User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Kejadian ini sudah lama sekali berlalu………. Malam gelap saat itu menyelimuti desa kecil di kaki Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah. Bersama beberapa orang teman, dengan memegang senter di tangan masing-masing, kami berjalan beriringan bagai barisan kunang-kunang. Tanpa banyak bicara, kami melangkah menembus semak belukar, memasuki hutan yang semakin lama semakin gelap dan rapat. Dengan ransel di punggung, masing-masing bertekad bulat hendak mencapai puncak Gunung Slamet.

Allah menciptakan manusia seturut gambar-Nya sendiri, dan Ia menciptakan manusia itu dengan sungguh amat baik (bdk. Kej. 1:27,31). Akan tetapi, jika kita lihat diri kita sendiri dan sesama kita saat ini, adakah semua manusia tampil sebagai citra Allah, memancarkan kemuliaan Allah? Kemuliaan Allah ini hanya akan terpancar secara penuh dari dalam diri kita, apabila kita sungguh-sungguh tampil sebagai diri sendiri, sesuai dengan kehendak dan rencana Allah. Namun, seringkali kebanyakan manusia, tidak tampil sebagai pribadinya sendiri yang unik dan utuh sebagaimana dahulu ia diciptakan. Luka batin, topeng, lingkungan, semua mempengaruhi manusia sedemikian rupa, sehingga ia tidak dapat tampil sebagai dirinya sendiri. Gunung Slamet memang tinggi. Namun, setinggi-tingginya Gunung Slamet, masih jauh lebih tinggi cita-cita manusia untuk berani menjadi dirinya sendiri. Dan sebagaimana pendakian Gunung Slamet ini, perjalanan kita untuk dapat menjadi citra Allah pun diawali dengan keberanian kita untuk memasuki kegelapan…

Kegelapan apakah itu? Sadar atau tak sadar, tiap orang mempunyai sisi gelap dalam dirinya. Sebuah cerita yang menyedihkan, trauma yang mengerikan, peristiwa-peristiwa yang menghantui hidupnya, semua itu dikubur dalam-dalam di relung terkelam jiwanya. Disembunyikan, dilupakan, dan dianggap tak pernah terjadi. Tanpa disadarinya semua yang telah melukai batinnya itu, sering muncul ke permukaan alam bawah sadarnya. Membuat hati sedih tanpa sebab, emosi tak terkendali, dan lebih buruk lagi, mempengaruhi sikap-sikap kita terhadap orang lain. Kinilah saatnya kita berani mengambil keputusan, untuk mau memasuki dunia gelap kita itu, yang selama ini menjadi bayang-bayang jiwa kita, atau lebih sering dikenal dengan istilah ‘shadow’. Tanpa banyak bicara, memasuki keheningan, marilah kita buka kembali setiap lembaran gelap hidup kita itu. Mohonlah Roh Kudus untuk membimbing kita dalam doa penyembuhan batin ini, seperti nyala senter yang menerangi jalan para pendaki. Kemudian, hadirkanlah Yesus, mohonlah agar Ia menyembuhkan luka-luka batin kita.

Setelah mendaki beberapa waktu lamanya, kami pun letih dan beristirahat melepas lelah. Sambil duduk di atas rumput yang basah oleh embun malam, kami menikmati nyanyian binatang malam yang berkumandang dari antara dedaunan, dan nyanyian dari perut kami yang keroncongan. Benar juga…. baru kami sadari kami kelaparan. Kami butuh sesuatu untuk mengisi perut kami. Maka dengan tangan yang agak kaku karena kedinginan dan lelah, kami pun memasak makanan favorit kami; apa lagi kalau bukan mie instant!

Demikian pula dalam doa penyembuhan batin, setelah melihat kembali kisah sedih kita di masa lampau, cobalah untuk menyelami apakah sesungguhnya yang menjadi kebutuhan kita saat itu, yang akhirnya tidak kita dapatkan. Misalnya saja kita terluka akibat sikap keras ibu kita di waktu kecil. Berarti ada kebutuhan akan kasih ibu yang belum tercukupi selama ini dalam jiwa kita. Menemukan kebutuhan jiwa kita yang belum terpenuhi ini penting, agar kita dapat menyadari apa yang menjadi latar belakang dari sikap-sikap kita selama ini. Barangkali kita sering sakit hati dan iri bila ada orang lain yang diperhatikan sementara kita tidak. Tengoklah masa lalu, mungkin kita sering dianaktirikan oleh orang tua sehingga jiwa kita menjerit menuntut perhatian yang lebih besar dari sesama. Atau barangkali ayah kita meninggal ketika kita masih kecil, sehingga setelah besar kita terus mencari figur seorang ayah. Seperti perut yang lapar perlu diisi, demikian pula jiwa yang haus perlu dipuaskan. Sebetulnya, otomatis selama ini kita berusaha untuk memuaskan jiwa yang dahaga itu. Namun, seringkali caranya tidak sehat dan buahnya pun tidak membahagiakan. Misalnya karena jiwa mendambakan seorang ayah, maka dengan amat mudahnya seorang gadis jatuh cinta pada setiap laki-laki yang memperhatikannya walau barang sedikit saja. Jatuh cinta memang tidak salah dan lumrah. Akan tetapi, seringkali sebetulnya gadis itu jatuh cinta pada bayangan ideal seorang ayah yang telah tergambar di dalam batinnya. Bayangan itu kemudian terproyeksikan dalam diri setiap laki-laki yang simpati kepadanya dan membuat gadis itu jatuh cinta. Tentu saja hal ini akan sangat menyiksa karena tentunya tidak semua pria itu mencintainya juga. Bahkan sekali pun akhirnya ia bertemu dengan pria yang juga mencintainya, ia bisa kecewa juga karena ternyata pria yang dicintainya itu berlainan dengan bayangan ideal seorang ayah yang sudah sekian lama terpatri dalam jiwanya. Gadis ini sulit untuk dapat mengasihi seorang laki-laki dengan utuh karena ia telah terlanjur jatuh cinta dengan bayangan di dalam batinnya sendiri.

Dengan mengetahui kebutuhan jiwa kita, kita dapat lebih berhati-hati dan menguasai diri kita. Jiwa yang sudah terluka itu perlu disembuhkan, dan kehausannya perlu dipuaskan. Untuk itu kita arahkan seluruh kebutuhan jiwa kita itu kepada Yesus, biarlah Ia sendiri yang menggenangi hati kita dengan cinta kasih-Nya. Hanya dengan hati yang utuh dipenuhi kasih ilahi inilah, kita bisa mencintai orang lain dengan apa adanya. Kita juga tidak iri hati lagi jika orang lain lebih diperhatikan karena sadar Allah sendiri telah mencurahkan perhatian-Nya kepada kita dengan begitu besar. Singkatnya, cinta kasih Allah yang memenuhi hati kita, membalut luka-luka batin kita dan memuaskan jiwa yang haus, sehingga sikap-sikap aneh maupun emosi-emosi tak terkendali kita selama ini dapat diatasi.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting