kodrat manusia disambut, bukannya dienyahkan. Gereja harus berusaha sepanjang sejarah untuk mengakui kenyataan penuh dari jiwa Kristus yang manusiawi, dengan kegiatan akal budi dan kehendak-Nya, demikian pula dari tubuh manusiawi-Nya. Putera Allah menyampaikan cara ada-Nya sendiri dalam Tritunggal kepada kodrat manusiawi-Nya. Baik dalam jiwa-Nya maupun dalam tubuh-Nya, Kristus menyatakan kehidupan Tritunggal secara manusiawi. “Sebab Dia, Putera Allah, dalam penjelmaan-Nya dengan cara tertentu telah menyatukan Diri dengan setiap orang. Ia telah bekerja memakai tangan manusiawi, Ia berpikir memakai akal budi manusiawi, Ia bertindak atas kehendak manusiawi, Ia mengasihi dengan hati manusiwi. Ia telah lahir dari Perawan Maria, sungguh menjadi salah seorang di antara kita, dalam segalanya sama seperti kita, kecuali dalam hal dosa” (Gaudium et Spes 22,2).


4.1. Jiwa Manusiawi dan Pengetahuan Manusiawi Kristus

Apolinarius dari Laodisea berpendapat, dalam Kristus Sabda menggantikan jiwa atau roh. Melawan kekeliruan ini Gereja mengakui bahwa Putera abadi juga menerima jiwa manusiawi yang berakal budi. Jiwa manusiawi ini, yang diterima Putera Allah, benar-benar dilengkapi dengan kemampuan untuk mengetahui secara manusiawi. Kemampuan ini terbatas karena ia bertindak dalam kondisi historis keberadaannya dalam ruang dan waktu. Karena itu, ketika Putera Allah menjadi manusia, hendak bertambah pula “dalam kebijaksanaan dan usia dan rahmat” (Luk. 2:52). Ia hendak menanyakan apa yang seorang manusia harus belajar dari pengalaman. Dan ini sesuai dengan kenyataan bahwa dengan sukarela Ia mengambil “rupa seorang hamba” (Flp. 2:7).

Pada waktu yang sama, dalam pengetahuan manusiawi yang sesungguhnya dari Putera Allah, nyata pula kehidupan ilahi pribadi-Nya. Kodrat manusiawi Putera Allah mengenal dan menyatakan diri-Nya – bukan dari diri sendiri, melainkan berdasarkan hubungan-Nya dengan Sabda – segala sesuatu, yang dimiliki Allah. Dalam pengetahuan manusiawi-Nya Putera juga menunjukkan pengetahuan ilahi tentang pikiran hati manusia yang rahasia.

4.2. Kehendak Manusiawi Kristus

Oleh karena itu dalam Konsili ekumenis keenam, Gereja mengakui bahwa Kristus menurut kodrat-Nya mempunyai dua macam kehendak dan tindakan – satu ilahi dan satu manusiawi. Keduanya ini tidak bertentangan satu sama lain, tetapi bekerja sama sedemikian, sehingga Sabda yang telah menjadi manusia dalam ketaatan-Nya sebagai manusia terhadap Bapa-Nya menghendaki segala sesuatu, yang Ia sebagai Allah bersama Bapa dan Roh Kudus sudah putuskan demi keselamatan kita. Kehendak manusiawi Kristus patuh dan tidak melawan dan tidak menentang, tetapi menyesuaikan diri dengan kehendak-Nya yang ilahi dan mahakuasa.


5. Kesimpulan

Karena Sabda menjadi manusia dan menerima kodrat manusia yang sesungguhnya, maka Kristus terbatas dalam tubuh. Karena itu, wajah manusiawi Yesus dapat “dilukiskan dengan terang di depan kita” (Gal. 3:1). Dalam Konsili ekumenis ketujuh yakni Konsili Nisea tahun 787, Gereja mengakui sebagai hal yang wajar untuk melukiskan Kristus dalam gambar-gambar kudus.

Gereja juga mengakui sejak dulu bahwa kita “mengenal Allah yang tak kelihatan dalam diri Penebus yang kelihatan”. Memang kekhususan individual tubuh Kristus menyatakan Pribadi ilahi Putera Allah. Ia sudah menerima bentuk-bentuk tubuh manusiawi-Nya sedemikian, sehingga mereka boleh dihormati dalam gambar pada lukisan kudus, karena orang beriman yang menghormati gambar-Nya akan menghormati Pribadi yang digambarkan di dalamnya.

Selama hidupnya, sakratul maut-Nya di taman Zaitun dan dalam kesengsaraan-Nya, Yesus mengenal dan mencintai kita semua dan menyerahkan Dirinya bagi kita: “Putera Allah telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (lih. Gal. 2:20). Ia mencintai kita dengan hati seorang manusia. Atas dasar itu, maka hati Yesus tersuci yang ditembus oleh dosa kita dan demi keselamatan kita dilihat sebagai tanda pengenal paling ampuh dan sebagai lambang cinta, yang dengannya Penebus ilahi tetap mencintai Bapa abadi dan semua manusia (Pius XII, Ensiklik “Haurietis Aguas”).

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting