header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Peranan Imam dan Awam dalam Hidup Gereja

User Rating:  / 10
PoorBest 

Pengantar

Dalam Gereja terdapat dua panggilan hidup yang amat mendasar. Yang pertama disebut imamat umum yang mengalir dari Sakramen Baptis dan Krisma. Yang Kedua, dari yang imamat umum ini orang dapat menerima tahbisan-tahbisan khusus. Awam memiliki karisma dan panggilannya sendiri yang memiliki kewajiban dan hak untuk meresapi dan menyempurnakan tata duniawi dengan semangat injili dan memberikan kesaksian tentang Kristus. Selain itu, awam memiliki panggilan dan peran khas dalam Gereja yang bersumber dari partisipasi mereka dalam imamat Yesus Kristus melalui sakramen-sakramen inisiasi dan perkawinan untuk mengemban tri-jabatan Kristus dalam mengajar, menguduskan dan menggembalakan komunitas gerejawi.  Tulisan ini akan membahas peranan awam dalam Gereja yang bersinggungan juga dengan tugas pelayanan imam. Maka, karya tulis ini akan mengalir dalam jalan pikiran sebagai demikian. Imam dan Awam: Kawan Sekerja Allah, Imam dan Pelayanan Khasnya, Jati Diri dan Kegiatan Kaum Awam, Pelayanan Keimaman dalam Perkumpulan Kaum Beriman Awam dan Kesimpulan.

Imam dan Awam: Kawan Sekerja Allah

Di antara sakramen Gereja, ada dua sakramen yang secara khusus diterimakan demi keselamatan orang lain, yakni Sakramen Tahbisan dan Sakramen Perkawinan demi keselamatan penerimanya dan pelayanan kepada orang lain. Berkat sakramen Baptis dan Krisma semua anggota Gereja telah ditahbiskan dalam imamat umum kaum beriman. Berdasarkan tahbisan umum ini orang dapat menerima tahbisan-tahbisan khusus. Dengan menerima Sakramen Tahbisan, orang ditahbiskan demi nama Kristus menggembalakan Gereja dengan sabda dan rahmat Allah. Dalam Sakramen Perkawinan “suami-isteri dikuatkan dan bagaikan ditahbiskan untuk tugas kewajiban maupun martabat status hidup mereka dengan sakramen yang khas.”

Dalam pandangan Konsili Vatikan II, jabatan tertahbis atau “imamat jabatan atau hierarkis” melayani imamat bersama yang diberikan oleh Pembaptisan. Seorang imam dalam Sakramen-Sakramen menyatakan bahwa karya keselamatan yang Bapa percayakan kepada Putera-Nya sungguh bekerja untuk Gereja melalui Roh Kudusnya, dipercayakan oleh-Nya kepada para rasul dan penggantinya dan atas pribadi-Nya.

Gereja mengajarkan bahwa imamat adalah satu pelayanan. Artinya, tugas yang diserahkan kepada para gembala umat-Nya merupakan suatu pengabdian. Imam ada sepenuhnya untuk Allah dan manusia. Ia bergantung seutuhnya dari Kristus dan imamat-Nya ditentukan demi kesejahteraan manusia dan persekutuan Gereja. Sakramen Imamat merupakan “satu kuasa kudus” yang berasal dari Kristus sendiri. Pelaksanaannya harus seturut teladan Kristus sebagai hamba dan pelayan semua orang.

Ada perbedaan antara imamat umum dan imamat jabatan. Imamat jabatan tidak menghilangkan atau menguatkan apa yang diterima dalam imamat umum. Imamat jabatan memberikan meterai khas lain: partisipasi lain dalam tugas Yesus Kristus untuk mengkonsekrasikan Tubuh dan Darah Kristus dan mengampuni dosa serta mempersatukan umat. Awam sebagai “anggota Gereja yang tidak termasuk klerus dan bukan anggota Hidup Bakti” dipanggil kepada kekudusan hidup, karena setiap orang dipanggil kepada kekudusan. Kekudusan awam sebagai Umat Allah tidak terletak dalam prestasi manusiawi, melainkan dengan mengakui kekuasaan Roh Kudus dengan menggunakan jalan kanak-kanak.

Dalam Dekrit Kerasulan Awam, para Bapa Konsili Vatikan II mengingatkan agar para awam mendapat pendidikan memadai untuk misinya dalam Gereja dan dunia. Pembinaan ini harus realistis dan tepat guna supaya membekali awam dalam baktinya kepada dunia. Tujuannya untuk menjadi awam yang menjadi Saksi Kristus di tengah hidup keluarga dan masyarakat. Karena itu, mereka secara khusus diutus untuk membarui tata dunia, mereka perlu mendapat ajaran iman mengenai “makna sejati dan nilai hal-hal duniawi, baik untuk hidup mereka sendiri maupun untuk seluruh pemenuhan hidup manusia.”

Maka, hubungan antara imam dan awam dalam konteks “kawan sekerja Allah” terletak dalam “mengambil bagian dalam pengutusan Roh Kudus dan Sang Putera”. Sebab, sumber yang memungkinkan awam menjadi rasul adalah kesatuannya dengan Sang Putera. Hanya kalau imam dan awam bersatu dengan Kristus maka pengutusannya akan berbuah banyak. Pelayanan imam dan kerasulan awam terwujud dalam hidup keseharian. Namun, awam tidak sekedar menjangkau pekerjaan manusiawi. Awam dan imam “bekerjasama dengan Allah Pencipta untuk dikuduskan dan ikut serta dalam penebusan dunia”. Dalam hubungan ini jelas, antara pelayanan iman dan kerasulan awam pun memiliki tempat dan kedudukannya masing-masing sekaligus keduanya memiliki hubungan yang khas.

Namun, praksisnya terjadi “klerikalisasi awam” bahkan “awamisasi klerus.” Maksudnya, awam lebih religius daripada imam dan imam cenderung sekuler daripada awam. Konsep “Umat Allah” yang bersifat eskatologis dan kedudukan awam dalam Gereja pun tetap menjadi soal! Permasalahannya bukan terletak dari awam melainkan dari pengertian mengenai fungsi dan kedudukan hierarki di dalam Gereja mengenai tempat awam di dalamnya. Para uskup membutuhkan waktu banyak untuk mengubah pandangan mereka mengenai diri mereka sendiri dalam rangka hubungan gereja dan dunia dan peran awam di dalamnya. Karena, kaum awam mempunyai tugas dan panggilan khusus di dalam Gereja. Tetapi bagaimana hal itu harus diterangkan dan dijalankan, belum seluruhnya jelas.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting