Print
Hits: 6110

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

 1. Pengantar

Pada akhir abad XX kepercayaan akan kebangkian orang mati dan kehidupan yang kekal tidak jarang kurang dianggap serius atau bahkan disangkal. Alasannya antara lain kebangkitan dicurigai sebagai proyeksi suatu keinginan physikologis semata-mata yaitu kehidupan di akhirat dikecam sebagai penghiburan bagi orang yang di dunia tidak terpuaskan, latarbelakang kebudayaan semit yaitu Alkitab kurang mendukung gagasan penyatuan kembali jiwa dan badan pada hari kiamat, kepercayaan pada kebangkitan merelativisasikan nilai dan tanggungjawab kehidupan di bumi ini (tuduhan markhisme), dan seterusnya. Akan tetapi, tanpa kebangkitan dan kehidupan abadi, hidup fana di dunia ini tidak memiliki nilai yang  tetap. Bagi kita, syahadat kristen – pengakuan iman kita akan Bapa, Putra dan Roh kudus, serta karya-Nya yang menciptakan, menebus dan menguduskan berpuncak pada pewartaan bahwa orang-orang yang mati akan bangkit pada akhir zaman  bahwa ada kehidupan abadi. Kita percaya dengan pasti dan berharap dengan penuh kepercayaan; seperti kristus telah bangkit dan hidup untuk selama-lamanya, demikianlah orang-orang benar; sesudah kematiannya akan hidup untuk selama-lamanya bersama Kristus yang telah bangkit dan Ia akan membangkitkan mereka pada akhir zaman. Seperti kebangkitan-Nya, demikian pula kebangkitan kita adalah karya Tritunggal Maha kudus. Kita percaya bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya dan hidup kita bukannya dilenyapkan tetapi diubah dan Allah akan membangkitkan kita kembali seperti Dia membangkitkan Yesus dari antara orang mati; seperti yang dikatakan St.Agustinus, ”aku mati supaya aku tidak mati.” Setelah kehidupan kita di dunia ini pasti ada kehidupan baru yang berbeda dengan hidup saat ini. kebangkitan badan bukanlah keyakinan dan harapan yang kosong tetapi merupakan harapan setiap orang kristen yang pasti.

2. Jiwa dan Kebangkitan Badan

Perkembangan konsep tentang kebakaan jiwa dan kebangkitan badan mengambil rujukan dari pandangan Ibrani dan hellenisme/Yunani serta bagaimana teologi skolastik terutama St. Thomas Aquino menyempurnakan dan meluruskan pandangan ini. Kita sudah mengenal bahwa manusia adalah kesatuan dari tubuh dan jiwa. Dalam pandangan Ibrani tentang manusia adalah bersifat sintetis, tidak mengenal pembagian dalam diri manusia, melainkan memandang manusia sebagai kesatuan dari pelbagai sudut dan aspek. Ajaran Yesus berdasarkan ajaran Ibrani asli ini. Hal ini dapat kita lihat dalam Mrk. 8:35-37, “ Barang siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya tetapi barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku ia menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi ia kehilangan nyawanya? “ Kalau kita mengartikan nyawa sebagai kehidupan atau eksistensi, agaknya kita memahami teks ini sesuai dengan maksudnya karena kata Yunani ‘physike’ rupanya terjemahan dari kata Ibrani yaitu ‘nefesy’ yang berarti kehidupan, makhluk hidup. Dalam hal ini nefesy tidak berarti sebagian saja dari manusia, melainkan seturut pengertian Ibrani, manusia yang hidup. 

Orang yang mau mengikuti Yesus harus menyerahkan seluruh eksistensinya secara tak terbagi kepada Yesus. Dengan demikian bukan sebagian dari manusia diselamatkan, melainkan manusia seutuhnya memperoleh eksistensi yang membahagiakan. Lain lagi kalau kita masuk dalam dunia hellenisme yang mempunyai latarbelakang antropologinya yang berbeda dengan pandangan Ibrani yang sudah dijelaskan diatas. Agama Kristen masuk dalam pandangan hellenisme ini yang dipengaruhi oleh tradisi Plato yang bersifat dualistis. Ini nyata dalam pandangan mengenai jiwa dan badan:


2.1. Jiwa Biasanya Dinilai Lebih Positif dari Badan

Pandangan dualistis ini sudah berakar dalam tulisan-tulisan Homer yaitu seorang sastrawan Yunani yang hidup sekitar 800 SM. Tulisan-tulisannya sangat dijunjung tinggi dan pengaruhnya sangat besar dalam kebudayaan Yunani. Menurut Homer, pada saat kematian jiwa itu meninggalkan badan sedangkan badan (soma, kata Yunani) ditinggalkan oleh jiwa yaitu mayat. Lama kelamaan pandangan ini mengakibatkan suatu penilaian yang negatif terhadap badan. Eksistensi di dalam badan dianggap sebagai belenggu. Badan disamakan dengan makam jiwa. Di lain pihak, jiwa dinilai lebih positif, lebih tinggi dan dianggap sebagai sesuatu yang berbeda dengan badan baik menurut asal maupun kualitasnya. Maka munculah gagasan tentang jiwa sebagai sesuatu yang ilahi yang berasal dari dunia ilahi (dunia roh) dan hidup terus, walaupun orang sudah mati. Kematian tidak lain daripada pemisahan antara badan dan jiwa, yang sering dilihat sebagai pembebasan. Jiwa dibebaskan dari badan dan bisa kembali kepada eksistensinya yang benar.


2.2. Badan adalah Penyebab Kekeliruan dan Kejahatan

Pandangan dualisme yang berkembang dalam alam pikiran Yunani semakin dipertajam oleh Plato. Plato menyebut badan sebagai penjara jiwa. Badan itu bukan cuma merupakan tempat nafsu-nafsu rendah melainkan juga suatu hambatan bagi jiwa. Materi berarti kekacauan dan merupakan penyebab dari segala macam kejahatan dan kekacauan. 

Penilaian eksistensi badaniah tetap dipertahankan, apalagi ketika berhadapan dengan aliran Gnosis yaitu sebuah aliran bidaah yang tidak mengakui adanya kebangkitan badan dan menurut dia, kematian berarti jiwa yang menurut hakekat rohaninya bersifat baka meninggalkan badan dan pulang ke tempat asalnya. Jiwa bebas dari badan yang membelenggunya dan kembali ke Surga ke kerajaan roh tempat ia berasal. Eksistensi badan tetap dinilai sebagai belenggu  yang membuat jiwa terpenjara.

Teologi Kristen mengambil model badan-jiwa untuk menjelaskan  manusia; manusia yaitu satu dalam jiwa dan badan. Jiwa dan badan bukan dua kodrat yang disatukan tetapi satu kodrat yang membentuk manusia. Para teolog Kristen menentang padangan Gnosis tadi dan untuk dengan jelas menolaknya mereka lebih suka membicarakan kebangkitan badan atau kebangkitan daging, malahan kebangkitan daging yang kita miliki saat ini. Rumusan yang  terlalu fisis-kongkrit ini harus dimengerti sebagai usaha untuk menghindarkan bahaya Gnosis yang mengrohanikan harapan Kristen.

Walaupun tekanan begitu kuat pada harapan akan kebangkitan badan tetapi konsep tentang kebakaan jiwa tidak ditolak tetapi dikoreksi. Gagasan mengenai kebakaan jiwa berguna untuk menjelaskan identitas antara orang sebelum kematian dan sesudah kebangkitan. Orang yang berada sebelum kematian, dia hidup dengan tubuh dan jiwa manusiawinya atau tubuhnya sendiri entah itu putih atau hitam, tetapi setelah kebangkitan tubuh mereka diubah ke dalam tubuh yang mulia. Selain itu gagasan itu menggambarkan keadaan manusia antara kematian dan kebangkitan badan, yang masih harus diharapkan pada akhir zaman. Lain dari  pandangan Helenisme dan Gnosis yang menganggap keadaan jiwa terlepas dari badan sebagai yang ideal tetapi menurut para teolog Kristen bahwa kebahagiaan jiwa belum sempurna sebelum kebangkitan badan. Baru dengan kebangkitan badan pada akhir zaman manusia memperoleh kebahagian sempurna.

St. Thomas Aquino bisa mengatasi dualisme dalam antropologi Kristen yang dipengaruhi tradisi Yunani, dengan menggunakan skema materia  (badan) dan forma ( Jiwa). Tesis antropologi Thomas adalah “anima forma corporis yang berarti jiwa dan badan tidak dua subtansi yang masing-masing bisa berada sendirian, melainkan dua prinsip metafisis, yang bersama-sama baru menjadi nyata dan ada.”  Jiwa dan badan bukan dua kenyataan yang dipadukan di dalam manusia, melainkan manusia hanya berada sebagai kesatuan jiwa dan badan. Apa yang dikatakan tentang jiwa menyangkut seluruh manusia dan begitu pula apa yang dikatakan tentang badan, maka kematian, meskipun didefinisikan sebagai pemisahan jiwa dan badan, merupakan kematian dari manusia seutuhnya. Bukan sebagian manusia mati sedangkan bagian yang lain hidup terus tanpa diganggu gugat, tetapi kalau manusia mati maka jiwa dan badan yang merupakan dua substansi yang tidak bisa berdiri sendiri tanpa yang lain, itu terpisah. Kematian adalah akhir eksistensi manusia. Manusia sebagai manusia dihapus dalam kematian. Badan sama sekali hancur dan jiwa berada  dalam keadaan sangat cacat, didalamnya dia tidak disebut manusia lagi. Jiwa disebut cacat karena ia terpisah dari badan tetapi jiwa tetap terarah pada badan dan mempunyai “appetitus naturalis” yaitu kerinduan alamiah akan badan. Sehingga selama ia berada dalam “keadaan antara” sebelum kebangkitan badan pada akhir zaman, kebahagiaannya dikurangi karena jiwa sangat cacat tanpa badan. Dengan adanya teori ini maka keyakinan biblis Kristen dapat dipertahankan yaitu bahwa di satu pihak setelah kematian manusia berada bersama Kristus dan bahwa di pihak lain kebangkitan badan artinya manusia seutuhnya baru terjadi pada akhir zaman serta sekaligus mau dijamin identitas antara manusia yang hidup di dunia ini dengan dia yang dibangkitkan. Bagaimanakah identitas antara badan yang kita miliki di dunia ini dengan badan kebangkitan?

3. Kebangkitan Badan

Ungkapan badan atau “daging” berarti manusia dalam kelemahannya dan keadaannya yang fana. Kebangkitan berarti sesudah kematian tidak hanya jiwa kita yang hidup terus tetapi bahwa “tubuh kita yang fana” ini juga akan hidup kembali. “ Jika Roh Dia yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu maka Ia yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang diam di dalam kamu.” (Rm. 8:11) Iman akan kebangkitan orang mati sejak awal merupakan bagian hakiki dari iman kristen.”kebangkitan orang-orang mati adalah harapan orang kristen: dalam iman akan kebangkitan, kami hidup.” (Tertulianus) 

3.1. Kebangkitan Kristus dan Kebangkitan Kita

Harapan akan kebangkitan badan dari antara orang-arang yang telah meninggal, muncul sebagai akibat dari iman akan satu Allah yang menciptakan seluruh manusia dengan jiwa dan badannya. Dia memegang teguh perjanjiannya dengan Abraham dan keturunannya. Sambil memandang dua kenyataan ini, maka muncullah iman akan kebangkitan. Orang-orang farisi dan banyak orang pada zaman Yesus mempunyai harapan akan kebangkitan. Yesus mengajarkan itu sangat jelas. Kepada orang-orang saduki yang menolakNya Ia menjawab “kamu sesat justru karena kamu tidak mengenal kitab suci maupun kuasa Allah.”(Mrk 12:24) Iman akan orang–orang yang telah meninggal berdasar atas iman bahwa “Tuhan bukanlah Allah orang mati melainkan Allah orang hidup”(Mrk. 12:27). Yesus menghubungkan iman akan kebangkitan dengan diriNya “Akulah kebangkitan dan hidup” (Yoh.11:25). Pada akhir zaman, Yesus sendiri akan membangkitkan mereka yang percaya kepada-Nya, yang telah makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya. Dalam kehidupan di dunia ini Yesus memberikan tanda dan jaminan untuk itu, ketika ia membangkitkan beberapa orang mati seperti Lazarus (Yoh.11:1-44), anak muda di Nain (Luk. 7:11-17), Yesus membangkitkan anak Yairus (Mrk.5:21-42). Harapan akan kebangkitan Kristen diwarnai seluruhnya oleh pertemuan dengan Kristus yang bangkit. Kita akan bangkit seperti Dia dan oleh Dia.


3.2. Bagaimana Orang-orang Mati akan Bangkit ?

Iman Kristen akan kebangkitan sejak awal bertemu dengan berbagai perlawanan. Dan    St. Agustinus mengatakan bahwa, “tidak ada satu topikpun dalam iman Kristen yang mengalami lebih banyak perlawanan daripada yang berhubungan dengan kebangkitan badan.” Pada umumnya orang berpendapat bahwa kehidupan pribadi manusia sesudah kematian bersifat rohani. Tetapi bagaimana orang dapat percaya bahwa tubuh ini yang nyata-nyata mati, akan bangkit lagi untuk kehidupan kekal?

Apa artinya bangkit ? Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa pada saat kematian jiwa berpisah dari badan.Tubuh manusia mengalami kehancuran, sedangkan jiwanya melangkah menuju Allah dan menunggu saat di mana ia sekali kelak akan disatukan dengan tubuhnya. Dalam kemahakuasaan-Nya Allah menganuggerahkan kepada tubuh kita secara definitif kehidupan abadi dan Ia menyatukannya lagi dengan jiwa kita berkat kebangkitan Kristus. Kebangkitan badan merupakan rahmat  atau hadiah Allah. Lalu siapa yang akan dibangkitkan ? Semua manusia yang telah meninggal (bdk. Yoh. 5:29).

Bagaimana orang mati itu akan bangkit ? Kristus telah bangkit dengan tubuh-Nya sendiri tetapi Ia tidak kembali lagi kepada kehidupan di dunia ini. Dia bangkit dengan tubuh-Nya yang mulia dan rohani, oleh karena itu, Ia tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Kodrat manusiawi-Nya tidak dapat ditahan lagi di dunia ini dan sudah termasuk dunia ilahi Bapa-Nya. Atas dasar ini Yesus yang bangkit juga bebas untuk menampakkan diri sesuai dengan kehendak-Nya, misalnya dalam sosok seorang tukang kebun (Yoh. 20:14-15), atau dalam satu bentuk  lain dari bentuk  yang sudah terbiasa untuk para murid (Mrk. 16:12). Atas cara demikian “semua orang akan bangkit… dengan tubuhnya sendiri yang skarang mereka miliki” (konsili Lateran IV; DS801). Tetapi tubuh mereka akan diubah ke dalam rupa tubuh yang mulia (Flp. 3:21), ke dalam tubuh rohani (1 Kor. 15:44). Mereka tidak lagi hidup seperti tubuh mereka saat ini tetapi tubuh mereka memiliki sifat-sifat tubuh  baru yang dimuliakan. Kalau misalnya sekarang dia hitam mungkin pada saat kebangkitan dia bisa putih. Mereka hidup seperti malaikat, kehidupan mereka tidak lagi  seperti di dunia ini (Mrk. 12:25). Cara ini melampaui gambaran dan pengertian kita, kita hanya dapat menerimanya dalam iman. Namun penerimaan ekaristi sudah memberi kepada kita satu gambaran terlebih dahulu mengenai perubahan rupa badan kita oleh kristus, yaitu seperti yang dikatakan oleh St.Ireneus bahwa kalau kita menerima Ekaristi, tubuh kita tidak takluk kepada kehancuran tetapi memiliki harapan akan kebangkitan.

Penutup

Kristus akan membangkitkan kita pada hari kiamat, tetapi di pihak lain kita telah bangkit bersama Kristus dalam arti tertentu. Oleh Roh kudus kehidupan Kristen di dunia ini merupakan keikutsertaan pada kematian dan kebangkitan Kristus. Umat beriman telah disatukan dengan Kristus melalui pembabtisan dan karena itu sekarang juga telah mengambil bagian dalam kehidupan surgawi Kristus yang telah dibangkitkan. Di dalam Kristus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga (Ef. 2:6).

Penutup

Kristus akan membangkitkan kita pada hari kiamat, tetapi di pihak lain kita telah bangkit bersama Kristus dalam arti tertentu. Oleh Roh kudus kehidupan Kristen di dunia ini merupakan keikutsertaan pada kematian dan kebangkitan Kristus. Umat beriman telah disatukan dengan Kristus melalui pembabtisan dan karena itu sekarang juga telah mengambil bagian dalam kehidupan surgawi Kristus yang telah dibangkitkan. Di dalam Kristus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga (Ef. 2:6).