Print
Hits: 5994

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Dalam artikel ini kita akan melihat bagaimana pandangan Gereja mengenai evolusi.

Pandangan Gereja mengenai evolusi berkaitan erat dengan pandangan Gereja mengenai bagaimana kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian harus ditafsirkan. Dalam kisah penciptaan Kitab Kejadian dapat dilihat bahwa penulisnya bermaksud menyampaikan sejumlah fakta historis walaupun cara dia menuturkannya tidak sejalan dengan cara penulisan karya sejarah modern dan juga tidak sejalan dengan standar penulisan ilmiah modern. Fakta-fakta historis yang ditampilkan dalam kisah penciptaan Kitab Kejadian ini membentuk dasar-dasar utama kebenaran agama Kristen. Menurut Komisi Kepausan Kitab Suci dalam jawaban mereka menyangkut persoalan sifat historisitas tiga bab pertama Kitab Kejadian tanggal 30 Juni 1909

Fakta-fakta itu adalah:

Allah adalah pencipta atas segala sesuatu

Penciptaan manusia secara istimewa

Penciptaan pria dan wanita pertama

Kesatuan ras manusia (seluruh manusia memiliki nenek moyang yang sama)

Pada awal penciptaan manusia pertama hidup dalam kebahagiaan sempurna

Allah memberi perintah kepada manusia sebagai ujian kepatuhannya

Manusia pertama mengalami cobaan dari setan

dalam rupa ular yang menggodanya untuk tidak patuh

Kejatuhan manusia pertama membawa degradasi kehidupan manusia

dari kebahagiaan yang dinikmatinya sebelum ia jatuh

Allah menjanjikan Penebus bagi manusia


Jadi pada prinsipnya Kitab Suci tidak berbicara mengenai teknis bagaimana penciptaan itu dilakukan dan dalam banyak topik orang beriman bebas untuk menerima kemungkinan-kemungkinan yang ditawarkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Dalam artikel ini kita akan membahas sikap iman mengenai dua hal yaitu evolusi dan polygenisme (manusia berasal dari banyak leluhur).

Secara resmi Gereja tidak mendukung atau menolak teori evolusi, sikapnya adalah memberi kebebasan kepada para anggotanya untuk menyetujui atau tidak. Sikap ini didasari bahwa teori evolusi walaupun secara ilmiah kemungkinan benarnya itu sangat besar namun pada prinsipnya hal itu masih tetap sebuah teori, dan untuk memastikan kebenarannya itu adalah tugas para ilmuwan, alasan lainnya adalah karena teori ini tidak berhubungan secara langsung dengan ajaran iman Kristen mengenai manusia dan penciptaan. Sikap Gereja tersebut dinyatakan oleh Paus Pius XII dalam ensiklik Humani Generis yang berbunyi: 

“Karena alasan tersebut Kuasa Mengajar Gereja tidak melarang bahwa sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan manusia dan teologi suci, penelitian dan diskusi, di antara orang-orang yang berpengalaman dalam bidang-bidang tersebut, yang berkaitan dengan ajaran evolusi, sepanjang hal itu dikenakan kepada asal mula tubuh manusia yang berasal dari materi yang hidup dan telah eksist sebelumnya- karena iman Katolik mewajibkan kita untuk berpegang bahwa jiwa diciptakan langsung oleh Allah. Bagaimanapun, hal ini harus dilakukan dengan cara sedemikian yaitu bahwa penalaran untuk kedua pendapat, baik yang setuju dengan evolusi maupun yang tidak, dipertimbangkan dan dinilai dengan serius, bebas, dan teliti, dan memastikan bahwa semua siap untuk tunduk kepada keputusan Gereja, yang kepadanya Kristus telah memberikan misi untuk menafsirkan Kitab Suci secara otentik dan untuk mempertahankan dogma-dogma iman. “

Sikap Paus Pius XII ini pada prinsipnya sangat sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh St. Agustinus 16 abad sebelumnya. Dalam karyanya De Genesi Ad Literram St. Agustinus menegaskan untuk tidak sembrono menafsirkan Kitab Suci dalam kaitan dengan hal-hal yang berkaitan dengan bidang ilmu pengetahuan dan menurut Agustinus juga Roh Kudus melalui Kitab Suci hanya ingin mengajarkan kepada kita hal yang perlu untuk keselamatan (De Genesi Ad Literram 1: 19-20 dan 2: 9)

Dalam karya yang sama juga St. Agustinus menegaskan bahwa para ilmuwan melalui metode penelitian yang baik dan eksperimen yang dapat dipertanggungjawabkan dapat tiba pada pengetahuan yang pasti tentang asal mula alam semesta. Sikap St. Agustinus dan Paus Pius XII ini juga kemudian diulangi kembali oleh Paus Yohanes Paulus II dalam pidatonya kepada para anggota Akademi Sains Kepausan tanggal 22 Oktober 1996 yang menyatakan bahwa “pengetahuan-pengetahuan baru telah menuntun manusia untuk mengetahui bahwa evolusi lebih dari sebuah hipotesis” dan “dalam ensikliknya Humani Generis, pendahulu saya Pius XII telah menyatakan bahwa tidak ada pertentangan antara evolusi dan ajaran iman tentang manusia dan panggilannya, dalam kondisi bahwa seseorang tidak kehilangan pandangan terhadap beberapa poin yang tidak dapat diperdebatkan”.

Sementara Gereja bersikap cukup terbuka terhadap teori evolusi namun terhadap teori polygenisme pandangan Gereja cukup negatif. Mengenai hal ini Paus Pius XII menyatakan:

Bagaimanapun, saat ini, juga ada permasalahan menyangkut pandangan lain yang didasarkan pada suatu dugaan yaitu polygenism, dalam hal ini putera-puteri Gereja tidak menikmati kebebasan semacam itu (seperti halnya menyangkut evolusi). Karena orang beriman tidak dapat menerima pandangan yang menyatakan bahwa entah setelah Adam terdapat manusia di bumi yang tidak memiliki asal usulnya sebagai keturuan alami darinya sebagai orang tua pertama dari semua, atau bahwa Adam merupakan gambaran dari sejumlah orang tua pertama. Pandangan ini tampak tidak dapat diperdamaikan dengan cara apapun dengan apa yang disampaikan oleh kebenaran yang diwahyukan dan dokumen Kuasa Mengajar Gereja tentang dosa asal, yang bersal dari satu dosa yang secara nyata dilakukan oleh Adam secara individual dan yang, melalui penurunan, diteruskan kepada semua orang dan di dalam semua orang sebagai miliknya sendiri.

Di sini dijelaskan bahwa pandangan polygenisme ditolak karena tampaknya pandangan tersebut menggerogoti dasar ajaran mengenai dosa asal, yang menurut Kitab Suci berasal dari pelanggaran satu orang saja (Rom 5:15). Selanjutnya juga ditegaskan bahwa Paus Pius XII menolak sejumlah pandangan yang menyatakan bahwa Adam merupakan representasi dari sekumpulan manusia. Di kemudian hari juga muncul pandangan yang menyatakan bahwa Adam merupakan manusia pertama yang mengenal Allah, namun pandangan ini pun ditolak oleh Gereja.

Akhirnya penulis ingin menegaskan kembali keyakinan Katolik yang cukup mendasar yaitu bahwa antara iman dan ilmu pengetahuan tidak mungkin terjadi pertentangan sejati seperti yang diungkapkan oleh Konstitusi Dogmatik Dei Filius dan kemudian diulangi oleh Katekismus Gereja Katolik no. 159:

“Walaupun iman melampaui akal budi, tidak dapat terjadi pertentangan yang sejati antara iman dan akal budi. Karena Allah yang sama yang mewahyukan misteri-misteri dan mencurahkan iman telah memberikan juga cahaya akal budi kepada pikiran manusia, Allah tidak dapat menyangkal diriNya sendiri, dan kebenaran tidak dapat berkontradiksi dengan kebenaran”. 

Dan juga apa yang dinyatakan dalam Katekismus no. 283:

“Pertanyaan tentang asal mula dunia dan manusia telah menjadi obyek dari banyak studi ilmiah yang secara luar biasa telah memperkaya pengetahuan kita mengenai zaman, dan dimensi kosmos, perkembangan bentuk kehidupan dan pemunculan manusia. Semua penemuan ini mengundang kita untuk lebih mengagumi keagungan Sang Pencipta, mengajak kita untuk bersukur kepadaNya karena segala karyaNya dan pengertian serta kebijaksanaan yang Ia berikan kepada para ahli dan peneliti.”